Skip to main content

Katakanlah yang baik-baik atau lebih baik diam


BacaNulis.Com - Orang Indonesia, umumnya mempunyai kebiasaan buruk dalam perkataan maupun anggapannya. Diantara perkataan atau anggapan buruk itu adalah :
1. Memaki bangsa sendiri
2. Berbohong
3. Menggunjing dan berkata sia-sia
4. Mengolok-ngolok saudara sendiri
5. Mengatakan tidak bisa melakukan sesuatu
6. Mengata-ngatai komunitas di luar komunitasnya
7. Berlagak sok hitam (sok jahat, padahal sebenarnya lugu)
8. Memaki timnas
9. Dan masih banyak lagi
Kebiasaan buruk seperti ini, yang awalnya berasal dari lisan dan hatinya akan berdampak sistemik bagi kehidupan masyarakat. Sebab perkataan maupun anggapan seperti itu akan selalu teringat dan terwariskan hingga ke anak cucu negeri ini menjadi beground hidup masyarakatnya. Dan hanya akan menyisahkan generasi-generasi yang mudah menyerah, tidak mau bekerja, hanya pandai memaki, atau berlagak kuat dan hebat.
Biasanya, manusia akan berwujud seperti apa yang ia katakan. Manusia akan menjadi apa yang ia pikirkan. Bukankah, ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa you are what you think (kau adalah apa yang kau pikirkan). Maka, jika kita memikirkan bahwa kita tidak bisa melakukan pekerjaan tertentu tanpa mau berlatih, yakinlah kita pun akan terkutuk selama-lamnya menjadi orang yang tidak mampu. Maka dari itu, senantiasalah mengatakan yang baik-baik dalam kehidupan bermasyarakat. Berkata yang baik, berprilaku yang baik, berprasangka yang baik dan mendapatkan hasil yang baik pula.
Rasul pun mengajarkan dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang termaktub dalam kitab arba’in Nawawi: dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah bersabda : “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam…….”
Dalam hadist tersebut, memiliki beberapa faedah dan pelajaran serta perintah seperti berikut :
1. Berkatalah yang baik-baik
Perintah pertama dalam penggalan hadist di atas adalah anjuran untuk berkata yang baik-baik. Berkata yang baik-baik diantaranya bisa dalam bentuk, berkata yang sopan, bercanda yang tidak menyakiti. Atau bisa juga mendakwahkan kebenaran, bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Berkata yang baik, juga dapat berarti nasehat-menasehati, ingat-mengingatkan ke jalan yang benar. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Maka seyogyanyalah bagi setiap muslim untuk selalu mengatakan yang baik-baik. Jika dikaitkan dengan kata-kata bijak you are what you think, maka berkata yang baik mengindikasikan bahwa kita adalah orang yang baik. Dan orang yang baik tidak akan berkata dusta, tidak akan memaki, tidak akan menganggap dirinya tidak bisa berbuat baik dan lain sebagainya.
2. Jika tidak bisa berkata yang baik, maka lebih baik diam
Alternatif kedua ketika seseorang tidak mampu berkata yang baik, adalah diam. Diam itu lebih baik dari pada berbohong, memaki, berdusta, menghina, mengeluh, atau tidak mampu menjawab yang benar. Diam lebih baik dari pada takut berkata dusta, atau melebih-lebihkan kata, atau takut menyakiti perasaan orang kedua.
Diam sebagai alternatif kedua, bukan berarti menjadi pilihan utama. Sehingga ketika ada sesuatu yang harus dikatakan (misalnya mengingatkan untuk tidak mencuri) namun takut menyinggung perasaan pelaku pencuri sehingga kemudian didiamkan, ini merupakan keputusan yang keliru. Sebab, dalam penggalan hadist tersebut, perintah pertama adalah berkata yang baik-baik. Termasuk di sini mengingatkan saudaranya untuk tidak melakukan pencurian adalah perkataan yang baik.
Jika seseorang tidak mengingatkan saudaranya yang telah berbuat salah, maka sama saja seorang tersebut membiarkan saudaranya dalam jalan yang tidak benar. Jika saudaranya tersebut didiamkan melakukan apa saja, maka seseorang tersebut berada dalam kelemahan iman (serendah-rendahnya iman). Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW “barang siapa diantara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya. Bila ia tidak mampu maka dengan lisannya. Dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. (h.r Muslim). Dan mendiamkan saudara yang berbuat kesalahan merupakan tindakan di dalam hati.
Oleh sebab itu, amat sempurnalah ajaran islam dalam bergaul yang mengatakan bahwa “demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal sholeh, ingat mengingatkan dalam kebaikan dan ingat-mengingatkan dalam kesabaran” (Al-Ashr : 1-3)
3. Berkata yang baik disetarakan dengan beriman kepada Allah dan hari akhir
Dalam redaksi awal dari penggalan hadist di atas, dikatakan bahwa jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau (jika tidak bisa) lebih baik diam, mengisyaratkan kedudukan yang tinggi kepada seorang yang berkata baik-baik. Dalam teks hadist tersebut, dikatakan seolah, berkata yang baik merupakan syarat agar seseorang tersebut diklasifikasikan sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
Berkata yang baik, sama pentingnya seperti perkara iman. Berkata yang baik, yang mungkin dianggap sepele sekalipun, sangat menentukan ciri khas dari keimanan seseorang. Penentuan tersebut seperti adanya variabel bebas dan variabel penentu. Maka jika kita mengaku bertuhankan Allah SWT, maka katakanlah yang baik-baik.
Seseorang akan berbuat sesuai dengan apa yang ia katakan. Jika seseorang berkata yang baik maka ia akan berbuat baik sesuai dengan apa yang ia katakan. Sebaliknya jika seseorang berkata yang buruk, mengeluh, atau menganggap buruk, maka ia pun akan senantiasa melakukan apa yang ia katakan. Sebab, jika kita mengatakan sesuatu yang baik tentang diri kita (misalnya kita sanggup melakukan sesuatu), maka perkataan itu akan disampaikan kepada pikiran bawah sadar sehingga yang kita lakukanpun sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran bawah sadar itu bahwa kita sanggup. Dan ketika pikiran bawah sadar itu meyakini bahwa kita sanggup, maka kita pun akan terasa percaya diri dan berjalan secara optimis.
Dalam buku yang berjudul “Melakukan Hipnoterapi agar daya ingat anda sekuat cakram” dikatakan bahwa manusia memiliki satu pikiran dengan dua lingkup, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Bedanya, pikiran sadar mampu menalar, membandingkan baik dan buruk, benar dan salah, positif dan negatif. Adapun pikiran bawah sadar tidak menalar terhadap mana yang positif dan mana yang negatif, mana yang benar dan mana yang salah. Pikiran sadar adalah mental yang bisa kita kendalikan. Pikiran bawah sadar adalah proses mental yang berfungsi secara otomatis, sehingga kita tidak menyadarinya dan sulit untuk dikendalikan secara sengaja.
Kedua lingkup pikiran tadi memiliki kaitan yang erat. Pikiran sadar memberikan perintah, baik sadar maupun tidak, kepada pikiran bawah sadar. Ketika seseorang berpikir, “saya bisa mencapai itu”. Berarti pikiran itu perintah kepada pikiran bawah sadar. Begitu pula saat seseorang berpikir, “ah, saya tak mungkin bisa”, itu artinya instruksi kepada pikiran bawah sadar untuk melaksanakannya. Dan pada saat instruksi itu datang, pikiran bawah sadar langsung bekerja tanpa perlu membuktikannya dan tanpa mengenal waktu.
Ketika kita berpikir positif, pikiran bawah sadar langsung bereaksi untuk melaksanakan gagasan positif tadi. Sebaliknya, ketika seseorang berpikir negatif, seperti ketidakberdayaan, ketidakmampuan melakukan sesustu, maka pikiran bawah sadar pun bekerja mewujudkan ide atau kesan negatif tersebut.
Pernah melihat film five brother? Yang dibintangi oleh Boboho? Film itu, bercerita tentang 10 saudara kembar yang dipisahkan dari keluarganya setelah lahir dari rahim seorang ibu akibat memakan butir bola naga. 5 saudara kembar masih bersama ibunya, dan 5 saudara kembar yang lain diculik oleh seorang jendral yang menjadi musuh keluarga itu.
Dalam penculikan jendral tersebut kelima saudara kembar itu diberikan kehidupan layaknya seekor anjing. Makan dengan cara menjilat (tanpa tangan), leher dirantai dan tidurpun disediakan di dalam rumah anjing. Dalam pendidikannya jendral mengatakan bahwa cara hidup yang baik adalah seperti itu. Maka lama-kelamaan 5 anak itu pun mengikuti apa yang diajarkan jendral itu walau pun sebenarnya salah. Dan kelima saudara kembar itu pun mengikuti begitu saja.
Begitulah, berpengaruhnya perkataan, anggapan dan pendidikan. Apa yang menjadi anggapan kita, akan terekam di dalam pikiran bawah sadar kita. Yang selanjutnya akan menjadi kebiasaan tanpa mempertimbangkan mana yang positif dan mana yang negatif. Maka bisa dibayangkan bagaimana berbahayanya persepsi seseorang jika dari kecil ia sudah diajarkan oleh segala sesuatu yang tidak benar. Persepsi itu akan tersimpan di dalam memori pikiran bawah sadar dan pikiran bawah sadar itu akan melaksanakan instruksi yang sudah terekam. Naudzu billah.
Akan berbeda jika sugesti atau perkataan yang dilontarkan bermakna positif. Masih dalam film itu, ketika kesepuluh saudara kembar itu dipertemukan, dan sedang menghadapi jendral tersebut, seorang anak mengatakan bahwa mereka berjumlah sepuluh orang pasti sanggup melawan satu jendral yang jahat tersebut. Maka setelah kesepuluh saudara kembar itu memiliki kesanggupan itu dan menghajar jendral tadi, keluarga itu pun meraih kemenangan dalam melawan kejahatan si jendral. Sugesti yang positif, perkataan yang positif serta anggapan yang positif akan disampaikan dari pikiran sadar kepada pikiran bawah sadar untuk melaksanakan instruksi itu.
Masih dalam buku hipnoterapi tadi, dikatakan bahwa pikiran sadar mempunyai 4 fungsi utama, yaitu mengenali informasi yang masuk dari panca indra, membandingkan dengan memori kita, menganalisa dan kemudian memutuskan respons spesifik terhadap informasi tersebut. Sedangkan pikiran bawah sadar berfungsi memproses kebiasaan, perasaan, memori permanen, kepribadian, intuisi, kreatifitas, dan keyakinan.
Pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri kita adalah 9 kali lebih kuat dibandingkan pikiran sadar. Itulah mengapa banyak orang yang sulit berubah meskipun secara sadar mereka sangat ingin berubah. Apabila terjadi pertentangan keinginan antara pikiran sadar dan bawah sadar, maka pikiran bawah sadar selalu menjadi pemenangnya.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa beranggapan maupun berkata yang buruk hanya akan menghasilkan instruksi yang buruk terhadap raga kita. Nabi pun tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berkata yang buruk, beranggapan yang buruk dan berpikir yang buruk. Sebab, dimisalkan kita mengatakan bahwa “Indonesia ini bodoh” (secara sadar), maka kalimat itu akan menjadi perintah kepada pikiran bawah sadar untuk melaksanakan instruksi bahwasannya “orang-orang Indonesia itu bodoh-bodoh”. Dalam tahap kronis, kalimat yang diucapkan secara sadar tersebut akan berubah menjadi kebiasaan, menjadi rekaman memori permanen, menjadi kepribadian, intuisi maupun keyakinan di dalam pikiran bawah sadar. Dan akibatnya sangat sulit untuk dirubah dalam jangka waktu yang singkat. Maka jadilah bangsa ini benar-benar dihuni oleh orang-orang yang bodoh sebodoh orang yang mengatakan kalimat itu.
Maka solusi untuk itu adalah berkatalah yang baik-baik. Jangan memaki, jangan berbohong, jangan mengolok saudara sendiri, jangan mengatakan tidak mampu. Apa salahnya jika kita mengatakan, kita ini sanggup, kita ini bangsa yang santun, kita ini orang-orang hebat, kita ini generasi yang cerdas, kalimat itu akan membantuh pikiran bawah sadar untuk melaksanakan instruksi sesuai dengan pikiran sadar yang diucapkan oleh lisan.
Jika toh, memang tidak bisa mengatakan yang baik-baik, maka alternatif kedua adalah lebih baik diam. Tidak harus memaki, berprasangka buruk atau mengolok-ngolok saudara sendiri. Agar bangsa ini lekas membaik karakternya.
Referensi :
1. Kitab hadist arba’in Nawawi
2. Muhammad, As’adi. 2011. Melakukan Hipnoterapi agar Daya Ingat Anda Sekuat Cakram. Jogjakarta : Diva press

Medan, 11 mei 2011
20.56 WIB
BANGSUR_5:07
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar