COMING TO MASJID TO FORM THE POWER


Sekilas tentang Israel-Palestina:
1947: PBB memutuskan membagi Palestina. Israel 55%, Yerusalem menjadi wilayah khusus, sisanya untuk Palestina.
1948-1954: Israel diproklamasi 14 Mei 1948 dengan perdana mentri pertama David Ben-Gurion. Keesokan harinya diserbu negara-negara Arab. Tapi, saat perang berakhir pada 1949, Israel malah merebut 78% wilaya Palestina, membuat 726 ribu orang Palestina mengungsi.
1963-1969: Terjadi perang enam hari. Arab kalah dan menguasai Jerusalam, Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan.

1986-1992: Intifada 1 pecah pada 1987.


1999-2001: Negosiasi akhir Camp David pada juli 2000 berakhir deadlock. Palestina ingin pengungsi kembali, tapi Israel menolak.

2001-2006: Intifada II (Intifada Aqso) pecah
2006-2009: Israel menyerang Jalur Gaza menyebabkan 1.400 tewas, 5.300 terluka.
Kekejaman yang bagaimana lagi yang akan dibuat oleh Bangsa yang tidak memiliki tanah di dunia? Sebuah Bangsa yang selalu doyan perang, sebuah Bangsa yang pernah mendapat nikmat surga langsung dari Allah ke dunia, sebuah Bangsa yang sejak jaman kenabian memang selalu membangkang perintah-perintah Allah, mengkufuri nikmat-nikmat Allah, sebuah Bangsa yang menamakan dirinya sebagai Israel. Kekejaman yang bagaimana lagi yang akan diperlihatkan?
Lalu apalagi, apalagi bentuk penderitaan dari si tuan tanah? Si tuan tanah yang mempertahankan tanahnya dari gangguan si penjajah. Apalagi ketakutan yang akan mencekam ibu-ibu ketika gelap menyelimuti malam saat tuhan menciptakannya sebagai selimut? Apalagi kesombongan tank-tank baja, pesawat tempur serta macam-macam bom yang akan diturunkan ke si tuan tanah di saat dunia berteriak kebebasan dari bentuk penjajahn serta hak asasi manusia? Berapa banyak darah lagi yang akan mengalir menghujani bumi? Manusia-manusia yang mana lagi yang akan dibantai dengan alasan terorisme sebagai kedok penjajahan? Kurang nyatakah kesulitan-kesulitan, ketakutan, penderitaan, tumpahan darah dari mereka yang disebut Palestina? Apalagi penderitaan yang akan mereka terima?
27 Desember 2008 adalah kali yang kesekian kalinya Israel memulai lagi menyerang dengan kejam rakyat Palestina di Jalur Gaza. Dengan alasan memburu HAMAS, seluruh rakyat di Jalur Gaza malah terkena imbasnya. Tidak sedikit anak-anak dan perempuan serta orang-orang sipil yang menjadi korban.
Disaat dunia Islam memperingati Tahun Baru Islam 1930 H. di bulan yang dimuliakan, di bulan yang seharusnya dilarang perang, saudara-saudara kita di Jalur Gaza harus bertahan dan penuh harapan perdamaian dari kekejaman Israel. Beribu warga Gaza tewas dalam pertempuran itu, menarik perhatian dunia internasional.
Sejak 50 tahun lebih yang lalu, Israel telah menampakkan keserakahannya dan kekejamannya terhadap Palestina. Sedikit demi sedikit, waktu demi waktu mereka merebut tanah yang bukan miliknya di Palestina. Kebiadaban dan kekejaman mereka lakukan tanpa mendengar tangisan anak kecil.
Lebih dari itu adalah perlindungan terhadap Yerusalem. Kota yang menjadi rebutan Israel. Kota yang menyimpan mesjid suci umat Islam ketiga. Mesjid yang pernah menjadi tempat persinggahan nabi Muhammad SAW dalam peristiwa perjalanan satu malam yang disebut Isra’ dan mi’raj.
Yerusalem adalah kota yang selalu ingin direbut oleh Israel selain wilayah-wilayah Palestina yang dicaplok oleh mereka. Yerusalem inilah yang sebenarnya menjadi sumber konflik antara Israel dan Palestina. Kota yang memiliki Masjidil Aqso yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.
Namun bagi Israel, tepat dimana Masjidil Aqso berdiri terdapat bekas bangunan suci yang mereka sebut Haikal I Sulaiman. Israel berkata : “Tak ada Israel tanpa Yerusalem sebagai ibukota dan tak ada Yerusalem tanpa Haikal”. Sedangkan Palestina berkata : “Tidak ada Palestina tanpa Yerusalem Sebagai ibukota dan tidak ada Yerusalem tanpa Masjidil Aqso”.
Sebagai pemiliknya, umat Islam sedunia pasti tidak menginginkan Masjidil Aqso direbut oleh orang-orang yang diharamkan memasuki mesjid itu. Sekali lagi kita tidak menginginkan itu dan tetap mempertahankan mesjid Allah itu. Lalu, bagaimana mungkin Israel yang tadinya minoritas berani dan bisa merebut lebih dari separuh wilayah palestina dan perebutan Masjidil Aqso? Dimana umat muslim yang mayoritas? Mengapa diam dan kalah?
Satu hal yang kita pelajari dari mempertahankan Masjidil Aqso adalah tidak sekedar mempertahankannya tetapi bagaimana caranya kita meramaikan mesjid dengan ibadah. Disebut dalam kitab-kitab orang yahudi bahwa mereka tidak akan pernah takut sedikitpun terhadap umat muslim sebelum mesjid-mesjidnya ramai di waktu subuh layaknya ramai pada waktu sholat Jum’at.
Ternyata, hal itu yang menjadi barometer Israel hingga hari ini dalam menghadapi umat muslim dengan berani. Mesjid adalah patokan umat muslim. Mesjid adalah kekuatan umat muslim. Mesjid adalah sumber kekuatan intifada umat muslim. Lalu akankah kita menjadi kekuatan disaat bangunan megah rumah kita melalaikan mesjid. Akankah sumber kekuatan intifada itu muncul disaat kelezatan dunia fana melalaikan kita dari mesjid.
Mesjid adalah tempat ibadah yang membentuk kekuatan. Mesjid adalah pembentuk ketaatn hamba terhadap Robbnya kemudian membentuk kekuatan yang tak terkalahkan terhadap mereka-mereka yang ingin menghancurkan mesjid.

Kalau mesjid adalah barometer kekuatan Islam, mari ramaikan mesjid untuk melawan Israel! Kenapa tidak? Mari berintifada malalui mesjid! Kenapa tidak? Tidak hanya melakukan aksi penolakan kekerasan terhadap palestina, terhadap gaza, terhadap yerusalem, terhadap masjidil aqso.
Kalo hari ini bocah-bocah palestina mencoba melawan tank Israel dari kekerasannya dengan batu. Mari kita mencoba melawan Israel dengan meramaikan mesjid dan beribadah disana. Kalo hari ini warga palestina terbiasa dengan kekacauan bom-bom mematikan dalam mempertahankan negara dan Masjidil Aqso, sudahkah kita terbiasa mengisi mesjid dengan beribadah tanpa kekacauan-kekacauan itu? Bagaimanapun mesjid adalah tempat ibadah yang harus kita ramaikan dengan ibadah. Sejahtera atau tidaknya suatu daerah dapat dilihat dari ramai tidaknya hamba-hamba allah yang mengisinya dengan ibadah. Let’s Come To Masjid To Form The Power

Baca juga: INSAN UTAMA

Dimuat pada buletin AHSAN PK.IMM K.H MAS MANSYUR UNIMED
Edisi ke-4 (20 februari 2009)
by me : bangsur_on7

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel