REZEKI = HASIL BEKERJA


BacaNulis.Com - Siapa yang tau hakikat rezeki? Pemberian Allah? Ya. Sangat benar. Tapi bukan itu maksudnya. Dalam tulisan kali ini, akan diutarakan apa sebenarnya rezeki itu. Dan akan dilihat dari kaca mata ekonomi.

Rezeki adalah buah dari hasil bekerja. Asumsinya adalah, jika orang ingin bekerja maka rezeki itu akan datang. Dengarlah bahwa Allah berfirman, “dan dari apa yang kami rezekikan, mereka berinfaq…” (QS. Al-baqarah : 3). Dan jika tidak bekerja sangat diragukan sekali seseorang itu mendapat rezeki walaupun bisa saja setiap orang mendapat rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga. Dengarlah bahwa Allah pun berfirman “sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum hingga kaum itu mau merubah dirinya sendiri”, firman ini menunjukkan bahwa usaha manusia merupakan ujung dari taqdir Allah kepada makhlukya. 

Maka kesimpulannya adalah : Rezeki = hasil bekerja

Untuk membuktikan kesimpulan itu, mari kita perhatikan beberapa sketsa dari contoh berikut ini. Seorang pedagang akan mempertimbangkan beberapa hal dalam menentukan harga jual komoditas yang ia tawarkan. Diantaranya adalah total biaya yang ia keluarkan, semisal harga bahan baku, ongkos pengiriman barang, harga pegawai, dan lain sebagainya. Total biaya itu kemudian dibagi dengan komoditas yang akan tercipta dalam hitungan tertentu (misalnya porsi dalam perdagangan makanan). 

Dimisalkan, seorang pedagang bakso. Diketahui ia membeli bahan baku berupa mie, bumbu masakan, daging dan lain sebagainya dengan total biaya yang dikeluarkan Rp. 500.000,-. Ongkos pulang-pergi saat membeli bahan baku itu Rp. 50.000,-. Biaya penyewaan tempat Rp. 50.000/hari. Ia tidak memiliki pegawai, hanya bekerja dengan dibantu oleh anak-anaknya. Dari bahan baku yang ia beli akan mampu menghasilkan 200 mangkuk bakso yang siap dijualkan dalam 1 hari itu. Dimisalkan ia menginginkan setiap porsi akan diambil keuntungan sebesar Rp.2.000. Maka rezeki yang ia peroleh adalah sebagai berikut :

Total biaya = Rp. 500.000 (bahan baku) + Rp. 50.000 (ongkos kirim) + Rp. 50.000 (sewa tempat)
                      = Rp. 600.000

Harga per mangkok         = Rp. 600.000/200 mangkok + Rp. 2.000
                                                = Rp. 3.000 + Rp. 2.000
                                                = Rp. 5.000

Jika ke-200 mangkok itu terjual semuanya, maka pedagang bakso itu akan mendapatkan uang sebesar Rp. 1.000.000 (Rp. 5.000 X 200) sebagai pendapatannya. Dengan rincian, total biaya Rp. 600.000 dan sisanya Rp. 400.000 adalah keuntungan dari penjualan bakso pada hari itu. Keuntungan = total pendapatan – total beban. Maka yang disebut rezeki adalah yang sejumlah Rp. 400.000 itu (keuntungannya). Sebab, Rp.400.000 itu merupakan buah dari kerja keras penjual bakso itu. Pedagang bakso itu telah bekerja dengan cara merubah bahan mentah menjadi makanan yang mempunyai nilai ekonomis. Jika ia hanya membiarkan bahan mentah itu tidak menjadi barang ekonomis dalam artian tidak bekerja maka ia tidak akan mendapatkan rezeki berupa keuntungan itu. 

Dalam ekonomi, sebuah komoditas bisa menjadi barang ekonomis jika mempunyai nilai tambah. Dan nilai tambah itulah yang mendatangkan laba bagi pengolahnya. Dengan pengolahan itu, berarti pemilik usaha telah bekerja, yaitu bekerja merubah bahan mentah menjadi bahan ekonomis yang memiliki nilai tambah. Dan melalui usaha bekerja itulah akhirnya pengusaha itu mendapatkan rezekinya. Maka dalam hal ini, rezeki adalah hasil dari bekerja.

Satu contoh lagi. Dimisalkan seorang petani buah-buahan. Ia memiliki 1 hektar lahan yang dimanfaatkan untuk penanaman buah jeruk. Dalam 1 bulan ia menghasilkan 1000kg buah jeruk. Sementara dalam satu bulan itu pula ia mengeluarkan biaya penjualan dengan total Rp. 2.000.000 (termasuk pembelian pupuk, perawatan, pengiriman barang, dan beban lainnya). Dimisalkan ia ingin mendapatkan keuntungan Rp. 3000/kg dari komoditasnya itu, maka rezeki yang ia peroleh adalah sebagai berikut :

Harga jual per kilogram                  = total biaya/kg + keuntungan yang diharapkan
                                                                = Rp. 2.000.000/1000 + Rp. 3.000
                                                                = Rp. 2.000 + Rp. 3.000
                                                                = Rp. 5.000

Jika 1000kg jeruk itu laku terjual dalam 1 bulan itu, maka pendapatan yang diperoleh adalah Rp. 5.000.000 (Rp. 5.000 X 1000). Dan keuntungannya adalah sebesar Rp. 3.000.000 (Rp. 5.000.000 – Rp. 2.000.000). Maka rezeki yang ia miliki adalah sebesar Rp. 3.000.000 itu. Sebab, yang Rp. 2.000.000 adalah total beban,dan sisanya adalah hasil dari buah bekerja.

Bisa dibayangkan, jika petani ini tidak mau bekerja dan membiarkan lahan pertaniannya tidak dimanfaatkan, maka dari mana ia akan mendapat rezeki jika satu-satunya harta yang ia miliki adalah lahan itu. Petani itu telah merubah lahannya untuk ditanami dengan komoditas yang diperlukan oleh masyarakat. Merubah lahan itu untuk ditanami tumbuhan yang dibutuhkan masyarakat sehingga bisa memberikan nilai jual merupakan kegiatan bekerja. Dan hasil bekerja itu adalah rezeki yang diberikan Allah SWT berupa laba sebesar Rp. 3.000.000.

Paling nyata adalah pengusaha jasa. Pengusaha jasa akan langsung melihat betapa bekerja akan mendatangkan rezekinya. Lihatlah tukang pangkas. Mereka hanya membutuhkan kaca, sewa tempat, gunting, sisir, pisau cukur, mesin ketam dan alat pangkas lainnya. Misalnya diasumsikan untuk mengadakan semua peralatan itu dibutuhkan modal awal Rp. 10.000.000. Dan biaya perbulan rata-rata Rp. 1.000.000. Pendapatan pangkas Rp. 8.000/kepala, dan tiap harinya ada 15 orang yang pangkas. Maka pendapatan total per bulan adalah Rp. 3.600.000(Rp. 8.000 X 15 orang X 30 hari). Maka dalam 1 bulan tukang pangkas itu akan mendapatkan laba sebesar Rp. 2.600.000 (Rp. 3.600.000 – Rp. 1.000.000). Dalam hitungan kurang dari 5 bulan, modal awal yang sudah dikeluarkan akan kembali lagi, dan untuk selanjutnya, maka tukang pangkas itu selalu akan mendapatkan laba dari hasil bekerjanya. Dan hasil bekerjanya itulah yang disebut rezekinya. Rp. 3.600.000/bln, di mana yang Rp. 1.000.000 merupakan biaya per bulan. Sedangkan labanya Rp. 2.600.000 pada hakikatnya adalah hasil bekerja, hasil memangkas rambut pelanggan. Bayangkan jika ia tidak mau memangkas dalam 1 bulan, ia tidak akan mendapatkan apa-apa dan tidak akan mendapatkan rezekinya. Maka sekali lagi rezeki = hasil bekerja.

Pada dasarnya, jika kita cermati, laba yang didapatkan dari hasil menjual bakso adalah bukan pada bakso yang dijual. Tetapi pada kerja penjual untuk menciptakan bakso yang pada awalnya belum bernilai ekonomis. Jadi kesimpulannya adalah, penjual itu bukan menjual bakso, tapi menjual kerja. Yaitu menjual kerja menciptakan bahan mentah menjadi bahan ekonomis yang dibutuhkan pasar. 

Begitu pula, petani jeruk. Laba yang ia dapatkan bukan berasal dari buah jeruk itu. Sebenarnya petani itu bukan menjual jeruk, sebab jeruk adalah milik Allah yang dipersembahkan kepada hambaNya. Petani itu hanya menjual tenaga, menjual hasil kerja. Ia bekerja, kemudian memupuk lahannya hingga tumbuh subur tanaman jeruk dan menghasilkan buah kemudian buah itu diserahkan ke pasar, dan dari hasil kerjanya itu ia diberi uang oleh pasar. Maka pemberian itu adalah rezekinya yang ia dapatkan lewat bekerja yang datangnya dari Allah SWT. 

Sama juga halnya dengan tukang pangkas. Ia hanya mendatangkan peralatan. Lewat peralatan itu, kemudian berdatangan orang-orang yang menginginkan jasa pangkasnya. Jika ia tidak mau memangkas (bekerja) pada 1 hari saja, maka pada hari itu rezekinya pun tidak ada. Namun jika ia mau bekerja (memangkas) pada hari itu, maka ia pun akan mendapatkan rezekinya.

Dalam hal ini, perlu diketahui pula bahwa sesungguhnya, bahan baku bakso, tanaman buah jeruk, pupuknya, alat-alat pertanian, peralatan pangkas hanyalah alat bantu untuk mendapatkan rezeki. Lebih dari itu memanfaatkan alat-alat itu dalam bekerja merupakan usaha untuk mendatangkan rezeki. Jika tidak bekerja dengan memanfaatkan alat-alat atau komoditas itu, maka rezeki pun jauh darinya.

Selain itu, perlu diketahui bahwasannya Allah kuasa memberikan rezeki kepada hambaNya sedikit ataupun banyak. Bayangkan jika tukang pangkas itu mendapatkan pelanggan setiap harinya 25 orang, tentu rezekinya akan naik lebih dari Rp. 2.600.000/bulan. Begitu pula jika Allah berkehendak pada bulan tertentu meletus gunung di sekitar daerah lahan petani jeruk yang mengakibatkan petani itu gagal panen, sementara petani itu sudah bekerja untuk mengurus lahannya, maka petani itu pun tidak akan mendapat rezekinya lewat kerjanya itu, atau tidak lebih banyak dari biasanya. Namun, bantuan masyarakat kepada petani tersebut saat bencana adalah rezeki yang datang dari jalan yang lain baik cukup atau tidak cukup yang juga datang lewat kuasa Allah SWT. Begitu pun bagi tukang bakso, Allah kuasa untuk mendatangkan pelanggan pada satu harian yang sangat berpengaruh bagi omset dan labah penjualannya baik banyak atau sedikit. Maka dalam hal ini, timbullah kesimpulan bahwasannya manusia harus tetap berikhtiar, Allah lah yang memberi rezeki.

Allah pun berkata dalam al-qur’an : “dan Kami pasti akan akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS.Al-baqarah : 155)

Untuk itu, memintalah kepada Allah dan selalulah menjadi hambaNya yang bersyukur. “siapa yang bersyukur akan nikmatKu, maka akan Aku tambah. Dan barang siapa yang kufur akan nikmatku, ingatlah azabKu sangat pedih”.

Allah sangat kuasa untuk memberikan rezekiNya. Hasil memangkas, menjual bakso, dan menjual buah-buahan adalah rezeki bagi pengusahanya yang diberikan oleh Allah SWT. Begitu pula bagi penikmat usaha itu, seperti pelanggan pangkas, pelanggan makanan maupun pembeli buah-buahan.

 Allah Maha Pemberi Rezeki. Jika rezeki masih sedikit, bersabar dan bersyukurlah serta jangan berputus asa. Dan jika sudah mendapatkan rezeki yang banyak, berbagilah dengan sesama dan tetap harus pandai bersyukur. Dan jika sampai hari ini, belum mendapatkan rezeki yang diinginkan, maka bekerjalah. Sebab bekerja akan mendatangkan rezeki itu. Karena rezeki merupakan hasil dari bekerja. Allahlah yang membayar jerih payah hambaNya yang bekerja.


Medan, 29 juli 2011
4:11 wib
bangsur

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel