Seratus, seribu, sejuta, dua


Aku berjalan ke pinggir kota
Dan aku melihat lebih dari seratus kepala keluarga dan anak-anaknya mengais sampah
Aku bertanya tentang mereka
Dan terjawab, bahwa tidak ada rezeki di kantor kelurahan,
Tidak ada rezeki selain di lubang pembuangan bekas sisa-sisa….
Suara terdengar bergetar
Menahan malu tapi harus mengaku bahwa perut sudah lapar
Tentang masihkah ada kepercayaan terhadap sesama?
Dari pemberian yang tak jelas dari mana…
Aku bertanya, apa susahnya jadi Walikota?
Haruskah singgasana itu menjadi baju?
Sementara ibu-ibu bunting terlihat menjerit terhimpit benih kemiskinan
Haruskah data-data statistik membanggakan pembangunan nasional?
Sementara anak-anak kecil harus ikut ayahnya membesarkan keluarga
Lebih baik, lepas saja baju itu, dan ikut mereka mengais sampah sisa-sisa kebiadaban pembangunan
Aku berkhayal
Dan terbayang lebih dari seribu orang menjadi gila popularitas
Di sampingnya telah menunggu di balik pagar tebal kantor kesejahteraan rakyat, orang menggila
Yang harus gila karena hidup susah
Oh…… orde-orde gila…
Aku berharap….
Kan ada generasi-generasi yang murah hati
Dan aku tersenyum, akan ada lebih dari sejuta keluarga terselamatkan…
Oleh tangan-tangan murah yang bahagia melihat mereka tak lagi sengsara
Yang bahagia jika sesamanya bahagia
Dan hari ini aku berhak bahagia…
Tersenyum dengan memberi rezeki
Dan berharap 2 orang sepasang, ibu dan anak itu terbantu hidupnya untuk hidup lebih layak
Setelah itu aku berjalan pulang
Berharap tidak akan ada lagi manusia-manusia kelaparan
Berharap jiwa kemanusiaan ini tetap tertanam dan tertularkan oleh masyarakatku….




Medan, 1 juni 2011
Bangsur

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel