Ketika aku tidak bisa lagi menangis, maka aku akan tertawa

BacaNulis.Com - Sebuah kalimat, yang berhasil saya rangkum sendiri. Kalau saya bilang sih, ini hasil karya cipta yang saya dapat melalui perjalanan hidup yang panjang. Perjalanan hidup yang membuat saya berkesimpulan seperti itu dalam salah satu segi kehidupan.

Kalimat ini sederhana, tapi memiliki segi filosofi yang menurut saya, luar biasa. Kalimat ini mudah dimengerti, bagi mereka yang terpikir dan berpikir. Namun bagi mereka yang tak tau apa-apa, atau tak mau tau apa-apa, mungkin akan mengatakan kalimat ini mengada-ngada, lucu, asing, tak punya makna. Anggapan saya buat mereka, mereka ini adalah orang-orang yang jarang sekali belajar lewat hidup. Acuh-tak acuh, atau masih terlalu awan untuk mengerti bahasa makna dari kalimat itu.

Filosofinya sederhana. Kalau anda sudah terpikir tentang makna kalimat ini, mungkin tebakan anda benar.

Jadi begini, Tuhan menciptakan alam ini secara berpasang-pasangan. Biasanya sampai dua pasang, ini lumrah. Jadi kalau ada yang sampai tiga pasang atau lebih, itu termasuk kepada sisi kekuasaan Ilahi yang manusia tidak sanggup menyamainya. Alam yang tercipta secara berpasang-pasangan tersebut misalnya : ada siang ada malam, ada hitam ada putih, ada bumi ada langit, ada bahagia ada derita, ada atas ada bawah, ada sedih juga ada tertawa, ada laki-laki ada permpuan.

Biasanya setiap manusia akan mengalami salah satu dari dua pasang kehidupan yang telah digariskan Tuhan. Tapi manusia tetap memiliki ikhtiar dari satu keadaan kepada keadaan yang lainnya yang diijinkan Tuhan. Misalnya, pada saatnya, manusia akan mengalami kebahagiaan. Di sisi yang lain manusia bisa mengalami kesengsaraan. Jarang sekali manusia akan mengalami kebahagiaan maupun kesengsaran dalam satu waktu, bahkan tidak mungkin. Atau, kita hidup akan merasakan kadang-kadang berjaya di atas, kadang-kadang harus di bawah. Begitulah fitrah hidup. Kita akan mengalami salah satu pilihan yang sudah Tuhan ciptakan dari pasangan dimensi kehidupan.

Perlu diingat, bahwasannya roda kehidupan ini akan berputar. Dan karena kehidupan ini berputar, siapa saja yang awalnya berada di atas akan dengan sendirinya tersungkur ke bawah. Atau, siapa yang tadinya tersungkur dalam kesengsaraan hidup, maka bersiap-siaplah untuk berhadapan dengan kebahagiaan. Begitu juga, kalau anda berada di malam hari, bersiap-siaplah untuk menyambut pagi. Kalau malam hari kita bersahabat dengan bulan, maka pagi hari kita akan berjumpa dengan kekekaran matahari. Begitulah fitrah perjalanan hidup manusia, yang punya konsekuensi antara surga dan neraka serta lain sebagainya.


Anda ingat dengan judul buku yang dikarang oleh Ibu Kartini? Buku itu berjudul “Habis gelap, terbitlah terang!”. Nah, judul buku ini, sama dengan makna dari kalimat itu. Kalau hari ini kita kalah, kemungkinan esok kita akan menang. Kalau hari ini kita menang, bersiap-siaplah bahwa kemungkinan besar anda akan kalah. Kalau anda tidak bisa lagi tertawa, anda akan menangis. Dan ketika anda tidak bisa lagi menangis. Anda akan tertawa kembali.


Saya menyimpulkan bahwa kehidupan yang akan kita hadapi memiliki dua kemungkinan. Hanya ada dua kemungkinan yang akan kita jalani dalam menjalani hidup, jarang sekali kita akan melewatinya sampai tiga kemungkinan atau lebih, meskipun kemungkianan itu tidak terelakkan. Dua kemungkian itu adalah tetap pada posisi keadaan semula, atau bereaksi untuk merubah posisi keadaan menjadi hal yang baru. Maka, kalau hari ini anda juara, kemungkinan selanjutnya adalah bahwa anda akan tetap juara, jika tidak maka anda akan kalah. Atau, jika hari ini anda kaya, maka hari selanjutnya kemungkianan anda akan tetap kaya, jika tidak maka anda akan segera miskin. Sama halnya, jika anda hari ini menangis, kemungkinan selanjutnya adalah anda akan menangis terus, jika tidak, anda akan tertawa, atau kemungkinan ke tiga anda akan diam. Begitu juga, kalau hari ini anda tertawa, kemungkinan selanjutnya adalah anda akan tetap tertawa, atau anda akan segera menangis. Ini lumrah, tapi yang aku katakan adalah bahwa kehidupan ini pada umumnya akan berjalan pada 2 pilihan kemungkinan, walaupun ada kemungkinan yang lainnya. Jika anda ingin merubah satu sisi keadaan, maka cepatlah lakukan sesuatu untuk merubah itu.


Nah, dalam hal menangis atau tertawa, keduanya mau-tidak mau telah dialami oleh setiap manusia. Konsekuensinya adalah jika hari ini anda menangis, maka besok kemungkinan anda akan tertawa. Jika anda hari ini tertawa, maka besok kemungkinan anda akan menangis. Lebih tegas, jika pernyataannya seperti ini, jika anda hari ini tidak bisa lagi tertawa, mungkin anda akan segera menangis. Atau, jika anda hari ini tidak bisa lagi menangis, mungkin anda akan segera tertawa.


  1. Jika aku menangis, maka aku akan segera tertawa

Lihatlah seorang yang sedih dengan kehidupannya, lambat laun ia akan bangkit dari kesedihan itu, dan memilih untuk pergi darinya. Ia akan lakukan apa saja agar ia bisa meninggalkan diri dari keterpurukan itu. Setelah itu, ia pun akan memproklamirkan diri bahwa hari ini ia akan segera tertawa.


  1. Jika aku tertawa, maka aku akan segera menangis

Perhatikan fenomena keluarga yang tidak pernah merasakan kemiskinan. Mereka berleha-leha dengan kekayaan. Seakan tidak ada kesengsaraan yang menghampiri mereka, bahkan mereka tidak mengenalnya. Dan ketika itu, mereka akan selalu tertawa. Tapi taqdir Tuhan berbeda. Ia menginginkan agar keluarga ini dicoba dengan kemiskinan. Dan akibatnya adalah mereka akan segera menangis. Yah, menangis.

  1. Ketika aku tidak bisa lagi tertawa, maka aku akan menangis

Misalnya, perhatikan orang-orang yang tertawa terpingkal-pingkal. Bahagia dengan keberhasilannya.Terkadang terlihat di sisi mata mereka tangisan yang mengharuhkan. Tangisan itu haruh, dan terjadi akibat ia tak mampu lagi tertawa. Mungkin anda pernah mendengar istilah “menangis karena terharuh dengan suatu hal yang membahagiakan”.

Satu misal lagi, seorang yang mungkin tertawa riang akibat kecongkakannya, tidak mendapatkan keberhasilan curangnya. Sehingga keadaan itu mengakibatkan ia berhenti tertawa. Tidak mampu lagi tertawa. Dan sejak ia tidak bisa lagi tertawa, maka ia akan menangis.


  1. Ketika aku tidak bisa lagi menangis, maka aku akan tertawa

Saya terpaku melihat orang gila di jalanan. Awalnya mereka adalah orang-orang biasa yang hidup seperti manusia pada umumnya. Mereka hidup, dan senantiasa selalu mempertahankan hidup itu. Dan ketika mereka tidak mampu bertahan pada kehidupan yang layak itu, jalan satu-satunya mereka terpaksa menggila. Mereka tertawa, berjalan sesuka hatinya, berbuat sesuka hatinya karena tidak tau bagaimana cara hidup dan mempertahankan hidup. Bagi mereka hidup menggila mungkin lebih membuat mereka lebih bahagia dari pada kehidupan itu sendiri. Sebuah nasib yang semua orang tidak menginginkannya. Dan tau kah anda mengapa mereka tertawa setiap saat. Jawabannya adalah karena mereka tidak bisa lagi menangis. Karena menangispun percuma. Tak berguna, tak mampu mengubah apa-apa walaupun segala sesuatu dilewati.

Satu contoh lagi, lihatlah orang yang depresi, stress luar biasa. Ia bisa secara tiba-tiba tertawa di atas segala problematika yang dihadapi. Dan kenapa dia tertawa? Jawabannya adalah karena ia tidak bisa lagi menangis maka ia tertawa. Karena menangis pun tak mampu berikan apa-apa.

Dari keempat asumsi yang saya tawarkan tadi, saya mengambil kalimat terakhir. Yaitu “ketika aku tak bisa lagi menagis, maka aku akan tertawa”. Sebab, kalimat ini punya makna yang dalam, tidak biasa dan penuh dengan filosofi yang luar biasa dalam. Berbeda jika saya memilih kalimat pertama, kedua atau ketiga.

Menangis dan tertawa adalah lumrah, manusiawi, dan merupakan fitrah hidup manusia. Perhatikan ketika manusia lahir di dunia, hal pertama yang ia lakukan adalah menangis. Berlanjut hari, ia akan diam dan mulai tertawa, tertawa khas anak yang baru lahir dari rahim ibunya. Setelah beberapa hari, jika kemauannya tidak terpenuhi, ia akan segera menangis lagi. Dan ketika kemauannya terpenuhi ia pun akan belajar tertawa lagi.

Berlanjut usia, ketika ia mulai mengenal teman-temannya, lalu bermain, bersuka cita, sekali-kali harus bertarung dengan temannya untuk mempertahankan mainannya, dan sekali-kali ia akan terkena pukulan, anak kecil ini pun akan menangis kembali. Dan ketika ia berjumpa dengan kakaknya, berharap mendapat pembelaan dari kakaknya, kemudian ia mendapatkan permainannya kembali, maka selanjutnya ia akan tertawa kembali.

Beranjak dewasa, ia akan tumbuh sebagai manusia pada umumnya. Ketika ia tidak mendapatkan juara kelas di sekolah, kemungkinan ia akan menangis dan iri dengan kemenangan teman-temannya. Tapi ia berjanji bahwa esok ia harus belajar giat dan yakin bahwa cita-citanya akan tercapai. Dan ketika keyakinannya itu tercapai, maka ia akan tertawa kembali.

Berlanjut usia, ia pun menjadi seorang orang tua yang lebih kompleks dalam menjalani kehidupan. Ketika ia harus membela mati-matian terhadap perekonomiaan keluarga, sekali-kali ia akan menangis dalam bahasa kesengsaraan. Tapi ketika ia melihat anaknya mampu berprestasi di bangku sekolah, tangisnya pun tidak sia-sia, dan yang dilakukannya ia akan segera tertawa.

Berlanjut lagi usia, ketia ia harus menghadap Tuhannya, mau-tidak mau ia harus meninggalkan keluarganya. Dan sebagai keluarga, mereka akan menangis melepas seorang yang ketika ia lahir, ia terlahir sebagai makhluk yang memperdengarkan tangisannya. Ketika anak-anak yang yang ditinggalkannya sudah puas dengan tangisan dan tidak bisa lagi menangis, di kemudiaan hari mereka akan tertawa. Tertawa dengan realita kehidupan dunia, dan mencoba merubah setiap segi apa saja yang ingin mereka ruba dengan tertawa dan menangis.

Begitulah, perjalanan kehidupan manusia. Ia akan mengalami dua dimensi yang berbeda dalam kehidupan. Diantaranta adalah, ia akan mengalami tangis dan tawa. Ketika aku tak bisa lagi menangis, maka aku akan tertawa.

Terakhir, kalimat ini mempunyai pesan agar kita tetap tertawa menghadapi dunia dalam optimisme. Bahwa menangis dan tertawa adalah sebuah hal yang melekat pada diri manusia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel