Skip to main content

MANIAK RAMADHAN


                BacaNulis.Com - Ramadhan. Bulan besar umat islam di seluruh jagat raya ini. Bulan ini merupakan bulan yang punya banyak keistimewaan. mulai dari fenomenanya, sejarah-sejarah yang ada di dalamnya hingga limpahan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

                Keistimewaan bulan ini begitu agungnya. Pada bulan inilah diturunkannya Al-qur’an pertama kali. Kitab yang menjadi rujukan bagi umat yang taqwa untuk tetap berada pada jalan yang benar. Kitab yang menjadi petunjuk dan pembeda (QS. Albaqaroh : 185). Pada bulan ini pula turun malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, malam yang menciptakan kesejahteraan hingga terbit fajar (QS. Al-Qodar : 5). Malam itu adalah malam yang biasa disebut “Lailatul Qodar”. 

Dan lagi, pada bulan ini pulalah diwajibkannya puasa bagi umat islam. Ibadah yang mewajibkan kita menahan nafsu, menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Ibadah yang sudah menjadi syariat bahkan sebelum umatnya Muhammad SAW.

                Selain keistimewaan-keistimewaan yang memang melekat pada bulan itu sendiri, pada bulan ramadhan juga terdapat keunikan-keunikan lain tentang fenomena masyarakat yang merayakannya. Bulan puasa (begitu biasa disebut masyarakat) seakan memiliki kekuatan untuk menggerakkan masyarakat agar melakukan kebiasaan-kebiasaan yang unik itu. Kebiasaan-kebiasaan itu lantas menjadikan masyarakatnya menjadi maniak ramadhan. Saya sebut maniak ramadhan, sebab maniak itu selalu saja hadir pada bulan yang istimewa ini. Maniak ramadhan itu ada yang sangat sejalan dengan semangat perjuangan ramadhan. Namun juga tidak sedikit yang mengalihkannya ke arah yang tak sejalan dengan arah tujuan ramadhan.

                Diantara maniak ramadhan itu, adalah sebagai berikut : 

1.    MERCON
Tak tau mengapa, mercon kerap kali identik dengan bulan ramadhan ini. Entah bagaimana kemudian masyarakat membudayakan aktivitas jedar-jedor itu sebagai kebiasaan yang seolah-olah sudah turun-temurun dan susah sekali dihilangkan. Padahal sesungguhnya budaya mercon itu mengakar dari kebiasaan etnis Tionghoa yang selalu memeriahkan penyambutan tahun baru mereka dengan membakar mercon, petasan dan sejenisnya.
Bulan puasa seakan tidak meriah jika tidak dibarengi dengan membakar benda yang lumayan berbahaya itu. Penjual pun kerap memperoleh untung yang melimpah dari dagangannya itu.  Kian hari kian berbahaya. Sebab, kian hari kian beragam jenis dan kemampuan petasannya. Mercon, petasan, kembang api, atau apa pun namanya sama saja bahayanya. Sangat membahayakan essensi ramadhan. Anak-anak jadi lalai untuk segera sholat tarawih, dan lebih berbahayanya kebiasaan itu hanya akan mengganggu orang lain, mengganggu pengguna jalan, dan membuat ngeri siapa saja yang takut mercon, lebih dari itu mampu membakar rumah.
Mulai hari ini, kita harus mampu membedakan mana mainan yang mendidik (maupun hanya sekedar menghibur), mana yang merusak psikologi dan jiwa anak-anak. Bukankah bisa menjadi mungkin, “masih kecil main mercon, remaja jadi perakit bom, sudah besar jadi teroris”. Naudzubillah.

2.    SHOLAT TARAWIH
Sholat tarawih. Ibadah bulanan ini kerap ramai diikuti oleh masyarakat. Sholat ini, merupakan bentuk amalan malam yang sangat berfaedah bagi siapa yang mendirikannya. Jika kita perhatikan, banyak sekali masyarakat yang awalnya jarang sekali ke mesjid bisa menjadi yang paling awal, bahkan berdiri di shof yang paling depan untuk mendirikan ibadah sunnah itu. Hal ini menjadikan masyarakat menjadi maniak tarawih.

