INSAN UTAMA

Suatu kisah tentang orang tua lanjut usia. Seorang laki-laki yang lanjut usia ini adalah seseorang yang buta dan sedang menderita penyakit dan harus dirawat oleh orang lain. Nasibnya sangat baik sekali, karena ada orang lain yang mengurusinya. Dan orang yang mengurusnya itu tak lain adalah Rasulullah SAW sendiri.
Ketika Rasulullah SAW merawatnya sambil menyuapi makanan kepadanya dengan kelembutan dan cinta kasih sayang, orang tua itu bercerita kepadanya. Orang tua yang buta itu bercerita tentang kebenciannya terhadap Muhammad SAW. Ia sangat benci dengan Muhammad, si penebar agama yang dianggapnya agama yang mengkhianati agama nenek moyangnya. Ia bercerita ingin sekali memaki-maki Muhammad di hadapannya. Rasulullah hanya diam dan tetap sabar merawatnya sambil tetap mendengarkan cerita orang tua yang buta itu dengan seksama tanpa ada rasa dendam di hatinya.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW masih tetap merawatnya. Sambil menyuapi makanan kepada orang tua itu dengan lebih memberikan kelembutan lagi, si orang tua itu masih tetap bercerita tentang kebenciannya kepada Muhammad. Semakin Rasulullah memberikan perawatan yang lebih lembut, maka semakin tinggilah kebencian orang tua yang buta itu dengan nabi Muhammad SAW dalam ceritanya. Namun, Rasulullah masih tetap sabar dan hanya diam mandengarkan dengan seksama cerita orang tua itu yang membenci Rasulullah SAW.
Masih seperti hari-hari yang biasanya, Rasulullah masih tetap merawatnya bahkan dengan perawatan yang setulus hati. Perawatan yang amat sangat lembut sekali. Dan lagi-lagi setiap Rasulullah SAW memberi perawatan yang terbaiknya, maka orang tua itu semakin benci sejadi-jadinya kepada Muhammad, sang penyebar agama keselamatan yang dianggapnya tidak benar, membencinya dengan kebencian yang amat sangat. Sambil menyuapi makanan dan mendengarkancerita orang tua itu, Rasulullah tetap sabar dan diam mendengar ceritanya. Bahkan orang tua itu berniat akan membunuh Nabi Muhammad SAW dengan lantangnya bila ia berjumpa dengan Nabi.
Di hari yang selanjutnya, Rasulullah berniat pergi dan memerintahkan Abu Bakar untuk menggantikannya dalam merawat orang tua yang buta itu. Dan tatkala Rasulullah pergi, maka Abu Bakarlah yang merawat orang tua itu.
Ketika Abu Bakar berada di samping orang tua itu untuk merawatnya dan mencoba menyuapi makanan kepadanya, orang tua itu bingung. Ia berkata : “kamu bukan orang yang merawatku selama ini, kamu adalah orang lain. Orang itu sungguh mulia, baik akhlaknya. Dia sangat lembut merawatku. Perawatannya sangat lembut, lembut sekali, berbeda dengan kamu”.
Orang tua itu ternyata menyadari kalau yang merawatnya bukanlah orang yang biasa merawatnya selama ini yaitu Rasulullah SAW sendiri. Kemudian Abu Bakar berkata kepada orang tua itu : “taukah kamu siapa orang yang merawatmu kemarin? Yang kau ajak bercerita tentang kebencianmu kepada Muhammad? Dialah Rasulullah Muhammad SAW yang kau benci, tetapi tetap merawatmu dengan kelembutan yang tulus”.
Orang tua yang buta itu baru menyadari kalau orang yang selama ini merawatnya dengan lembut bahkan melebihi kelembutan Abu Bakar adalah orang yang selama ini dibencinya. Lalu orang tua itupun menyesal dan menangis sejadi-jadinya, orang yang selama ini dianggapnya melawan agama nenek moyangnya itu adalah orang yang mempunyai kelembutan akhlaq, akhlaq yang terpuji. Akhlaq yang luar biasa sekali. Ia ingin meminta ma’af dan ingin menyatakan memeluk islam di hadapan Rasulullah SAW.
Begitulah kemuliaan Rasulullah SAW. Cerita yang bagaimana lagi yang harus dipaparkan untuk menjelaskan sifat-sifat, kemuliaan akhlaq Rasulullah? Ia mencintai setulus hati, mempunyai budi pekerti yang baik hati, keikhlasan yang tinggi serta akhlaq yang terpuji dan masih banyak lagi. Baik hatinya, santun perangainya, jujur katanya dan tidak mau berdusta. Dia adalah teladan bagi kita semua.
Dia adalah panutan yang harus kita ikuti. Teladan yang bersahabat. Dalam al-Qur’an dikatakan : “jika kamu mencintai Allah SWT, maka ikutilah aku maka Allah akan mencintaimu”. Nabi Muhammadlah yang terlahir sebagai nabi akhir zaman, Rasul penutup para mursalin yang tidak akan ada lagi Rasul setelahnya. Pengemban amanah Ilahi, kekasih Allah serta suri tauladan yang baik bagi keluarga bahkan bagi alam semesta.
Nabi Muhammad sebagai penerima kitab suci Al-Qur’an, penegak bendera jihat, pengemban misi islam dengan perdamaian dan hanya akan menyerang kalau diserang. Seseorang yang tak pernah kenyang perutnya. Seseorang yang tak pernah berbohong tapi masih mempunyai canda-tawa yang sopan dan santun. Suami yang adil, kakek yang saying kepada cucunya dan seorang ayah yang tegas dan bijaksana kepada anak-anaknya. Dicintai sahabat dan disegani lawan.
Nabi Muhammadlah, seseorang yang meraih gelar yang luar biasa dibandingkan gelar sarjana, magister maupun doctoral dan lain sebagainya yang masih biasa. Gelar yang tak pernah dimiliki oleh manusia-manusia sesudahnya, gelar itu adalah gelar orang yang dipercaya “Al-Amin”. Dipercaya oleh siapa saja, dipercaya ketika 4 kabilah besar masing-masing ingin meletakkan hadzarul aswad di tiang ka’bah. Dan Rasulullah mengabulkan permintaan masing-masing mereka dengan ide yang luar biasa dan dengan damai tanpa ada yang merasa dirugikan sama sekali, dipercaya sejak usia kecilnya.
Kalau hari ini orang tenar karena kepopulerannya, maka Rasulullah tenar dengan akhlaqnya. Ada seorang actor perfilman, pandai acting, pintar berbicara, dan mendapat penghargaan yang tinggi. Namun, ketenarannya hanya sampai di situ dan akan lenyap ditelan waktu. Ada juga seorang artis, piawai dalam pertunjukan-pertunjukan orkestranya, digemari oleh penonton-penontonnya. Tetapi sama saja, ia bakal dilupakan oleh masa.
Lain lagi dengan seorang model, sibuk dengan aktivitas-aktivitasnya, digaji mahal bahkan dikenal orang banyak. Namun, namanya juga hanya akan dikenal sampai di situ saja. Dan ketika ia lenyap dari dunia maka lenyap pulalah ketenarannya.
Begitu juga dengan tokoh politik, si pengejar kekuasaan, memproklamirkan diri sebagai orang yang bias mensejahterakan rakyatnya. Tokoh yang sangat sombong bahkan merasa tinggi dengan kepolitikannya yang sama sekali tidak menerapkan prinsip-prinsip yang dicontohkan Rasulullah. Dikenal orang sebagai orang nomor satu di suatu Negara ataupun di mana saja. Sebagai tokoh yang popular akan kontribusi yang terkadang omong kosong. Namun, kepopulerannya juga bakal berakhir sejalan dengan bergantinya waktu, generasi selanjutnya sedikit-banyaknya akan melupakannya.
Tapi tidak begitu dengan Rasulullah SAW. Ia dikenang sepanjang masa, turun-temurun oleh umat muslim sedunia, di mana dan kapanpun mereka berada. Nabi Muhammad tidak akan pernah terlupakan, akan tetap diingat dan dipopulerkan dalam setiap sholawat yang dibaca oleh semua umat muslim. Karena setiap hari, setiap waktu ada saja orang yang bersholawat kepadanya.

Ia tidak perlu menjanjikan diri bias mensejahterakan rakyat. Ia tidak perlu berkampanye agar semua orang kenal dengannya. Ia hanya dikenal karena akhlaq mulianya. Ia adalah politikus yang siddiq, amanah, fathonah dan tabligh. Ia adalah pemilik gelar uswatun hasanah. “sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik”. Maka, contohlah Rasulullah SAW! Ambillah pelajaran yang diajarkan dan disyariatkan oleh Rasulullah. Dan bersholawatlah kepada Nabi Muhammad SAW.

Ada hadits dari Nabi Muhammah SAW, Beliau SAW bersabda “sesungguhnya Allah Ta’alah menciptakan malaikat, mereka memiliki sayap yang lebarnya seluas dunia timur dan sebelahnya lagi seluas dunia barat. Kepalanya berada di bawah ‘Asyy, kedua kakinya di bumi yang ke tujuh, dan mereka memiliki bulu sebanyak makhluk Allah ta’alah. Apilah dari umatku laki-laki maupun perempuan membaca sholawat kepadaku, maka Allah memerintahkan malaikat menyelam ke lautan cahaya yang letaknya di bawah ‘Arsy, malaikat itu kemudian muncul lagi dan mengibas-ibaskan sayapnya, maka keluarlah percikan-percikan dari bulu malaikat, dan Allah menciptakan dari setiap percikan air menjadi malaikat lagi, dan malaikat itu memintakan ampun bagi orang yang membaca sholawat sampai hari kiamat”.(Imam Ghozali, makasyifatul Qulub)
Kata sebagian ahli hikmah : “selamatnya tubuh terletak pada sedikitnya makan, selamatnya ruh terletak pada sedikitnya dosa, dan selamatnya agama terletak pada membaca sholawat seseorang kepada sebaik-baiknya makhluk, yakni Nabi Muhammad SAW.

Lebih dari itu adalah mencontoh dan mentauladani sifat dan sikap Rsulullah SAW dalam setiap keseharian kita. Mentaati Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Menjadikannya sebagai panutan yang diidolahkan pada setiap diri kita. Karena ia adalah tauladan yang bisa ditauladani, bahkan dia adalah pembawa perdamaian. Seorang ilmuan berkata, andai kata Muhammad ada pada zaman ini maka selesailah semua masalah-masalah yang ada pada zaman ini. Mari mencontoh dan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sabagai panutan untuk berkehidupan sosial, bersahabat, berpolitik lebih-lebih sebagai dasar dalam ketaatan kepada Allah SWT. Dialah insan utama.

Baca juga: KEKALAHAN KEHIDUPAN


Dimuat pada BULETIN ahsan PK.IMM K.H MAS MANSYUR UNIMED
edisi ke-5 (6 maret 2009)
by me : bangsur_on7

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel