Tangisan kesenjangan


BacaNulis.Com - Seorang anak berlari menjauh dari teman-temannya. Ia menangis dan berkata pada ibunya, “Bu…. Belikan aku mainan seperti mereka…!”. Ibu terheran dengan anaknya, “anakkuu.. kamu kenapa?”. Anak itu mencoba menahan tangisnya dan berkata lagi, “mereka telah membuatku cemburu dengan mainannya! Kenapa aku tak punya mainan bu…? kenapa mereka punya…?”. Anak itu terhenti sejenak, tersedak menahan amarah, kemudian menangis lagi.
Ibunda berusaha mengerti dengan kecemburuan anaknya. Wajar jika anak seusia itu sangat ingin sekali bermain. Tapi di dalam kewajaran tangisan anaknya itu, terdapat tangisan yang mendalam di batin ibunya, “maafkan ibu nak…! Ibu belum bisa membelikan mainan untukmu. Bahkan celanamu yang kotor itu belum ada gantinya”.
“Ibu… kenapa ibu diam?”. Si anak memalingkan perhatian ibunya.
“Sabar ya nak! Nanti kalau ayah pulang, kita beli mainan!”, seru ibu menghibur hati anaknya.
Tak lama si ayah pulang. Tapi bukan membawa mainan. Hanya sebungkus nasi untuk mengganjal perut keluarga itu sebagai bekal menghadapi malam. Si Ibu menceritakan kepada si Ayah tentang kemauan anaknya. Tanpa nada penolakan, ayah hanya berkata, “kalau uang hasil kerja ayah cukup, pasti ayah belikan”.
Ayah pun mengajak semua keluarga besarnya untuk makan bersama. Berbaur dalam lahapnya santapan sore itu, bak tamu istana yang lahap memakan hidangan jamuan. Tanpa anggur merah, hanya seteko air putih hasil karya ibu. Tanpa kecap manis, hanya kemesraan keluarga. Tanpa kipas angin sebagai penenang suasana, hanya semilir angin alam yang masuk melalui tembok-tembok bolong.
Sebuah keluarga kecil yang hidup karena kasih sayang Tuhan. Keluarga kecil yang tak begitu bernasib baik dan belum ketauan bagaimana nasibnya jika sudah menjadi keluarga besar. Hidup di sebuah rumah rongsokan peninggalan puing-puing harta warisan. Harta yang turun-temurun mewariskan kemiskinan. Walaupun begitu, harus tetap dipertahankan dari gonjang-ganjing penggusuran atas nama keindahan.
Mereka hidup untuk mempertahankan hidup. Mereka tidak punya cita-cita besar sebesar cita-cita akademisi mahasiswa. Mereka hanya berusaha untuk tetap hidup, bisa makan, tidak sakit, punya rumah sendiri, dan berharap perubahan terhadap keadaan ekonomi agar lebih baik. Serta menyelipkan mimpi agar anknya bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan bernasib baik.
Mereka hidup dari asupan gizi yang mereka makan setiap harinya secara bersama. Mendapatkannya dengan bekerja apa saja asalkan halal dan mampu mengisi perut mereka. Mereka bukan orang miskin, mereka hanyalah orang-orang yang kurang beruntung. Sebab, di sebelah rumah mereka masih banyak orang-orang kaya. Yah, masyarakat yang kaya karena serakah.
Kekontrasan hidup orang-orang di sekelilingnya, disebabkan karena kejanggalan fenomena, bahwa mereka ingin menang sendiri tanpa hidup dengan hati nurani, hati yang peduli. Jangankan peduli, menghargai saja, sulit dirasa.
Kekontrasan ini merupakan buah karya dari fenomena kapital, siapa yang punya modal, maka dialah yang menang. Padahal tanpa buruh pekerja, pemilik modal tak akan bisa menghasilkan apa-apa. Beginilah kalau hidup mencari uang, bukan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan bukan berasal dari uang, kebahagiaan akan hadir jika kita berada bersama orang-orang yang bahagia pula. Jika hanya salah satu saja yang bahagia, maka kebahagaian itu akan diusik oleh pemeran lain dari kehidupan. Bukankah berdampingan dengan orang yang tak makan, akan mengusik hati?. Jika hati sudah terusik, kebahagiaan pun terasa semu. Jika tidak terusik, maka pada hakikatnya hati si pemilik kebahagiaan telah redam. Maka jadilah ia hidup tanpa hati. Padahal kumbang pun memerlukan kembang dan kembang akan bahagia jika dihampiri kumbang.
Hidup harusnya harmonis. Semua saling membutuhkan. Dan segala hal yang diciptakan hendaknya mempertimbangkan unsur yang terkait dengan keadaan saling membutuhkan. Jika rumah kita bahagia, harusnya tetangga juga bahagia.
Harusnya hidup ini seimbang. Walaupun ada yang miskin, jangan sampai mereka tidak makan. Bukankah Tuhan memberi harta hanya sebagai titipan (bukan untukmu)? Harta yang dimiliki juga untuk mereka. Hak-hak hidup harusnya terpenuhi dengan baik dan merata. Bukankah negeri ini kaya? Yang tak sampai harus menjual pulau hanya untuk memberi makan rakyatnya.
Semua cerita kehidupan berhenti dan berakhir di waktu malam. Si anak tertidur dengan dendam. Dendam karena alasan strata sosial, dendam akibat rancunya kehidupan. Mungkin di dalam mimpinya ia akan menjadi orang yang tak terkalahkan, tak akan menjadi cengeng yang menangis hanya karena tak punya mainan. Tidak akan! Ia akan menjadi orang yang berkuasa dalam mimpinya. Dan mimpi itu lebih damai untuknya dari pada terjaga dengan kecemburuan.
Ayah dan ibunya hanya bisa berharap agar si anak menjadi orang yang hebat sungguhan, yang mampu merubah nasib keluarga mereka menjadi lebih baik. Mereka tak ingin anaknya menjadi pecundang. Mereka hanya ingin membuktikan bahwa anaknya mampu membuat semua manusia bahagia tanpa membela kesenjangan, tanpa membela ketimpangan, tanpa membela keserakahan, lebih-lebih tanpa menafikan kemanusiaan.
Perlahan ayah dan ibu itu mencium kening anaknya dan berbisik, walaupun ayah dan ibu tak punya uang, esok, lusa atau kapan saja kau akan masuk sekolah, kau akan belajar dan menjadi sosok revolusioner yang mampu merubah keadaan hidup dengan asas-asas kemanusiaan di bawah naungan Tuhan.
Semoga matahari esok masih berdamai denganmu. Semoga kehidupan esok akan bermain mengikuti permainanmu melebihi mainan yang kau inginkan. Tidurlah nak. Dan bangunlah esok dengan permainan-permainan dunia. Dan jadilah pemenang dalam permainan itu.
Medan, 15 februari 2011
Bangsur_5:07

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel