Skip to main content

ALANGKAH LUCUNYA (negeri ini)


Kontras, inilah kata pertama yang mungkin bisa menyimpulkan isi film berjudul “alangkah lucunya (negeri ini)”. Film karya aktor kawakan Dedy Mizwar, yang secara tidak langsung menceritakan kehidupan kontras negeri ini.
Salah satu contoh kekontrasan hidup yang diceritakan dalam film tersebut terletak pada durasi akhir, di mana seorang pencopet yang ketauan, menjadi kejar-kejaran massa dan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Namun di sisi lain, seorang anak pedagang asongan juga menjadi bulan-bulanan Satpol PP untuk ditangkap dengan dalih melaksanakan tugas bangsa.

Memang tampak sekali kehidupan berkebangsaan ini begitu kontras dipandang. Sebab banyak hal yang terbolak-balik dalam Negeri ini. Misalnya, kebaikan dan keburukan hampir tidak dapat dibedakan lagi. Perintah dan larangan baru akan dianggap sah dan berlaku jika sudah diundang-undangkan. Sayangnya, perundang-undangan tersebut tidak selalu memperhatikan fitrah kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Sebenarnya apa yang sedang diinginkan oleh Bangsa ini? Kehidupan berbangsa sepertinya sudah carut-marut. Keadilan menjadi buyar sehingga sulit menentukan mana yang adil dan yang tidak adil bahkan kita hampir tidak tau apa itu keadilan. Kesetaraan menjadi omong kosong. Dan pergaulan sosial berkehidupan sangat porak-poranda sekali, tak tau arah tak tau bagaimana nantinya. Kontras sekali.

Pandangan kontras tidak hanya menjadi lelucon dari tema yang ada pada film tersebut, atau bukan pula menjadi barang baru lagi. Tapi memang sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan nyata bahkan sudah menjadi barang busuk yang tak tercium lagi baunya. Lihatlah begitu kontrasnya pemandangan sungai-sungai busuk yang umumnya terdapat di kota-kota di Indonesia ini. Belum lagi pandangan kontras antara adanya bangunan tinggi mencakar langit di tengah-tengah perumahan kumuh di tengah kota modern tersebut.

Pandangan kontras sudah menjadi hal biasa di dalam negeri ini. Lihat lagi orang-orang terpandang semisal pejabat yang dihormati dan diagungkan. Bersamaan dengan itu, juga masih ada orang gila maupun anak gelandangan yang terpaksa menggelandang karena tak tau bagaimana membuat perut bisa kenyang selain mencari makan melalui jalan menggelandang. Atau praktek mengembangkan investasi, pembangunan gedung-gedung bisnis, super market kaya, maupun hotel mewah. Bersamaan dengan itu, juga dilakukan praktek penggusuran terhadap pedagang kaki lima yang tak pun kaya atau tak pula punya apa-apa, tanpa dibangunkan tempat yang layak untuk mereka berusaha. Lebih menyakitkan lagi, pada tempat penggusuran kaki lima itu akan didirikan bangunan megah pesaing dagang oleh tokoh pecundang. Lucu sekali!

Tidak sampai di situ, kekontrasan juga tampak pada prilaku pencopetan. Pencopet jalanan masih punya rasa takut dan malu jika ketauan masyarakat, tak begitu jika pencopet itu berasal dari gedung besar di Senayan. Alangkah lucunya!

Masih juga kontras, investor asing dibela mati-matian untuk usaha menaikan pendapatan Negara. Namun di balik itu pendapatan masyarakat sendiri selaku penjual tradisional yang cinta produk sendiri juga ditekan menurun sampai mati-matian melalui jalan penggusuran. Bukankah menggusur mereka berarti menggusur pendapatan devisa masyarakat? Kalau sudah digusur, kemudian mau makan dari penghasilan apa?

Semua keadaan memang masih simpang-siur sekali. Jika pedagang kaki lima tidak digusur, maka akan mengganggu lalu lintas dan mengganggu kegiatan lainnya. Tapi jika digusur pun tak memberi arti buat mereka, malah menjadi petaka sosial.

Bangsa ini memang masih harus banyak belajar. Masyarakat, wakilnya serta pemimpinnya harus banyak belajar bagaimana menemukan jalan kesejahteraan. Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk menemukan jalan kesejahteraan itu, diantaranya adalah dengan cara berbangsa yang arif, bijaksana, adil, tidak melanggar fitrah kemanusiaan, ikhlas berbangsa, serta membela yang pantas dibela.

Jika pencuri dikejar-kejar massa, hal itu wajar dan tentunya tetap harus mengindahkan moral yang tepat. Yang tidak wajar lagi adalah jika yang dikejar-kejar itu seorang pedagang asongan. Bukankah berdagang itu jalan halal satu-satunya yang membuat mereka bisa melanjutkan hidup. Jika memang tidak menginginkan keberadaan pedagang asongan, sangat tepat dan bijaksana sekali jika diciptakan untuk mereka tempat yang layak untuk berdagang.

Jika ingin membangun peradaban kota yang modern dan diimpi-impikan , jangan setengah-setengah, harus adil dan menyeluruh! Harus memperhatikan tata ruang, memperhatikan organisme alam sekitar. Bukan justru membangun gedung-gedung tinggih namun mengubur sungai-sungai maupun pohon-pohon yang seharusnya menjadi paru-paru dan nadi perkotaan. Harus memperhatikan keadilan bagi seluruh masyarakat di sekitarnya. Paling tidak, tidak membiarkan masyarakat melarat di tengah-tengah kemewahan dan kemegahan birokrat.

Menjadi orang terpandang semisal pimpinan masyarakat itu bagus, akan dihormati oleh banyak orang. Tapi akan lebih bagus jika keterpandangan itu memberi manfaat dengan memandang menuju kepada orang-orang yang layak dipandangi, semisal anak-anak gelandangan maupun warga miskin terlantar. Mensejahterakan mereka dan berusaha menghentikan mereka dari kehidupan gelandangan akan menjadi pemandangan salut tersendiri dari masyarakat yang merindukan keadaan tersebut. Bukan justru membumihanguskan gelandangan melalui aparat berwenang.

Silakan membangun peradaban investasi melalui pembangunan gedung-gedung mewah, toko-toko megah, maupun tempat bisnis istimewah. Tapi juga upayakan pengembangan yang lebih serius dan berkeadilan untuk pembangunan pedagang sektor pasar kecil yang mantap. Karena awal peradaban investasi besar berasal dari kegiatan perdagangan pasar kecil.

Silakan menertibkan pedagang kaki lima yang tak beraturan. Tapi tetap pada koredor bijaksana, adil dan manusiawi. Tindakan yang tepat terhadap mereka adalah dengan memberikan tempat dan pasilitas perdagangan agar tetap tertib. Silakan menertibkan dan menindak pelaku kejahatan pencopet jalanan. Tapi juga harus diimbangi dengan menertibkan dan menindak pelaku kejahatan besar seperti pencopet uang Negara dengan seadil-adilnya dan setegas-tegasnya. Pencopet jalanan dan koruptor kawakan tidak jauh bedanya. Koruptor adalah orang-orang yang membuat pencopet jalanan bertaburan. Sebab uang Negara yang seharusnya digunakan untuk mensejahterakan mereka mala dicuri untuk kepentingan sendiri.

Bangsa ini juga harus tetap mencari pendapatan nasionalnya dengan cara yang benar. Yang harus dibarengi dengan mengembangkan dan membela mata pencaharian masyarakat dengan benar pula. Bangsa ini harus menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semua ini memang butuh proses bagi masyarakat,wakilnya serta pimpinan masyarakat itu sendiri, tapi sangat disayangkan jika proses yang dijalankan menuju degresi. Proses yang dijalankan sangat diharapkan harus progresif. Tetap optimis bangsaku! Pikirkan segala cara untuk menemui kesejahteraan dan berkeadilan berbangsa, kemudian jalankan pikiran itu. Agar kita semua tetap bangga berbangsa Indonesia dan tidak lagi mengatakan “Alangkah lucunya (negeri ini)”.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar