AL-BAQOROH AYAT 1-20

AL-BAQOROH AYAT 1-20

AL-BAQOROH AYAT 1-20

AYAT 1
  1. Ayat ini, haya Allah yang tau maknanya.
  2. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama surah
  3. Hikmah diturunkannya ayat ini adalah sebagai isyarat bahwa al-qur’an benar-benar diturunkan oleh Allah SWT, karena hanya Dia yang mengetahui maknanya. Sama halnya seperti, bukti obat itu berasal dari dokter adalah adanya kode-kode dosis yang hanya dokter itu yang tau. Atau seperti permisalan, kita bisa mengetahui mana perkataan anak sekolah TK dengan mahasiswa, anak TK tidak akan mengetahui perbendaharaan bahasa mahasiswa. Seorang mahasiswa akan mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak diketahui oleh anak TK, untuk memastikan bahwa bahasa itu, bukan bahasa anak TK tetapi bahasa seorang mahasiswa. Maka begitu pulalah dengan al-qur’an, yang diturunkan dengan bahasa yang indah di mana ada beberapa ayat yang hanya Allah yang tau maknanya untuk menandakan bahwa al-qur’an ini benar-benar turun dari Allah SWT, bukan perkataan Muhammad seperti yang disangkakan oleh orang kafir quraisy.
PERTANYAAN : Mengapa Allah menurunkan beberapa ayat yang hanya Dia yang tau? Kalau hanya Allah yang tau, mengapa mesti diturunkan? Bukankah Al-qur’an itu petunjuk? Lalu, petunjuk apa yang diberikan lewat beberapa ayat yang hanya Allah yang tau maknanya?

AYAT 2
  1. Nama lain dari al-qur’an adalah al-kitab
  2. Makna “tidak ada keraguan” (laa roiba) di mana pada kalimat ini, huruf “ba” bertanda nashob dengan “fatah” mempunyai arti sebagai penguatan. Yaitu penguatan yang menyatakan bahwa al-qur’an benar-benar tidak ada keraguan sedikitpun pada al-qur’an. Berbeda jika huruf “ba” itu bertanda “rofa’” baik dengan “dhommah” atau yang lainnya.
  3. Al-qur’an adalah petunjuk untuk orang-orang bertaqwa.
PERTANYAAN : Apa yang dimaksud dengan bertaqwa?

AYAT 3
  1. Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya (ayat 2) tentang ciri orang-orang yang bertaqwa.
  2. Ciri orang-orang bertaqwa yang dimaksud adalah :
  • Yang beriman kepada yang ghaib
  • Mendirikan sholat
  • Menginfakkan rezeki
  • Beriman kepada al-qur’an & kitab-kitab sebelumnya (ayat 4)
  • Yakin akan adanya akhirat (ayat 4)
  1. Yang memberikan rezeki adalah Allah SWT

AYAT 4
  1. Ayat ini menjelaskan & melanjutkan ayat sebelumnya (ayat 2 & 3)
  2. Al-qur’an diturunkan kepada Muhammad SAW
  3. Sebelum al-qur’an, Allah juga menurunkan kitab-kitab sebelum Muhammad dan wajib diimani
  4. Kitab-kitab yang ditrunkan sebelum Muhammad itu diantaranya Taurat, Zabur, Injil maupun shuhuf-shuhuf
  5. Ayat ini mengindikasikan akan adanya akhirat.

AYAT 5
  1. Ayat ini menghimpun ayat 2-4 sebagai ciri-ciri orang yang mendapat petunjuk & keberuntungan dari Tuhannya
  2. Orang-orang yang mendapat petunjuk & keberuntungan itu adalah orang yang bertaqwa (ayat 2) yaitu :
  • Yang beriman kepada yang ghoib (ayat 3)
  • Mendirikan sholat (ayat 3)
  • Menginfakkan rezeki (ayat 3)
  • Beriman kepada al-qur’an & kitab-kitab sebelumnya (ayat 4)
  • Yakin akan adanya akhirat (ayat 4)


AYAT 6
  1. Ayat ini sudah berbeda tema dengan ayat sebelumnya.
  2. Orang kafir tidak akan beriman, baik diberi peringatan atau tidak diberi peringatan.
  3. Orang kafir yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah & Rasulnya, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, & hari kiamat.
  4. Ayat ini menjadi pembanding antara orang bertaqwa (ayat 2-4) dengan orang kafir (6-7)
PERTANYAAN : Apa makna peringatan pada ayat ini? Apakah dakwah? Ancaman? Jika sama saja diberi peringatan atau tidak kepada orang kafir mereka tidak akan beriman, masihkah kita perlu berdakwa? Bagaimana format dakwa dengan mereka? Apakah kita harus membuat mereka beriman atau hanya sekedar memberitahu kebenaran?

AYAT 7
  1. Ayat 7 menerangkan sebab dari ayat 6
  2. Allah menutup :
  • Hati
  • Pendengaran
  • Penglihatan
Sehingga orang kafir tidak dapat menerima hidayah.
  1. Orang kafir akan mendapat adzab yang berat.
  2. Terdapat ancaman Allah berupa adzab yang berat.
  3. Ayat ini juga berbicara tentang hati, bahwa betapa berpengaruhnya hati terhadap hidayah.
  4. Ayat 1 – 7 berada dalam 1 “ain” dan banyak bercerita tentang perbandingan orang bertaqwa dengan orang kafir serta petunjuk al-qur’an
PERTANYAAN : Apa makna “ghisyaawah” pada ayat ini? Mengapa Allah menutup hati dan penglihatan mereka? Apa sebabnya? Bukankah semua manusia seharusnya lahir dalam keadaan fitrah?

AYAT 8
  1. Diawali dengan huruf “waw ibtidaiyah”
  2. Ayat ini menceritakan tentang orang munafiq
  3. Terdapat “ain” pada akhir ayat 7 atau awal ayat 8 di mushab-mushab, ini menandakan adanya bahasan baru di ayat ini yang berbeda bahasan dengan ayat-ayat sebelumnya walaupun masih berkaitan. Hal ini juga dikuatkan dengan adanya “waw ibtidaiyah”.
  4. Ayat ini mengaitkan keimanan kepada Allah dengan hari kiamat
  5. Terdapat indikasi orang-orang munafik yang berciri bahwa selalu berkata seolah-olah benar padahal mereka berdusta.
PERTANYAAN : Apa hikmah pada ayat ini maupun beberapa ayat lainnya, tentang mengaikkan antara keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada hari kiamat?
AYAT 9
  1. Ayat ini melanjutkan dan berkaitan dengan ayat sebelumnya (ayat 8)
  2. Anggapan orang munafik menyatakan mereka menipu Allah & orang-orang beriman, padahal sebenarnya mereka yang tertipu, yaitu menipu diri-sendiri.
  3. Mereka tertipu karena anggapannya sendiri bahwa mereka beriman kepada Allah & hari akhir padahal Allah sudah mengetahui bahwasannya “mereka itu bukanlah orang-orang beriman”.
  4. Hal yang menyedihkan dari ketertipuan mereka, dan merupakan konsekuensi adalah bahwasannya predikat tidak beriman akan mendapat balasan dari Allah SWT & ini berarti bahwa mereka tertipu dengan diri sendiri.
  5. Mereka tidak sadar bahwasannya mereka menipu diri-sendiri, maka usaha untuk memperbaikinya adalah menyadarkannya
  6. Mereka mendapat adzab yang pedih karena mereka berdusta (ayat 10)

AYAT 10
  1. Ayat ini berbicara tentang tentang hati (kemunafikan = penyakit hati)
  2. Setiap hati, berpeluang punya penyakit
  3. Penyakit-penyakit hati diantaranya : ragu, tidak yakin, munafik, tidak beriman, sombong, angkuh, dan lain-lain.
  4. Orang-orang munafik (ayat 8) akan mendapat adzab yang pedih akibat mereka berdusta
  5. Dusta adalah bagian dari kemunafikan (seperti hadist Rasul) dan merupakan penyakit hati (karena ada korelasi antara dusta dengan penyakit hati (kemunafikan) pada ayat ini.

AYAT 11
  1. Masih berkaitan dengan ayat sebelumnya (ayat 8-10)
  2. Ayat ini mencontohkan prilaku orang-orang munafik (ayat 8)
  3. Orang munafik selalu berkata yang baik-baik tentang diri mereka (ayat 8 & 11)
  4. Ciri orang munafik adalah bahwa mereka terbiasa berbuat jahat, dan membenarkan kejahatan itu.
  5. Terdapat larangan merusak bumi
  6. Terdapat kata “idza” (apabila), ini mengandung arti bahwa larangan itu dikatakan berulang-ulang bukan merupakan arti isyarat/sebab –akibat. Dan setiap larangan itu dikatakan, maka setiap itu pula mereka melanggarnya, dan menganggap bahwa mereka lah yang justru menjaganya. Hal ini dapat dimisalkan seperti perbedaan kalimat berikut :
  • Apabila air dipanaskan ia akan mendidih
  • Apabila aku menjawab A, pasti ia akan menjawab B
  1. Jika terbiasa berbuat jahat, maka ia akan membenarkan kejahatan itu.

AYAT 12
  1. Ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya (8-11)
  2. Ayat ini juga mencontohkan ciri-ciri orang munafik. Yaitu :
  • Tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan
  • Tidak sadar atas sifat mereka
  1. Ada kata “inna” (sesungguhnya), merupakan huruf yang dalam literatur bahasa arab berfungsi sebagai kata penguatan. Yaitu penguatan terhadap sifat-sifat orang munafik, hal ini dimaksudkan agar kita waspada akan sifat ini.
  2. Ketidaksadaran juga merupakan penyakit hati yang menjadi sebab bagi kemunafikan mereka.
PERTANYAAN : Ayat 11-12 berbicara tentang orang munafik atau orang kafir?

AYAT 13
  1. Terdapat perintah kepada orang kafir untuk beriman (perintah yang diserukan di sini memiliki kesamaan redaksi dengan larangan merupak bumi pada ayat sebelumnya yaitu ayat 12)
  2. Berbeda dengan ayat sebelumnya yang menceritakan kemunafikan, ayat ini bercerita tentang orang kafir.
  3. Orang kafir beranggapan bahwa orang beriman itu kurang akal.
  4. Sesungguhnya orang-orang kafir itulah yang kurang akal. Seperti dalam praktek menyembah berhala.
  5. Yang disayangkan dari orang kafir adalah mereka tidak tau bahwa mereka kurang akal.
  6. Maka, usaha dakwa adalah member tau.
PERTANYAAN : Bukankah ayat ini kontroversi antara perintah beriman buat orang kafir (ayat 13) dengan surat al-kafirun yang bercerita tentang “lakum diinukum waliadin”? Juga ayat “laaikroha fiddin”? Atau apa sebenarnya konsep dan esensi dakwah dari ayat ini?

AYAT 14
  1. Ayat ini kembali bercerita tentang orang munafik
  2. Ciri-ciri orang munafik pada ayat ini laksana ular bermuka dua. Yaitu berkata beriman saat berjumpa dengan orang mukmin namun berkata sebaliknya jika kembali kepada kaumnya
  3. Kaum kafir lebih keji dari pada kaum kafir
  4. Pemimpin-pemimpin kaum munafik disamakan seperti syetan “syayaathin”
  5. Kalimat “sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok” mengisyaratkan bahwa sifat kaum munafik adalah takut (ketakutan)



AYAT 15
  1. Pada akhirnya Allah yang akan memperolok-olok mereka dengan cara membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Dan berakibat mendapat adzab (ayat 10) pada pembalasan di hari akhir nanti.
  2. Allah berkuasa untuk menjadikan suatu kaum untuk tersesat juga berkuasa memberi hidayah
  3. Ayat ini juga bercerita bahwa hati dikuasai Allah, maka jangan biarkan kita terbiasa mengolok-olok kebenaran Allah. Dan berindung dari hati yang diombang-ambing (seperti pada ayat al-qur’an “robbana laatudzik quluubana ba’da idzhadaitana)

KAITAN ANTARA AYAT 1 – 15
  1. Orang-orang bertaqwa adalah orang yang beruntung yang mendapat petunjuk dari al-qur’an yang benar. Yang hanya datang dari Allah SWT. Bukti bahwa al-qur’an itu benar-benar datang dari Allah adalah dengan adanya kata “alif lam mim” di mana ayat ini hanya Allah yang tau maknanya
  2. Sementara orang kafir akan mendapat adzab yang berat (ayat 7) begitu pula orang munafik (ayat 10)
  3. Mereka tertutup dari hidayah Allah karena Allah mengunci hati, pendengaran dan penglihatan mereka.
  4. Dalam hati mereka ada penyakit dan penyakit itu berpeluang bertambah
  5. Jangan berkata atau berbuat kemunafikan walaupun hanya berolok-olok (bercanda)! Karena itu merupakan penyakit hati yang berpeluang bertambah. Dan jika penyakit itu bertambah maka Allah akan mengunci hati, pendengaran, dan penglihatan. Dan berakibat mendapat adzab yang berat.
  6. Berdoalah untuk ketetapan keimanan! Jangan berbuat kemunafikan walaupun hanya berolok-olok. Karena Allah akan memperolok-olok dengan tidak memberi hidayah dan terombang-ambing dalam kesesatan. Serta mala diberikan penyakit hati.

AYAT 16
  1. Permisalan orang munafik seperti jual-beli. Yaitu yang menjual petunjuk dan membeli kesesatan (ayat 8, 11 dan 14).
  2. Karena mereka memiliki kesasatan, maka mereka tidak akan beruntung. Sebab, berlaku untuk perdagangan kepada Allah.
  3. Orang munafik termasuk orang yang tidak berpetunjuk.

AYAT 17
  1. Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya (ayat 16) tentang permisalan orang yang tidak berpetunjuk.
  2. Perumpamaan mereka yang tidak berpetunjuk seperti orang yang menyalakan api, menerangi sekelilingnya tapi kemudian dilenyapkan. Mereka berada dalam kegelapan dan Allah membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat.
  3. Kondisi orang-orang yang tak berpetunjuk seperti orang buta atau orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat melihat sekelilingnya
  4. Allah berkuasa menghidupkan dan mematikan api hidayah
  5. Usaha untuk memulihkan mereka dari kesesatan atau kegelapan yaitu menerangi dan meminta kepada Allah untuk dihidupkan kembali cahaya hidayahnya
AYAT 18
  1. Keadaan orang yang tak berpetunjuk :
  • Tuli, sehingga tidak dapat mendengar kebaikan
  • Bisu, sehingga tidak mampu berkata benar
  • Buta, sehingga tidak dapat melihat kebenaran
  1. Mereka tidak dapat kembali? Kenapa? Mungkin tidak dapat kembali diberi petunjuk. Mungkin juga tidak dapat kembali sembuh untuk dapat melihat, mendengar atau berkata benar dari hidayah Allah.
PERTANYAAN : Ayat 18 ini mengatakan bahwa mereka tidak dapat kembali (wahum laayarji’un), apa maksudnya? Tidak dapat kembali dari apa? Kembali sembuh, atau apa?



AYAT 19
  1. Ada 2 permisalan bagi orang munafik/kafir yang tidak berpetunjuk. (ayat 18 & 19)
  2. Permisalan kedua tentang orang yang tak berpetunjuk (munafik & kafir) seperti menghindari suara petir karena takut. Mereka menutup telinganya dengan tangannya.
  3. Dimisalkan petir itu hidayah, tapi mereka menutup telinganya. Menganggap hidayah itu berbahaya mampu membuat mereka takut mati.
  4. Atau, mereka memisalkan hidayah itu seperti petir, kemudian mereka menutup telinga mereka dari petir itu sehingga mereka tetap tersesat.
  5. Pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir

AYAT 20
  1. Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya (ayat 19)
  2. Keadaan orang munafik dan kafir pada ayat ini mengisahkan keadaan yang terkatung-katung (terombang-ambing), ketika ada cahaya kilat mereka berjalan, namun ketika gelap mereka berhenti.
  3. Ayat ini juga mengisahkan bahwa Allah mengolok-olok mereka dengan tetap terombang-ambing di dalam kesesatan (ayat 15)
  4. “Allah maha kuasa atas segala sesuatu” (menerangkan sifat Allah)
  5. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan penglihatan dan pendengaran”. Kalimat ini mengindikasikan bahwa ada harapan tetap diberikn penglihatan dan pendengaran untuk mendapat petunjuk.
  6. Ayat ini ditutup dengan tanda “ain” yang menandakan akhir ayat tentang bahasan tertentu dan biasanya, ayat selanjutnya sudah berbeda bahasan dengan yang sebelumnya.
  7. Ayat 8-20 berada dalam 1 “ain” dan banyak bercerita tentang orang kafir dan munafik

SKETSA AYAT 1-20 :
Ayat 1 : Hanya Allah yang tau maknanya
Ayat 2 – 5 : Berbicara tentang keberuntungan orang-orang bertaqwa
Ayat 6 – 7 : Berbicara tentang orang kafir
Ayat 8 – 12 : Berbicara tentang orang munafik
Ayat 13 : Kembali berbicara tentang orang kafir
Ayat 14 – 15 : Kembali berbicara tentang orang munafik
Ayat 16 – 20 : Berbicara tentang orang kafir dan munafik serta keadaan keduanya.

Buka Komentar