Adakah bentuk uang yang lebih baik dari uang kertas untuk perekonomian?


BacaNulis.Com - Sejak jaman dahulu kala, manusia sudah mengenal praktek perekonomian. Diantara praktek perekonomian itu, manusia mengembangkan berbagai macam bisnis, yaitu bisnis perdagangan, sewa-menyewa, utang-piutang dan lain sebagainya.

Berbicara tentang perekonomian, masyarakat tidak akan terlepas dari pembicaraan terhadap uang. Bahkan pengertian ekonomi menurut masyarakat awam akan selalu dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan uang.

Uang merupakan topik hangat yang selalu menjadi bahasan perekonomian. Namun taukah anda bagaimana sebenarnya nilai uang yang kita miliki hari ini? Untuk itu, kita akan mulai bahasan ini dengan mengenal terlebih dahulu sejarah uang.

Transaksi awal

Baca juga: Konspirasi Uang Kertas Bagian I

Pada awalnya manusia tidak melakukan transaksi yang kompleks seperti saat sekarang ini. Kondisi ada saat itu belum mengenal transaksi dengan menggunakan uang. Sebab pada saat itu kebutuhan hidup manusia masih bertumpuh pada persediaan alam.

Transaksi barter
Selang beberapa dekade masyarakat mulai bertransaksi antara satu dengan yang lainnya. Transaksi yang dilakukan pada saat itu adalah dengan saling tukar-menukar barang. Transaksi seperti ini lebih dikenal dengan istilah barter. Tapi di kemudian hari, terdapat banyak kesulitan yang dihadapi dalam perekonomian barter. Diantaranya :

a. Orang sulit menentukan perbandingan harga. Misalnya : sulit sekali menukar 1 ekor kerbau dengan 1 karung beras karena perbandingan harganya tidak setimpal.

b. Barter memerlukan kehendak ganda yang selaras, sehingga sulit ditemukan kebutuhan yang sifatnya mendesak. Misalnya : jika kita mempunyai ayam yang ingin ditukarkan dengan beras, maka kita akan mencari terlebih dahulu orang yang mempunyai beras dan mau ditukarkan dengan ayam.

c. Dengan barter orang sulit menentukan pembayaran yang tertunda

d. Barter juga akan membatasi pilihan pembeli

Transaksi uang barang


Baca juga: Konspirasi Uang Kertas Bagian II

Setelah manusia mengalami sulitnya melakukan transaksi dengan cara barter, lama-kelamaan manusia menemukan metode alat transaksi yang efektif dan efisien. Yaitu melakukan transaksi dengan menggunakan uang barang. Uang barang yang dimaksud adalah barang-barang atau benda yang dapat dijadikan jaminan sebagai alat tukar-menukar.

Benda yang dapat dikategorikan sebagai uang harus memiliki beberapa syarat, yaitu :

a. Memiliki nilai yang bersifat tetap, tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

b. Praktis, artinya uang harus mudah dibawa ke mana-mana.

c. Mudah disimpan tanpa mengurangi nilainya

d. Tahan lama
e. Jumlahnya sedikit langkah dan sulit diperoleh

f. Mutu relatif sama

g. Digemari oleh umum.

Barang-barang yang mendekati syarat-syarat uang yang berlaku pada saat itu adalah emas, perak, senjata dan lain-lain.

Transaksi uang kartal (logam dan kertas)
Setelah perekonomian masyarakat bertolak ke uang barang, selanjutnya masyarakat bertransaksi dengan menggunakan uang logam dan uang kertas. Kedua jenis uang ini sering disebut sebagai uang kartal. Yaitu uang yang beredar di masyarakat. Uang pada prinsipnya merupakan benda yang disetujui oleh masyarakat umum sebagai alat perantara tukar-menukar dalam perdagangan.

Ada beberapa ciri yang melekat pada uang kertas dan uang logam. Diantara ciri baiknya adalah bahwa uang kertas dan uang logam memiliki efisiensi transaksi. Sehingga perekonomian jauh lebih cepat berkembang. Namun di sisi lain, nilai uang kertas dan logam memiliki sisi kelemahan yang juga berpengaruh bagi perekonomian.

Ada 2 jenis nilai yang terdapat dalam uang. Yaitu, nilai instrinsik dan nilai nominal. Nilai nominal adalah nilai uang yang tertera pada setiap mata uang yang bersangkutan. Misalnya, pada uang RP.50.000 tertera angka lima puluh ribu rupiah sehingga nilai uang tersebut adalah lima puluh ribu rupiah.

Sedangkan nilai intrinsik uang adalah nilai uang berdasarkan bahan pembuatannya. Misalnya, untuk membuat uang logam RP.500 diperlukan logam perak seberat 1 gram sehingga harga 1 gram perak adalah Rp.500. Dengan demikian, harga bahan uang (1 gram = Rp. 500) menunjukkan nilai intrinsiknya. Jika kita pernah melihat uang logam Rp. 1000, maka sesungguhnya jika logam itu tidak dalam bentuk uang (dileburkan menjadi logam biasa) nilai yang terkandung dalam logam tersebut tetap Rp.1000 jika ingin dijual. Artinya nilai logam uang Rp.1000 tersebut tetap Rp.1000 baik berbentuk uang atau tidak. Maka pertanyaannya, apakah nilai uang kertas Rp.50.000 jika berbentuk kertas biasa (tidak dalam bentuk uang) akan laku terjual dengan nilai Rp.50.000 juga? Anda sudah bisa menebaknya.

Maka nilai intrinsik uang pada hakekatnya adalah nilai uang yang sesungguhnya. Maka dapat ditarik kesimpulan tentang ciri dari 2 macam uang ini adalah :

a. Uang kertas : nilai intrinsik < dari nilai nominal

b. Uang logam : nilai intrinsik = nilai nominal

Setelah kita membahas tentang nilai uang tersebut yang terdapat pada wujud dari uang itu, maka kita akan membahas tentang harga jual atau nilai tukar dari uang itu sendiri. Nilai tukar uang adalah kemampuan nilai uang itu untuk ditukarkan dengan barang yang lain. Misalnya, jika uang Rp. 1000 dapat ditukarkan dengan 1 buku tulis, maka dapat dikatakan bahwa nilai tukar dari uang Rp.1000 adalah sama dengan kemampuan nilai uang Rp.1000 untuk ditukarkan dengan buku.

Bagaimana dengan uang kertas?

Baca juga: Konspirasi Uang Kertas Bagian III

Tidak dipungkiri bahwa nilai tukar uang dari waktu ke waktu akan selalu mengalami trend turun. Hal itu terbukti dari kekuatan nilai uang tersebut tidak selalu konsisten dan cenderung merosot untuk ditukarkan dengan barang lain. Dimisalkan, pada beberapa tahun yang lalu harga buku dapat dibeli dengan uang Rp. 1.000, namun saat sekarang ini harga buku yang sama tidak bisa dibeli dengan uang Rp. 1.000. harga buku naik Rp.2.000 (misalnya).

Analisisnya adalah, jika dahulu uang Rp. 1.000 mampu membeli 1 buah buku, maka Rp. 1.000 tersebut tidak lagi mampu untuk menukar 1 buah buku pada saat sekarang. Dan ini berarti nilai tukar uang Rp. 1.000 tidak mampu lagi untuk menukarnya dengan buku yang sama jenisnya. Maka untuk mendapatkan 1 buah buku kita harus memiliki uang yang lebih banyak lagi yaitu Rp.2.000. dan ini berarti nilai tukar uang turun. Itu sebabnya mengapa orang jaman dulu mengatakan bahwa uang Rp.50.000 pada waktu itu mampu membeli sebidang tanah sementara uang Rp. 50.000 yang sekarang hanya mampu membeli pulsa. Ini berarti nilai tukar uang tersebut menurun.

Trend nilai tukar uang tersebut biasanya akan selalu turun dari waktu ke waktu. Pembuktiaannya adalah adanya fenomena semakin meningkatnya nilai nominal uang. Dari yang dulu masyarakat hanya mengenal uang Rp.25 sekarang sudah Rp.25.000 bahkan sampai Rp.100.000. fenomena ini pernah dipersoalkan beberapa tahun yang lalu dengan adanya wacana dari pemerintah Indonesia yang ingin menghapuskan nilai nol yang terlalu banyak di dalam uang kertas dengan alasan untuk penyederhanaan. Pada dasarnya fenomena banyaknya nilai nominal tersebut lumrah terjadi disebabkan trend masyarakat yang selalu ingin memiliki uang banyak ditambah kebijakan penerbitan uang yang dikendalikan oleh bank central (Bank Indonesia). Belum lagi maraknya praktek pengedar uang palsu.

Hal itu akan memicu permintaan terhadap uang meningkat, maka jalan keluarnya adalah dengan menciptakan uang yang memiliki nilai nominal tinggih. Padahal sesungguhnya banyaknya nilai nominal tersebut justru tidak diimbangi dengan nilai tukar mata uang. Jika uang dengan nominal tinggi itu hanya dimiliki oleh beberapa masyarakat saja, ini justru akan memicu semakin banyaknya masyarakat miskin yang tidak mampu memiliki uang dengan nominal tinggi untuk menukarkannya terhadap kebutuhan dimana nilai tukarnya sangat tinggi atas nilai nominal uang. Pada ujungnya hal ini juga akan memicu terjadinya inflasi (keadaan di mana harga-harga barang naik secara keseluruhan).

Fenomena lainnya yang terjadi secara global, negara yang perekonomiaannya menggunakan uang yang memprioritaskan uang kartal berbentuk uang kertas tidak mampu mengelak dari bahaya inflasi. Indonesia terkena inflasi pada tahun 1998, Amerika dan lainnya juga pernah mengalami inflasi maupun krisis keuangan.

Selain itu, tidak dipungkiri bahwa nilai uang kertas pada prinsipnya tidak akan pernah konsisten. Dan hal ini justru akan memicu ketidakpastian, memicu kecurangan ekonomi di mana setiap orang akan memikirkan keuntungannya masing-masing disebabkan harus bersaing dengan orang lain. Belum lagi jika berbicara tentang kurs mata uang. Rupiah pada beberapa tahun yang lalu dihargai 1 dolar/Rp.2.000 sementara sekarang untuk 1 dolar dihargai dengan +/- Rp.9.000. ini berarti ada penurunan nilai tukar Rupiah terhadap dolar.

Maka kesimpulannya adalah, nilai uang kertas pada hakekatnya tidak akan membawa kepada nilai yang konsisten. Di mana nilai konsisten itu dibutuhkan untuk kestabilan ekonomi, pendekatan kepastian dan pada level yang lebih tinggi mampu mensejahterakan masyarakat yang menganut perekonomian tersebut. Ada banyak penyebab mengapa perekonomian dengan uang kertas tidak akan selalu stabil, tidak konsisten dan cenderung menurun nilai tukarnya. Yaitu :

a. Tidak memiliki nilai yang bersifat tetap, selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

b. Selain itu, nilai nominal yang ada pada uang kertas bukanlah nilai yang sebenarnya (nilai intrinsik).

c. Jumlahnya banyak, mudah diperoleh karena diterbitkan oleh Bank Sentral dalam penggandaan uang. Apalagi dalam bentuk kertas. Bahkan jika mau, Bank Indonesia mampu menerbitkannya dengan jumlah yang banyak. Selain itu praktek pemalsual uang juga menjadi pemicu bagi peredaran uang. Jika uang semakin banyak beredar, maka nilai tukarnya akan semakin rendah. Sebab di pasar akan berlaku fungsi permintaan dan penawaran

Pada hakikatnya adalah jumlah uang dengan nominal yang tinggi sekalipun bukan berarti menunjukkan perekonomian yang stabil dan membaik. Akibat buruknya adalah :

a. Nilai tukar uang menurun

b. Harga barang naik (inflasi)

c. Kemiskinan kian bertambah, sebab nilai uang dengan nominal tinggi tersebut tidak akan dimiliki si miskin. Si miskin hanya memiliki uang dengan nominal uang rendah padahal nilai tukar barang pun tinggi.
d. Maka pada puncaknya, perekonomian berada pada lingkaran setan dalam bahasa kasarnya

Maka pertanyaan di penghujung tulisan ini adalah :


1. Bagaimana tanggapan anda tentang tulisan dan opini ini?

2. Apakah anda setuju bahwa uang dalam bentuk kertas selalu tidak akan menunjukkan nilai yang sebenarnya dalam perekonomian?

3. Jika tidak menunjukkan nilai yang sebenarnya, apakah anda setuju bahwa uang kertas lambat laun akan memicu terjadinya inflasi dengan sendirinya?

4. Lalu, jika berada dalam kondisi tersebut, setujukah anda bahwa uang kertas merupakan salah satu bentuk penyebab keterpurukan ekonomi?

5. Jika iya, bagaimana solusi yang harus dilakukan? Adakah bentuk uang yang lebih baik dari uang kertas untuk perekonomian?

6. Adakah alat penukaran yang mampu selalu stabil dalam perekonomian?



Medan, 6 april 2011
BS_5:07

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel