Bantahan untuk kaum pluralis tentang kesamaan tuhan

Bantahan untuk kaum pluralis tentang kesamaan tuhan

Bantahan untuk kaum pluralis tentang kesamaan tuhan


Kaum pluralis cukup menjadi bahasan hangat akhir-akhir ini. Dengan pemikiran-pemikirannya yang tajamnya, kaum pluralis mampu membuat orang-orang di sekitarnya terjebak dalam pola pikir tersebut. Plural secara ketatabahasaan hampir sama artinya dengan keanekaragaman. Masyarakat Indonesia umumnya plural, sebab terdiri dari bermacam-macam suku, etnis, agama, kebudayaan, latar belakang dan lain sebagainya.

Namun pengertian plural yang dimaksud di sini cakupannya sudah menyentuh pada tatanan agama. Dalam artian, plural membenarkan adanya keanekaragaman agama, yang implikasinya berpengaruh bagi gagasan yang membenarkan adanya sebuah kesamaan dari setiap agama-agama yang berbeda, bahkan yang lebih ekstrimnya mengatakan adanya kesamaan ketuhanan. Maka, ada baiknya jika melihatnya dalam perspektif kritis tentang gagasan-gagasan tersebut.

Konsep kesamaan tuhan

Orang plural mengatakan bahwa setiap agama itu sama. Memiliki Tuhan yang sama. Tuhannya umat islam adalah sama dengan Tuhannya orang nasrani maupun hindu dan lain sebagainya. Allahnya umat islam adalah Allahnya umat nasrani. Yesusnya umat nasrani adalah Allahnya umat muslim. Begitu pula dewanya kaum budha adalah sama dengan Tuhannya umat beragama yang lain. Dewanya umat hindu adalah Yesusnya orang nasrani, juga Allahnya umat muslim.
Pada intinya setiap agama adalah sama, yaitu memiliki Tuhan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada penyebutan nama saja. Dapat digambarkan bagaimana konsep kesamaan tuhan yang dimaksud kaum pluralis seperti bagan berikut :





Pada sketsa bagan di atas, umat hindu, budha, muslim, kristiani dan lainnya sama-sama menghambakan diri kepada Tuhannya. Masalahnya sekarang adalah Tuhan yang dimaksud oleh umat kristiani bernama Yesus, sementara Tuhan yang dimaksud umat muslim disebut Allah SWT, sementara Tuhan yang dimaksud umat budha maupun hindu lebih dikenal dengan sebutan Dewa. Orang pluralis menganggap bahwa sebenarnya Tuhan semua agama yang dimaksud adalah sama. Tuhan Allah adalah Yesus adalah Dewa. Perbedaannya hanya terletak pada penyebutan istilah atau nama saja. Nah, benarkah anggapan tersebut? Apakah akal manusia menerimanya? Apa dalilnya? Orang-orang plural pada umumnya beragama islam, jika begitu harusnya bisa dibuktikan dengan al-qur’an yang diyakininya.

Kelemahan


Sebenarnya banyak titik kelemahan terhadap anggapan kaum pluralis tersebut yang mengatakan bahwa Tuhannya semua agama adalah sama. Titik kelemahan inilah yang kemudian mengatakan bahwa pemikiran tersebut, salah total. Berikut kelemahan-kelemahan anggapan tersebut :

1. Anggapan tersebut berdasarkan akal pikiran, dibuat-buat oleh nalar manusia. Padahal nalar manusia sangat terbatas dan tidak mampu mengalahkan ilmu Allah SWT.

2. Jika Tuhannya umat nasrani sama dengan Tuhannya umat muslim, mengapa umat muslim tidak menerima bahwa Yesus adalah Tuhan?

3. Umat muslim mempercayai bahwa Tuhan itu esa, sedangkan umat hindu atau budha mempercayai bahwa dewa ada banyak. Lalu dimana letak kesamaannya? Apakah dewa wisnu sama dengan dewa siwa? Hanya berbeda nama saja, namun tetap sama? Apakah dewa wisnu atau dewa siwa tersebut keduanya adalah Allah yang dimaksud umat muslim?

4. Anggapan tersebut hanyalah terkaan belaka, tidak mampu dijelaskan dengan dalil dari kitab yang dipercayai oleh masing-masing agama yang dianggap sama tersebut. Apakah al-qur’an membenarkannya? Apakah kitab wedha juga membenarkan bahwa Tuhan semua agama itu sama? Juga apakah bibel juga berkata bahwa Tuhan setiap agama adalah sama?

Bantahan


- Nalar manusia terbatas


Seperti yang dikatakan di awal tadi, bahwa konsep yang mengatakan bahwa Tuhan semua agama adalah sama itu berdasarkan pada nalar pikiran manusia, akal-akalan sebagian pihak. Di mana nalar tersebut ada kalanya salah besar. Nalar tersebut tidak mampu dibuktikan dengan dalil dari semua kitab rujukan umat beragama yang ada di dunia ini. Maka dapat disimpulkan bahwa nalar manusia tidak akan bisa mengalahkan ilmu Allah SWT. Bahkan nalar pikiran tersebut juga masih bisa disanggah oleh nalar pikiran yang lain. Sama halnya dengan teori darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, dapat disanggah dengan teori lain yang bertentangan dengan teori darwin tersebut yang membuktikan bahwa manusia tidak berasal dari kera.

- BUKTI NALAR YANG MENGATAKAN BAHWA TUHAN SETIAP AGAMA TIDAK SAMA


Karena konsep kesamaan Tuhan setiap agama tersebut berasal dari nalar pikiran manusia, maka berikut akan dibantah dengan nalar pikiran manusia yang berhambakan kepada Allah SWT. Namun dalam hal ini, pendekatan yang dipilih adalah sesuai dengan latar belakang umat muslim. Sebab satu umat beragama dengan umat beragama yang lain tidak akan menerima kebenaran agama lainnya di luar agamanya itu. Dalam hal ini yang diakui sebagai Tuhan adalah Allah SWT (Laa ilaaha illallah : tiada Tuhan selain Allah), dan menafikan Tuhan umat yang lain. Berikut sketsa bahwa Tuhannya setiap umat beragama itu tidaklah sama.

Keterangan sketsa ini menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam. Allah SWT adalah Tuhannya manusia, tuhannya gunung-gunung, Tuhannya lautan, Tuhannya binatang dan Tuhan sekalian alam “Rabbul alamin”. Allah SWT juga Tuhannya umat muslim, juga Tuhannya umat kristiani, juga Tuhannya umat hindu, juga Tuhannya orang ateis. Pada intinya Allah SWT adalah Tuhan sekalian alam.

Namun dalam sangkaan setiap agama apakah setiap agama menuhankan Allah SWT? Apakah anggapan orang Pluralis yang mengatakan Tuhan setiap umat beragama itu sama? Jawabannya adalah tidak bisa dibenarkan, salah total. Yesusnya umat kristiani bukanlah Allahnya umat muslim. Dewanya umat budha bukanlah Allahnya umat muslim begitupun bukanlah Yesusnya umat kristiani. Dapat dilihat sketsanya seperti yang terlihat di atas.

Pada sketsa tersebut umat muslim dan alam lainnya adalah hamba yang beraqidah lurus dan hanya menuhankan Allah SWT Tuhan sekalian alam. Bukan pada yang lain.

Lalu apakah Yesus adalah Allah SWT adalah dewa? Atau apakah Yesus dan Dewa itu Tuhan?


Pertanyaan ini akan terjawab dengan sketsa berikut ini :

Dalam keadaan ideal, raja akan memberikan kesejahteraan kepada semua rakyat, apakah rakyat itu petani, pebisnis, rakyat biasa, polisi, kaum ibu, kepulauan, kehutanan dan lain sebagainya. Namun dalam prakteknya, raja hanya akan mengutus menteri untuk mengurusi kesejahteraan rakyatnya, mengurusi hajat hidup rakyatnya. Raja tidak akan turun langsung secara terang-terangan berhadapan dengan rakyatnya.

Setiap rakyat percaya bahwa kesejahteraan mereka merupakan campur tangan raja yang menjadi pimpinan mereka. Sebab mereka meyakini, disuatu daerah tidak ada yang menguasai hajat hidup mereka kecuali seorang raja itu.

Jika diasumsikan bahwa seluruh rakyat tidak ada yang mengenal rupa atau wujud dari raja itu, dan para menteri tidak mengaku apakah mereka raja atau bukan. maka rakyat akan menganggap bahwa seorang yang paling dekat dengannya, yang memberi kesejahteraan itulah yang mereka sebut raja, yang memiliki kekuasaan untuk mensejahterakan mereka. Mereka menyangka bahwa menteri-menteri yang mengurusi hajat hidup mereka itulah rajanya.

Seorang pebisnis adalah orang yang paling banyak berurusan dengan menteri ekonomi, yaitu menteri yang diutus raja untuk mengatur hal-hal yang dibutuhkan oleh pebisnis. Jika menteri ekonomi tersebut memberikan kesejahteraan terhadap pebisnis, sementara pebisnis tidak kenal dengan raja, dan pebisnis meyakini bahwa seorang yang telah berpengaruh bagi kesejahteraannya adalah seorang raja. Maka, pebisnis itu akan mengira bahwa menteri ekonomi itulah rajanya.

Begitu pula dengan petani, kaum ibu, polisi dan lain-lain. Jika mereka belum pernah kenal dengan rajanya maka mereka akan mengira bahwa menteri-menteri itulah raja mereka. Berbeda dengan penasehat raja, penasehat raja merupakan orang terdekat raja sehingga ia akan mengenal raja tersebut dan tidak salah mengirah bahwa menteri-menteri yang diutus oleh raja tersebut bukanlah seorang raja.

Nah, analogi ini sesuai dengan sangkaan umat selain muslim. Nabi Isa yang diutus oleh Allah SWT yang dianggap mampu menebus dosa manusia dianggap sebagai Tuhan, kemudian menyebutnya dengan Yesus. Begitu pula malaikat jibril yang diutus Allah SWT kemudian mereka menyebutnya sebagai Ruhul Qudus.

Maka sebenarnya sangkaan kaum pluralis tidaklah bisa dibenarkan jika sketsa di atas pada kolom raja diganti menjadi Allah SWT Tuhan sekalian alam. Hamba yang mengenal Tuhan adalah hamba yang paling dekat dengannya dan mengatakan bahwa Allah itu esa dan menguatkannya dengan kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAH (Tiada Tuhan selain Allah), MUHAMMADAR RASULULLAH (dan Muhammad adalah utusan Allah)”. Umat muslim berada pada kolom penasehat dan rakyat yang mempercayai adanya raja yang sesungguhnya. Sementara umat yang lain di bumi ini menempati posisi pada kolom petani, pebisnis kaum ibu dan polisi.

Jika ditarik pertanyaan apakah Yesus adalah Allah SWT? Jawabannya adalah tidak! Dapat dicontohkan seperti kasus pebisnis atau yang lainnya tadi. Allah SWT dalam mengurus manusia cukup mengutus seorang Nabi, dan Nabi yang diutus oleh umat nasrani pada waktu itu adalah Nabi Isa AS. Namun kemudian umat nasrani ini menyangka bahwa manusia yang bernama Isa itu adalah Tuhannya, padahal Ia hanya seorang utusan. Hal ini sama dengan perkiraan seorang pebisnis yang salah dengan mengatakan bahwa seorang yang berperan pada kehidupannya tersebut adalah raja padaha ia hanya seorang menteri. Memang yang berpengaruh pada kehidupan pebisnis tersebut adalah raja, tapi secara zhohir (wujud asli raja) pebisnis tersebut salah sangka.

Mungkin juga berlaku bagi kaum pluralis yang beragama awal adalah agama islam. Apakah Allah SWT yang dimaksud umat muslim adalah Allah SWT yang dimaksud kaum pluralis? Saya tidak bisa katakan secara pasti sama atau tidak, tapi hipotesis sementara tidaklah sama. Sebab Tuhan umat muslim adalah maha esa, rajanya manusia, yang menguasai hari pembalasan, yang tidak beranak dan tidak diperanakan. Allah bukanlah dzat yang bisa disamakan dengan Yesus, tidak bisa disamakan dengan dewa seperti sangkahan kaum pluralis sebelumnya. Maka, bagaimana dengan aqidahnya? Saya tidak akan jawab.

Lalu apakah Yesus atau dewa-dewa adalah Tuhan?


Jawaban berikut adalah jawaban seorang hamba Allah SWT dan pasti tidak akan pernah diterima oleh umat lainnya. Saya menganggap hal itu adalah sebuah kewajaran. Untuk menjawab ini maka kepercayaan masing-masing umat beragama akan berbeda dalam menyikapinya. Namun sebagai seorang muslim yang tidak memiliki keraguaan sedikit pun terhadap keesaan Allah SWT, maka saya mengatakan bahwa Allah itu esa. Tiada Tuhan selain Allah SWT. Maka jelaslah, apakah Yesus maupun dewa-dewa adalah Tuhan?

Hal itu bisa sekali lagi dianalogikan seperti pada sketsa di atas, bahwa makhluk yang disangka memberi pengaruh tersebut adalah Tuhannya. Sama halnya dengan penyembah berhala yang menyangkah bahwa patung-patung itulah Tuhannya. Sekali lagi, ini salah sangkah.

Sekali lagi , untuk penguatan tentang salah sangka terhadap ketuhanan. Hal serupa pernah dialami oleh nabi Ibrahim. Dalam benak pertanyaan yang muncul di hatinya Ia berkata yang manakah Tuhanku? Ketika Ibrahim berada di malam hari Ia melihat bulan dan mengatakan inilah Tuhanku! Tapi ketika terbit pagi dan bulan tersebut hilang Ibrahim menyimpulkan itu bukanlah Tuhanku, aku tidak suka sesuatu yang tenggelam (apalagi jika dijadikan Tuhan). Pada pagi hari Ibrahim melihat matahari kemudian menyangka bahwa matahari itulah Tuhannya, matahari itu lebih besar. Dan ketika tiba malam hari matahari itu pun tenggelam, maka semakin tidak yakinlah Ibrahim bahwa matahari tersebut adalah Tuhannya. Kemudian Ibrahim pun berdoa, jika Ia tidak ditunjuki jalan maka Ia akan tersesat. Maka Allah pun menyelamatkan Ibrahim kepada aqidah yang benar bahwa “tiada Tuhan selain Allah”

Seorang Ibrahim pun mampu berpikir tentang kebenaran apakah sesuatu itu layak disebut Tuhan atau tidak. Jadi, jika sebagian umat manusia masih ada yang bertuhankan matahari dan kaum pluralis mengatakan bahwa Tuhan semua agama adalah sama, ini berarti Yesus, Allah SWT, dan dewa-dewa adalah matahari yang berwujud di pagi hari dan akan tenggelam pada malam hari. Nabi Ibrahim pun mampu menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak kekal bukanlah Tuhan, layaknya matahari. Lalu apakah masih bisa dibenarkan anggapan kaum pluralis tersebut?

DALIL-DALIL


Untuk pembuktian secara dalil nass al-qur’an bahwa Tuhan yang disangka setiap umat beragama di dunia ini tidaklah sama ialah Qur’an Surat al-kafirun yang menegaskan bahwa :

1. Hai orang-orang kafir

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah

Muslim tidak akan pernah menyembah apa yang disembah oleh orang non muslim. Muslim tidak akan menyembah Yesus, dewa, api, matahari dan lain sebagainya. Maka ayat ini menafikan, sesungguhnya Tuhan setiap agama sama itu adalah salah!

3. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah

Mereka, umat non muslim juga bukan penyembah Allah SWT. Jika ditanya apakah Allahnya umat kristiani adalah Allahnya umat muslim? Lewat ayat ini, pertanyaan itu akan terjawab dengan jawaban “tidak”. Sebab umat kristiani bukanlah penyembah apa yang disembah oleh Muhammad SAW atau umatnya. Hal itu dikuatkan, bahwa Allah “tidaklah beranak dan tidak diperanakkan” sementara sangkahan umat kristiani mengatakan bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Maka dari situ dapat disimpulkan bahwa Allah yang dimaksud umat kristiani bukanlah Allah yang dimaksud umat muslim. Sebab Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah

Muslim bukanlah penyembah Yesus. Maka, Allah yang disembah umat muslim sekali lagi bukanlah Yesus atau Allah atau dewa yang disembah umat lain.

5. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah

Ayat 3 sebelumnya diulang kembali di ayat ke 5 yang mengatakan bahwa kalau kamu mengatakan Tuhan setiap agama itu sama, Yesus adalah Allah adalah Allah SWT adalah dewa, maka muslim akan mengatakan bahwa kamu bukanlah penyembah apa yang kami sembah. Umat yang menyembah dewa tidaklah sama dengan umat penyembah Allah SWT.

6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku

Ayat terakhir menegaskan kembali bahwa setiap agama tidaklah sama. Tidaklah sama Tuhan yang disangkah oleh seluruh agama di dunia ini. Buat muslim agama islam buat kristiani kristen, buat hindu adalah hindu.

Dapat disimpulkan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, namum banyak manusia yang salah sangka tentang yang mana Tuhan yang sebenarnya. Sehingga tidaklah sama Tuhan yang sebenarnya dengan Tuhan sangkahan umat yang tidak mengatakan bahwa “tiada Tuhan selain Allah, dan Muahammad adalah rasulullah”

Maka, untuk semua umat muslim berdoalah kepada Allah agar dikuatkan iman dan istiqomah pada kebenaran aqidah yang lurus. Bahwa Tiada Tuhan selain Allah azza wajallah. Cukuplah al-qur’an yang luar biasa menjadi buktinya. Yang benar datangnya dari Allah, dan jika tulisan ini memiliki kesalahan, itu merupakan kesalahan penuli. Wallahu a’lam.

Medan. 7 april 2011
Bangsur_5;07
Buka Komentar