“TAWASHAU” (surat buat kader 1)


Medan, 5 juni 2011
Kepada, kader-kader pejuang
“TAWASHAU”
Suratku untukmu
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu alaikum WR. WB
Dear kader
BacaNulis.Com - Kader, bagaimana keadaan jasmani dan rohani hari ini? Muda-mudahan selalu dalam rahmat dan perlindungan Allah SWT. Semoga senantiasa mendapat ridho dari Allah, hingga ujung waktu nanti Allah pun mengatakan “Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah : 8).
Kader. Sering terdengar di sekitar masyarakat kita sebuah nasehat yang khas. Khas, sebab sering terucap oleh mereka. Terkadang nasehat itu menjadi slogan kebangkitan diri untuk memulai suatu kebaikan. Dan ucapan nasehat itu berbunyi, “Jangan mesti diingatkan, tau diri saja!”. “sudah besarkan?”. “Lakukanlah dengan kesadaran diri masing-masing saja!”.
Mungkin antum tidak asing dengan kalimat itu. Sebab, dari kecil pun kita sudah biasa disuguhi kalimat tersebut. Guru, orang tua, teman sebaya atau siapa saja yang tidak memiliki kosa kata nasehat lain yang penuh hikmah biasanya selalu memunculkan kalimat itu. Penurunan nasihat dari guru, siswa, anaknya siswa itu, cucunya, hingga puluhan generasi di bawahnya menjadikan kalimat itu sebagai slogan turun-temurun tanpa kita sadari.
Kalimat nasehat itu biasanya muncul ketika ada seseorang atau beberapa orang yang melakukan kesalahan. Setelah mereka melakukan kesalahan lantas diingatkan dengan beberapa peringatan. Dari peringatan itu, kemudian diakhiri dengan kalimat “jangan diulangi lagi dan jangan mesti diingatkan! Tau diri saja! Lakukanlah dengan kesadaran diri masing-masing”, yang tak jarang keluar dengan nada dingin.
Jika saya boleh mengoreksi nasehat tersebut, saya ingin katakan tidak salah menasehati orang dengan gaya seperti itu, hanya saja ada sedikit ketidaktepatan yang tekandung pada kalimat itu yang sebenarnya mengandung kesalahan. Perhatikan! Kalimat “jangan diulangi lagi dan jangan mesti diingatkan! Tau diri saja! Lakukanlah dengan kesadaran diri masing-masing” mengandung beberapa sikap seperti berikut :
1. Egoisme
2. Individualisme
3. Kebosanan untuk terus mengingatkan
Efek yang terjadi adalah :
1. Pemberi nasehat akan acuh tak acuh untuk beberapa hari ke depan. Mungkin juga tak mau lagi. Sudah bosan (Tidak perlu diingatkan lagi)
2. Egoisme dan individualisme dua belah pihak akan mulai tertanam di hati masing-masing (tau diri saja! Gunakan kesadaran masing-masing)
3. Bahkan tak jarang setiap individu menjadi sangat berhati-hati dalam bertindak. Namun di dalamnya sudah tertanam motif dendam tersembunyi. (mudah-mudahan ini tidak benar)
Kader. Perlu kita tau bahwa potensi bersalah dari setiap orang sangatlah rentan. Allah pun selalu mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang bodoh dan selalu bersalah. Maka mengapa timbul slogan ”jangan mesti diingatkan! Tau diri saja! Lakukanlah dengan kesadaran diri masing-masing”? Bukankah manusia sebenarnya selalu tidak sadar? Kesadaran diri memang perlu ditanamkan, tapi apa lantas memaksa setiap kita membiarkan saudaranya dalam kesalahan, andai ia pun tak sadar-sadar?. Hemmmmm, andaikan setiap manusia sudah bisa sadar dengan dirinya dan tugasnya, besar kemungkinan Allah pun tak akan mengirimkan utusan kepada umatNya.
Kader. Al-qur’an memiliki konsep tersendiri bagaimana umat manusia memanajemen kesalahan. Konsep itu adalah “Tawashau bil haq. Wa tawashau bisshobr” (al-ashr : 3) dengan makna “ingat-mengingatkan di dalam kebenaran dan ingat-mengingatkan di dalam kesabaran”. Maka, tidak ada alasan untuk membiarkan saudaranya dalam kesalahan walaupun dimotivasi agar “tidak mesti diingatkan! Tau diri saja! Lakukan dengan kesadaran diri masing-masing”. Justru kita harus merubah redaksi slogan tersebut dengan “tetaplah ingat-mengingatkan di dalam kebenaran dan ingat-mengingatkan di dalam kesabaran. Selalu mawas diri dan sadarkan diri untuk selalu bertindak yang benar”. Jika mengharapkan kesadaran, maka ketahuilah bahwa kemungkinan tidak akan diutus seorang Nabi kepada golongan umatpun jika memang selalu sadar. Artinya, potensi kesadaran berpeluang pasang surut, maka harus tetap diwanti-wanti dengan “tawashaw”.
Kader. Dalam surat saya yang pertama ini, awalnya terpikir bagaimana caranya menyampaikan nasihat maupun pengetahuan agar elegan, kreatif, inovatif, serta mampu mengasah keterampilan menulis. Maka, timbullah inisiatif pribadi untuk senantiasa mengirim surat kepada antum seperti yang antum terima saat ini dengan motif “tawashaw”.
Setelah ini, izinkan saya agar dibolehkan mengirim surat-surat yang lain. Dengan harapan, kita mampu menjalankan intruksi Qur’an tadi melalui surat-menyurat. Selain itu, saya juga berharap kritikan dan koreksi dari tata bahasa terhadap tulisan-tulisan ini.
Harus saya akui, bahwa dalam menulis surat ini banyak kekurangan dalam penulisan. Ini surat saya yang pertama, harap maklum. Harapan lainnya silakan komentari bagaimana tata bahasanya.
Semoga berkah rahmat Ilahi melimpahi perjuangan kita.
Billahi fii sabilil haq. Fastabiqul khaoirat.
Assalamu alaikum WR WB
Medan, 5 juni 2011
From me
Suramah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel