Skip to main content

THE REAL FREEDOM


”Saya ingin bicara soal kebebasan. Kebebasan yang mungkin tidak dimiliki oleh setiap orang. Dengan kebebasan itu, setiap orang bisa dengan leluasa melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa ada rasa sungkan atau bahkan ketakutan.

Namun kebebasan yang saya maksud bukanlah kebebasan yang anarkis, melakukan hal suka-suka. Anda salah besar jika mengartikan seperti itu. Kebebasan yang saya maksud adalah kebebasan yang membuat setiap orang nyaman dengan aktivitasnya. Dan kebebasan itu adalah keikhlasan.”

Sedikit saya ingin mengulasnya:
Semua yang bersifat materi (benda) berpotensi dapat terkontaminasi atau tercemar oleh materi lain. Apabila suatu materi itu bersih dari kotoran dan noda, kondisi semacam ini disebut dengan khalish (materi yang bersih dan murni),sedangkan pekerjaan untuk membersihkannya disebut ikhlashan.

Ikhlas adalah suatu sifat dan sikap memfitrahkan (memurnikan) niat, motivasi, keyakinan, dan melapangkan diri terhadap segala perintah (’amr), larangan (nahyi), dan ujian (musibah) dari Allah SWT.

Kerajaan orang yang ikhlas (al-mukhlish) bertahta dalam hatinya dan kekuasaannya terletak dalam nuraninya. Tidak ada kamus lahiriah dalam bahasa mereka. Jarang sekali dijumpai di antara mereka yang merangkum kerajaan visual dan batin. Mereka selalu berdisiplin dalam menyembunyikan halnya hingga ia mencapai taraf kesempurnaan dan hatinya tersambung dengan Tuhannya. Hati yang ikhlas tidak akan mengharapkan sesuatu dan merespon berbagai hal kepada siapa pun selain Allah. Hati yang ikhlas selalu termotivasi menggapai kedekatan dengan Al-Haqq Azza wa Jalla.

Ali bin Abi Thalib Kw. pernah berkata, ”Tetaplah bersama Al-Haqq ’Azza wa Jalla baik dalam duka maupun suka, miskin maupun kaya, derita maupun sejahtera, sakit maupun sehat, keburukan maupun kebaikan, dan saat mendapat anugerah atau saat terhalang mendapatkannya. Aku lihat tidak ada obat bagimu selain berserah diri kepada Al-Haqq ’Azza wa Jalla. Jika Dia telah putuskan sesuatu kepadamu, maka jangan anggap buruk putusan itu, juga jangan memprotes dan mengadukannya kepada selain_Nya, sebab hal itu malah akan menambah kuantitas bencana. Akan tetapi bersikap tenanglah, diam, dan qana’ah dalam menerimanya. Berdirilah kokoh di hadapan_Nya dan perhatikan apa yang Dia perbuat kepada dan untukmu, niscaya engkau akan bahagia atas perubahan dan penggantian yang Dia lakukan. Jika kalian bersikap demikian dalam menghadapi_Nya, maka tidak diragukan lagi, Dia akan mengubah keburukan menjadi kasih sayang, serta kesunyian menjadi keriangan bersama_Nya.
”Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menghamba kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada_Nya dalam kecenderungan yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah : 5)

Hendaknya setiap hamba yang akan melaksanakan aktivitasnya, mengerti bahwa hal itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Akan tetapi, kita tidak hanya diperintahkan untuk menjalankan seluruh aktivitas ibadah dengan sekedarnya saja, atau semata-mata menggugurkan kewajiban saja, atau ternodai oleh beberapa keinginan lainnya seperti mendapatkan kehormatan dan pujian dari makhluk_Nya. Ibadah di sini ialah iibadah dalam pengertian penghambaan yang penuh keikhlasan kepada Allah semata dan memurnikan niat dari segala sesuatu atau keinginan yang bisa merusaknya sebagai bekal menghadap ke hadirat Rabb al-Alamin. Keikhlasan itu bukanlah amal, tetapi jiwa bagi setiap amal.

Rasulullah SAW bersabda : ”sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu tergantung kualitas dari niat-niat itu........”.Pada hakikatnya niat yang iikhlas merupakan kunci utama untuk membuka jalan menuju hakikat iibadah, yakni Allah SWT.

Setiap kepentingan duniawi yang cenderung disenangi hawa nafsu, hati, inderawi, dan fisik, baik sedikit maupun banyak, ketika mewarnai ibadah yang dilaksanakan, akan mengakibatkan ternodai keikhlasannya. Kebanyakan manusia cenderung terkungkung dalam jeratan kepentingan-kepentingan dan tendensi atau tujuan sejenis ini. Kecenderungan seperti inilah yang membuat manusia resah dan tidak pernah puas dengan apa yang diinginkannya. Dan hal itulah yang saya maksudkan bahwa orang tersebut sama sekali tidak merasakan kebebasan nyata.

Saya beri contoh : Seseorang yang beramal untuk dipuji, maka hakekatnya dia tidak merasakan kebebasan. Karena hanya akan terlelah menunggu pujian murahan itu datang. Seseorang yang ngotot dengan jabatan tinggi, padahal jabatan itu sebuah amanah, maka ia tidak akan pernah merasakan kebebasan pula. Karena ia akan selalu berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan. Dan ketika tidak mendapatkannya, ia akan merasa putus asa. Dan putus asa itu, hanya akan membuatnya tidak merasakan kebebasan hidup sekali lagi. Atau kalaupun mendapatkan yang ia inginkan, ia akan berlaku sombong atau angkuh, padahal kesombongan hanya milik Allah. Dan Anda pasti tau kesombongan itu hanya akan membuatnya dihindari oleh orang di sekitarnya.

Maka the real fredom, kebebasan yang nyata adalah keikhlasan. Sebab keikhlasan hanya mengharap ridho Allah SWT. Ia terbebas dari hal-hal yang melelahkan dan menyusahkan seperti dengki, sombong, ingin dipuji, angkuh, tidak istiqomah, tidak sabar dan lain-lain. Karena pada hakekatnya, sifat-sifat seperti itu hanya akan menyibukkan dirinya yang berati bukan manusia yang bebas.

Berbeda dengan orang yang ikhlas, mukhlisin tidak disibukkan dengan hal-hal itu. Mukhlisin terbebas dari sifat-sifat meresahkan itu. Yang ingin diraihnya hanyalah mardhotillah, keridhoan Allah SWT.

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak ada tujuan dan pamrih apa-apa melainkan Allah meridhoi dan mencintainya. Inilah kebebasan sesungguhnya.



Setiap hamba tidak diperintahkan untuk beraktivitas apa pun, melainkan aktivitas yang dilakukan semata-mata sebagai manifestasi penghambaan kepada_Nya dengan tulus ikhlas dalam menjalankan agama_Nya, atau dengan kata lain, pengalaman pesan-pesan agamanya tidak mempunyai nilai apa-apa di hadapan_Nya, kecuali bila dilakukan dengan sikap penghambaan dan kepatuhan yang tulus ikhlas hanya untuk_Nya.

”Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan bagi seluruh alam”. (QS. Al-An’am : 162)

Apabila seorang hamba sudah terlatih dalam memantapkan niatnya, insya Allah hal ini akan berpengaruh besar baginya untuk melahirkan perbuatan-perbuatan yang ikhlas semata-mata karena mengharap ridha, cinta, dan perjumpaan dengan_Nya tanpa adanya tendensi atau pamrih selain Allah SWT serta terlepas dari berbagai intervensi hawa nafsu yang biasanya menginginkan pujian dari orang lain (riya’), nifaq (dualisme), ’ujub (berbangga diri), sum’ah (suka menceritakan kebaikannya kepada orang lain), dan takabur (sombong dan menolak kebenaran).

Dunia di akhir zaman ini tak ubahnya seperti pasar. Setelah beberapa saat, tidak ada seorang pun yang tersisa di dalamnya. Pada waktu menjelang malam, semua penghuninya akan pergi dari sana. Janganlah memperjualbelikan sesuatu di dalamnya kecuali barang atau komoditas yang benar-benar bermanfaat bagi pasar akhirat kelak. Di mana mata uang yang dipakai adalah aqidah tauhid dan komoditas yang marketable (laku dijual) adalah keikhlasan beramal hanya untuk_Nya. Penuhilah komoditas itu sebanyak-banyaknya.

Keikhlasan akan membuahkan sikap husnuzhan, istiqomah, tawakal, sabar, syukur, zuhud serta wara’. Dan iitu semua merupakan bentuk kebebasan yang nyata. Kebebasan tanpa mengharapkan sesuatu pun kecuali Allah SWT.

Beramallah hanya karena_Nya. Beramallah dengan mengharap ridha, cinta, dan kedekatan_Nya. Upah yang terbaik adalah ridha_Nya, cinta_Nya, dan kedekatan_Nya dengan si hamba di dunia dan di akhirat.

Bertransaksilah dengan_Nya, sebab siapa saja yang mengadakan transaksi dengan_Nya pasti akan mendapat keuntungan yang besar. Siapa saja yang mencintai_Nya, Dia akan mencintainya. Siapa saja yang mendekati_Nya, Dia pun akan mendekatinya.

Maka, sekali lagi, kebebasan yang nyata adalah keikhlasan. Keikhlasan adalah the real fredom.
Dikutip dari beberapa sumber
dimuat pada buletin Ahsan PK. IMM K.H Mas Mansyur
UNIMED
Edisi 16 (23 oktober 2009)



Bs_on7
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar