MANUSIA TERTIPU


Setiap manusia memiliki hati yang dengannya dapat menggerakkan seluruh badannya baik ke arah yang baik ataupun sebaliknya. Imam Ghozali mengatakan : ‘di dalam tubuh ini ada sebuah singgasana, yang apabila singgasana itu dipimpin oleh raja yang baik maka baiklah amal perbuatan tubuhnya. Namun jika singgasana itu dipimpin oleh raja yang jahat, maka jahatlah amal perbuatan tubuhnya. Singgasana itu adalah hati”.
Hati manusia dapat menggerakkan seluruh badan untuk berbuat baik ataupun sebaliknya. Hati kita juga bisa kapan saja tersakiti oleh penyakit-penyakit hati. Maka hindari hati dari penyakit-penyakit hati. Hati ini jug berpotensi menipu manusia. Menipu manusia dengan penyakit-penyakit hati itu tadi.

Banyak hal yang terbiasa kita lakukan yang berpotensi menipu tanpa kita sadari, menipu diri-sendiri, menipu qolbu, lebih-lebih menipu Ilahi. Kita tidak pernah menyadari kalau kita tidak sadar dari kelelapan tipu daya hati yng menipu. Banyak ranjau tipuan yang tidak kita sadari kita telah terjerat di dalamnya.

Ada orang yang tau ilmu dan mau mengajarkannya kepada orang lain, namun ia sendiri tidak mampu mengamalkannya. Misal, ceramah seseorang untuk mengajak orang lain berbuat kebikkan, namun ia tidak melaksanakannya. Berkoak-koak, mengundang simpati orang lain, membuat pendengarnya terkagum-kagum dan menjadikannya ramai akan tepuk tangan semangat akan ceramahnya, namun sayang sebagai orang yang berusaha mengajak kebaikkan kepada orang lain, tidak mampu membangkitkan pada diri sendiri sesuai dengan penyampaiannya. Dakwah yang baik itu bukan memperbaiki orang lain, tapi memperbaiki diri. Orang semacam ini sungguh tertipu. Ia bagaikan lilin, menerangi yang lain namun dirinya terbakar.

Ada pula yang memiliki ilmu. Namun sayang, ia mengklaim diri dan kelompoknya paling sholih. Sehingga surga diklaim miliknya. Mereka adalah orang yang menganggap dirinya lebih dari orang lain dan terbisik di dalam hatinya bahwa orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan kesholihannya. Ia mengabaikan firman Allah SWT : “dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang mengetahuinya”. (QS.Yusuf : 76). Sungguh orang ini tertipu. Bukankah dimensi agama itu luas, sehingga tidak mungkin diborong sendiri?

Ada pula ghurur dalam bab ibadah. Ghurur ini ada yang dari niat. Ia berulang-ulang takbir. Ada lagi yang sholatnya disibukkan dengan urusan tajwid dan makhroj tapi mengabaikan makna. Ini juga manusia yang tertipu. Sholat khusu’ tidak sekedar benar bacaannya, tapi juga derajat thuma’ninah dan penghayatan bacaan. Ada pula yang tertipu waktu sholat, terlalu cepat bacaannya.

Jangankan hal itu, tangisan dalam sholat juga bisa berpotensi menipu. Ada yang benar-benar menangis yang memang kebetulan adalah tangisan karena Allah, tapi ada kegembiraan ketika tangisan itu diketahui oleh orang lain. Tangisan yang jernih, namun dikotori dengn kegembiraan yang murahan saat diketahui oleh orang lain, sehingga menjadi keruh seketika.

Lain lagi dengan orang yang mendirikan sholat dengan berlama-lamaan, tapi ingin menyaingi sholat orang yang di sebelahnya. Ini juga contoh manusia-manusia yang tertipu. Maha suci Allah dan maha mengetahui seluruh isi hati manusia. Subhnallah, subhanallah sekali. Andai kita sadar hal itu, tidakkah kita malu akan kebohongan hati sementara itu diketahui oleh sang maha mengetahui isi hati manusia?

Ada juga ghurur dalam ceramah. Ada yang mengutip kitab-kitab karena ingin disangka pandai. Dan ada pula yang hanya sekedar menyebutkan sumber-sumber yang sebenarnya tidak jelas, hanya ingin dianggap orang yang berpengetahuan tinggi oleh orang lain. Sungguh, tidak ada yang mengakui kebodohan diri sendiri. Kebanyakan manusia angkuh dengan kepandaian yang berbentuk topeng itu. Dan berusaha menyimpan sesuatu sampai ke langit ke tujuh hingga semua orang tidak tau. Sesuatu itu adalah kebodohan dan kemunafikn. Sekali lagi dia tertipu.

Termasuk pula rendah hati. Hati-hati dengan hati yang rendah hati, jangan sampai ia tersakiti oleh penyakit-penyakit hati. Dalam hikam dikatakan “siapa yang merasa rendah hati, dan ia merasa mulia dengan rendah hati itu, hakikatnya ia telah sombong”. Maha suci Allah, sang maha pembolak-balik hati, satu hal yang tadinya mulia dapat dengan mudah berpotensi tertipu dengan membalikkannya 180 derajat ke arah yang berlawanan dari kemuliaan akibat penyakit hati. Saat seseorang merasa mulia melakukan sesuatu, maka sebenarnya ia tidak layak merasa mulia melakukan hal tersebut. Untuk kesekian kalinya, manusia lagi-lagi tertipu, tertipu dan tertipu. Selain dari tertipu, maka itu adalah tertipu lagi.

Tanpa kita sadari, banyak sekali dimensi-dimensi amal yang membuat kita tertipu. Setip saat, waktu dan tempat kita bisa saja tertipu. Tertipu oleh diri sendiri, tertipu dengan hal yang kita tidak tau. Dan akan terus tertipu ketika kita tidak mau tau.

Lantas kenapa sampai bisa tertipu? Mengapa diri kita berpotensi tertipu? Latar belakang apa yang membuat keseharian kita tertipu? Apakah karena kita bukan seorang penipu ulung yang gampang tertipu? Mungkin inilah yang diistilahkan dengan penipu yang tertipu.

Sekali lagi, kenapa sampai tertipu? Sebab orientasi kita adalah makhluk bukan Al-Kholiq. Orientasi kita masih sanjungan murahan dari makhluk bukan keridhoan yang mulia dari Allah SWT. Orientasi kita masih ingin agar dinilai oleh makhluk yang sebenarnya penilaian yang rendah, bukan derajat yang tinggi dari Allah SWT. Orientasi kita masih menghambakan diri dengan pujian-pujian hamba yang lain, bukan menghambakan diri sepenuhnya kepada sifat ketuhanan Allah SWT.

Niat dan orientasi-orientasi yang buruk itu tentu saja akan mendapat balasan. Rasulullah bersabda : “sungguh segala sesuatu semata tergantung atas niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niat yang dia canangkan”.

Orientasi terhadap makhluk itulah yang membuat kit akan selalu tertipu, tertipu lagi. Semakin kita ingin dinilai makhluk, maka akan semakin tertipu diri kita. Menyuruh orang lain sabar, belum tentu kita bisa sabar. Sebelum kita benar-benar berlatih mengamalkannya. Dengan berkata belum tentu kita mendapatkan apa yang kita katakan.

Belum lagi dengan sholat yang tertipu, tangisan palsu menipu. Atau si ahli ilmu yang dengan ilmunya justru mala tertipu. Yang parahnya lagi dengan si fulan, si perendah hati, namun menjadi orang yang sombong pada hakikatnya akibat bangga dan merasa mulia dengan kerendahatiannya. Tertipu, sungguh-sungguh tertipu dan kita pantas untuk malu.

Kita harus berhati-hati karena segala perbuatan kita dapat berpeluang menipu. Dan kita harus ingat, sebiji dzarroh pun perbuatan kita akan mendapat balasan dari Allah SWT. “barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula”.

Selain itu, kita harus memperbaiki niat, niatkan segala kebaikkan hanya untuk Allah AWT, bukan yng lain. Tidakkah kita tau bahwa berapa banyak amal dunia menjadi amal akhirat karena baiknya niat, dan berapa banyak amal akhirat yang berubah menjadi amal dunia disebabkan buruknya niat. Dan murnikanlah ketaatan kepada-Nya karena Allah berfirman : “dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus………”. (QS.Al-Bayyinah (98) ayat:5)

Saudaraku, semua amalan berpeluang tertipu, kalau belum Allah yang menjadi tujuannya. Maka kita harus berjuang keras agar kita masuk ketitik yakin, bahwa Allah maha tau segalanya dan akan memperhitungkan semua yang kita lakukan.

Orientasi kita adalah diterima Allah. Apapun yang kita lakukan asal diterima Allah. Rasa jengkel adalah buah pengharapan kita kepada makhluk asal bukan dari Allah. Allah maha tau isi hati kita. Jaga niat, cukup hanya Allah yang maha tau.

Ingat, jangan sampai kita tertipu untuk kesekian kalinya! Allahu Akbar!

Baca juga: ARIF DALAM TAQWA

Dimuat pada buletin AHSAN PK.IMM K.H MAS MANSYUR UNIMED
edisi ke-6 (13 maret 2009)
by me : bangsur_on7

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel