3 GOLONGAN BESAR MANUSIA


BacaNulis.Com - Di dalam al-qur’an terdapat surah yang menjadi pembuka dari al-qur’an. Surah ini sering disebut sebagai ummul qur’an. Beberapa ulama sepakat bahwa surah ini merupakan kesimpulan dari isi al-qur’an, sementara surah yang lainnya merupakan penjabaran dari surah ini. Surah ini adalah surah al-fatiha.
Al-fatiha mempunyai 7 ayat. Surah al-fatiha juga menjadi rukun sholat, yang jika tidak dibaca, maka sholat tersebut tidak sah. Setiap mendirikan sholat, wajiblah bagi setiap muslim membaca al-fatiha setiap rakaatnya pada saat berdiri. Oleh karena sholat dilaksanakan setiap lima waktu (untuk sholat fardhu), dan al-fatiha selalu dibaca pada setiap rakaatnya, maka al-fatiha juga sering disebut sebagai surah 7 yang diulang-ulang.
Di dalam mushaf al-qur’an, al-fatiha menduduki urutan yang pertama dari urutan mushaf al-qur’an tersebut. Dan di dalam surah inilah disebutkan adanya 3 golongan besar manusia. Katiga golongan tersebut adalah orang yang diberi nikmat, orang yang dimurkai dan orang yang sesat. Sebagaimana termaktub dalam ayat 6-7 dari surah ini, “tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat”.

1. Orang-orang yang diberi nikmat
Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi nikmat? Jika kita menilik kalimat dari ayat ini, seolah sudah ada cerita atau sejarah orang-orang yang diberi nikmat tersebut. Orang-orang yang telah diberi nikmat inilah yang secara pasti telah mengikuti jalan yang dituntun oleh Allah SWT. “tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya…”.
Dalam surah An-nisa’ ayat 69, di sana dijelaskan secara rinci siapa yang dimaksud orang-orang yang telah diberi nikmat. “dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. Maka terjawablah siapa yang dimaksud orang yang diberi nikmat tersebut, yaitu seperti para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.
Selain itu, jika dikatakan nikmat terbesar adalah iman, maka yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang memiliki keimanan yang matang. Dan akan terkoneksi bahwa contoh-contoh orang yang memiliki iman yang kuat adalah para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh seperti yang disebutkan pada surah an-nisa’ ayat 69 di atas.


Golongan manusia yang ini, merupakan golongan yang ditunjuki dalam jalan kebenaran, yaitu jalan yang lurus. Dalam ayat 6, dikatakan “tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jika di jalanan, petunjuk jalan terdiri dari rambu-rambu lalu lintas, lampu merah dan lain sebagainya. Lalu bagaimanakah Allah SWT, memberi petunjuk bagi hambaNya?


Untuk pertanyaan itu, akan terjawab sendiri oleh al-qur’an, “kitab (al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-baqoroh : 2). Bahwa petunjuk yang lurus dalah al-qur’an itu sendiri. Maka seyogyanyalah bagi setiap muslim untuk selalu membaca, memahami dan melaksanakan petunjuk itu sebagai jalan kebenaran, jalan yang lurus. Rasulullah SAW dalam riwayat Ali R.A mengatakan “ashshirathol mustaqim kitabullah (jalan yang lurus adalah kitabullah)”.


Selain itu, usaha untuk mendapatkan jalan yang lurus tersebut adalah dengan cara taat kepada Allah dan RasulNya (An-nisa’ ayat 69). Orang-orang yang taat inilah yang akan digolongkan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat seperti para Rasul, orang sholeh maupun orang yang mati syahid sebagai jalan yang lurus. Golongan ini, merupakan golongan orang-orang yang beruntung. Yang diberikan petunjuk-petunjuk kebenaran.



2. Orang-orang yang dimurkai
Dalam al-fatiha ayat yang ketujuh tersebut, disebutkan bahwa “Yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat”. Selain golongan orang yang diberi nikmat, dari ayat ini juga disebutkan golongan kedua dari manusia, yaitu orang-orang yang dimurkai.
Mereka yang dimurkai adalah mereka yang sengaja menentang ajaran islam. Diantara orang yang menentang ajaran islam tersebut adalah mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak melaksanakannya. Seperti orang-orang Yahudi yang telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya.
Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh Ady bin Hatim r.a, “siapakah yang dimurkai Allah itu? Jawab Nabi SAW, “Al-Yahud (Yahudi)…..”. Kaum Yahudi, dikenal sebagai kaum yang banyak sejarahnya menentang para Nabi di zamannya maupun ketika zaman Rasulullah di utus sebagai Nabi terakhir. Seperti ketika diperintahkan menyembeli seekor sapi betina. Bukannya langsung dilaksanakan, namun disambut dengan banyak pertanyaan yang akhirnya menyulitkan pelaksanaan penyembelihan tersebut. Kisah ini diabadikan di dalam surah al-baqarah ayat 67-71. Selain orang Yahudi, orang-orang yang menentang ajaran islam yaitu seperti para ahli bid’ah, mengingkari ajaran islam maupun yang melawan ajaran islam itu sendiri.


3. Orang-orang yang sesat
Selain orang yang telah diberi nikmat dan orang yang dimurkai, golongan ketiga adalah mereka yang sesat. “dan bukan pula jalan mereka yang sesat”. Mereka yang sesat adalah mereka yang sengaja mengambil jalan lain selain ajaran islam. Islam merupakan jalan yang diridhoi oleh Allah SWT lewat ayatNya yang mengatakan bahwa “sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam”.
Menyambung penggalan hadist di atas tadi, ketika Nabi ditanya oleh Ady bin Hatim r.a, “…… dan siapakah yang sesat itu? Jawab Nabi SAW, An-Nashara (nasrani)”. Umat nasrani merupakan contoh dari golongan orang-orang yang sesat. Sebab, mereka telah sesat sejak dahulu dan menyesatkan orang banyak, dan tersesat dari jalan yang benar dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam. Seperti yang termaktub dalam surah al-maidah ayat 17, “sungguh telah kafirlah orang yang berkata, sesungguhnya Allah itu dialal Al-Masih putra Maryam……”
Secara umum, al-fatiha mempunyai 2 kategori ayat, yaitu ayat puji-pujian dan do’a. Puji-pujian tersebut mengandung tuntutan kepada hambaNya supaya memuji Allah SWT. Ayat puji-pujian kepada Allah itu meliputi ayat 1-5 dari surah al-fatiha.
Setelah kita memuji kepadaNya, maka manusia diajarkan untuk berdoa’a kepadaNya dengan isi do’a yang termaktub dalam ayat 6-7. Isi do’a tersebut yaitu, memohon agar diberikan jalan yang lurus (yaitu jalan golongan orang yang diberi nikmat kepada mereka), bukan jalan golongan orang yang dimurkai, serta bukan pula jalan golongan orang yang sesat.
Untuk selalu mendapatkan petunjuk jalan yang lurus tersebut, Allah telah membekali manusia dengan Al-qur’an. Yang memiliki berbagai pedoman, ilmu pengetahuan, larangan-larangan serta perintah Tuhan kepada hambaNya. Pedoman tersebut tidak lain adalah agar manusia terselamatkan dari jalan yang dimurkai dan jalan mereka yang sesat. waAllahu a’lam
Medan, 10 mei 2011
19.41 wib
Bangsur_5:07

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel