YANG DISEBUT MUHRIM


Muhrim. Apakah muhrim itu? Siapakah orang-orang yang disebut muhrim itu?
Muhrim secara lughah berarti orang yang diharamkan. Yaitu orang yang diharamkan untuk dinikahi. Maka, jika dikatakan bahwa seseorang tersebut adalah muhrimnya, maka muhrimnya itu tidak boleh (tidak halal) untuk dinikahinya.
Di dalam al-qur’an orang-orang yang disebut muhrim ada dalam surah an-Nisa’ ayat 23. Yang berbunyi : diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari sudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-sudara perempuan sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ : 23)
Jika dimisalkan silsilah kekeluargaan seperti berikut :
KELUARGA BESAR ANDI
A. SILSILAH KELUARGA JAKA + RINA
Anak : Ramlan, Rudi, Vera, Fatimah
B. SILSILAH KELUARGA BUDI + RANI
Anak : Toto, Ajizah (istri Ramlan), Fitri
C. SILSILAH KELUARGA RAMLAN (anak Jaka) + AJIZAH (anak Budi)
Anak : Andi, Sutrisno, Ayu
D. SILSILAH KELUARGA RAMLAN (ayah Andi) + ZAKIYAH (istri kedua)
Anak : Amin
E. SILSILAH KELUARGA ANDI (anak Ramlan) + ZAINAB
Anak : Basuki, Putri.
F. SILSILAH KELUARGA BASUKI + DILA
Anak : Dwiyanti
G. SILSILAH KELUARGA SUTRISNO + MURNI
Anak : Paino, Irawan, Ernawati, Susilawati
H. SILSILAH KELUARGA PAIMAN + AYU (anak Ramlan/adiknya Andi)
Anak : Suprianto, Masnia, Lila
KELUARGA BESAR ZAINAB
I. SILSILAH KELUARGA BURHAN + SELLY
Anak : Zainab (istri Andi), Dini, Irma
J. SILSILAH KELUARGA SATRIA (sudah cerai) + ZAINAB (istri Andi)
Anak : Fahri, Ari, Dinda, Shifa
KELUARGA SUSUAN ANDI
K. SILSILAH KELUARGA JARWO + WITA (Ibu susu Andi)
Anak : Fandi, Setiawan, Laila, Siti
Atau digambarkan seperti berikut :
Hitam : kandung
Hijau : menantu


Zainab menikah dengan : memperoleh anak :


Maka yang disebut muhrim (sesuai dengan ayat di atas) adalah :
1. Ibu kandung
Tidak diragukan lagi bahwa ibu kandung merupakan orang yang tidak boleh dinikahi (haram). Ibu kandung merupakan muhrim bagi anaknya. Jika dilihat pada silsilah di atas maka ANDI tidak boleh (haram) menikahi AJIZAH sebagai ibu kandungnya.
2. Anak perempuan kandung
Anak perempuan kandung, buah dari pernikahan dengan seorang istri juga diklasifikasikan sebagai seorang muhrim (orang yang haram dinikahi). Dalam contoh di atas, seorang ayah (Ramlan) tidak boleh menikahi anak perempuan kandungnya (Ayu). Atau Andi tidak boleh menikah dengan Putri.
3. Sudara perempuan kandung
Saudara perempuan kandung adalah seorang anak perempuan yang lahir dari satu ibu dan satu ayah yang sama (saudara seayah dan seibu). Dalam istilah Indonesia, saudara perempuan kandung bisa dipanggil kakak atau adik. Dalam contoh silsilah di atas, Andi (anak dari keluarga Ramlan dan Ajizah) tidak boleh menikah dengan adiknya, Ayu (yang juga anak dari keluarga Ramlan dan Ajizah). Sebab, Ayu adalah saudara kandung (adik kandung)-nya sendiri.
4. Saudara kandung ayah yang perempuan
Saudara kandung Ayah yang perempuan (bibi) juga termasuk orang yang haram untuk dinikahi. Dalam silsilah di atas dicontohkan bahwa Andi tidak boleh menikah dengan Vera maupun Fatimah. Sebab, keduanya adalah bibi (saudara kandung ayahnya).
5. Saudara kandung ibu yang perempuan
Dalam silsilah di atas Andi adalah anaknya Ajizah (ibu kandungnya). Dan Ajizah mempunyai saudara perempuan bernama Fitri. Maka haram bagi Andi menikahi bibinya (Fitri).
6. Keponakan perempuan dari sudara laki-laki kandung
Keponakan adalah anak kandung dari saudara kandung. Dalam silsilah di atas, Ernawati dan Susilawati adalah keponakan perempuan dari Andi. Sebab, Andi dan Sutrisno (ayah dari Susilawati dan Ernawati) adalah saudara kandung. Maka Andi diharamkan untuk menikah dengan keponakannya itu (Ernawati dan Susilawati), dalam bahasa qur’an dikatakan “anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki”.
7. Keponakan perempuan dari sudara perempuan kandung
Sama halnya dengan Ernawati dan Susilawati, Masnia dan Lila juga tidak bolah dinikahkan dengan Andi. Sebab, Masnia dan Lila masih keponakan Andi sendiri dari adik kandungnya (Ayu), yaitu “anak-anak perempuan dari sudara-saudaramu yang perempuan”. Maka diharamkan bagi Andi menikahi Masnia dan Lila.
8. Ibu susuan
Dimisalkan dahulu Andi pernah menyusu dengan Wita. Maka menurut ayat di atas, ibu susuannya tersebut (Wita) haram dinikahi oleh Andi. Seperti yang termaktub dengan redaksi ayat “ibu-ibumu yang menyusui kamu”.
9. Saudara perempuan sesusuan
Sama derajatnya dengan Ibu susuan, anak-anak dari ibu susuan pada hakikatnya adalah saudara bagi bayi orang lain yang menyusu dengannya. Dicontohkan di silsilah di atas, Wita (ibu susu) mempunyai anak bernama Laila dan Siti, maka Laila dan Siti ini adalah saudara sesusuan bagi Andi. Dan Andi tidak diperbolehkan menikah dengan keduanya. Sebab, keduanya adalah muhrim bagi si Andi.
10. Ibu mertua
Ibu mertua jelas-jelas adalah muhrim bagi menantunya. Maka Ibu mertua tidak boleh dinikahi oleh menantunya sendiri. Dalam contoh di atas, Andi tidak boleh menikah dengan Rani (Ibu mertuanya sendiri/Ibu kandung istrinya). Dalam bahasa al-qur’an, Ibu mertua disebut dengan “ibu-ibu istrimu (mertua)”.
11. Anak tiri perempuan dari istri yang telah dicampuri
Maksud dari anak tiri perempuan dari istri yang telah dicampuri dapat dimisalkan seperti contoh berikut. Misalnya, Zainab (istri Andi yang sekarang) dahulu pernah menikah dengan Satria dan mendapatkan 4 anak bernama Fahri, Ari, Dinda, Shifa. Setelah 5 tahun, Zainab bercerai dengan Satria, dan Zainab menikah lagi dengan Andi. Maka yang disebut anak tiri oleh Andi adalah ke-4 anak si Zainab hasil pernikahannya dengan Satria yaitu Fahri, Ari, Dinda, Shifa. Jika waktu itu, Zainab juga bercerai dengan Andi dan Andi belum menggauli Zainab, maka Dinda dan Shifa boleh dinikahi oleh ayah tirinya itu. Tetapi jika Zainab sudah digauli, maka haram bagi Andi menikahi anak tirinya itu (Dinda dan Shifa). Hal ini sesuai dengan bunyi ayat di atas “anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya)”.
12. Menantu perempuan
Dalam bahasa al-qur’an disebut dengan ” istri-istri anak kandungmu (menantu)”. Maka haram bagi andi menikahi menantunya sendiri yaitu Dila (istri dari anak kandungnya Andi / Basuki). Begitu pula, Ramlan tidak boleh menikah dengan Zainab (menantunya).
13. Saudara Kandung Istri (jika istri masih hidup/belum bercerai)
Diharamkan bagi seorang suami mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara dalam pernikahan. Dimisalkan dalam silsilah diatas, Zainab (istri Andi) memiliki 2 saudara perempuan yaitu Dini dan Irma. Selama Zainab masih menjadi istri Andi maka haram bagi Andi menikah lagi dengan Dini maupun Irma. Sebab, tidak dibolehkan (diharamkan) mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara dalam pernikahan. Andi boleh menikahi salah satu Dini atau Irma ketika Andi sudah bercerai dengan Zainab, atau Zainab sudah meninggal dunia.
Selama Zainab masih menjadi istri Andi atau selama Zainab masih hidup sebagai istri Andi, maka kedudukan Dini dan Irma adalah muhrim bagi Andi. Tetapi jika Zainab sudah meninggal dunia atau Zainab sudah bercerai dengan Andi, maka kedudukan Dini atau Irma adalah halal untuk dinikahi. Dengan catatan seperti yang termaktub dalam redaksi ayat diatas “dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau”.
14. Istri-istri Ayah (ibu tiri/kandung)
Yang ke-14 adalah istri-istri/yang pernah dinikahi oleh ayah (ibu tiri/kandung) baik yang sudah bercerai maupun belum. Hal ini sesuai dengan bunyi ayat 22 surah an-nisa’ yaitu “ dan janganlah kamu menikahi perempuan-peremouan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali kejadian pada masa yang telah lalu. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci oleh Allah dan seburuk-buruk jalan yang ditempu”. Dimisalkan ayah dari Andi (Ramlan) mempunyai dua istri yaitu Ajizah (ibu kandung Andi) dan Zakiyah (Ibu tiri Andi), maka haram bagi Andi menikahi Ajizah maupun Zakiyah.
Jika disederhanakan, orang-orang yang disebut muhrim dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian besar. Yaitu :
1. Muhrim karena satu darah
Meliputi : ibu kandung, anak perempuan kandung, saudara perempuan kandung, saudara kandung ayah yang perempuan, saudara kandung ibu yang perempuan, keponakan perempuan dari saudara laki-laki kandung, keponakan perempuan dari saudara perempuan kandung dan istri-istri ayah (ibu kandung/ibu tiri)
2. Muhrim karena pernikahan
Meliputi : ibu mertua, anak tiri perempuan dari istri yang telah dicampuri, menantu perempuan dan saudara kandung istri jika istri masih hidup atau belum bercerai,
3. Muhrim karena susuan
Meliputi : ibu susuan dan saudara perempuan sesusuan.

Medan, 30 mei 2011
Bangsur_5:07
Referensi :
1. QS. Al-Baqarah : 22 – 23
2. Falah, Maslahul. 2010. The Story of Aisyah R.A. Kisah Istri Rasulullah SAW dan Wanita-
Wanita Beriman dalam Al-Qur’an.Media Insani : Bantul.
Jika menemukan sumber lain yang menguatkan dan menyempurnakan tulisan di atas baik dari Al-Qur’an maupun Hadist, mohon kesediaannya untuk membalas postingan ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel