KEKALAHAN KEHIDUPAN

Kehidupan modern saat ini mengisyaratkan setiap orang untuk berlomba menjadi juara. Apakah untuk sekedar mempertahankan kehidupan atau menjadi yang terbaik dalam kehidupan itu. Orang miskin akan segera beranjak dari kemiskinannya untuk kehidupan lebih baik. Orang cerdas juga berlomba untuk mempertahankan diri serta menjadi terbaik dengan kecerdasannya.

Cara yang dilakukan untuk menjadi juara itu pun ditempuh dengan berbagai macam cara. Cara-cara itu dilakukan dengan maksimal serta sungguh-sungguh untuk meraih apapun yang diinginkan. Termasuk menjadi pemenang lomba kejuaraan kehidupan.

Menjadi juara kehidupan adalah sesuatu hal yang diidam-idamkan oleh siapa saja. Seorang siswa ingin menjadi juara di kelasnya. Seorang pekerja ingin meningkatkan penghasilannya. Begitu juga manusia, umumnya ingin mencari kehidupan bahagia di dunia dan akhirat sebagai hamba Allah yang mendapatkan apa yang diinginkan, tepatnya menjadi juara dalam kehidupan, menjadi mulia dalam kehidupan.

Kehidupan memang selalu menawarkan dua pilihan yang berbeda. Menang atau kalah, bahagia atau derita, kaya atau miskin, maupun hitam atau putih. Dan pilihan-pilihan itu sangat bergantung pada taqdir Ilahi serta ikhtiar manusia. Maka, setiap orang selalu berusaha berikhtiar menjadi pemenang.

Dua pilihan yang berbeda tersebut kemudian mengisyaratkan bahwa kehidupan adalah sebuah perlombaan. Yaitu perlombaan untuk menjadi kalah atau menang.

Ada yang menang, maka ada yang kalah. Kekalahan dapat terjadi kapan saja. Kekalahan dapat terjadi disebabkan beberapa hal. Kemungkinan ceroboh, tidak taat aturan, tanpa persiapan, menunda-nunda untuk menang, atau sekedar lalai untuk bersungguh-sungguh meraih cita-cita besar, sebesar cita-cita menjadi pemenang.

Kelalaian sepele bisa saja berakibat fatal bagi tujuan awal. Diantara kelalaian tersebut yang biasa dilakukan atau dialami oleh hampir setiap manusia adalah menunda-nunda berlari di awal waktu.

Perlu diperhatikan bahwa untuk menjadi pemenang juga harus memperhitungkan waktu. Siapa yang memanfaatkan waktu, seperti berlari lebih awal dan berlari lebih cepat, maka merekalah yang akan berhasil. Berlari dengan kecepatan kontiniu maupun kecepatan yang semakin hari semakin baik, bukan berlari secara lambat, telat atau sikap yang lebih buruk. Menunda-nunda.

Maka tidak heran, bahwa kekalahan seseorang dalam perlombaan cita-cita untuk memperebutkan kejuaraan kehidupan yang sering terjadi di awal start adalah disebabkan karena menunda-nunda waktu untuk memulai berlari saat start itu pun dimulai.

Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya menjadi pemenang jika waktu yang digunakan pun ditunda-tunda. Yang menjadi ironis adalah kelalaian ini selalu terjadi di awal permulaan lomba. Kebiasaan buruk yang tidak akan dimiliki oleh jiwa pemenang.

Awal waktu harus digunakan semaksimal mungkin untuk mewujudkan kemenangan maksimal yang nyata. Maka, apapun usaha untuk mendapatkan juara, mulailah sekarang juga! Jika tidak, maka kamu akan semakin tertinggal. Terkalahkan.

Baca juga: MANUSIA TERTIPU


GALANG, 21 SEPTEMBER 2010
02.10 WIB

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel