NYANYIAN OPTIMIS BERBANGSA



Ku… lihat ibu pertiwi…
Sedang bersusah hati..
Air matanya berlinang…
Mas intanmu terkenang…
Hujan, gunung, sawah lautan..
Simpanan kekayaan…
Kini ibu sedang lara…
Merintih dan berdo’a


BacaNulis.Com - Jika memperhatikan bait lagu Ibu Pertiwi di atas, makna yang tertuang adalah makna perjuangan. Bangsa ini telah lama bersusah payah memperjuangkan dan membangun tanah airnya, memperjuangkan kemerdekaan, memperjuangkan rakyatnya hingga berlinang air mata. Walaupun dalam keadaan susah, tetapi tetap harus berdoa.

Miris rasanya jika membandingkan makna perjuangan itu dengan kondisi bangsa hari ini. Kondisi bangsa hari ini sepertinya mencapai ketenggangan. Berbagai masalah bermunculan. Tragedi pembunuhan, pembantaian, pencurian uang Negara, praktek mafia hukum, kasus asusila, masalah kelaparan, perdamaian, keadilan dan masih banyak lagi seperti yang sering disaksikan dalam media. Kondisi itu diperparah dengan membrutalnya massa yang seakan khawatir masalah bangsa ini tidak dapat diselesaikan.
Sekarang ini sepertinya ibu pertiwi akan tetap menangis, tapi bukan untuk bersusah payah memperjuangkan tanah airnya, melainkan menangis melihat anak bangsanya bertengkar, brutal, anarkis, apa lagi ada yang berbuat jahat dengan mengkhianati bangsanya sendiri. Ibu pertiwi menangis prihatin melihat keadaan kekinian, ibah melihat masalah-masalah kebangsaan. Penguasa seperti penjajah, petani ketakutan tidak makan, pelaut ketakutan tidak pulang, massa mengamuk, tumpah ruah di jalanan. Kondisi bangsa memang sedang porak-poranda.
Mungkin bangsa ini sedang lupa dengan dirinya sendiri. Kalau pemimpin masih ingat cita-cita berbangsa, petani masih ingat sawah kita luas, pelaut masih ingat ikan melimpah ruah, dan semua kalangan memperjuangkan cita-cita kehidupan berbangsa yang sejahtera, pesimisme berbangsa tentu tidak akan terjadi. Mungkin memang sedang terlupa, bangsa ini pernah berjaya sajak masa dulu. Kejayaan itu bahkan masih ada hingga sekarang, tapi sayangnya yang diekspos media justru keterpurukan berbangsa. Kalau kita ingat, Indonesia adalah pusaka abadi nan jaya seperti yang disairkan oleh Ismail Marzuki. Indonesia adalah pusaka yang tak bisa dinilai harganya.

Berbeda halnya dengan rasa kebangsaan masyarakat kini yang cenderung tidak percaya diri dengan keindonesiaannya. Masyarakat bahkan menilai bangsa ini sebagai bangsa yang bodoh, padahal kita punya tokoh-tokoh cerdas sekaliber dunia seperti Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka, M.Natsir, K.H Ahmad Dahlan, Ibu Kartini, cendekiawan, Ulama-ulama, hakim-hakim, Diplomat dan lainnya yang juga diperhitungkan oleh bangsa lain. BukankahIndonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa?
Lain lagi halnya seperti ungkapan grup musik Koes Plus yang memuji bahwa Indonesia bukanlah memiliki lautan, tapi lautan itu menjelma menjadi kolam susu, tanahnya adalah tanah yang subur yang jika ditancapkan tongkat kayu akan tumbuh menjadi pohon kayu. Laut Indonesia luas dan kaya, ikannya banyak, panoramanya pun indah, tanahnya subur, hijau yang juga memberikan kekayaan tersendiri bagi bangsa. Semua itu patut dibanggakan.
Kelupaan itu melanda semua anak bangsa. Pemimpin bangsa, juga sepertinya sedang terlupa. Pemimpin bukan menjadi anutan lagi, tapi sudah mengarah menjadi penjajah bangsa. Padahal kalau masih ingat bagaimana Patih Gajah Mada dengan jiwa patriotnya menyatukan Nusantara ini melalui sumpahnya tidak akan memakan buah palapa sebelum dapat menyatukan Nusantara. Kalau sumpah itu ditiru dengan modifikasi kekinian, misalnya tidak akan hidup mewah sebelum rakyat ini sejahtera, mungkin rakyat pun akan menjadikan pimpinan sebagai panutan.

Untuk masyarakat harus tetap bersyukur. Bukan rakyat yang bekerja mencari nafkah tapi masih tidak puas dan menyalahkan keadaan seolah mengutuk taqdir Tuhan. Bukankah rakyat ini dulunya rajin bekerja melalui budaya gotong royong membangun desa, membangun perkampungan, membangun kota, membangun Borobudur, membangun Prambanan, dan lain sebagainya. Muda-mudahan rakyat ini tidak berhenti bekerja, tidak berhenti berkarya untuk kemajuan bangsa.
Persatuan bangsa juga hampir pudar. Di Papua perang saudara antar suku, di Ambon dulu sering terjadi kerusuhan, di Tanjung Priok juga sedang terjadi kerusuhan. Masyarakat sepertinya lupa dengan persatuan, pemuda seperti lupa dengan sumpah persatuannya. Bukankah dulu bangsa ini jaya dengan persatuan? Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa menjadi jargon dalam sumpah pemuda 28 oktober 1928. Sejak saat itu, semua organisasi seperti Jong Java, Jong Sumateren Bond, orang-orang timur, semuanya melebur menjadi satu nama, yaitu Indonesia.

Kejayaan itu tidak hanya sampai di situ, tapi tetap diperjuangkan sampai hari ini oleh anak-anak bangsa dengan karya-karyanya. Misalnya, anak sekolah Indonesia juara dunia membuat senjata anti demonstran, anak sekolah mampu membuat rumus matematika mencegah stres, anak Indonesia yang berpenyakit autis juga mampu berprestasi dalam pendidikan. Sayangnya, media jarang sekali mengekspos secara bangga dan besar-besaran berita seperti ini. Media lebih suka mengekspos kabar cabul, anarkisme, penjarahan secara berlebih-lebihan, sehingga imagenya bangsa ini disinyalir brutal, anarkis dan rakus.
Tak boleh ketinggalan kaum perempuan juga harus berkarya. Bukankah Kartini juga berkarya? Membela kaum hawa Indonesia yang saat itu terjajah.

Jika mengingat masa lalu, sepertinya masyarakat hari ini bukan keturunannya. Masyarakat hari ini terkesan mengembangkan budaya anarkis, budaya rakus, budaya aduh kuat maupun budaya malas atau juga budaya pormalitas belaka. Yang semuanya membuat keterpurukan bangsa ini.

Bangsa ini kehilangan kepribadiannya maupun karakter baiknya. Oknum bangsa ini banyak yang mengkhianati bangsanya sendiri seperti mencuri hutan, menelanjangi hak-hak hidup maupun hak-hak pendidikan. Masyarakat ini sudah menodai tanah airnya sendiri seperti menyerang sesama, menebang hutan, membuang sampah sembarangan dan masih banyak lagi.

Mengapa sampai terjadi hal seperti ini? Sepertinya Cuma ada 2 kemungkinan kenapa bangsa ini porak-poranda. Yang pertama, bangsa ini sepertinya pernah terputus generasinya. Sehingga ada satu generasi yang hilang dan tidak tersambung dengan generasi hari ini. Walhasil, kejayaan bangsa terdahulu tidak terwarisi, tidak dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi zaman modern hari ini.

Kemungkinan kedua, orang-orang terdahulu tidak mau mengajarkan ilmu-ilmu budaya baiknya untuk anak cucunya atau bisa juga anak cucu ini yang tidak mau belajar kepada orang tuanya. Sehingga yang tertinggal adalah generasi yang bodoh-bodoh.

Lantas apa yang akan dilakukan? Kepada seluruh anak bangsa berhentilah mencaci diri sendiri. Mulailah berkarya kembali, hidup rukun, damai sejahtera. Berhentilah mengkhianati bangsa ini, karena siapa saja yang berkhianat akan tersingkir kewibawaannya suatu saat. Berhentilah bersikap pesimis berbangsa. Tidak ada yang perlu dicelah dari bangsa ini. Bangsa ini kaya raya, punya sumber daya alam yang melimpah dengan seumber daya menusia yang melimpah pula. Alam Nusantara ini ingin dikelola untuk mensejahterakan rakyatnya. Jadikan kembali Indonesia ini tetap menjadi singanya asia atau jamrudnya katulistiwa.

Berbuatlah untuk bangsa ini, bukan mencela. Jadilah bangsa yang tetap bisa dibanggakan melalui tangan-tangan ikhlas anak bangsa . Agar kita bisa tinggal lebih lama dengan pedamaian dan kejayaan kemudian bernyanyi kembali …..
Kulihat ibu pertiwi

Kami datang berbakti

Lihatlah putra-putrimu

Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta

Putramu yang setia

Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa


Baca juga: ALANGKAH LUCUNYA (negeri ini)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel