AKAN TERUS BERMAIN

AKAN TERUS BERMAIN

AKAN TERUS BERMAIN


                Manusia kebanyakan selalu mengeluh dengan keadaan hidupnya. Bisa disebabkan keberuntungan, kesempatan kerja maupun rezeki yang kian berubah. Keluhan itu semakin menggunung apalagi jika tidak diikuti dengan mental yang teruji. 

                Dalam berkehidupan, cobaan, rintangan, hambatan dan segala liku-likunya memang akan selalu mengiringi langkah jejak manusia. Namun, sesungguhnya jika manusia itu tau menjalani kehidupan ini akan begitu riangnya, sebab sebenarnya kehidupan adalah permainan. Dan layaknya sebuah permainan, manusia akan menemukan keceriaan di dalamnya. Mereka bahkan senang dengan permainan itu. Layakanya seorang anak balita yang begitu riangnya jika bermain dengan siapa saja yang ia kehendaki.

                Jika kita hayati, begitu banyak dari fase kehidupan ini yang mengisyaratkan permainan. Dan betapa merasa bahagianya manusia menghadapi permainan itu. Berikut fase-fase itu :


Masih bayi
                Ketika manusia baru terlahir, fase ini diawali dengan tangisan. Namun setelah itu berapa banyak orang di sekelilingnya yang menyambut bahagia kedatangan bayi itu dengan tertawa dan tersenyum. Bayi itu lucu, mungil, lembut sekali kulitnya, tiada dosa, apalagi kesalahan yang ia lakukan. 

Anak bayi (anak kecil) adalah lambang kedamaian. Mereka begitu akrabnya dengan orang-orang yang dikenalinya. Menyambut siapa saja yang ingin bermain dengan senyum dan tawanya. Yah. Mereka akan bermain dengan bayi itu. Dan taukah anda, ia senang dengan permainan itu. Bahkan ia akan menunjukkan permainan lainnya untuk menundukkan anda dalam permainan itu.

Seorang bayi amat sangat senang bermain. Mereka akan menyembunyikan wajahnya agar tidak diketahui oleh ibunya walaupun sebenarnya badannya begitu besar untuk disembunyikan. Dan saat ketauan, hah, dia tertawa. Bayi itu akan menirukan suara kucing yang dipersilahkan ibunya untuk diajak bermain. Berkejar-kejaran hingga tawa dan kegembiraan serta keberaniannya ditunjukan secara natular kepada ayahnya. Juga, saat ibu dan ayahnya mengajarkannya bernyanyi, walaupun tak bersuara merdu, ia begitu menikmati kemampuan vokalnya.

Yah. Seorang bayi sejak masa kedatangannya pun sudah menghadapi kehidupannya dengan bermain. Didampingi oleh kedua orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya. Dalam permainan itu, kadang-kadang ia harus tertawa, tersenyum, kebingungan dan tidak jarang menangis. Tertawa atau tersenyum dan menangis adalah dua sisi dari kehidupan. 

Layaknya permainan, setiap orang biasanya akan tertawa menyambut permainan itu. Namun juga tidak sedikit yang menangis. Menangis adalah sisi kedua dari permainan yang sebenarnya jarang ternikmati. Maka, dalam bermain semenjak kecil pun biasanya bayi akan riang tertawa bahagia. 


Masa balita
                Masa balita bagi anak adalah masanya berteman dengan orang lain di luar keluarga besarnya. Saat itu, ia mulai diperkenalkan dengan kakek-neneknya, teman mainnya dan tetangga-tetangganya. Pada saat ini, ia mulai bermain dengan sesamanya. 

                Ia akan tetap bermain walaupun di area yang lebih menantang. Ia bermain dengan teman sebayanya. Pada saat itu, ia bermain dengan riangnya, bahkan jika tidak bermain dengan temannya ia akan merasakan satu harian itu sunyi, seperti tidak ada kehidupan. Anak itu Juga tidak jarang bermain dengan orang dewasa di sekitarnya.

                Bermain seolah menjadi rutinitas masa usianya. Ia juga harus bertukar mainan dengan temannya, berebut mainan, menangis, didamaikan oleh orang tuanya, dan sebentar lagi akan bermain dengan temannya tadi. Tidak ada dendam lagi, sebab mereka harus melanjutkan kehidupan bersama kembali dengan bermain. Yah, satu rutinitas bersama untuk mewujudkan tujuan bersama. Bermain. Itulah sebabnya mengapa anak kecil merupakan lambang perdamaian. Mereka akan mudah memaafkan dan segera melupakan dendam demi tujuan bersama dan rutinitas bersama. Bermain lagi.


Masa menjadi anak TK
                Jika sudah bisa berbicara, berjalan dan memasuki usia yang sudah layak belajar, anak itu akan bergabung bersama teman yang baru lagi untuk menerima pelajaran dan bermain di play grup maupun taman kanak-kanak. Mereka memasuki dunia baru lagi. Yah, dunia belajar dan bermain.

                Taukah kita apa yang mereka lakukan? Mereka begitu riangnya belajar dengan bernyanyi, belajar sekaligus mempraktekan, belajar dan berlari-lari, belajar senam, belajar olah raga. Dan itu semua dilakukan dengan pendekatan bermain.

                Sepertinya mereka tidak akan pernah berhenti bermain. Permainan mereka pun sudah menantang. Mulai dari bermain menggunakan alat, ayunan, seluncuran hingga hanya sekedar bernyanyi bersama sejawatnya. Semuanya itu bentuk bermain. Mereka belum mengenal beban mencari uang, mereka belum diperkenalkan dunia mencari kerja. Bagi mereka cukup dalam hidup itu diisi dengan belajar dan bermain. Lebih dari itu, mempersembahkan juara dan kebanggaan kepada kedua orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Selanjutnya memanjatkan syukur kepada Yang Kuasa.


Masa menjadi anak SD
                Menjadi anak yang belajar ditingkat SD sudah berbeda jenis permainannya. Umumnya mereka akan bermain berkelompok. Olah raga, kejar-kejaran, dan bermain petak umpet. Jika menang mereka bangga dan tidak jarang timbul kesombongan. Dan jika kalah, ia akan berusaha menunjukkan kemampuannya di lain waktu. 

Tidak jarang permainan mereka menimbulkan perkelahian. Namun, masa itu merupakan masa pembentukan jati diri. Mereka akan berdamai sendiri dan memulai bermain kembali dengan bentuk jiwa dan sikap yang lebih sportif, bersahabat dan mengerti orang lain. Pemenang akan bergembira dan menghargai kekalahan teman mainnya, sebab andaikan ia tidak menghargai pada siapa lagi ia akan bermain jika esok teman mainnya itu tidak mau lagi bermain dengannya. Dan bagi yang kalah, ia hanya tersenyum dan memberikan selamat pada temannya yang menang. Berjabat tangan kembali, dan berkata dalam hati “ini hanya permainan. Lihat usahaku esok teman. Kau akan kukalahkan telak. Hari ini hanya masih giliranmu. Esok kita bermain lagi. Selamat buatmu”.

Masa remaja di bangku SMP-SMA
                Masa remaja adalah masa yang paling indah. Begitu kata orang yang pernah melewatkannya. Remaja mulai mengenal dunia yang lebih dewasa. Saat ini, mereka mulai mengenal asmara. Meski belum tau bentuk abstrak dari asmara itu, mereka cukup menikmati dibuat suasananya. Entah apa yang terjadi, tapi umumnya mereka bahagia dengan dunianya. Senang walaupun tak tau senangnya di mana. Terilusi oleh kehebatan cinta. Hahahaha

                Fenomenanya seorang remaja mulai akan melirik temannya yang disukai. Ia malu-malu dan berusaha menemukan jalannya lewat bantuan teman yang lain. Berharap mendapat solusi dari permasalahan besar hidupnya itu, layaknya seorang Menteri Pertahanan yang harus mengkomandokan pasukan bagaimana agar menang di medan perang. Susah sekali, tidak bisa tidur. Dunia akan kiamat. Jangan sampai orang lain yang mendapatkannya. Sebab kalau ia bersama dengan yang lain, hidupnya akan sengsara. Ini harus berhasil. Oh Tuhan, bantu aku. Teman, plis…. Bagaimana caranya? Pada saat itu, tidak ada yang disibukkan di dunia ini selain mendapatkan kekasih yang akan dicintainya sehidup-semati. Ah, remaja payah.

                Remaja itu begitu menikmatinya. Bahkan terkadang ia lupa harus bermain basket dengan temannya. Dan begitu ia mendapatkan apa yang ia inginkan, aduhai serasa dunia sudah dirajainya. “Akulah sang pangeran itu. yang akan menemani kebahagian putri terkasih”. Dunia jadi sangat terilusi, setiap hari harus tampil mengesankan. Tidak boleh ada yang salah. Semuanya berjalan begitu saja, serasa di atas awan, melayang tak memijak bumi. Tersenyum sendirian, belajar begitu nikmatnya. Ia harus menunjukkan keunggulan IQ nya di hadapan kekasihnya itu. Aneh.

                Ketika kekasih itu pun pergi, hidup jadi tak bergairah lagi. Serasa esok aku harus mati. Sudah tidak berguna lagi hidupku ini. Alang-kepalang, murung merenung, susah tidur, ekspresi wajahnya begitu sempurna membentuk paras yang patah hati. Tidak ada cela dibuat-buat dari raut wajahnya. Aku menyesal telah mengenalmu sayang. Kau begitu saja meninggalkanku. Yang aku pikirkan mengapa aku harus jatuh cinta? Ini menyiksaku. Keterlaluan.

                Melihat temannya tak lagi ceria, kawan-kawannya pun menghampiri dan menghiburnya. “Sudahlah, lupakan saja ia. Tak ada guna memikirkannya. Jika kau pertahankan, memangnya kau yakin ia akan menjadi istrimu? Ayahku saja menikahi ibuku sebagai pacar yang ke-sembilan, kau masih satu kali. Kau tau kenapa kau bisa senang dan sedih saat mendapatkan dan kehilangannya? Itu semua ilusi. Dan kau tau mengapa begitu? Itulah yang disebut permainan kehidupan. Ingat kawan, permainan itu selalu menang dan kalah. Dan layaknya permainan, bergembiralah dalam permainan itu. nikmati saja. Sekarang mari kita bermain basket lagi”. Yah, inilah realita permainan itu.


Masa beranjak dewasa
                Mulai umur 20an tahun, seseorang lebih giat untuk mencari jati dirinya. Ia mulai dewasa bergaul. Dan target jangka panjangnya adalah, ia harus bisa hidup bahagia dalam permainan dunia ini. Ia harus menjadi pemenang. 

                Permainan seorang anak dewasa sudah tidak lagi bermain petak umpet seperti anak bayi. Ia mulai mengenal dunia keahlian dan kemampuannya. Diantaranya, ia akan bermain dengan olah raga yang digemarinya. Atau komunitas sepeda ontel. Seni panggung teather. Menulis cerpen maupun novel. Berkelana mencari kebudayaan di negeri sebrang. Mendaki gunung merapi. Menyelam di Danau Toba. Mempelajari adat Toraja. Atau berbakti kepada negeri ini. Semua itu permainan yang sengaja dipilihnya.

                Ia mulai mempersiapkan perbekalan. Perbekalan jangka panjang untuk mewujudkan cita-citanya atau hanya sekedar bermain dengan obsesi yang membludak. Ia akan bermain lagi. 


Masa berumah tangga
                Tiba saatnya dua insan yang saling mencintai berumah tangga. Dan pada saat ini, wahana bermain begitu nyata. Keduanya saling mencintai, memaduh kasih, mereka akan saling senang jika berada di dekat pasangan hidupnya. Mereka akan selalu bercanda, memuji antara satu dengan yang lainnya dengan kata yang melambung tinggi melebihi bintang-gemintang di langit nun tinggi di sana. Bermain catur di kamar, mengejek, bersenda gurau, sesekali berpura-pura keasinan mencicipi masakan istri, selalu menggoda dan berpura-pura belum ngantuk ketika diajak tidur oleh istri. Wah, sungguh permainan rumah tanggah yang mengasikkan. 

                Bermain lagi dan bermain. Dua insan itu senang sekali bermain. Lebih-lebih jika istri lebih muda dari suaminya. Jika suami pergi bekerja, dengan manjanya sang istri wajib dicium keningnya. Jika tidak istrinya mengancam tidak akan membuatkan makan siang buat suaminya. Dan dengan berpura-pura berat, suaminya pun memberikan ciuman sayang yang distempel di kening istrinya. Beberapa jam kemudian, istri sibuk mengirim sms mengatakan bahwa ia sudah kangen setengah mati. Padahal istrinya baru ditinggal di rumah hanya beberapa jam saja. Begitu pulang, istri pun memanjakan suaminya untuk diberikan secangkir the, memijit pundak dan mempersiapkan makan siang bersama. Pantas saja seorang Muhammad pun berkata : “nikahilah seorang gadis. Sebab, ia akan bermain denganmu dan kau akan bermain dengannya”.

                Jika keduanya berada dalam kebuntuhan rumah tangga, dan mengalami cekcok yang luar biasa dan meminta solusi dari kedua orang tua masing-masing, orang tua yang bijak akan mengatakan “itu biasa, ini masih permainan rumah tangga. Mungkin ada hak-hak permainan yang belum dipenuhi antara satu dengan yang lainnya. Kembalilah dan bermainlah dengan pasangan hidupmu”. Suami dan istri itupun mencoba menemukan perdamaian. Dan anda tau, mereka bermain dengan lebih maksimal lagi. Bercanda, manja, memuji, memahami, dan saling memberikan hak dan kewajiban dengan suka rela dan demi kesenangan bersama merupakan bentuk permainan di masa berumah tangga.


Masa memiliki anak
                Setelah sekian lama berumah tangga, tiba saatnya mereka harus memperbaharui permainan mereka. Mereka harus memiliki anak yang bisa diajak bermain bersama. Agar rumah tangga itu pun tidak sunyi, ada momongan yang bisa diajak bermain dan bahagia selamanya. 

                Mula-mula, suami istri itu pun mengawalinya dengan bercanda :
“Maaaa…. Mau anak berapa?”
“Dua saja”
“Masa Cuma dua? Sedikit kali. lima”
“Kebanyakan itu mas!”.
“Yaaaa, ndak apa-pa”.
“Dua sajaaaa”
“Limaaaaaa”
“Dua”
“Lima”
“Duuuuaaaaaa”
“Liiiiimaaaaaaa”

Hahahaha. Diskusi mereka tidak selesai. Tapi pada dasarnya mereka saling mencintai dan berusaha menciptakan rumah tangga yang bahagia. Setelah istri menyimpan janin di rahimnya dan tampak gendut perutnya. Suami pun lagi-lagi bermain dengan istrinya itu.

“Laki-laki apa perempuan?”
“Laki-laki…..”
“Ah, perempuaaaaan….!”
“Lho? Laki-laki lah duluan mas…”
“Perempuaaaaaan”
“Laki-laki lah, nanti adeknya baru perempuan. Jadi abangnya bisa jaga adik perempuannya”.
“Nggak lah, perempuan dulu! Biar bisa bantu mamanya bantuin kerja di rumah lho!”
“Pokoknya laki-laki.”
“Perempuan”
“Yaaa uda, kembar ja. Satu laki-laki. Satu perempuan. Hehehehe”.

Hahahaha. Bisa saja. Suami istri itu lagi-lagi bermain anak-anakan. 

Setelah anak yang diidam-idamkan pun lahir ke dunia, mereka begitu bahagianya. Mereka menyambut buah hati itu dengan gembira. Dan dalam hari-hari selanjutnya akan dibayangi oleh kebahagiaan bahwasannya mereka adalah keluarga yang bahagia, yang mampu bermain antara satu dengan yang lainnya lebih-lebih dengan anak kecil yang mungil itu. 

Permainan mereka tidak hanya sampai di situ. Bahkan ketika sang anak sudah beranjak remaja pun, mereka tetap bermain-main. Anak dan ayah laksana sahabat karib yang begitu dekatnya. Ayah mengajarkan olah raga, mengaji, dan bekerja. Sementara ibunya mengajarkan budi pekerti, emosional dan perhatian. Di sela-sela itu, mereka berdua senantiasa bersenda-gurai, bermain dan memainkan peranannya di dalam keluarga. Cita-cita permainan keluarga yang menggembirakan. Semoga.


Masa menimang cucu
                Beranjak usia senja pun, suami istri yang telah menjadi kakek dan nenek itu akan tetap bermain. Anak-anak mereka telah tumbuh dewasa dan melangsungkan kehidupan terbaru. Kehidupan rumah tanggah, layaknya perjalanan mereka. Sebagai hadiahnya, anak-anak itu pun mempersembahkan cucu kepada ayah dan ibunya.

                Kakek dan nenek itu pun bermain-main dengan cucunya. Cucunya senang, ia dapat bermanja-manja dengan kakek dan neneknya. Kakek dan nenek pun senang, sudah lama mereka ingin menimang cucu. Tertawa, riang dan tak jarang kakek dan nenek itu bertingkah seperti anak kecil. Tak perduli, yang penting aku awet muda dan bisa tertawa lagi meskipun gigi tinggal dua. Memang ketika dalam usia berapa pun, seseorang akan kembali bertingkah kekanak-kanakan saat ia bosan dengan dunianya.


Masa senja
                Saat bertemu cucunya, mereka mempunyai permainan baru. Namun jika tidak, dan di rumah Cuma tinggal berdua (kakek dan nenek), mereka tidak akan kehilangan kesempatan untuk bermain. Kali ini tema permainan mereka adalah kehidupan masa yang akan datang. 

                Dalam diskusi kecil mereka di bangku tua :
                “Nekkkk. Diantara kita, siapa duluan yang ke alam barzakh?”
                “Kayaknya mendingan kakek aja duluan!”
                “Bah? Kenapa pula kakek yang duluan? Kakek masih kuat”.
                “Soalnya, kalau nenek yang duluan takutnya nanti kakek kawin lagi”.
                “MasyaAllah. Mana lah mungkin kakek mau menikah lagi. Sudah tua. Di dunia ini, Cuma
nenek seorang yang kakek cintai”.
“gooooombaaal. Uda mau mangkat pun masih gombal. Makanya kalau kakek masih cinta,
kita matinya sama-sama. Kalau nenek sudah mau sekarat, kakek harus ikut”.
“Lho, lho, lho…..? kok gitu”
“Biar di alam sana, kita sama-sama lagi. Hehehehe. Uhuk. Uhuk ….”

Hahahaha. Ada-ada saja. Tapi memang begitulah. Itu hanya bercanda. Bentuk permainan yang lucu. Dan memang begitulah manusia dalam kehidupan ini. Kehidupan dunia memang permainan. Allah pun berfirman tentang itu “tidaklah kehidupan dunia itu melainkan senda gurau dan permainan belaka”. 

Maka dalam permainan dunia, bermainlah dengan riang. Senyum riang adalah lambang optimistis. Tidak perlu mengeluh apalagi kalah dan menangis. Menang kalah itu biasa. Bahkan harus dihadapi agar manusia pun memahami apa yang dilakukan saat menang dan apa yang dilakukan saat kalah. Layaknya permainan, mainkanlah kehidupan di dunia dengan riang. Tidak perlu bersedih apalagi putus asa. Dalam permainan, bermainlah mengikuti aturan main yang telah ditetapkan Tuhan. Dan jadilah pemenang dalam permainan itu. Hingga di akhir nanti, kita pun mendapatkan hadiah surga yang diberikan Allah SWT. Dan taukah anda, di surga itu pun kita akan kembali bermain lagi.

Di dalam surga Allah menciptakan banyak permainan. Dan permainan itu diperuntukkan bagi hambaNya yang bermain di dunia dengan aturan main yang telah ditetapkanNya secara ikhlas dan penuh optimistis layaknya senyum yang tercipta saat bermain di lapangan dunia. Permainan itu bentuk sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, buah-buahan, dan pasangan-pasangan yang suci. Sekali lagi, kita bisa kembali bermain.

Allah berfirman : “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan (bermain dengan aturan main yang ditetapkan Ilahi), bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka berkata : inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi buah-buahan yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-baqarah : 25).


Medan, 29 juli 2011
14.03 wib
bangsur
Buka Komentar