ZAMAN BATU. TATA BUKU KEHIDUPAN MASA LALU.

ZAMAN BATU. TATA BUKU KEHIDUPAN MASA LALU.

ZAMAN BATU. TATA BUKU KEHIDUPAN MASA LALU.


Aku berjalan. Ku lihat di sekitar, orang-orang dengan peradaban modern. Di tengah kota hasil rekayasa budaya manusia. Hasil reinkarnasi kebudayaan maju. Orang-orang itu membuat tempat tinggal. Tempat mengumpulkan anak-cucu, tempat bersandar dalam letihnya kehidupan. Bukan hanya itu, orang-orang itu juga membuat jembatan, membuat terowongan, membuat pasar, dan dengan singkatnya membuat kehidupan di dalam kehidupan yang telah digariskan.

Aku perhatikan. Terlihat hamper setiap orang membangun itu semua dengan batu keras. Batu yang tak terpecah oleh tangan-tangan lemah. Batu yang cantik. Batu yang memisahkan kesenjangan peradaban lama dengan peradaban modern. Mereka membuat rumah dengan batu. Mereka membuat kantor dengan batu. Mereka membuat jalan dengan batu. Mereka membuat taman dengan batu. Sehingga mereka membuat kehidupan dengan BATU!
Aku teringat, terbayang masa kecil di masa lalu. Ketika aku duduk di sekolah dasar. Sekolah bertembok kayu separuh batu. Sekolah bertaman-taman bunga. Sekolah bersahabatkan keakrabat. Sekolah beralaskan batu-batu pecah, berongga tanah. Sekolah beratapkan seng sedikit celah-celah langit.

Aku masih teringat. Terdengar guru mengajarkan disiplin ilmu. Ilmu tentang tata buku masa lalu. Masa lalu yang bercerita tentang batu. Batu yang dijadikan perkembangan peradaban manusia asing. Asing karena hasil temuan di dalam perut bumi. Bumi yang juga berisikan BATU.

Aku masih teringat. Di dalam ilmu itu, bercerita tentang persahabatan manusia dengan batu. Di mana manusia mendapatkan api dengan batu. Manusia membuat panah dengan batu. Manusia membuat patung dengan batu. Manusia membuat candi dengan batu. Manusia membuat kuburan dengan batu. Dan manusia berkembang seiring perkembangan BATU.
Aku masih teringat. Terlintas bahwa batu-batu itu ada yang kecil, batu itu ada yang besar. Dan aku terkejut, teringat akan istilah lama. MEGALITIKUM. Peradaban manusia yang bersahabat dengan BATU BESAR. Sebesar perkembangan pesat peradaban.
Aku terduduk. Mencoba menuliskan tata buku itu kembali. Tata buku yang mungkin pernah mengalami rugi. Tata buku yang juga mungkin pernah mengalami laba. Dan dengan RUGI/LABA itu manusia tetap mempertimbangkan untuk tetap berinvestasi dengan keuntungan yang diberikan oleh saham BATU!

Aku menulis. Mencoba menginvestigasi layaknya Komisi Pemberantasan Korupsi. Tentang ketidakwajaran-ketidakwajaran soal operasional peradaban manusia yang bersinggungan dengan BATU! Sebab aku yakin, ibarat krisis moneter jika tidak diperiksa dan tidak dikendalikan denganwajar, maka BATU-BATU bumi itu bisa menjadi boomerang layaknya tentara gajah yang dilempari dengan BATU oleh ababil-ababil langit yang datang entah dari mana.

Aku bertanya. Mencoba menemukan jawaban sendiri. Bukankah zaman BATU sudah ada sejak zaman dulu? Bukankah tata buku masa kini berasal LABA/RUGI tata buku masa lalu? Bukankah zaman megalitikum sudah ada sejak zaman dulu?
Aku berpikir. Mencoba damai dengan keadaan. Mencoba menemukan persamaan dan perbedaan antara zaman megalitikum pada saat homo soloensis Berjaya dengan zaman megalitikum pada saat manusia modern, hebat Berjaya.

Aku terhentaka. Mencoba menebak bahwa kedua zaman sama persis adanya. Aku terkejut, mencoba mengerutkan dahi, mencari-cari jawaban di sudut-sudut pikiran yang terbungkus oleh akal yang masih lumayan bagus bahwa perbedaan kedua zaman tersebut terletak pada gaya hidup. Gaya hidup rumah batu, gaya hidup kantor batu, gaya hidup jalan-jalan batu, yang lebih mengerikan adalah gaya hidup taman-taman batu. Baya hidup yang menutupi tanah. Gaya hidup yang tak lagi memikirkan kelangsungan hidup.

Aku menerawang. Mencoba berpikir memandang jauh ke masa depan. Hemmmm, peradaban yang sangat disayangkan untuk zaman sekarang. Sayang, karena peradaban akan melangkah lagi atau terhenti, atau mungkin tetap melangkah namun kejauhan.
Aku terhenti. Terhenti menuliskan investigasi untuk tata buku saman sekarang. Terhenti di tengah jalan buntuh analisis yang masih membingungkan. Tapi aku harus tetap melanjutkan pengauditan ini, untuk mengungkapkan apakah tata buku peradaban manusia dengan BATU masih wajar tanpa pengecualian. Tanpa catatan-catatan nakal manusia.
Aku terhanyut. Terbawa oleh kesalahan-kesalahan tangan manusia. Manusia yang mempertahankan gaya hidup. Gaya hidup yang tak memikirkan hidup orang lain. Orang lain yang punya hak untuk hidup juga. Gaya hidup yang tak memikirkan alam kehidupan. Gaya hidup yang tak memprediksi hari depan kehidupan.

Aku berkicau. Mencoba marah dengan manusia. Bukankah jika batu ini melapisi permukaan bumi, bumi ini akan hancur? Coba perhatikan! Jika bumi tertutup oleh batu dengan kapasitas yang melebihi, di mana persentase kapasitas batu melebihi persentase kapasitas tanah, bumi tidak mau menyerap air? Bukankah banjir akan berada di mana-mana? Bukankah kota akan tertutup air? Bukankah perjalanan kendaraan akan terhanyut oleh air dan memperlambat kehidupan? Bukankah rumput-rumput akan punah? Apakah rumput itu bisa hidup di batu? Dan secara perlahan prilaku manusia yang didasari oleh gaya hidup dengan batu akan membuat hati manusia menjadi keras sekeras BATU! Pada akhirnya, peradaban manusia akan punah karena tidak memperhatikan alam dan berlebihan memanfaatkan BATU!
Aku berkesimpulan. Jika kehidupan tidak memperhatikan setiap segmen kehidupan lainnya, lambat laun akan memporak-porandakan kehidupan secara keseluruhan.
Lalu aku berjalan lagi. Mencoba memperbaiki setiap pos-pos tata buku kehidupan yang pernah dikacaukan oleh peradaban BATU!

MEDAN, 09 februari 2011
bangsur_5:07
Buka Komentar