Jawaban untuk film tanda tanya (?). Masih pentingkah kita berbeda?


BacaNulis.Com - Film berjudul “? (tanda tanya)” besutan Hanung Bramantyo memberikan inspirasi dan pelajaran tersendiri tentang kehidupan bermasyarakat. Dalam film itu, Hanung mencoba memberikan pesan-pesan moral berkaitan dengan pluralisme masyarakat khususnya di Indonesia. Film itu sendiri terinspirasi dari kejadian nyata, yaitu peristiwa pembunuhan terhadap tokoh agama nasrani yang terjadi di gereja setempat pada tahun 2009 silam di Jawa Tengah.
Banyak pesan moril yang disampaikan pada film tersebut. Diantaranya setiap masyarakat harus saling hormat-menghormati satu sama lain. Sebab tidak ada pengaruh terhadap jalinan kemasyarakatan maupun rezeki yang kita dapat jika poros tubuh kita berbentuk apa, atau kita keturunan siapa. Karena setiap orang berhak untuk hidup dalam mengarungi kehidupannya masing-masing dengan tetap mengindahkan akhlak kemasyarakatan dan hormat-menghormati terhadap sesama.
Selain itu kerukunan beragama dan bermasyarakat harus tetap dilestarikan. Dengan cara tidak mendahulukan nafsuh amarah, tidak berprasangka buruk terhadap orang lain, dan mengindahkan norma-norma atau nilai-nilai kemasyarakatan serta segala hal yang mengandung kebaikan.
Masih pentingkah kita berbeda?
Jawaban terhadap pertanyaan ini, akan menggambarkan harapan dan keinginan terhadap perbedaan tersebut bagi yang menjawabnya. Secara menyeluruh film berjudul tanda tanya tersebut menggambarkan pluralisme masyarakat. Plural secara ketatabahasaan hampir sama artinya dengan keanekaragaman. Dalam kenyataannya, masyarakat Indonesia (khususnya umat muslim) masih awam dan umumnya alergi dengan kalimat pluralisme. Maka kita harus bedakan ranah yang dimaksud pluralisme yang diperbolehkan.
- Ranah sosial
Secara sosial pluralisme masyarakat Indonesia dapat dibenarkan. Sebab, harus diakui bahwa masyarakat Indonesi terdiri dari beraneka ragam latar belakang. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, bangsa, agama, etnis, keyakinan, dan lain-lain merupakan gambaran bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural.
Al-qur’an sendiri memiliki ayat-ayat pluralisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan yang terdapat dalam surat Al-hujarat ayat 13 : “wahai manusi! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah maha mengetahui lagi maha teliti”
Dalam ayat ini, jelas dikatakan bahwa manusia pada umumnya diciptakan secara plural. Manusia diciptakan menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Dan pluralisme tersebut tercipta dengan harapan untuk saling kenal-mengenal, hormat-menghormati dan saling bantu-membantu.
Dalam kaitannya kepada masyarakat Indonesia, di mana masyarakatnya terdiri dari bermacam-macam etnis, meragam agama dan keyakinan, beragam suku, beragam bahasa dan budaya, namun tetap dalam satu-kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Dalam rana ini, pluralisme bangsa Indonesia diikat oleh falsafah bhineka tunggal ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam rana sosial kemasyarakatan, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural.
Dalam kaitannya terhadap pluralisme kemasyarakatan, dimana terdapat keanekaragaman suku, bangsa, budaya, bahasa dan lain-lain, mau tidak mau setiap masyarakat harus memiliki perbedaan. Perbedaan yang dimaksud tidaklah perbedaan dalam memperoleh hak maupun kewajiban. Perbedaan yang dimaksud hanya bersifat manusiawi dan alamiah belaka. Tidak berarti bahwa perbedaan itu sebagai pemicu kita harus berpecah belah. Dalam kaitan ini, di dalam ayat di atas juga disinggung bahwasannya Allahpun tidak menyinggung perbedaan alamiah tersebut. Allah hanya memberi predikat bahwa siapa yang paling bertaqwa maka dialah yang paling mulia di sisi Allah SWT.
Dalam ranah sosial perbedaan tersebut bukanlah penghalang bagi perlakuan sosial untuk memperolah hak hidup, memperoleh kesempatan untuk berkarya, memperoleh hak untuk pendidikan maupun memperoleh hak untuk memperbaiki bangsa ini. Maka dalam ranah sosial untuk menjawab pertanyaan dalam film “tanda tanya (?). masih pentingkah kita berbeda?”, jawabannya adalah perbedaan bukanlah hal yang penting.
Maka Setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan sosial yang adil, setiap masyarakat harus saling tolong-menolong, setiap warga negara harus saling hormat-menghormati tanpa mementingkan perbedaan tentang masyarakat itu berasal dari keturunan apa, berapa banyak hartanya, bersuku apa, berporos apa dan lain sebagainya. Perbedaan tersebut tidaklah penting.
- Ranah agama
Ada yang berbeda ketika kita berbicara tentang pluralisme tentang agama. Pluralisme agama ini, pernah menjadi polemik antar pembuat ide pluralis dengan objek bahasan pluralis, yaitu keberagaman agama. Masyarakat Indonesia dilihat dari sudut pandang agama pada dasarnya memang plural. Di Indonesia sendiri, agama yang diakui oleh negara ada 6 agama, yaitu islam, kristen protestan, kristen katolik, hindu, budha dan konghuchu. Keenam agama ini dapat dikatakan plural. Namun, pada implikasinya paham plural beragama berujung pada konsep kesamaan Tuhan. Yang mengatakan bahwa Tuhan setiap umat beragama itu sama. Maka hal ini harus diteliti ulang dan berhati-hati dalam menetapkan pendapat.
Dalam film “tanda tanya (?)”, ada adegan yang memasukkan paham ini. Yaitu pada saat tokoh Rika (Endhita) membacakan isi buku tentang motivasi kepada temannya Surya (Agus Kuncoro), isi buku yang dibacakan tersebut kira-kira seperti ini “ manusia pada dasarnya berjalan di jalannya dengan sendiri-sendiri. Pada saat itu mereka berjalan setapak demi setapak tanpa seorang teman. Setiap manusia mengalami hal ini. Mereka berjalan menuju satu tujuan yang sama. Dan ketika semua manusia sama-sama berjalan hingga hampir mencapai pada tujuan, maka terlihatlah satu persatu teman yang lain. Pada saat itu, mereka akan tau bahwa sesungguhnya mereka tidak sendirian. Mereka akan bertemu pada satu titik tujuan yang sama. Dan tujuan itu adalah Tuhan”.
Isi buku tersebut mengandung paham pluralisme agama yang berimplikasi pada paham bahwa Tuhan setiap agama itu sama, hanya berbeda nama penyebutannya saja. Dapat digambarkan bagaimana maksud dari adegan tersebut seperti sketsa berikut ini :




Pada adegan tersebut, tidak dijelaskan apakah setiap manusia yang dimaksud adalah yang beraqidah sama atau manusia dalam konteks universal. Namun pandangan saya mengatakan bahwa setiap manusia yang dimaksudkan di situ adalah seluruh manusia secara universal. Maka dalam hal ini, paham plural yang mengatakan Tuhan setiap agama itu sama adalah tidak dapat dibenarkan. Alasan sederhananya adalah seperti ini :
1. Anggapan kesamaan Tuhan itu berdasarkan akal pikiran, dibuat-buat oleh nalar manusia. Padahal nalar manusia sangat terbatas dan tidak mampu mengalahkan ilmu Allah SWT.
2. Anggapan tersebut hanyalah terkaan belaka, tidak mampu dijelaskan dengan dalil dari kitab yang dipercayai oleh masing-masing agama yang dianggap sama tersebut. Apakah al-qur’an membenarkannya? Apakah kitab wedha juga membenarkan bahwa Tuhan semua agama itu sama? Juga apakah injil juga berkata bahwa Tuhan setiap agama adalah sama?
3. Ada segolongan manusia di dunia ini yang menuhankan matahari, jika Tuhan setiap agama sama, lantas apakah Tuhan yang dimaksud setiap umat beragama itu adalah matahari?
Maka secara pasti, konsep kesamaan Tuhan untuk masing-masing agama yang ditawarkan paham pluralis dan disuguhkan dalam beberapa edegan tertentu dalam film itu, masih tidak bisa dibenarkan.
Mengapa ini penting dibahas? Sebab hal ini untuk menyelamatkan aqidah dan keyakinan masing-masing umat beragaman. Maka pada ranah agama, untuk menjawab pertanyaan film “tanda tanya (?), masih pentingkah kita berbeda?”, maka jawabannya adalah perbedaan ketuhanan untuk setiap agama harus ditolelir sebagai hal yang berbeda, tidak dapat disamakan. Dan Perbedaan itu harus kita akui sebagai pilihan hidup. Namun, bukan berarti perbedaan keyakinan ini penghalang bagi setiap umat untuk tetap bersaudara dan hormat-menghormati.
Dalam film itu, ada dialog antara Menuk (Revalina) pernah mengatakan kepada Ping Hen ( Rio Dewanto), “ini adalah sebuah anugera dari Tuhan, bahwa cinta mampu menyatukan perbedaan”. Perbedaan bukanlah hal yang masih dipentingkan dalam berhubungan sosial kemasyarakatan. Maka tidaklah berarti kehidupan ini, jika kita masih mempeributkan bahkan membuat suasana yang mengacaukan perdamaian hanya karena alasan perbedaan. Maka setiap manusia harus tetap menghormati sesamanya, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan serta masih tunduk kepada aturan-aturan Tuhan dalam bermasyarakat. Dan cinta, jiwa kemanusiaan, karakter baik, serta kepedulian sosial mampu menyatukan perbedaan dengan izin Tuhan.
Untuk film Hanung Bramantyo, sangat bagus sekali sebagai inspirasi kekeluargaan antar masyarakat jika kita mampu mengambil kebaikan dari film tersebut serta bijaksana menyikapi pesan yang disampaikan dalam film itu hingga kita mampu menjawab sendiri petanyaan “masih pentingkah kita berbeda” dengan dibubuhi “tanda tanya (?)”.

Baca juga: Tahukah anda, manusia hidup berapa kali dan mati berapa kali?
Medan, 10 april 2011
BS_on7

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel