Cinta itu……


BacaNulis.Com - Seorang teman, baru saja mengirim sms ke handphoneku. Isi sms itu bertuliskan “kata polisi. Cinta itu sulit ditangkap. Kata ustadz, cinta itu anugerah. Kata dokter, cinta itu nggak bisa diobati. Kata guru, cinta itu nggak bisa dipelajari. Kata ibu, cinta nggak bisa abadi. Kata hakim, cinta itu nggak bisa dihukum. Kata orang, cinta misterius. Kata nafsu, cinta itu nikmat. Kata hati, cinta itu indah. Kata Rangga, ada apa dengan cinta. Kata Agnes, cinta tak ada logika. Kata d’Masiv, cinta ini membunuhku. Kata Radja, benci bilang cinta. Lalu katamu, cinta itu apa? Jawab dong!
Lalu dengan enteng aku balas sms itu dengan kalimat, “Yaaaaa aku mana tau. Lah guru aja nggak tau, apalagi aku! Hehehehe”.
Hemmmm. Lucu sekali, juga menarik. Menarik, sebab aku harus berkomentar lewat tulisan ini. Kalau sudah bicara tentang cinta, remaja pun akan terlena dibuatnya. Satu materi kehidupan yang sangat digemari kaula muda, CINTA.
Buatku cinta itu tak lebih bagai sebuah ilusi. Mistis. Bahkan mungkin hipnotis. Dan itu yang sering aku katakan kepada teman-temanku. Seorang Laila Majnun mampu tidak tidur semalaman hanya karena telah berjumpa dengan sosok lelaki kemudian ia terjatuh dalam lubang cinta. Tidak hanya itu, ia bahkan mampu melihat wajah si rupawan lewat cermin rembulan saat malam pun datang. Sebuah hal tak biasa. Luar biasa. Ini ilusi.
Selain itu, perhatikan di sekitar. Berapa banyak orang yang bisa tersenyum senang dan tertawa sendiri, bahkan mampu berjalan semangat ketika bertemu cintanya walaupun sebenarnya raganya letih? Juga berapa orang yang rela mati bunuh diri (menyiksa diri) hanya gara-gara putus dengan cintanya? Luar biasa. Ini ilusi.
Lain lagi seorang yang merasa hatinya kacau, hancur, remuk, porak-poranda akibat digalaukan oleh kenyataan pahit, harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Kahlil Gibran pun pernah berkata “memang, bukankah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri, sampai datang saat berpisah?”. Dan rupa-rupanya kata-kata ini nyata dialami oleh hati yang kacau itu. Luar biasa. Ini ilusi.
Yah. Ini ilusi. Sesuatu yang tak biasa mampu menjadi hal yang luar biasa atas nama cinta. Maka wajarlah kalau Agnes Monica katakan “cinta ini kadang-kadang tak ada logika”. Dia tak bermain dengan logika. Semua samar. Bahkan, kalau sudah berbicara tentang cinta sesuatu yang benar dan salah, sering kurang jelas batasannya. Hemmmm. Membingungkan. Tak ada logika. Di luar akal pikiran sadar manusia.
Ada juga, atas nama cinta seorang gadis rela mengorbankan kehormatannya hanya demi kesenangan sesaat untuk kekasih yang dicintainya. Ada juga, anak remaja yang tak mau makan, tak mau tidur, dan tak mau minum obat sebelum kekasihnya yang menyuruh untuk itu semua. Luar biasa. Ini ilusi.
Atau, fenomena dimana seorang mampu tertawa sejadi-jadinya atau menangis sejadi-jadinya hanya karena cinta. Seorang musisi juga mampu menggubah syair yang luar biasa dengan tema cinta. Lewat tema itu, ia mampu menjadi seorang yang populis. Luar biasa. Ini ilusi.
Walaupun ilusi, namun cinta ada di sekeliling kita. Satu hal yang menjadi fenomena tentang cinta. Dan ini selalu menjadi fakta. Di mana tak selamanya orang yang punya cinta akan mendapatkan apa yang ia cintai. Tak selamanya cinta terbalas oleh orang yang dicintai. Fenomena ini pun menjadi masyhur dengan kalimat cinta tak selamanya memiliki. Akhirnya cinta hanya menjadi hal yang semu. Terlihat seperti halusinasi. Terlihat seperti mistis. Terlihat seperti ilusi. Apakah benar? Aku pun tak tau.


PESAN BUAT CINTA
1. Jatuh cinta itu biasa saja
Aku mengutip kalimat ini dari lagu salah satu grup band Indonesia, Efek Rumah Kaca. Jatuh cinta itu biasa saja. Tak perlu berpelukan, tak perlu memuji, tak perlu berlebihan mencintai (lain halnya jika sudah menikah). Sebab, hal itu hanya akan membuat lalai, menjadi fitnah dan tidak dibenarkan.
Aku sendiri masih belajar. Belajar untuk menemukan jawaban apakah jatuh cinta itu dilarang? Aku tidak bicara soal pacaran yang menjadi trend anak remaja jaman dulu sampai sekarang.
Aku ingin tegaskan saat ini aku cerita tentang cinta. Yah, jatuh cinta. Sebuah perasaan suka terhadap sesuatu hal tertentu. Bukan cerita tentang pacaran. Aku harus berhati-hati memandang hal ini. Dan pandanganku adalah bahwa…….. tidak, tidak! Aku tidak berani. Cukup saja ini menjadi rahasia Ilahi.
Yang jelas, kalaupun jatuh cinta, cukup hanya di dalam hati saja. Jatuh cinta itu biasa saja. Jangan katakan cinta itu buta. Jika cinta itu buta, maka manusia akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. Kemudian hatinya pun akan gelap. Aku berlindung kepada Allah dari segala cinta yang salah. Ampuni kami ya Allah. Yang mungkin salah mengartikan anugerahMu itu.

2. Cintailah sekedarnya saja
Entah mengapa, aku masih mengingat pribahasa Arab ini “cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja. Sebab, bisa jadi ia akan menjadi orang yang paling kau benci suatu saat nanti. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja. Sebab, bisa jadi orang yang kau benci akan menjadi orang yang paling kau cintai suatu saat nanti”.
Pribahasa ini cukup memberi pelajaran bagaimana harusnya sikap mencintai. Cinta harusnya sesederhana mungkin, sekedarnya saja. Sebab, cinta yang berlebihan juga hanya akan menciptakan penyesalan yang luar biasa jika yang dicintai tak membalas cinta dan tidak selalu memberikan pengaruh sesuai dengan yang diharapkan.
Berbeda halnya jika kita mencintai Allah SWT. Maka totalitas dalam kecintaan itu harus dikokohkan. Sebab, tidak ada ruginya jika mencintai Allah. Jika kita mencintaiNya, maka Dia pun akan lebih mencintai kita.
Pelajaran hikma dari pribahasa itu sangat sinkron dengan pesan cinta sebelumnya. Mencintai dengan sekedarnya sama halnya dengan jatuh cinta itu biasa saja. Cinta yang sekedarnya memiliki pesan kesahajaan, kesederhanaan serta tidak berlebihan. Pada akhirnya mengajarkan zuhud kepada cinta, zuhud kepada dunia.
Pelajaran yang disampaikan dengan cinta yang sekedarnya saja adalah bahwa manusia tak akan terlalu berlebihan bahagia jika mencintai, dan tak akan terlalu sedih jika kehilangan cinta. Cintailah sekedarnya saja.


3. Menikah!
Terlalu dini bagiku untuk bicara soal ini. Tapi aku harus berpesan dengan pesan yang satu ini. Apa boleh buat?
Aku mengutip salah satu tulisan yang ada di buku kecilku. Buku yang berisi tentang pesan-pesan hikmah yang terkumpul menjadi satu. Pesan-pesan itu aku kutip dari buku-buku yang pernah aku baca sebelumnya. Salah satu pesan yang ada di buku mungil itu mengatakan bahwa cinta adalah urusan hati. manusia tidak punya kuasa di hadapannya. Hati berada di genggaman kedua tangan Tuhan yang dibolak-balik sesuai kehendaknya. Andai cinta bukan mutiara berharga, tidak akan mungkin para Nabi diutus sesuai zamannya.
Rasulullah SAW telah menegaskan kenyataan ini “ketika api asmara mulai membara, tak ada yang bisa memadamkannya kecuali nikah”. Beliau bersabda “dua orang yang saling mencintai hendaknya segera menikah”. (Ibnu Majah)
Di lembaran lainnya aku mengutip kalimat “cinta adalah kuda liar. Hanya taqwa dan tulus kasih sayang yang bisa mengekangnya”.
Lagi, “tiada dosa bagi cinta yang dikendalikan oleh kasih sayang dan taqwa. Muara satu-satunya bagi cinta berhias taqwa adalah pernikahan”.
Ini saja. Cukup.


4. Cintai Allah
Terakhir, aku ingin katakan bahwa diatas semua cinta, cinta yang sebenarnya, cinta yang hakiki adalah cinta kepada yang maha kuasa. Sebab, jika kita cinta kepadaNya, maka segala teka-teki kehidupan akan terjawab dengan damai. Tidak seperti cinta kepada manusia yang tak selamanya harus memiliki, maka cinta kepada Allah akan selalu memberi kedamaian. Ia memberikan apa yang engkau butuhkan. Ia mengabulkan apa yang engkau doakan. Ia menyayangi dan mengasihi. Dan Ia memberimu udara saat terik matahari. Ia memberi panas, saat pakaianmu basah.
Ia begitu dekat. Bahkan Ia lebih dekat dari urat nadi manusia. Ia tidak menjauh jika dicintai. Dan akan menjauh jika dijauhi. Maka, cintailah Yang Maha Kuasa Allah SWT. Dzat yang menciptakan cinta.
Jika dalam cintanya, manusia selalu terilusi, maka cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.



Medan. 13 februari 2011
Bangsur_5:07

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel