SEMUA MANUSIA ITU GILA


BacaNulis.Com - Suatu hari, aku berkata kepada seorang teman, “mei mendatang idolaku datang ke Kisaran”.
“Trus, kamu ke sana?”, tanya teman.
“Ya pastilah”, jawabku.
Sambil tertawa, ia berkata kembali “segitunya? Ngapai lah coba?”
“Kumpul bareng temen. Jumpai idola”, jawabku.
“Gila kau ya…. Hehehehehe”, leluconnya.
Akupun hanya tersenyum atas kegilaanku. Hemmmmm.
Yaaaaaaah. Gila. Bukan satu-dua orang yang mengatakan aku gila. Gila, karena diantara realita kehidupan yang ada di televisi, seperti adanya fans club tertentu, ternyata ada di dekat kehidupan mereka. Gila. Ternyata realita itu memang benar-benar ada. Bukan hanya di Kota besar sebesar Kota Metropolitan, tetapi ia ada dimana-mana, sekalipun di ujung kepulauan Nusantara ini. Akan selalu ada, hal gila, asing, tidak biasa seperti realita ini.
Melalui tulisan ini, aku ingin katakan bahwa setiap orang memiliki kepribadian gila tersebut. Seorang yang gila, akan dianggap gila oleh orang lain. Ia bertingkah tidak biasa. Bicara sendiri, tertawa sendiri, sekali-kali ia akan menangis tanpa sebab kemudian tertawa lagi. Namun, pernahkah anda merasakan apa yang ia rasakan? Apakah ia pernah beranggapan kalau ia gila? Pernahkah ia berpikir bahwa ia adalah orang gila? Pernahkah ia sadar bahwa orang disekelilingnya menganggapnya gila? Entahlah. Yang jelas, kemungkinan ia akan merasa perkasa dan lebih baik dengan kegilaannya. Hahahaha, dasar gila.
Tidak hanya itu. Suatu hari seorang mahasiswa dari desa, pulang dan berpenampilan agak intelektik. Intelektik, sebab mahasiswa memiliki bekal sedikit ilmu dibandingkan orang-orang desa yang notabenenya tidak banyak yang bersinggungan dengan dunia kuliah. Suatu sore, seperti biasa mahasiswa mencari teman sebaya yang mungkin masih ada di kampungnya. Dan, singkat cerita seorang teman berkata, “Kuliah itu gimana sih? Berapa kirimanmu perbulan? Banyak ya? Berarti banyaklah uang orang tuamu? Gila kamu ya? Paling juga, kuliah karena nggak mau kerja. Hidup bebas di sana. Lagian iyalah, kamu kan orang kaya”. Hemmmmmmm, mahasiswa pun dianggap gila.
Seorang pemimpi yang ingin menjadi rockstars. Pada awalnya, segala keinginannya hanya dilatarbelakangi oleh keinginan yang kuat serta interaksi dengan dunia musik rock yang terlalu sering digelutinya. Lalu dengan itu, ia pun mewujudkan satu-persatu dari impiannya tersebut. Belajar ngelit gitar, sekali-kali main dram, gaya pun berubah total. Orang-orang di sekelilingnya menganggap dia gila. Yah, gila. Sebab kelakuannya tidak biasa. Ia menjadi berbeda. Ia menjadi gila, sebab siang dan malam selalu belajar untuk menggapai mimpi menjadi kenyataan. Ia semakin gila, sebab orang-orang di sekelilingnya sudah menyematkan gelar gila kepadanya.
Beberapa aktivis mahasiswa juga jadi bagian dari orang gila. Melalui banyak kegiatannya, mahasiswa itu pun lebih banyak tidak masuk kuliah dibandingkan dengan temannya yang mahasiswa biasa. Temannya itu berujar, “Gila kamu ya? Ke mana saja kamu semalam nggak kuliah? Kamu jarang sekali masuk kuliah? Jangan gara-gara organisasi rusak kuliah”. Dalam hati seorang aktivis mahasiswa itu pun menggerutu, “Kau yang gila. Kita lihat saja, siapa yang lebih matang di lapangan selepas tamat kuliah nanti”. Hahahahaha. Kedua mahasiswa dengan latar belakang berbeda pun sama-sama gila.
Seorang guru. Selepas ujian memeriksa hasil ujian muridnya. Diantara muridnya ada yang tidak tuntas menjawab soal ujian kemudian menuliskan kalimat, “Maaf buk, nomor yang ini saya tidak tau”. Guru hanya menggeleng kepala dan membatin “dasar gila”. Akibat mengawas terlalu ketat sewaktu ujian, guru pun menjadi orang gila melalui anggapan murid-muridnya. Seorang murid berkata, “ibu itu kayak nggak pernah sekolah ja. Kalau aku jadi guru nanti, kubiarkan murid-muridku mau ngopek, mau ngerjai tugas mau nggak, karena aku uda pernah jadi murid. Ibu itu kayak nggak pernah jadi murid ja. Sok kali dia tuh, gila dia tuh, ketat kali ngawasnya”. Hahaha, guru dan murid sama gilanya.
Banyak sekali orang gila di dunia ini. Jika anda perhatikan, seorang Nabi pun akan dianggap gila oleh umatnya yang durhaka.
Aku sendiri pada suatu waktu, di mana aku baru-baru punya komputer dan selalu berinteraksi dengan komputer, selalu diambil estimik oleh teman-teman yang seakan-akan mereka mengatakan aku gila. Bagaimana tidak, hampir setiap saat ketika teman-teman datang selalu mendapatiku berinteraksi dengan komputer. Padahal aku hanya ingin menggapai mimpi untuk menjadi penulis. Makanya wajar jika aku selalu didapati berinteraksi dengan komputer. Keseringan terlihat menulis di layar komputer membuatku seolah dijuluki orang gila. Komputer adalah temanku. Dan menulis adalah kegilaanku. Gila dengan mimpi.
Belum lagi dengan salah satu tulisan yang ada di madingku. Tulisan itu berbunyi “aku mungkin tidak bisa BICARA. Tapi aku bisa MENULIS”, sontak membuat teman-temanku banyak yang berkomentar. Ada yang mengejek, ada yang memilih diam dan ada yang mencaci, kemudian seolah menganggap aku gila. Aku coba menelusuri apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mengapa mereka begitu terpropokasi dengan tulisan yang singkat itu. Anggapan aku mengatakan, mungkin ada diantara mereka yang merasa tersindir. Ada juga yang mungkin menganggap aku sok hebat. Tapi bagiku, tulisan itu hanya sebagai motivasi buatku agar aku benar-benar menjadi seorang penulis. Dan kenapa aku pajang di mading, yaaaah, hanya agar senantiasa terlihat, dan siapa pun yang melihatnya dan pada suatu hari mendapatiku lesuh dalam menulis, mereka mampu memberiku motivasi. Paling tidak ketika aku mati nanti, lewat publikasi itu mereka tau apa saja mimpiku. Lagi pula, kalau aku dominan tidak bisa bicara dan lebih bisa menulis, dan aku menuliskan itu di mading, terserah gue dong! Diri ni diri gue. Memangnya dengan mencaci atau memaki bisa merubah mentalku untuk menjadi penulis? Hahahaha, dasar gila.
Fans klub. Komunitas yang tergila-gila (bukan tergila-gila sebenarnya. Hanya kagum dan mengidolakan) dengan idolanya. Setiap kelakuannya akan mencerminkan bahwa ia seorang fans yang mengidolakan idolanya. Kelakuannya juga tidak jauh-jauh dari idolanya. Banyak hal yang dianggap gila oleh orang lain yang disematkan kepadanya. Terlalu mengagumi, mengumpulkan cerita tentang idolanya, hingga menyimpan souvenir yang pernah didapatkan dari idolanya sewaktu pernah berjumpa merupakan kelakuan yang dianggap gila. Teman sekelilingnya pun terlalu kritis, mungkin terganggu, bahkan ada yang mencaci maki (buatku terlalu ikut campur terhadap hal yang masih bisa dianggap biasa), hingga mengatakan “gila”. Padahal jauh hari kemudian, temannya itu pun menggikrarkan bahwa objek yang ia idolakan memiliki keistimewaan yang patut dibanggakan. Hemmmm, ironis. Padahal seorang fans club tersebut pun tidak pernah memintanya mengakuiya. Kegilaan yang diingkari.
Aku sediri termasuk bagian dari fans club tersebut. Aku adalah seorang sheila gank. Dan harus aku katakan sebenarnya aku punya banyak komunitas di luaran sana, yang tidak akan pernah sama kebiasaan dan kepribadiannya antara satu komunitas dengan komunitas yang lain. Sebagai seorang sheila gank, wajar dong jika akupun lebih banyak berinteraksi dengan kebiasaan-kebiasaan yang menandakan aku seorang sheila gank. Dan wajar pula, jika kemudian teman-temanku di luar itu, menganggap aku gila. Yaaah, gila. Dan atas kegilaanku tersebut, banyak ocehan, ejekan, bahkan mungkin makian dari mereka, padahal aku tidak pernah mengagung-agungkan kalau sheila on 7 itu begini, begitu. Mereka hanya melihat secara visual maupun auditorial tentang kegilaanku tanpa keluar dari mulutku begini-begitu, begitupun respon yang dimunculkan justru berlebihan.
Beberapa hari kemudian, tanpa disadari mereka juga mengakui kehebatan sheila on 7 tanpa harus aku doktrin, tanpa harus dipengaruhi. Hehehehe, buatku ocehan, ejekan bahkan makian, yang kemudian bertolak-belakang dengan pengakuan mereka tentang kehebatan sheila on 7 justru membuatku berkesimpulan bahwa, mereka lebih gila. Hahahaha. Dan suatu hari aku pun berkata kepada seorang teman bahwa aku sudah menularkan virus-virus sheila on 7 kepada mereka tanpa disadari. Hingga mereka pun ikut-ikut menjadi gila. Hahahaha. Buatku, setiap orang punya keunikan.
Setiap manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang gila (dalam bahasa kasarnya). Mereka akan merasa ada, berjaya dan bangga dengan kegilaannya. Kegilaannya adalah dunianya. Dan ia akan bersenang-senang dengan dunianya, dalam artian ia akan bersenang-senang dengan kegilaannya. Dan setiap orang yang berbeda akan menganggap gila kepada orang yang tidak satu dunia dengannya.
Aku ingin katakan bahwa setiap manusia adalah pribadi yang unik. Buatku, setiap orang punya keunikan . Terkadang dengan keunikannya itu mengundang orang lain untuk berkata bahwa ia orang gila. Kegilaan itu bisa saja berarti keunikan, tak biasa, asing, kehebatan seseorang atau mungkin kebodohan seseorang tergantung kita mau melihat dari sudut pandang yang mana. Dan memang siapa saja diantara manusia, akan dianggap gila di sisi orang lain yang tidak sama dengannya. Anda pun akan mengakui jika anda sudah mengalami kritikan orang lain merenungkan, dan menyimpulkan bahwa kalimat tersebut benar.

Baca juga: Cinta itu……
MEDAN, 17 MEI 2011
4.51 WIB
BANGSUR_5:07

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel