Skip to main content

PENGUASA = HARUS BISA NGOMONG? PENGUASA = CUMA BISA NGOMONG?


Bang Joki, seorang yang masih lugu sedang menghadiri kegiatan organisasi yang diikutinya pada hari itu. Ia melihat dan mengikuti kegiatan itu dari awal sampai akhir acara dengan seksama. Seperti biasa dalam setiap acara ceremonial selalu ada kata sambutan. Sambutan yang ini, sambutan yang itu, sambutan dari segala macam manusia yang kebetulan diberi kesempatan memberikan sambutan. Bang Joki tidak terlalu mempersoalkan siapa yang memberikan sambutan dari tiap-tiap acara itu. Karena ia merasa, itu sama saja.

Ketika sambutan terakhir, Bang Joki bertanya pada orang yang berada di sebelahnya, itu siapa? Dengan agak heran, Orang yang di sebelahnya mencela Bang Joki karena tidak mengenal siapa itu, kemudian mengatakan nama orang yang memberi sambutan di depan itu. Orang itu berjas hitam, bagus, rapi, tinggi, bersepatu kilat, tampak kewibawaannya pada saat itu. Dalam hati Bang Joki berkata, “oh, ini Bapak Wali kota itu!”.

Suatu undangan di hari yang lain dihadirinya pula. Undangan bagi aktivis-aktivis kampus maupun pemuda. Undangan bagi orang-orang penting dan terhormat yang tentunya dihadiri oleh orang-orang yang terhormat pula. Acara demi acara diikutinya, ia tidak begitu peduli dengan omongan-omongan yang membosankan itu. Kata-kata sambutan dari orang-orang yang sebelumnya disambut dengan hormat. Beberapa kali ia mendengar nama-nama orang yang dipanggil oleh protokol untuk memberikan sambutan. Ia mulai tau, itu Bapak Gubernur, itu Bapak Walikota dan itu Bapak DPRD. Bapak DPRD terhormat.

Menjelang dekatnya pemilu legislatif, ia juga melihat berbondong-bondong partai politik yang meramaikan kampanye. Ia pun tertarik untuk melihat keramaian-keramaian itu. Bendera-bendera partai, serta simpatisan parpol turut meramaikan kampanye itu. Bang Joki berpikir, apa yang dicari orang-orang ini? Ia pun mengikuti saja ke mana orang-orang itu pergi dan berkumpul.

Dalam gemuruh orang-orang yang berkumpul di lapangan itu, ia mendengar sorak-sorai dari penonton itu. “Ada apa?” Pikirnya. “Oh, ternyata orang itu yang disambut, orang itu yang mengajukan diri sebagai calon Dewan Perwakilan Rakyat. Bapak calon legislatif yang terhormat”.

Bang Joki mendengarkan orasi-orasi bergemuruh, menggaung seolah mengancam langit. Kata pedas tapi juga dipadu dengan harapan kebaikan bagi semua orang yang diharapkan memilihnya nanti.

Apa seperti itu kalau sudah jadi orang besar? Apa nama sindrom buat orang-orang seperti ini? Berdiri tegak, berbaju nyentrik, berkendaraan mewah. Selalu saja mereka yang berkata-kata di depan forum, banyak omong. Apa mereka tidak tau hadist Nabi yang berbunyi : “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang benar! Atau kalau tidak bisa berkata yang baik (benar) maka lebih baik dia diam”.

Masalahnya, apakah yang mereka katakan itu benar (baik)? Atau cuma action seperti pemain drama? Atau Cuma kata-kata penghibur seperti badut? Atau Cuma ingin menarik simpati orang lain, tanpa realisasi yang baik bagi orang-orang yang mendengarnya?

Tak habis pikir, itu yang dibingungkan oleh Bang Joki. “Kenapa setiap sambutan, atau acara penyampaian kata-kata, atau apapun itu, selalu diisi oleh orang-orang yang hebat, orang-orang yang tinggi kedudukannya atau yang biasa disebut orang-orang terkenal. Apa memang orang-orang yang terkenal itu ditaqdirkan jadi orang yang selalu berkata-kata?” Gumam Bang Joki.

Masa kampanye, bahkan pemilu yang sudah lalu, 9 april 2009, tidak sedikit orang yang mengajukan diri menjadi seorang wakil rakyat dengan iming-iming kesejahteraan atau apapun itu. Mengatakan yang baik-baiknya, mengucapkan suara sejahtera, perbaikan ekonomi, pembukaan lapangan kerja, janji perdamaian dan lain sebagainya.

Kalau ditanyakan apakah itu perlu? Apa lebih baik tidak ada saja orang-orang yang menyatakan diri sebagai wakil rakyat? Apa tidak benar kata-kata rakyat yang mengatakan politik itu kejam? Apa tidak lebih baik saja rakyat ini dibiarkan begitu saja menurut jalan kebaikan yang mereka pikirkan?

Tapi biar bagaimanapun, kepemimpinan itu perlu. Allah SWT telah menggariskan bahwa manusia diciptakan untuk memimpin dunia, sebagai kholifah di muka bumi ini. “Dan ketika kami berkata kepada Malaikat, sesungguhnya aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah”. Dan kholifah itu adalah manusia. Dan alangkah baiknya jika manusia-manusia itu menjadi pemimpin yang amanah seperti Rasulullah SWT.

Banyak hal yang ditempuh oleh para calon legislatif dalam mencari dukungan suara. Diantara yang banyak tersebut adalah orasi-orasi dari calon legislatif itu sendiri. Janji, kata damai, teriakan kesejahteraan dengan keras dan lain sebagainya.
Boleh saja mereka berkata-kata seperti itu, tapi harus mempunyai konsekuensi yang kuat terhadap perkataan mereka. Biar bagaimanapun itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT tanpa bisa menyembunyikan satu katapun dari yang mereka janjikan.

Rasulullah SAW bersabda : ‘setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dikenai pertanggungjawaban (akan ditanyai) dari yang dipimpinnya”.

Akan datang hari pembalasannya di mana akan ditanyai pertanggungjawaban seorang hamba di depan Rabbnya. Di hari itu, lidah tidak dapat berbohong lagi. Dan tentu tau konsekuensinya : “siapa yang beramal kebaikan sebesar biji dzarrahpun, maka ia akan menerima pembalasannya. Dan siapa yang beramal keburukan sebesar biji dzarrahpun, maka ia akan menerima pembalasannya pula”

Berkatalah yang benar, berjanjilah yang bisa ditepati. Atau rakyat ini akan semakin bosan dengan tingkah orang-orang yang mencalonkan diri yang katanya sebagai pembela rakyat.

Atau yang lebih ekstrimnya akan dicap sebagai orang-orang munafiq dengan ciri-ciri yang sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW : “apabila berbicara berdusta, apabila berjanji melanggar, dan apabila diberi amanat ia berkhianat”.
Akankah dalam kategori berbicara saja sudah tergolong munafiq, lantas bagaimana pula jika sudah diberi amanat?

Dalam kitab Makaasyifatul Qulub disebutkan bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril mengenai penghuni neraka, dan malaikat bJibril menjawab : “tingkat paling bawah berisi orang-orang munafiq, namanya neraka hawiyyah”. Sebagaimana difirmankan Allah SWT : “sesungguhnya orang-orang munafiq berada di neraka tingkat paling bawah”. (QS. 4 : 145)

Lalu apa lagi yang akan dibuat terhadap calon legislatif yang mengumbar kata, sementara pemilihan umumpun sudah selesai? Hanya ada 2 keputusan terhadap calon legislatif pasca pemilu 9 april 2009 lalu, yaitu menang dan kalah. Bagi yang kalah, bersyukurlah karena tidak akan terikat oleh kata-kata atau janji-janji yang pernah digaungkannya sebelum pemilu. Tak perluh untuk stres sampai masuk rumah sakit. Mungkin itulah jalan terbaik yang diberikan Allah SWT sehingga layak untuk berucap syukur.

Lalu kepada yang menang, ingat kata-kata yang terucap dan realisasikan kepada rakyat. Karena itu akan menjadi tanggung jawab yang tak terbohongkan di hadapan Allah SWT kelak. Banyak-banyak beristighfar dan jadilah wakil-wakil rakyat yang amanah, fathonah, siddiq dan tabligh seperti Rasulullah SAW.


Jangan sia-siakan rakyat! Rakyat tidak ingin menderita lagi. Jangan bohongi kata hati. Rakyat benci dengan penderitaan miskinnya, rakyat sudah benci dengan penderitaan kelaparannya, rakyat sudah benci dengan penderitaan kebodohannya. Tapi lebih dari itu, rakyat lebih benci dengan wakil-wakil rakyat yang malas semisal cuma untuk menghadiri sidang, rakyat lebih benci dengan wakil rakyat yang seperti anak kecil. Selain gaji puluhan juta yang diterima wakil rakyat yang menjadi tanggungan rakyat dalam pajak. Model penderitaan yang bagaimana lagi yang akan dipertontonkan yang menyengsarakan rakyat sehingga wakil-wakil rakyat yang terhormat itu puas.

Baca juga: ARIF DALAM TAQWA
dimuat pada buletin AHSAN PK.IMM K.H MAS MANSYUR
UNIMED
edisi ke 10 (17 april 2009)

written by : bangsur _on7
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar