PERKADERAN PROGRESIF. SONGSONG TRIDIMENSI PERGERAKAN IMM YANG PROGRESIF BERKESINAMBUNGAN

PERKADERAN PROGRESIF. SONGSONG TRIDIMENSI PERGERAKAN IMM YANG PROGRESIF BERKESINAMBUNGAN

PERKADERAN PROGRESIF. SONGSONG TRIDIMENSI PERGERAKAN IMM YANG PROGRESIF BERKESINAMBUNGAN


Oleh. Suramah
“Hendaklah kamu takut meninggalkan generasi-generasi di belakangmu dalam keadaan yang lemah”.
Penggalan ayat di atas sudah cukup mewakili berbagai alasan mengapa pergerakan berkesinambungan harus dipertahankan pada trend progresif. Mau tidak mau, boleh dikatakan bahwa pergerakan ikatan sedang atau bahkan akan mengalami pergeseran-pergeseran yang kurang menguntungkan. Hal itu dapat dilihat dari program jangka panjang atau program jangka pendek yang kurang dipahami atau kurang dijiwai oleh penerus tampuk pimpinan ikatan. Program pergerakan itu pun serta-merta bergeser dari tujuan awal maupun garis perjuangan ikatan itu sendiri.
Sebelum itu terjadi atau ketika itu terjadi, hanya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merubah keadaan :
1. Harus ada tokoh revolusi yang mampu mengarahkan kader menuju jalannya kembali
2. Atau harus ada segelintir kader yang berani meluruskan kembali pengejawantahan kader terhadap tujuannya berikatan menuju tujuan dan garis perjuangan aslinya
3. Atau pada pilihan terakhir, menciptakan kader-kader yang memiliki dan menjiwai pergerakan ikatan.
Mengingat usianya yang sudah hampir setengah abad, IMM akan mengalami 2 fase pergerakan :
1. Fase degresif/staknan
Asumsi ini didasarkan pada kemungkinan bahwa generasi ikatan terdahulu tidak menularkan pergerakannya pada generasi terkini. Sehingga yang terjadi adalah kebingungan atas apa yang harus dilakukan untuk mengejawantahkan pergerakan yang lebih membumi.
Kemungkinan selanjutnya adalah akibat adanya beberapa kader yang tidak memahami atau acuh-tak acuh terhadap pergerakan ikatan. Hal ini malah akan menjadi boomerang sendiri bagi ikatan. Sikap tersebut dapat saja terjadi manakala proses perkaderan yang dihasilkan tidak membuahkan hasil apa-apa terhadap loyalitas kader.
Kemungkinan lainnya, bercampurnya kepentingan-kepentingan yang tidak mendorong dan kurang strategis bagi tumbuh-kembangnya pergerakan ikatan. Hal itu semua memungkinkan akan terjadinya staknasi atau degresifitas gerakan ikatan.
2. Fase progresif
Asumsi ini didasarkan bahwa semakin berlanjutnya usia pergerakan ikatan, seharusnya semakin membuat ikatan tersebut mempunyai nilai plus dibandingkan dengan sebelumnya. Sebab, regenerasi ikatan pasti akan berpindah tangan dan ditangani oleh generasi muda yang mempunyai pola pikir yang lebih kreatif dan inovatif.
Namun asumsi ini bisa saja terbantahkan ketika proses regenerasi pergerakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Atau kemungkinan terputusnya generasi ikatan, sehingga fase kebingungan akan melanda generasi ikatan yang selanjutnya. Dan jika keadaan ini dibiarkan akan mengarahkan ikatan kepada hal yang tidak diinginkan.
Pada gilirannya, untuk menjaga kelestarian pergerakan agar tidak mengalami fase degresif atau staknasi serta mempola kader agar tercipta kader-kader yang mampu mengejawantahkan tridimensi gerakan menuju fase yang progresif, maka perlu membuat penguatan pola pengkaderan yang progresif pula.
Perlu dicantumkan bahwa peluang gerakan akan selalu berkembang seiring berkambangnya kuantitas kader ikatan. Peluang gerakan tersebut dapat diwujudkan melalu pola program gerakan jangka panjang dan program jangka pendek yang strategis. Peluang gerakan ini terinspirasi dari beberapa hal yang dianggap perlu dan sebelumnya belum dimantapkan untuk dikembangkan.
Sesuai dengan anggaran dasar IMM pada bab II pasal 5 yang menyebutkan bahwa : “IMM adalah gerakan mahasiswa islam yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan”, maka dapat diartikan bahwa gerakan IMM mengacuh pada bidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan yang lebih dikenal dengan istilah tridimensi gerakan IMM.
Untuk domisili di Kota Medan, di mana jumlah komisariat, jumlah kader dan fasilitas yang ada cukup terpenuhi, maka ada beberapa program gerakan yang dianggap strategis serta perlu dikembangkan untuk melebarkan sayap-sayap gerakan ikatan di kota besar ke-3 di Indonesia ini. Program gerakan ini sangat berpotensi ketika ditangani oleh tangan-tangan kader yang ikhlas dan mengharap ridho Allah SWT. Dalam lini toritorialnya, beberapa gerakan berikut sangat strategis jika dikembangkan oleh Pimpinan Cabang yang mengikutsertakan Pimpinan Komisariat yang berada di bawahnya. Program gerakan tersebut diantaranya adalah :
Tridimensi pergerakan :
  1. Keagamaan
Program gerakan yang berpotensi :
    1. Study al-Qur’an orientied
Study alqur’an diperlukan untuk pengkajian-pengkajian ayat-ayat al-qur’an, di mana al-qur’an merupakan salah satu dasar pergerakan seperti yang dimuat dalam anggaran dasar bab I pasal 1 yang berbunyi :”Organisasi ini bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah disingkat IMM adalah gerakan mahasiswa islam yang beraqidah islam bersumber al-qur’an dan as-sunnah”. Maka sewajarnya dan seyogianyalah program gerakan ini dimantapkan untuk progresifitas gerakan keagamaan ikatan, terkhusus pada wilayah toritorial Kota Medan. Sehingga sebagai kader ikatan tidak lagi berbicara hukum dan lainnya dengan seenaknya tanpa dasar yang mantap.
Selain itu, study al-qur’an kurang dirasa punya tempat pada program gerakan. Sementara potensi dari study al-qur’an akan mengajarkan ikader katan bahwa al-qur’an memiliki inspirasi keilmuan, hukum-hukum, sejarah, kehidupan bermasyarakat dan lain sebagainya. Pada intinya study al-qur’an sangat potensial sekali melebihi program gerakan pada umumnya.
    1. Study Hadist Orientied
Tidak kalah pentingnya dengan study al-qur’an, study hadis juga menjadi sangat penting dipelajari oleh setiap kader sebagai indikator untuk proses pengejawantahan gerakan keagamaan di internal ikatan. Sebagaimana disebutkan di anggaran dasar tersebut di atas, Bahwa hadits (as-sunnah) memiliki sisi kepentingan yang sama bagi ikatan. Sehingga study hadist juga berpotensi untuk dikembangkan secara berkesinambungan.
    1. Qishosul ambiya
Program ini hanya bersifat pengembangan. Sangat perlu untuk dikembangkan sebagai modal pengetahuan kader maupun umum.
    1. Pelatihan dakwah (korps dakwah)
Harus diakui bahwa pergerakan dakwah IMM di kota Medan secara umum masih mencari bentuknya. Maka perlu sekali mempola kader yang militant berdakwah serta kretif berdakwah melalui pelatihan dakwah yang diproyeksikan kepada terbentuknya korps instruktur.
    1. Laboratotium kader
Hari ini, IMM kota Medan memiliki sekretariat yang berpola Pusat Study Kader (PUSKAD) akan sangat memberikan kontribusi pergerakan jika pola yang dibentuk dimantapkan lebih maksimal sehingga sesuai antara fungsi dan nama yang disandangnya. Pola PUSKAD ini dapat menjadi laboratorium kader sebagai wadah pendidikan.
  1. Kemahasiswaan
Program gerakan yang berpotensi :
    1. Ikatan Akuntan Mahasiswa Muhammadiyah
IMM melalui basis kemahasiswaanya yang berdomisili di kampus, memiliki peluang besar untuk membentuk kelompok-kelompok study yang seragam. Salah satunya adalah Ikatan Akuntan Mahasiswa Muhammadiyah. Program ini diproyeksikan untuk kelompok-kelompok diskusi tentang ilmu pengetahuan yang digeluti. Serta sebagai wahana berbagi keilmuan dan meningkatkan sumberdaya kemahasiswaan yang strategis sesuai dengan jurusan yang ditekuni di kampus. Selain ikatan akuntan mahasiswa muhammadiyah, sebenarnya masih banyak beberapa kelompok-kelompok belajar yang berpotensi sesuai dengan ilmu yang digeluti. Misalnya kelompok study kewirausahaan, kelompok study sosiologi, kelompok study geografi, ilmu pasti dan lain sebagainya.
    1. Sanggar Penulis dan penggalian kebudayaah Fajar Harapan
Sebagai ikatan yang berkompetensi intelektualitas, maka sangat dibutuhkan sekali aksi-aksi intelektualitas tersebut dalam bentuk tulisan. Mau tidak mau tulisan merupakan bagian dari perkembangan kebudayaan dan perkembangan pergerakan. Selain itu melihat potensi mahasiswa yang mungkin sebagian mempunyai keahlian dan obsesi kepenulisan, maka sangat potensial sekali jika program ini dicanangkan
Begitu pula penggalian kebudayaan, diperlukan untuk memperkenalkan budaya sendiri sebagai bentuk dari kecintaan kader. Program ini juga diproyeksikan sebagai bentuk dari pengejawantahan kader bangsa yang harus cinta dengan budayanya yang positif dan kaya.
  1. kemasyarakatan
    1. Kelompok study penelitian masyarakat
Masyarakat sangat unik untuk diteliti. Selain itu program ini berpotensi sebagai wahana pengetahuan dan wujud pengabdian kepada masyarakat. Penelitian ini juga berguna untuk menemukan jawaban-jawaban bagi persoalan-persoalan kemasyarakatan.
    1. Bimbingan Belajar Masyarakat
Sebagaimana pada program gerakan kemahasiswaan, sesungguhnya mampu diproyeksikan kepada lembaga bimbingan belajar bagi masyarakat. Dengan pol-pola tertentu, akan sangat berguna bagi progresifitas gerakan.
    1. Balai Pelestarian Lingkungan & sumber daya masyarakat
Selain bimbingan belajar kepada masyarakat, ikatan juga seharusnya mampu menjadi motor yang membidangi pelestarian lingkungan serta sumber daya manusia yang bernilai baik bagi kehidupan bermasyarakat. Seperti bagaimana mengolah sampah yang baik, apa kegunaan air bersih, bagaimana memanfaatkan kertas habis pakai dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya dapat berguna untuk membentuk masyarakat yang cerdas.
Semua program tersebut di atas sesungguhnya merupakan bentuk dari perwujudan pola dasar kebijakan yang tercantum dalam tanfiz keputusan muktamar XIV IMM di Bandung, di mana pada sasaran personalnya merupakan sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan kepribadian serta sumber daya mahasiswa, baik secara lahiriyah maupun bathiniyah.
Program-program yang disebutkan di atas merupakan sebagian program yang dapat dikembangkan dan berpotensi sekali bagi pergerakan yang progresif. Tapi beberapa mimpi perwujudan pergerakan yang progresif ini hanya akan tetap menjadi mimpi ketika generasi ikatan selanjutnya tidak mempunyai loyalitas, tidak mempunyai kreatifitas dn lebih-lebih tidak memiliki jiwa kader yang tertanam kuat di dalam jiwanya.
Seperti yang dituliskan di atas tadi bahwa pada gilirannya, untuk menjaga kelestarian pergerakan agar tidak mengalami fase degresif atau staknasi serta mempola kader agar tercipta kader-kader yang mampu mengejawantahkan tridimensi gerakan menuju fase yang progresif, maka perlu membuat penguatan pola pengkaderan yang progresif pula.
Hal ini harus diformat dari sekarang agar kita tidak meninggalkan generasi-generasi yang lemah di kemudian hari. Maka secara pasti dapat disimpulkan bahwa perkaderan yang progresif, sangat mempengaruhi tridimensi gerakan tersebut untuk berkembang secara progress.
Maka ada beberapa hal yang harus diperbaharui dari praktek-praktek pengkaderan selama ini. Beberapa hal ini diantaranya :
  1. Bentuk tim instruktur yang kompak dalam wadah korps instruktur
Korps instruktur harus berjalan otonom di bawah garis kordinasi pimpinan di atasnya. Korps instruktur inilah yang kemudian mempunyai arti penting untuk mempola pengkaderan yang secara tidak langsung mampu mempola kader sesuai dengan apa yang diharapkan. Korps instruktur secara terkonsentrasi harus membidangi perkaderan-perkaderan yang berjalan. Yang pada akhirnya punya proyeksi bagi pergerakan yang progresif. Tidak dinafikan.
  1. Buat buku pedoman teknis dan tahapan pelaksanaan pengkaderan dad di kota medan yang sistematis dan berkesinambungan.
Dapat dirasakan, bahwa kegiatn perkaderan DAD belakang terasa masih mencari bentuknya. Pada tatanan prinsip perkaderan, IMM memang telah memiliki Sistem Pengkaderan Ikatan, Silabus pengkaderan, maupun tanfiz tentang pola pengkaderan, namun dalam tatanan teknis, masih terasa beragam antara satu penyelenggara dengan penyelenggara yang lain. Hal itu ditambah dengan kebingungan penyelenggara dengan apa saja yang diharus disiapkan dalam pengkaderan tersebut. Maka perlulah diciptakan sebuah pedoman teknis dan tahapan pelaksanaan pengkaderan DAD yang berlaku bagi seluruh Komisariat yang berada di garis kordinasi cabang Kota Medan. Sehingga ketika melaksanakan DAD, tidak kebingungan dan terciptanya DAD yang diharapkan. Proyeksinya untuk menyeragamkan pengkaderan.
  1. Pendidikan keinstrukturan rutin kepada tim instruktur
Sebagai tim instruktur yang berada di wadah korps instruktur, maka diperlukan sekali pendidikan keinstrukturan secara rutin. Pola ini dibutuhkan untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan keinstrukturan. Selain itu juga sebagai bekal di lapangan perkaderan.
  1. Penguatan pendidikan trikompetensi dasar kepada tim instruktur
Perkaderan DAD sesungguhnya diproyeksikan untuk penanaman nilai-nilai atau ideology ikatan. Salah satu yang terpenting adalah penanaman tujuan dan tridimensi gerakan. Ideology itu, mau tidak mau harus dimiliki oleh seluruh tim instruktur dalam bentuk trikompetensi dasar ikatan. Baik kompetensi religiuitas, kompetensi intelektualitas dan juga kompetensi humanitas. Ketiga kompetensi itu harus dimiliki oleh setiap instruktur. Karena tidak mungkin kita akan mengatakan sesuatu hal, yang kita tidak sanggup memilikinya. “limatakuuluuna maalaa taf’aluun?”
  1. Pengembangan materi-materi pengkaderan dengan pola penanaman ideology dan pengembangan bakat kader
Pengembangan materi pengkaderan diperlukan untuk wawasan keinstrukturan. Juga sebagai bekal penanaman ideology. Selain itu juga untuk proyeksi peserta pengkaderan agar tumbuh menjadi kader-kader yang pada sasaran personalnya merupakan sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan kepribadian serta sumber daya mahasiswa, baik secara lahiriyah maupun bathiniyah.
  1. Follow up yang baik dan terorganisir.
Tidak dipungkiri bahwa kelemahan pengkaderan selama ini, terletak pada model follow up DAD. Bahkan lebih mengkhawatirkan, sampai-sampai tindakan follow up tersebut tidak dilaksanakan. Padahal secara umum, tindakan follow up inilah yang menentukan kelanjutan dari proses pengkaderan. Terkadang peserta DAD tidak akan pernah tau apa yang harus dilakukannya setelah mereka resmi menyandang gelar kader. Sehingga lambat laun, mereka akan lari dari jalur perjuangan dengan sendirinya. Pelarian itu dapat diminalisir jika proses follow up berjalan lancar dan sistematis serta dibutuhkan oleh alumni pengkaderan tersebut.
Masalah yang sering timbul adalah berkisar pada pertanyaan-pertanyaan, bagaimana membuat pola follow up? Apakah cukup dengan kegiatan-kegiatan pengajian? Serta sudah mewakili belum kalau follow up dilakukan hanya sekali saja?
Perlu digarisbawahi bahwa tindak lanjut (follow up) adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebagai tindakan pasca perkaderan dalam rangka menciptakan kondisi yang mengikat peserta dan mendukung optimalisasi tujuan perkaderan. Tindak lanjut penyelenggaraan perkaderan berupa :
a. Laporan penyelenggara secara menyeluruh
b. Pelulusan peserta dan penyerahan syahadah
c. Pemantauan ekstrainer : aktivitas dan prestasi
d. Pendataan ekstrainer & potensinya
e. Pengembangan kegiatan
Jika pola tindak lanjut ini berjalan dengan lancer, maka optimalisasi perkaderan akan tercipta dengan sendirinya. Dan pada jangka panjang akan menciptakan pula kader yang militant dan mampu menyongsong tridimensi pergerakan yang progresif.
  1. Diaspora kader kepada lini bakat
Setelah ekstrainer (alumni perkaderan) memasuki jenjang action di rana pergerakan, maka langkah selanjutnya untuk mendukung pergerakan adalah menempatkan kader tersebut pada lini bakat sesuai dengan mutu yang dimilikinya. Tindakan diaspora ini berguna untuk menemukan jati diri kader sesuai dengan kualifikasi yang dimilikinya. Maka jenjang pimpinan yang menaunginya harus mampu menciptakan sebuah program yang mendukung.
Hal itu sesuai dengan tujuan darul arqam bahwa perkaderan darul arqam ditujukan dalam rangka membentuk karakter dan meningkatkan mutu kader sehingga terciptanya kualitas profil kader ikatan dengan wawasan tertentu sesuai dengan jenjang stratifikasinya.
Maka insyaAllah, ketika pola perkaderan berjalan secara progresif, maka lambat laun akan mempengaruhi pola kader yang diharapkan dan secara berkesinambungan akan mempengaruhi pola tridimensi pergerakan yang progresif pula.

Buka Komentar