ARIF DALAM TAQWA

ARIF DALAM TAQWA

ARIF DALAM TAQWA


Seorang Kepala Sekolah berkata kepada guru agama ketika diadakan perlombaan panjat pinang di sekolah :
“Meriah ya pak perlombaan panjat pinangnay!”.
Guru agama : “Ya. Tentu saja meriah, karena mereka ingin memenangkan hadiah yang ada di ujung atas pinang itu. Semakin menarik hadiah yang akan diperebutkan, maka semakin semangat mereka memperebutkannya”.
Kepala sekolah : “Iya ya! Padahal tantangan memanjat pinang itu juga menyusahkan. Bayangkan saja batang pinangnya kan licin pak!”.
Guru agama: “ Memang betul pak! Itulah yang dihadapi peserta-peserta lomba, walaupun menyusahkan, tapi mereka tetap semangat dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan di atas”.
Kepala sekolah : (sambil bercanda) “Bagaimana ya pak kalau di atas pinang itu tidak ada hadiahnya?”
Guru agama : “Tentu saja mereka tidak mau pak! Nah, itulah yang harus kita ambil hikmahnya dari sini. Kita hidup mempunyai beberapa rintangan dan kesulitan. Dan Allah menjanjikan kebaikan berupa surga bagi mereka yang memang dalam rintangan dan kesulitan ibadah. Kalau ibadah kita ibaratkan dengan kesulitan-kesulitan peserta lomba panjat pinang kemudian hadiah-hadiah yang berada di atas adalah janji kebaikan Allah berupa surga bagi peserta-peserta tersebut. Lalu, masihkah kita tetap beribadah jikalau surga itu tidak ada? Dan kita tau bahwa Allah yang maha perkasa!”.
Kepala sekolah : (terdiam dan bingung)

Satu hal yang kita ambil hikmanya dari cerita di atas adalah keikhlasan. Keikhlasan adalah sifat yang memprioritaskan segala sifat dan sikap manusia dalam berbuat hanya untuk Allah SWT semata bukan untuk yang lainnya walaupun yang lainnya itu adalah janji Allah SWT. Kita hidup, berkarya, bermasyarakat dan beribadah hendaknya dikarenakan kepada kearifan kita sebagai hamba Allah SWT. Bukan untuk menerimah hadiah seperti dalam cerita di atas tadi. Karena memang kita diciptakan adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah semata, bukan yang lain. “tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.

Bermasyarakat, anggaplah itu ibadah, berbuat baik anggaplah itu ibadah. Dan ibadah hendaknya didasari rasa ikhlas. Begitu besarnya pengaruh ikhlas dalam ibadah kita kepada Allah. Sampai-sampai Allah SWT berkata kepada iblis ketika iblis meminta tenggang waktu hidup sampai hari kiamat dan berjanji akan menggoda anak cucu Adam kepada pembangkangan terhadap Allah SWT. Maka Allah SWT memberinya tenggang waktu hidup sampai hari kiamat, dan Allah menyatakan bahwa iblis bias saja menggoda manusia, tapi bukan kepada orang yang ikhlas.

Allah menyatakan iblis bisa saja menggoda manusia untuk pembangkangan kepada-Nya, tapi iblis tidak akan pernah bisa menggoda anak cucu Adam yang ikhlas. Bukan yang rajin sedekah, bukan yang rajin bangun malam dan bukan yang rajin beribadah yang lainnya. Tetapi kepada mereka yang rajin sedekah, yang rajin bangun malam dan rajin beribadah lainnya yang tetap dilandasi dengan keikhlasan.

Ibadah yang ikhlas adalah proses untuk menjadikan semua aktivitas dan dimensi kehidupan berada pada jalan kekuasaan, kehendak dan keridhoan Allah. Menghiasi semua perbuatan dengan cahaya Ilahi terbukti telah memberi pengaruh yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat dan ini sangat menguntungkan.

Allah memang menjanjikan surga bagi mereka yang taat kepada-Nya dan neraka kepada mereka yang membangkang-Nya. Tapi jangan keliru dengan menjadikan itu sebagai tujuan kita dalam hidup.

Ada 4 macam model manusia dalam beribadah kepada Allah SWT, dengan segala tingkat keikhlasannya terhadap tujuan ibadahnya.

1. Seperti Pedagang
Pedagang adalah orang yang dalam kegiatan perdagangannya selalu memperhitungkan untung dan ruginya. Setiap pedagang tidak menginginkan kerugian, selalu berharap untung, untung dan untung lagi. Pedagang selalu memprioritaskan keuntungan dengan apa diusahakannya. Jika kegiatan itu tidak menguntungkan, maka ia tidak akan melakukannya. Mereka akan selalu berharap kebaikan atau keuntungan.
Dalam beribadah, juga ada seorang hamba yang selalu ingin memperoleh kebaikan seperti pedagang tadi. Mereka adalah orang yang akan beribadah jika ada kebaikan yang ia peroleh. Dalam hal ini, seorang hambah yang beribadah seperti pedagang adalah hamba yang menginginkan surga sebagai balasan atas ibadahnya kepada Allah SWT. Mereka selalu mendambakan surga sebagai keuntungan yang harus mereka terima atas ibadahnya kepada Allah SWT.

2. Seperti Budak
Seorang budak adalah orang-orang yang pada setiap tingkah lakunya dan perbuatannya selalu dikendalikan oleh tuannya. Budak akan senantiasa melakukan apa saja yang diperintahkan tuannya. Ia akan taat kepada tuannya untuk berbuat ini dan itu. Segala tingkahnya dapat saja difungsikan oleh tuannya, bahkan tuannya bisa saja membunuhnya. Oleh sebab itu, setiap budak akan selalu takut kepada tuannya. Mereka tidak akan pernah berani kepada tuannya karena statusnya sebagai seorang hamba sahaya, kecuali jika tuannya tidak berada di dekatnya, sedang pergi misalnya.
Dalam beribadah, juga ada seorang hamba selalu beribadah dengan didasari rasa takut seperti seorang budak tadi. Mereka adalah yang mendasarkan ibadahnya karena rasa takutnya akan siksa neraka. Mereka selalu dibayang-bayangi oleh rasa takut akan pedihnya siksa neraka, kerasnya penyiksaan di neraka. Mereka selalu mendambakan agar terhindar dari neraka sehingga mereka taat dalam beribadah kepada Allah SWT layaknya seorang hamba sahaya takut akan siksaan tuannya.

3. Seperti Robot
Robot adalah sebuah mesin yang selalu bekerja untuk manusia. Kehadiran robot memang sangat menguntungkan bagi aktivitas manusia. Robot akan melakukan apa saja sesuai dengan intruksi dan fungsi yang ada di dalam robot itu sendiri. Ia akan bekerja terus sesuai dengan fungsi perintah yang ada di dalamnya. Namun ia tidak tau apa sebenarnya yang ia lakukan, untuk apa dan untuk siapa ia lakukan itu. Robot tidak akan pernah mengerti, ia hanya mengikuti perintah yang ada difungsinya dan tidak akan pernah memikirkannya.
Seorang hamba Allah dalam beribadah ada juga yang berprilaku seperti robot. Ia hanya melakukan ibadah sesuai dengan perintah yang diperintahkan kepadanya tanpa pemikiran dan tidak pernah merenungkan apa sebenarnya yang ia lakukan, untuk apa dan untuk siapa dia lakukan itu. Ia hanya mendasarkan ibadahnya karena mengikuti perintah, sehingga bisa dikatakan ia adalah hamba yang sekedar ikut-ikutan dalam beribadah. Ketika orang lain sholat ia juga akan sholat mengikuti perintah orang tuanya. Ketika orang lain berpuasa ia juga akan ikut berpuasa dan lain sebagainya tanpa mengetahui hakekatnya.

4. Seperti Orang Yang Arif
Seorang yang arif adalah orang yang dalam berbuat selalu mendasarkannya atas kebijakasanaannya. Ia tidak mendasarkan atas keuntungan atau kerugian, tidak karena ketakutan yang palsu dan tidak pula atas dasar ikut-ikutan. Ia akan melakukannya atas dasar karena memang seyogyanya ia harus melakukannya.
Seorang hamba yang bijaksana adalah hamba yang dalam ibadahnya didasari karena ia memang harus beribadah secara sadar sebagai hamba Allah.
Seorang hamba yang memang sadar akan adanya dzat yang maha kuasa, ia sadar ia harus taat kepada-Nya karena sifat lemahnya dan kehambaannya. Seorang hamba yang arif tidak mendasarkan ketaatannya demi surga, juga bukan karena ketakutannya kepada neraka serta bukan pula karena ikut-ikutan dengan orang lain. Ia hanya semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT sebagai Tuhannya. Inilah yang mungkin dumaksudkan dalam al-qur’an : “Rhodhiallahu anhum wa Rodhuu anh. Allah telah ridho kepada mereka , dan mereka ridho kepada Allah SWT”
Ketahuilah saudaraku, surga dan neraka adalah janji Allah, tapi bukan untuk itu kita beribadah. Jangan jadikan itu sebagai tujuan ibadah, layaknya seperti perlombaan panjat pinang yang memperebutkan hadiah-hadiah yang menggiurkan. Surga dan neraka hanya balasan Allah kepada hambanya. Mereka yang taat akan dijanjikan surga dan yang tidak akan dijanjikan neraka kepadanya. Beribadahlah dengan niat keikhlasan kepada Allah SWT! Keikhlasan yang murni, keikhlasan yang bijaksana dan arif. Wallahu a’lamu bisshoaf.

Baca juga: 
Miskin di Tengah-tengah Kekayaan

dimuat pada buletin AHSAN PK. IMM K.H MAS MANSYUR UNIMED
edisi ke-7 (20 maret 2009)


written by : bangsur_on7
Buka Komentar