Skip to main content

Tembok-tembok pedagang kaki lima


BacaNulis.Com - Dunia global, atau lebih trend disebut globlasisasi menjadi salah satu penyebab terciptanya ketimpangan sosial. Selain itu, gengsi dan strata sosial menjadi hantu yang menakutkan hingga menciptakan adanya keterpurukan sosial.
Keterpurukan sosial tersebut kemudian menciptakan kembali kesenjangan-kesenjangan antara pelaku strata sosial tersebut. Masyarakat memaki pemimpinnya, pemimpin juga mengkhianati rakyatnya. Keadaan seperti ini hanya akan melahirkan dendam antar pelaku tersebut. Sebab bisa jadi si sudra akan menjadi pengkhianat ketika ia sudah menjadi ksatria.
Sebelum kondisi tersebut kronis, maka ada baiknya memikirkan hal-hal yang memungkinkan bisa terciptanya simbiosis mutualisme. Alam juga sudah mengajarkan apa keuntungan-keuntungan yang diajarkan dari beberapa simsiosis. Simbiosis mutualisme akan menciptakan kondisi yang sama-sama menguntungkan. Sedangkan simbiosis parasitisme, hanya akan merugikan salah satunya atau mungkin keduanya, sebab, jika populasi inang telah mati, maka individu yang menumpang hidup dengan populasi itu pun akan mati pula.
Awalnya ini hanya imajinasi. Namun memiliki sisi positif yang sayang jika dibuang atau terlupakan. Hingga akhirnya tertulis dalam lembaran yang muda-mudahan dibaca oleh generasi mendatang.
Fenomena yang sering terjadi pada bangsa ini akhir-akhir ini adalah maraknya penggusuran. Tidak terkecuali pedagang kaki lima yang menjadi sasaran penggusuran tersebut. Anehnya pada beberapa kasus, penggusuran yang dilakukan tidak memikirkan sebenarnya apa tujuan dari penggusuran? Kenapa penggusuran baru dieksekusi sekarang? Mengapa sebelum lahan itu dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima tidak dimanfaatkan sebelumnya oleh oknum penggusur? Ironis, ini merupakan indikasi bahwa telah terjadi wabah penyakit yang menyerang sebagian pelaku strata sosial. Yaitu senang bila melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
Dalam tulisan ini, saya tidak akan memperpanjang-lebar mengapa harus digusur, apa dampaknya, bagaimana solusinya, tepatkah yang dilakukan dan lain sebagainya. Namun, dalam tulisan ini terpikir, aduhai bagaimana jika penguasa dan pedagang kaki lima bisa berkolaborasi dalam kehidupan bangsa? Bagaimana mesranya, jika hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dengan pedagang kaki lima tercipta? Adakah yang dirugikan jika penguasa dengan pedagang kaki lima saling menguntungkan? Yang dirugikan mungkin Cuma setan-setan politik yang tidak menginginkan bangsa ini sejahtera.
Satu fenomena yang disayangkan, mengapa sebagian penguasa menggusur pedagang kaki lima? Lebih-lebih jika pedagang kaki lima tersebut membuka lapak dagangannya di depan istana penguasa. Penguasa menggusur pedagang kaki lima tersebut dengan dalih keindahan istana, keindahan kantor. Sebab pedagang kaki lima hanya akan menciptakan pemandangan yang jorok, menjijikkan dan memalukan. Padahal, pedagang kaki lima tersebut pun andaikan punya banyak pilihan hidup yang lebih baik dari profesinya saat itu, mereka akan memilih untuk tidak menjadi pedagang kaki lima. Padahal, pedagang kaki lima itu pun sesungguhnya adalah tanggung jawab dari penguasa tersebut. Yang hidup, ada, dan berdampingan dengan sama-sama saling membutuhkan antar sesama ekosistem yang hidup di habitat kepulauan nusantara ini.
Mungkin terdengar menggelikan. Bahkan mungkin hampir tidak dipercaya, bagaimana mungkin pedagang kaki lima bisa hidup berdampingan dengan penguasa secara berdekatan layaknya simbiosis mutualisme antara kumbang dan kembang. Bagaimana caranya?
Banyak cara yang bisa dilakukan, hanya saja cara yang satu ini mungkin terdengar ngawur, lelucon, menggelikan, mustahil, namun saya yakin justru ini yang membuat oknum penguasa dan pedagang kaki lima bisa hidup berdampingan. Cara ini hanya akan dianggap ngawur, lelucon, menggelikan, bahkan mustahil oleh mereka yang mengagungkan gengsi, kehormatan semu, atau kedudukan yang tak abadi. Andaikan penguasa tersebut merasakan apa yang dirasakan oleh pedagang kaki lima, maka penguasa itu pun akan mendukung cara ini. Dan cara ini adalah menciptakan pasar atau lapak dagangan untuk pedagang kaki lima tepat di tembok luar istana penguasa.
Banyak kasus di tubuh bangsa ini yang melibatkan penguasa yang zholim terhadap rakyatnya, semisal pedagang kaki lima. Salah satunya adalah jika mereka membuat lapak dagang di area istana penguasa, maka penguasa pun akan membombardir dagangan itu. Dengan alasan yang bermacam-macam, salah satunya keindahan istana. Padahal jika pedagang kaki lima tersebut diberikan kesempatan berdagang justru akan meningkatkan omset kewibawaan penguasa.
Diantara keuntungan menciptakan pasar atau lapak dagangan untuk pedagang kaki lima tepat di tembok luar istana penguasa adalah :
1. Bagi pedagang kaki lima
- Sebagai usaha untuk memajukan kehidupan ekonomi
- Memiliki lapak dagang
- Terciptanya kepercayaan pedagang terhadap penguasa
- Harmonisasi terhadap penguasa
- Menaikkan omset penjualan
- Pilihan hidup yang halal

2. Bagi penguasa
- Memanfaatkan tembok untuk hal-hal yang baik dari pada tidak terfungsikan
- Sebagai media tanggung jawab atas penghidupan rakyatnya
- Terciptanya kemesraan terhadap rakyatnya
- Wujud dari kepedulian
- Menaikkan omset wibawa yang dihargai oleh rakyatnya
- Pilihan hidup untuk berbakti kepada bangsa
Menciptakan pasar atau lapak dagang untuk pedagang kaki lima tepat di tembok luar istana penguasa sesungguhnya tidak memiliki sisi negatif. Wahana ini justru akan mewujudkan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pedagang kaki lima. Lagi pula, jika alasannya adalah keindahan istana penguasa, maka harus diketahui bahwa keindahan itu bisa diciptakan. Pasar yang hendak diciptakan ini tentunya harus dimodifikasi dengan mempertimbangkan ciri-ciri pasar yang bersih, modern, dan memiliki karakter kebangsaan yang santun, berwibawa dan ramah. Nah, jika keindahan dapat diciptakan seperti itu apa susahnya bagi penguasa?
Penaikan omset kewibawaan penguasa pun akan meningkat drastis. Penguasa akan dianggap pemimpin yang adil, peduli, profesional, modern, dan bijaksana layaknya semboyan-semboyan pada saat pemiluhan umum saat pesta rakyat. Penguasa tidak akan berhati angkuh, sebab ia hidup bersama orang-orang yang bersahaja sebagai pedagang kaki lima. Penguasa akan dicap kreatif, sebab ia mampu menemukan ide yang jarang dilakukan orang. Penguasa akan lebih dekat dengan rakyatnya, sebab, di balik tempok istananya, disana hidup jutaan rakyatnya yang tunduk kepadanya. Dan penguasa akan leluasa bertemu mereka, bersenda gurau, bahkan memborong hasil karya rakyatnya sendiri. Rakyat senang, penguasapun senang.
Mengapa harus dilakukan cara itu? Memangnya tidak ada cara lain? Cara lain ada ketika bangsa kita dalam keadaan yang sejahtera. Jika bangsa dalam keadaan darurat kesejahteraan, atau dalam kesenjangan strata sosial atau tidak ada cara lain selain cara itu atau cara itu merupakan hasil berpikir bijaksana, maka tidak ada salahnya jika cara itu diciptakan.
Bagaimana jika bangsa ini dimaki oleh bangsa lain ketika mereka melihat tembok itu? Saya ingin katakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang merdeka, yang bisa menentukan hidupnya sendirian, tanpa harus terganggu oleh bangsa manapun. Toh, setiap bangsa memiliki cara yang unik untuk mensejahterakan rakyatnya. Jadi malu yang bagaimana yang akan dipertontonkan?
Harusnya bangsa ini lebih malu ketika hak yang kita miliki dirampas oleh bangsa lain. Lihat fenomena gedung-gedung mewah, perhotelan, mall-mall, pertambangan alam nusantara ini dan lain sebagainya dengan membawa bendera bangsa lain di tanah air kita. Dari pada kerjasama tersebut, dimana bangsa ini hanya diuntungkan sekian persen saja dari negosiasi yang memberatkan, maka lebih baik jika rakyat ini meraih keuntungan secara langsung dari buah kebijaksanaan penguasanya sendiri. Sebab, alur dari keuntungan yang diperoleh dari bangsa lain pun hanya akan diraih oleh oknum tertentu dan tersumbat jalannya menuju rakyat bangsa ini.
Bukan merupakan keburukan jika kita mampu memanfaatkan orang lain dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki bangsa ini, namun mementingkan perut rakyat ini pun merupakan orientasi yang lebih penting dari pada itu semua agar rakyat pun tidak lapar, dan masih bangga menyebutkan dirinya adalah putra dari bangsa ini.
Lagi pula, dengan penciptaan tempok-tempok untuk pedagang kaki lima tersebut akan lebih membanggakan jika kemudian terungkap kalimat yang berbunyi “di dalam tempok-tempok pedagang kaki lima itu sedang tersenyum bahagia seorang pemimpin bangsa ini, yang bijaksana, adil, modern, kreatif, peduli, dan arif sebagai penguasa bangsa ini. Sebab, ia dikelilingi oleh rakyatnya yang ramah, santun, baik, lagi saling membutuhkan”.
Lagi pula dengan adanya tempok-tempok pedagang kaki lima yang bersandar di tembok penguasa akan tercipta suasana bahwa “rakyat ini dilindungi oleh penguasa yang baik. Dan penguasa itu juga didukung oleh rakyat yang baik pula”.


Medan. 11 mei 2011
Bangsur_5:07
13.21 WIB
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar