Skip to main content

My Idol


BEBERAPA ORANG YANG AKU IDOLAKAN

1. Jendral. NAGA BONAR

Nama aslinya Deddy Mizwar. Seorang produser, sutradara sekaligus aktor kawakan yang dimiliki bangsa Indonesia. Siapa pun yang pernah melihat film Naga Bonar, yang diperankan oleh seorang Jendral yang berjuang melawan belanda di Medan yang juga dikenal sebagai pencuri ini, maka itulah dia.

Naga Bonar lahir sebagai seorang Betawi asli yang hidup di nuansa keluarga yang kental keislamannya. Sehingga jiwa keislamannya pun cukup mewarnai setiap peranan maupun produksi film yang diciptakannya.

Yang menarik dari kepribadiannya dan patut untuk dicontoh dari seorang Deddy Mizwar adalah bahwa Ia beranggapan bahwa kehidupan semata-mata merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Sehingga segala apapun kegiatan maupun keahlian harus bernilai ibadah, termasuk dalam dunia perfilman. Dunia film merupakan ladang dakwah yang harus dikembangkan kerena model dakwah dengan media ini sangat efektif sekali.

Ada beberapa alasan mengapa aku mengidolakan pemeran tether yang mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik pada festival teater remaja di Taman Ismail Marzuki ini. Diantaranya adalah, Deddy Mizwar seorang muslim yang taat, jago peran, seniman, selain itu Ia juga mirip banget dengan salah satu guruku, bernama Ustadz Mizan Ridho yang cukup memberi sumbangsi moral untuk membentuk karakterku sendiri.

Aku sendiri cukup menyukai dunia seni maupun sastra. Maka tidak heran kalau aku juga suka lihat film. Film yang aku sukai juga tidak sembarangan. Tema yang aku senangi adalah tema kemanusiaan, nasionalisme, religi, persahabatan maupun perjuangan. Dan Deddy Mizwar cukup mengambil peran dari tema-tema tersebut. Misalnya, film-film seperti Naga Bonar dengan semangat patriotisme dan jiwa nasionalismenya, sinetron Lorong Waktu atau Para Pencari Tuhan yang biasa siaran pada bulan puasa sangat memiliki nilai religi sekali, pesan moral yang ada pada film tersebut sangat menyentuh. Begitu juga film Kiamat Makin Dekat, religius, anak muda banget, ringan, dekat dengan kehidupan dan yang pastinya punya pesan moral. Lain lagi dengan karya-karyanya seperti film Alangkah Lucunya Negeri ini, humanis banget. Dan masih banyak lagi, Film terakhir yang baru aku lihat dari karya Deddy Mizwar berjudul 3 hati, 2 dunia, 1 cinta. Kesimpulan akhir dari film terakhir ini membuatku berkata Deddy Mizwar memang cukup profesional banget.

Selain tema, film-film yang diproduksi maupun yang diperankan oleh peraih aktor senior pemenang 4 piala citra dan 2 piala vidya ini memiliki karakter tersendiri dari yang lainnya. Ciri-ciri khas yang ada pada film-filmnya adalah ringan, humoris, penuh makna, menyentuh, dari dialognya terkadang membuat penonton berpikir sejenak kemudian menemukan kebenaran dari pesan yang diselipkan dari diaolog itu. Juga, khas dengan sindiran sosialnya yang tepat, faktual namun terlupakan oleh orang kebanyakan, dan yang terpenting Deddy Mizwar cukup memberikan nuansa dakwah yang lebih fress dan realistis ada pada kehidupan sehari-hari, tidak berlebihan namun juga tidak kehilangan kekuatan filmnya. Tidak berlebihan jika filmnya cukup diminati oleh masyarakat.

Aku cukup mengidolakan Deddy Mizwar-pemeran yang membintangi lebih dari 70 film-dalam kategori perfilman. Karena aku suka dengan dunia film, dunia film yang tentunya tidak bernilai rendah namun sarat pesan dan dakwah kemanusiaan. Aku bermimpi ingin seperti Deddy Mizwar, bisa berperan dalam akting, memproduksi film maupun sekedar mengarang skenario maupun menulis naskahnya saja. Karena cukup banyak fenomena kemasyarakatan yang harus dibenahi dan diberi pengertian serta pesan-pesan moral. Dan dunia perfilman cukup punya peran efektif untuk hal ini. sayangnya aku belum berani untuk unjuk diri mampu berperan, beda sekali dengan Deddy Mizwar yang sedari kecil sudah membintangi panggung teater remaja di Jakarta. Aku hanya berakting secara sembunyi-sembunyi, di kamar mandi, di jalan-jalan sunyi, maupun sedang sendirian. Terkadang aku ngomel-ngomel sendiri. Heeeemmmm, kadang-kadang kalau di depan orang yang tepat, aku mau gila-gilaan untuk belajar akting. Hitung-hitung Cuma belajar.

Muda-mudahan tercapai. Dan tulisan ini adalah saksi bisu yang mungkin bisa abadi di dalam blog ini. paling tidak, tulisan ini sudah menggoreskan tanda bahwa aku pernah beringin menjadi pembuat film atau sekurang-kurangnya pembuat naskah maupun skenario film. Film yang aku inginkan bersaing seperti film-film yang diperankan Sang Naga Bonar. Alamak...... kabulkanlah do’a aku ini oh Tuhan.... Apa kata dunia kalau aku tak bisa jadi apa-apa? Omaaaaaak, do’ainlah anak kau ini!


2. BURUNG MERAK

W.S Rendra namanya, nama aslinya adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra dan mempunyai nama terakhir sebagai nama islamnya dengan nama Wahyu Sulaiman Rendra, disingkat W.S Rendra. Julukan untuk sastrawan satu ini lebih dikenal dengan nama Burung Merak. Rendra adalah penyair, sastrawan, aktor sekaligus sutradara teater yang sangat fenomenal yang pernah dimiliki oleh negeri ini.

W.S Rendra adalah pendiri bengkel teater Yogyakarta. Kecintaannya terhadap sastra sudah mengakar sejak kecil hingga akhir hayat pun menjemputnya. Beliau merupakan seorang bintang panggung yang dikenal oleh seluruh anak negeri hingga ke mancanegara dan pernah menempuh pendidikan di American Academy of Dramatikal Art, New York, USA.

Hasil karya dari seorang yang lahir di Solo 7 nopember 1953 ini tidak diragukan lagi keindahannya. Bahkan hasil karyanya cukup dinanti-nanti oleh orang-orang yang mengaguminya. Banyak penghargaan yang pernah diraih oleh penulis ”sajak sebatang lisong” ini. Diantaranya, salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari Departemen P & K Yogyakarta. Selain itu, karya-karya Rendra pernah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Rendra juga pernah membacakan puisi di depan para undangan yang dihadiri oleh orang-orang mancanegara pada waktu Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, yang diadakan di Jakarta. Sehingga Burung Merak secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata dunia.

Siapa yang meragukan kemampuan Rendra? Pria tinggi besar berambut gondrong dengan suara khas ini mampu memukau siapa saja yang mendengar dan melihat ia membacakan puisi-puisinya. Bahkan, untuk saat ini banyak orang yang meragukan apakah ada seorang penyair yang bisa menggantikan kepopuleran W.S Rendra dalam menulis puisi dengan indah, kritis dan hidup sekali. Kalau dulu orang kenal dengan Khairil Anwar, maka penggantinya untuk dekade saat ini adalah W.S Rendra.

Sekali lagi, aku cukup punya banyak idola dalam beberapa hal. Dan dalam hal panggung drama dan penulis serta pembaca puisi yang aku sukai adalah Burung Merak. Banyak sekali pujangga-pujangga yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, tapi pilihanku adalah W.S Rendra. Alasannya sederhana, menurutku W.S Rendra sangat menjiwai setiap puisi yang diciptakannya. W.S Rendra juga mempunyai jiwa sosial yang tinggi, punya karakter, suaranya khas dan gaya membacakan puisinya adalah marah, kasihan, prihatin, dendam, kasar, berani, baik dan berhati bersih yang dikemas dengan tempo dan mimik yang tepat sekali.

Aku tidak menafikan pujangga yang lainnya. Aku tau pujangga bangsa ini memiliki banyak keahlian dan punya karakter tersendiri yang membuatnya populer. Bagiku, aku cukup salut dan terkagum dengan apa yang mereka ciptakan, karena aku sendiri belum tentu mampu sehebat mereka. Di sisi semua orang yang mencintai sastra, siapa saja sangat mereka hormati dan rendah diri di hadapan masing-masing mereka. Aku yakin, mereka mempunyai jiwa yang sama, pikiran yang sama, kepedulian yang sama, nurani yang sama, hanya berbeda pada latar belakang dan performa yang mereka ciptakan sehingga kondisi seperti itu membuat mereka saling menghargai. Begitu juga aku, pada dasarnya aku mengagumi semua penyair terlepas dari meteri sair yang mereka ciptakan. Tapi dalam hal ini, aku sangat mengidolakan W.S Rendra atau Burung Merak ini. Sebab, kemahiran seorang Rendra pernah aku lihat secara langsung.

Aku mengidolakan Rendra, tidak terlepas karena aku juga menyukai dunia sastra, sama halnya dengan aku menyukai dunia film. Aku menyukai sastra semenjak aku mampu menciptakan naskah drama berjudul ”Risalah Hati”. Drama ini pernah kami pentaskan di sekolahku dulu, di Pondok Pesantren Modern Daar Al-uluum Asahan-Kisaran beberapa bulan sebelum aku tamat dari pondok yang cukup menempah karakter pribadiku.

Bercerita sedikit tentang ”Risalah Hati”, ini adalah drama karyaku yang pertama yang aku ciptakan secara original, optimal dan mengesankan. Ketika drama ini dipentaskan, banyak temen-temen yang salut denganku. Lain lagi dengan tanggapan guru-guruku, santriwan-santriwati yang memang senang dengan hiburan seperti itu, sebab namanya kehidupan di asrama, sangat memungkinkan miskin hiburan. Yang membuat aku kagum, gara-gara pementasan drama itu, yang kebetulan disaksikan oleh pimpinan yayasan Pesantren yang sekarang menjadi Bupati Asahan 2010-2015, kami selaku pengurus Organisasi Pelajar Daar Al-Uluum (OPDU tahun 2006-2007), penyelenggara kegiatan kesenian pada waktu itu, dan aku sendiri adalah ketua Organisasi Pelajarnya, diberi liburan gratis ke pantai. Yaaaaah walaupun Cuma ke pantai, tapi aku bangga karena hadiah itu adalah jeri payahku memimpin kawan-kawan merealisasikan kegiatan secara apik sekaligus hadiah dari pembuktian bakat sastra di hadapan orang-orang yang memang banyak kenal denganku dan belum tau rahasiaku di balik karya cipta tak terpikirkan sebelumnya. Pada saat di pantai, aku pernah ucapkan, ”drama itu untukmu” kepada salah seorang temanku. Hemmmmmm, bangganya. Satu hal yang membuat aku bisa bangga dengan diriku adalah ketika aku mampu unjuk diri dengan kemampuanku menciptakan karya. Bukan status, lebih tepatnya peran. Dan sastra adalah salah satu medianya.

Itulah awal kenapa aku sekarang suka sastra. Tidak terduka aku akan menyukai sastra. Padahal, secara jujur sejak bangku sekolah Ibtidaiyah aku sangat membenci tugas mengarang, apalagi membuat puisi. Tugas yang tidak pernah terpikirkan olehku untuk menyelesaikannya.

Setelah drama tersebut, aku mulai membuat coret-coretan. Selanjutnya aku pernah mencoba iseng-iseng membuat puisi untuk guru-guruku saat kami akan berpisah di arena perpisahan santri angkatan kami. Puisi itu berjudul ”Harap Ma’af Guru”. Sampai sekarang aku tak tau apakah itu puisi atau sekedar oret-oretan belaka. Aku bahkan malu menunjukkannya. Bisa-bisa ditertawai lagi. Karena sampai hari ini pun aku belum sepenuhnya tau formalitas atau prosedur puisi. Inilah hasil dari ketidaktauan dan kebencian di masa silam.

Yang aku tau adalah bahwa puisi merupakan tempat tertawa, marah, sedih, berduka, prihatin, peduli, gembira yang dikemas dalam bahasa-bahasa yang indah, singkat, dan bisa menggetarkan jiwa. Heemmm apakah ini benar atau tidak, akupun masih ragu. Yang jelas aku semakin menyukai sastra. Sastra dalam bentuk tulisan ataupun lakon karya.

Selepas dari tamat sekolah aku melanjutkan ke perguruan tinggi di Universitas Negeri Medan. Di Medan ini lah aku mulai bertemu dengan teman-teman yang kadang satu obsesi denganku. Dan di Medan inilah aku mulai mendapat pengetahuan soal sastra. Berawal dari membaca novel, puisi-puisi maupun karya tulis lainnya begitu juga panggung lakon melalui dunia teknologi informasi maupun melihat secara langsung. Dan melalui internet aku melihat-lihat macam-macam puisi maupun video yang menampilkan pembacaan puisi. Dan di situlah aku mulai tau idolaku, Wahyu Sulaiman Rendra alias Burung Merak dan langsung menyukainya.

Sebenarnya aku sendiri sudah pernah jumpa dengan Rendra tanpa teringatkan olehku. Waktu itu di Pondok tempat aku menimbah ilmu sedang diadakan pengajian akbar se-Asahan dan dihadiri oleh seorang pengusaha yang namanya tidak asing lagi bernama Setiawan Djodi. Aku ditugasi mengkoordinir teman-teman untuk turut mempersiapkan kegiatan itu. Yang aku ingat, serangkaian dari kegiatan itu diantaranya ada sambutan dari Setiawan Djodi. Selanjutnya pembacaan puisi. Aku yakin sekali yang membaca puisi tersebut adalah Rendra, sebab seingatku tubuhnya tinggi, gondrong dan menggulung lengan baju serta membacakan puisi dengan lebaran-lembaran kertas. Apalagi pujangga yang sering membaca puisi bersama Setiawan Djodi, siapa lagi kalau bukan Rendra. Aku tidak ingat apa judul puisinya.

Pada saat itu aku belum tau benar siapa itu Rendra. Apalagi waktu itu, aku belum begitu mencintai puisi. Andai saja aku sudah suka puisi dan tau tentang biografi mas Rendra, tentu aku akan menemui Rendra waktu itu, dan meminta tanggapannya tentang aku yang suka dengan puisi-puisinya. Sungguh, sebuah kekaguman yang terlambat aku pikir.

Aku juga ingin seperti mas Rendra. Membela kaum lemah, peduli dengan kemanusiaan dan membelanya mati-matian lewat kata-kata. Memberi pesan baik, dan tegas dengan gaya suara yang khas, kharismatik, dan dramatis. Tubuh yang tinggi besar, mata yang tajam, rambut yang panjang tidak meragukannya sebagai ciri khas seorang sastrawan. Spektakuler sekali.

Aku ingat pesan mas Rendra. Singkat saja, namun cukup memberi inspirasi dan pesan yang tegas. Rendra mengatakan ”dan perjuangan adalah pelaksanaan KATA-KATA”. Sangat menggugah.

Terakhir, sayangnya Burung Merak telah tiada. Karya-karyanya cukup membuatku ingin meniru gaya gubahan puisinya. Rendra telah tiada sejak 6 agustus 2009 lalu dan wafat di Jakarta. Namun, karyanya dan kepedulian sosialnya cukup membuatku terinspirasi untuk berbuat baik dan mengikuti jiwa kepedulian itu. Karyanya, membuat aku terispirasi untuk mengikuti jejak Burung Merak. Dan karyanya cukup membuat aku terinspirasi untuk menggantikanya suatu saat dengan segala problematika kehidupan anak manusia. Inilah wujud dari keinginan seorang anak kecil bertubuh kecil, namun punya angan besar, bercita-cita besar.

3. PAHLAWAN BESAR ASIA

Siapa sih pahlawan besar Asia? Mungkin banyak yang bertanya-tanya siapa pahlawan yang di maksud. Tapi aku akan berikan kisi-kisi tentang pahlawan besar asia tersebut.

Dia seorang musisi yang lahir dari jalanan. Kegiatannya yang selalu mengamen dijalanan membuatnya lebih akrab dengan lantunan lagu-lagu anak jalanan. Tema dari lagu yang dinyanyikannya juga tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Materi dari lagunya begitu dekat dengan kehidupan rakyat, dengan gaya protes sosialnya yang khas, nakal, humoris dan berisi, sarat dengan harapan-harapan. Dia adalah pahlawan rakyat yang berjuang lewat lantunan lagu dengan senjata gitar dan selalu menyurakan suara hati wong cilik.

Bakat bermusiknya sangat melekat dalam tekatnya. Gitar adalah teman sejatinya. Ia mulai bermusik dari mulai musisi jalanan sampai ke musisi legendaris yang dimiliki bangsa ini. Ia lahir pada 3 September 1961 di Jakarta dalam keluarga besar yang taat beragama. Semenjak kecil Ia sering diajak ibunya, Lies Haryoso, mengikuti berbagai kegiatan sosial. Maka, tidak heran jika dalam setiap lirik lagu yang dibawakannya tidak sedikit yang bertemakan kepedulian sosial. Sebuah jiwa yang aku juga ingin memilikinya.

Tidak hanya itu, Pahlawan Besar Asia juga seorang yang jago karate, hobi main sepak bola dan melukis. Terbukti ia pernah memperoleh Juara II Karate Tingkat Nasional, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik) sehari-harinya dipanggil Tanto.

Pemusik legendaris ini cukup kental namanya di hati orang Indonesia, terutama kaum kecil. Lagu-lagu protes seperti Oemar Bakrie dan Bento atau lagu-lagu lainnya seperti galang rambu anarki, sarjana muda, nyanyian jiwa, wakil rakyat dan masih banyak lagi, tidak asing lagi di telinga orang-orang Indonesia. Siapa lagi dia kalau bukan mas Iwan Fals.

Pemusik yang pernah bergabung dengan sejumlah musisi lainnya ini merupakan sosok pemusik yang mempunyai ciri khas. Suaranya yang khas, gaya musik serta penjiwaan dari setiap musiknya dan lirik lagunya seolah kita ingin mengatakan bahwa begitu pula yang ingin ku katakan. Sosoknya legendaris, cinta sosial dan menyuarakan suara rakyat. Maka tidak heran jika majalah Time Asia edisi 29 April 2002 menjuluki pria ini dengan gelar ”Pahlawan Besar Asia”.

Sosok seorang yang pernah berkolaborasi dengan pemusik muda tanah air ini begitu pantas menerima acungan jempol dan mendapat simpati di hati pendengar musik-musiknya. Musik yang dilantunkan tidak berlebihan, cukup mewakili perasaan hampir setiap elemen masyarakat, jujur dan apa adanya.

Menurutku Mas Iwan adalah pemusik yang asik dan percaya diri dengan musiknya. Keahliannya seolah timbul bukan dari sebuah keinginan, tapi keharusan. Tema dan materi dari lagunya seolah tercipta dari paparan jiwanya yang harus diungkapkan untuk membela dan munyuarakan suara hati.

Aku cukup mengidolakan mas Iwan dalam dunia musik. Karena aku sendiri juga suka mendengarkan musik. Ciri khas dari musik tokoh yang pernah berkolaborasi dengan WS Rendra, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Donny Fattah, Jockie Speryoprayogo, Totok Tewel, dan Doddy dalam kelompok kantata adalah terkadang dramatis, bertema kemanusiaan, cinta, nasionalis maupun protes sosial, terkadang terdengar seperti musik koboy, dan hidup sekali, cukup membuat darah ini terasa mengalir di kepala ketika mendengar ungkapan sederhananya tapi tidak mengada-ada.

Kecintaanku pada dunia sosial turut menjadi alasan mengapa aku mengidolakan mas Iwan. Buatku sosial itu merupakan jalan hidup yang kita tidak akan pernah hidup kecuali melewati jalan itu. Aku sering mendengar teori-teori sosial, seperti manusia adalah zoon politicon yang dicetuskan oleh Aristoteles (makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain). Atau ungkapan kata manis seperti, seorang yang bersedih bukanlah saat dia menangis. Tapi orang yang pantas untuk bersedih adalah orang yang sedang tertawa tetapi tidak ada teman yang mau ikut dengannya untuk tertawa.

Buatku kepedulian sosial harus ada pada setiap insan manusia. Sebab, manusia pada dasarnya adalah sama, ingin damai, ingin bahagia, dan kebahagiaan itu tidak akan pernah diraih jika satu orang saja mengusik kita karena kita mengusiknya. Jadi ajaran-ajaran agama atau ajaran-ajaran kemanusiaan sangat harus diterapkan terlepas dari perbedaan-perbedaan yang harus dihormati dan punya aturan.

Kepedulian sosial wajar saja harus timbul dan dikembangkan oleh setiap orang. Karena, suatu saat kita juga butuh untuk dipedulikan oleh sesama. Hasrat untuk saling mengasihi, menghormati dan memberi harus tetap ditanamkan, agar manusia-manusia tidak terkontaminasi dengan sifat sombong, angkuh, makan sendiri lalu kemudian matipun sendiri.

Aku sendiri sebenarnya ingin peduli dengan sesama. Sedaya mampuku aku coba untuk buktikan naluri itu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat orang-orang tak mampu, melihat bayi-bayi tidur-tiduran di jalan, anak-anak kecil yang mengulurkan tangan, atau nenek-nenek tua yang tertatih meminta, membuat diri ini berdosa dan merasa bersalah belum bisa lakukan apa-apa.

Baca juga: WS RENDRA

Maka, seyogianya tidak ada perampasan harta. Aku heran mengapa orang kaya tidak pernah puas dengan kekayaannya? Mengapa tidak mau dibagikan dengan sesama? Kalaupun dibagikan, bukannya dibagikan dengan orang yang tepat. Bukannya kebahagiaan itu akan diraih saat kita bersama. Mengapa wakil rakyatku berbuat curang dan menyembunyikan harta? Apa yang diinginkannya? Mau nasi yang lebih? Aku pikir perut mereka juga sama besarnya dengan perutku. Lalu mau apa lagi dengan yang berlebih itu? Bukankah dia akan tersenyum juga bersama orang-orang yang menginginkan nasi itu sehingga usianya pun jauh terlihat lebih muda dengan senyum itu? Aku berdoa, muda-mudahan aku menjadi orang kaya yang dermawan. Yang bisa bahagia dengan orang-orang yang bahagia di sekitarku karena sama-sama saling membutuhkan. Lebih dari itu semua, semoga tekatku ini tidak akan luntur diterpa pikiran zina-zina harta dunia dan perhiasan-perhiasan dunia. Semoga aku tetap istiqomah, karena perjuangan yang berat adalah mempertahan tekat untuk istiqomah. Dan aku berharap tulisan ini menjadi pengingatku untuk tidak melupakan itu dan suatu saat bisa membuat aku menangis dan menyesal tatkala aku berpaling dari cita-cita ini.

Kepedulian sosial harus tetap ditanamkan. Kita tidak mau lagi ada peperangan, kita tidak mau lagi ada yang kelaparan, kita tidak mau lagi ada orang yang merampas hak orang lain, kita tidak mau lagi ada yang tidur-tiduran di ranjang-ranjang emper toko dan kita inginkan bahagia bersama orang-orang yang bahagia. Naluri manusia adalah sama-sama ingin bahagia.

Segala cara aku coba untuk merealisasikan kepedulian itu. Dan salah satunya aku selalu diingatkan dengan lirik-lirik kepedulian itu dari mas Iwan. Aku cukup iri dengan mereka-mereka yang telah berbuat. Aku mungkin tidak akan menangis melihat film dengan kisah kekasih yang diputuskan oleh kekasihnya, atau adegan tabrakan dan lain-lainnya. Tapi aku akan menangis ketika melihat film yang menceritakan semangat anak muda yang ingin memberikan pendidikan buat anak-anak jalanan.

Buatku mas Iwan cukup memberi inspirasi untuk peduli sesama, walaupun hanya lewat permainan gitarnya. Tidak hanya itu, mas Iwan juga ingin menggubah fenomena-fenomena di masyarakat, kesaksian-kesaksian brutal lewat senandung lagu kemudian menyuruh kita untuk memperhatikan dan peduli dengan itu.

Mas Iwan, yang bernama asli Virgiawan Listianto ini cukup memberi inspirasi dan membuat aku mengidolakannya. Idola dalam arti yang tidak berlebihan, tepatnya diatas kagum. Entah mengapa aku juga ingin bermain musik, tapi aku tidak ahli untuk itu. Mungkin dikarenakan aku suka dengan panggung. Aku ingin bisa menguasai panggung dan menjadi pemeran yang handal dalam panggung itu. Makanya aku bisa senang dengan nuansa panggung, seperti pembacaan puisi, teater maupun panggung konser musik yang dramatis dan memukau.

Maju terus mas Iwan untuk membela dan mendendangkan fenomena di sekitar serta memberi pengertian lewat nyanyian jiwamu.

Baca juga: IWAN FALS
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar