Miskin di Tengah-tengah Kekayaan

Miskin di Tengah-tengah Kekayaan

Miskin di Tengah-tengah Kekayaan


Keadaan dunia memaksakan adanya jurang perbedaan. Perbedaan semisal antara orang kaya dengan orang miskin. Sayangnya, selalu menjadi seperti sebuah ketetapan bahwa keduanya tidaklah sama. Satu sisi adalah yang diinginkan manusia (missal menjadi kaya) sementara sisi yang lain selalu tidak diinginkan oleh manusia (missal menjadi miskin).

Sangat wajar, jika yang diinginkan hampir setiap manusia adalah mencari kekayaan. Karena kekayaan akan membuat senang fisik dan bahagia penampilan. Naluri ini didukung oleh watak manusia yang selalu ingin menjadi orang kaya.

Sayangnya, kekayaan tersebut tidak selamanya membuat hati tentram, tidak membuat menjadi bersukur tak pula menciptakan keadaan bahagia secara menyeluruh, (kebahagiaan yang setengah-setengah). Kekayaan itu bisa saja membuat orang semakin lapar, membuat semakin dahaga, dan terasa semakin hari semakin tak punya nyawa serta tak punya apa-apa. Keadaan ini seperti miskin di tengah-tengah kekayaan.

Keadaan sebaliknya justru dimiliki oleh orang yang apa adanya. Yaitu orang kaya atau miskin yang menerima seikhlasnya apa yang diberi secara apa adanya. Bukan berharap yang tidak ada, berharap kekayaan lebih yang imajinatif yang kemudian mewujudkannya menjadi insan yang susah bersukur.

Materi memang selalu menjadi bahan ujian untuk setiap manusia. Banyak orang-orang yang terhormat namun menjadi orang yang tercela di hadapan Tuhan karena materi tersebut. Dan tidak sedikit orang fakir tapi punya kekayaan di sisi Tuhannya disebabkan mampu bersukur atas ujian materi pula. Dan sebagai manusia bertaqwa, kita berharap menjadi orang yang kaya materi tapi juga kaya iman di pandangan Tuhannya.

Materi itu pula yang menyebabkan orang menjadi menang atau kalah di sisi Tuhannya. Yang menang adalah yang pandai bersukur sementara yang kalah adalah yang rakus dan tidak pernah merasa puas dengan keadaan.

Ketahuilah, orang yang tidak pernah puas dengan keadaan, kemudian mencari segalanya adalah orang fakir yang sebenarnya, yaitu orang yang tidak akan pernah merasa kaya. Sebaliknya, orang yang sudah puas dengan kesederhanaan yang apa adanya, maka merekalah orang yang kaya yang pandai bersukur kepada Dzat yang Maha Kaya.

Orang yang tidak puas dengan hartanya akan selalu merasakan dahaga yang luar biasa. Walaupun hampir semua kekayaan dunia kering dirampas olehnya, ia akan tetap dahaga, akan tetap tidak puas dengan kekayaan yang ada. Sama halnya perasaan dahaga yang dialami oleh orang yang meminum air lautan, walaupun hampir samua air lautan itu kering diminum olehnya, ia tidak akan pernah puas, tidak akan merasa kenyang dan akan tetap terasa dahaga. Mereka akan menjadi makhluk yang rakus, rakus sekali.

Keadaan sebalikannya justru dialami oleh orang kaya atau miskin yang apa adanya. Mereka menerima apa saja secara apa adanya dibarengi dengan taqwa atas pemberian dari Tuhan. Tidak pernah mencaci keadaan atau mengejar secara berlebihan hingga lupa bahwa dunia ini milik siapa.

Perbedaan keduanya, yaitu antara ketidakpuasan dan yang apa adanya, terletek pada rasa syukur dan ikhlas. Ketidakpuasan terhadap materi selalu tidak dibarengi dengan rasa syukur dan ikhlas. Sebaliknya, orang yang sudah puas dengan kesederhanaan maupun kemegahan dengan apa adanya (tidak berlebihan) diikuti oleh taqwa adalah orang yang pandai bersyukur dan ikhlas kepada Dzat yang maha kaya.

Maka, apapun yang ingin dikejar bersyukurlah kepada Tuhan, agar tetap puas dengan keadaan tanpa kerakusan.


Galang, 21 september 2010
10.00 WIB
Buka Komentar