Ramadhan memang menjadi berkah. Ia memotivasi dan menginspirasi siapa saja yang menginginkan ketaqwaan. Sebab, pada bulan ini turun segala keberkahan maupun pengampunan serta kebaikan yang berlipat ganda. Namun ironisnya di masyarakat sering terbangun image bahwa awal malam jama’ah begitu membludak hingga ke teras-teras mesjid. Di pertengahan, shof mulai maju ke dapan. Dan di akhir, kemungkinan akan kembali membludak lagi. Hemmmm. 

Sangat mengagungkan bulan ramadhan ini. Siangnya kita puasa, menahan lapar dahaga dan malamnya merupakan waktu yang mulia untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Rabbnya. Akan mendapatkan ketaqwaan jika hamba itu senantiasa menjaga amalnya, tidak surut bahkan semakin hari harus semakin meningkat. Jangan putus asa! Bulan ini hanya datang setahun sekali. 

3.    TADARUSAN
Satu sunnah lagi yang biasa harus ditegakkan adalah tadarus al-qur’an. Jika pada bulan-bulan biasa, keutamaan membaca al-qur’an adalah satiap satu huruf dihitung 10 kebaikan, maka pada bulan ramadhan menjadi berlipat-lipat kebaikannya. Luar biasa.

Tidak heran, jika pemuda, pemudi, remaja maupun orang tua mengejar untuk menggiatkan diri membaca al-qur’an. Bahkan, sebagian anak-anak muda sengaja giat membaca al-qur’an secara berjama’ah. Tidak kenal waktu, apakah selepas tarawih, selepas subuh, selepas zhuhur dan ashar, bahkan hingga tengah malam mereka berlomba-lomba untuk membaca al-qur’an. Bahkan mengejar khatam. 

Hal yang perlu diperhatikan dari tadarus al-qur’an adalah bahwa sesungguhnya essensi tadarusan adalah saling mengajarkan al-qur’an. Apakah tilawahnya, tafsirnya atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran al-qur’an. Tidak mesti kejar tayang mengkhatamkan bacaan al-qur’an namun melupakan tajwidnya.

Bulan ramadhan adalah peluang untuk sama-sama mempelajari agama lewat sumber aslinya. Jangan disia-siakan.  Satu lagi, maniak tadarusan jangan sampai mengganggu masyarakat lainnya. Jika sudah waktunya istirahat hentikanlah tadarusan dengan menggunakan pengeras suara. Berilah hak kepada orang lain untuk tenang beristirahat. 

4.    ASMARA SUBUH
Sahur di waktu pagi memang membiasakan kita bangun lebih awal, bahkan sebelum subuh. Namun sangat disayangkan jika kegiatan yang berkah itu diselingi dengan kegiatan maksiat yang justru menggugurkan keberkahan pagi. 

Hal ini harus menjadi perhatian orang tua. Sebab, kebiasaan asmara subuh kerap terjadi pada remaja maupun anak-anak mereka, yang jelasnya belum menikah. Jangankan yang belum menikah, yang sudah menikah saja diwanti-wanti agar jangan sampai mendekati perbuatan yang awalnya dihalalkan bagi suami istri, apalagi yang sama sekali tidak mempunyai hubungan suami istri. Perlu diingat, magnet tarik-menarik untuk bermaksiat antara laki-laki dengan perempuan yang belum menikah begitu kuatnya. Tidak ada yang menjamin terhalangnya maksiat. Seorang ulama sekali pun tidak luput dari godaan seperti ini. Jika sudah saling mengikat janji, bertemu pagi nanti, bukan tidak mungkin ramadhan yang awalnya di kenal bulan suci justru menjadikannya sebagai skandal maksiat. Naudzubillah. Kami berlindung kepada Allah dari setiap hal yang melalaikan, hindari kami dari perangkap setan itu.

5.    JOGGING
Dari pada menggembur-gemburkan asmara subuh, lebih bermanfaat lagi jika kita mengisi pagi dengan olag raga, jogging salah satunya. Kegiatan ini menyehatkan, dan mampu membentuk sugesti-sugesti positif dalam menjalani hari.

Di kampung-kampung, kegiatan ini biasanya dilakukan dengan segerombolan orang. Memakai obor, memakai sarung (sebab baru sholat subuh), dan terkadang dibarengi dengan membangunkan warga untuk sahur sebelum subuh tiba. Tidak mengapa, asal tetap jangan dibarengi dengan niatan asmara subuh. Bahaya.

6.    BUKA BARENG
Kebiasaan buka bareng menjadi trend akhir-akhir ini. Kegiatan ini mempunyai banyak motif. Terkadang untuk reonian, acara ceremonial, temu kangen, atau sekedar happy bareng teman maupun motif lainnya. 

Buka bareng biasa dilakukan di luar rumah. Tidak jarang di tempat-tempat tertentu yang mengasyikkan. Di hotel maupun di tempat yang sengaja menyediakan menu berbuka. Sesekali ada yang menyelinginya dengan kegiatan amal. Salut. Hebat. Luar biasa.

Namun perlu diperhatikan, terkadang dari kegiatan buka bareng tersebut selalu terselip kebiasaan yang berlebihan. Poya-poya, boros, mubazir. Puasa yang awalnya menahan diri dari nafsu makan dan minum, sekejap menjadi kegiatan yang rakus dan berlebihan saat kegiatan buka bareng tersebut. 

Kegiatan ceremonial misalnya. Banyak pejabat-pejabat kita, instansi maupun golongan tertentu melakukan kegiatan buka bareng di hotel. Walaupun tidak jarang, juga diselingi kegiatan amal seperti menyantuni fakir miskin, anak yatim dan sebaginya. Anda tau berapa biaya yang dikeluarkan? Yah, berjuta-juta. 

Kegiatan buka bareng sering sekali terjebak pada budaya ceremonial, boros, mubazir dan berlebih-lebihan. Andaikan buka bareng di hotel itu diganti cukup di rumah saja dengan menu yang apa adanya serta memaksimalkan pengeluaran biaya pada pemberian sedekah kepada fakir-miskin maupun anak yatim, ini jauh lebih tepat guna. 

Bayangkan, biaya makan dan berbuka saja bisa mencapai seminimal-minimalnya Rp. 15.000/orang dikalikan dengan jumlah hadirin yang datang (biasanya jika kegiatan dilakukan di hotel akan mengundang tamu yang berlimpah. Luar biasa), belum lagi sewa hotelnya. Sayangnya kegiatan amal yang dipaketkan dengan buka bareng tersebut mala menjadi orientasi yang kesekian, terpinggirkan, dilupakan, diacuhkan, dibelakangkan. Bagaimana mungkin kegiatan buka bareng itu bisa sebanding antara sedekah Rp. 50.000/orang dikali hanya 30 orang saja dengan biaya poya-poyanya? Bagaimana mungkin bisa mengentaskan kemiskinan jika amalan sedekahnya hanya Rp. 1.500.000 sementara poya-poyanya lebih dari Rp. 10.000.000? 

Lewat tulisan ini, hendaknya masing-masing kita berani mendobrak kebiasaan ceremonial yang mengenyampingkan essensi. “Makanlah dan minumlah dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan”.

7.    TIDUR
Tiduuuuuuuuuuuuuuuur…. Lagi-lagi tiduuuuuuuuuuuuur. Sebentar-sebentar tiduuuur… malam sudah tidur, siang tidur, sore pun bisa tertidur. Harusnya setelah bangun tidur, langsung mandi, jangan lupa senam pagi, kalau lupaaaaaaaaaaaaa, TI DUR LAA GII … hehehehe. 

Lapar sepertinya memudahkan orang untuk segera tertidur. Lelah, lemas, letih, lesu semua menjadi alasan untuk mengantarkan orang tertidur. Bahkan, ada anggapan bahwa tidurnya orang puasa pun ibadah. Lebih parah lagi disokong oleh asumsi, dari pada berkata dosa, mendingan tidur.

Mungkin dikarenakan anggapan bahwa tidurnya orang puasa dianggap ibadah inilah yang memicu masyarakat untuk tidur. Ironis, bagaimana mungkin orang yang tidak beramal apa-apa bisa dianggap ibadah? Bukankah tidur itu sama dengan mengistirahatkan raga untuk beramal? Bukankah tidur termasuk nafsu? Lagi pula, hadits yang mengatakan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah adalah hadits lemah, silahkan bertanya kepada yang ahli hadits. 

Jika terjaga membuat kita melakukan dosa, maka ada alternatif untuk menghindarinya. Yaitu, menggiatkan bekerja atau aktivitas yang menghindarkan dosa. Bukankah dari pada tidur, lebih baik bekerja, mencari rezeki, atau membaca qur’an, diskusi, membuat majelis taklim, menulis atau apapun yang memang bermanfaat. Tidur bukanlah merupakan amalan yang sesuai dengan semangat ramadhan. Tidur memang menghindarkan kita dari berkata bohong, berdusta, lebih-lebih menggosip, tapi hanya pada saat tidur itu. Maka, lewat momentum puasalah kita dilatih untuk menghindari dosa. Puasalah yang melatih kita untuk tidak berbuat dosa seperti itu. Jika kita hanya tidur, akankah kita terlatih untuk tidak mengatakan perkataan dosa itu? Jika kita hanya tidur, latihan yang mana lagi yang akan dihadapi lewat ibadah puasa. Intinya, tidur bukanlah ibadah yang dianjurkan selama puasa, mala justru menjadi makruh bila terlalu lama. 

Jangan jadikan puasa ini menjadi bulan yang membuat orang menjadi maniak tidur. Ahli kesehatan pun mengatakan bahwa tidur itu jangan lewat sampai delapan jam. Lebih detil, jangan tidur kurang dari lima jam, atau lebih dari delapan jam. Putaran waktu mempunyai hak-hak untuk dibagi-bagikan oleh raga ini. Delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk tidur dan delapan jam untuk beribadah. Cukup terpenuhi haknya.

8.    BOLOS
Akibat kebanyakan tidur, aktivitas pun menjadi lalai. Kuliah telat, masuk kantor pun lambat. Tidak heran, jika pada bulan puasa pegawai sering kali terjerat raziah akibat lambat masuk kantor. Sebuah kebiasaan yang memalukan. Harusnya ramadhan menjadikan kita teladan yang semakin giat bekerja dan giat beramal. Bukan mala loyo dan tidak memiliki jiwa “fastabiqul khairot” yang harusnya digaungkan untuk mendapat limpahan rahmat berlipat-lipat di bulan penuh berkah ini. 

Semangat perjuangan harus dimaksimalkan di bulan ini. Puasa bukanlah penghalang yang dikambinghitamkan sehingga raga lemah dan malas bekerja. Bukankah, Rasulullah sering menang dalam perang pada saat bulan ramadhan? Bukankah perjuangan kemerdekaan Indonesia juga diproklamirkan pada bulan ramadhan? 

Demikianlah beberapa maniak ramadhan yang selalu terjadi setahun sekali di masyarakat.  Diantaranya ada yang sejalan dengan semangat ramadhan, namun juga tidak sedikit yang justru memporakporandakan keistimewaan ramadhan. Perlu diingat bahwa arah tujuan dari bulan puasa ramadhan adalah “la’allakum tattaqun” (QS. Al-baqarah : 183). Maka pada bulan ini seyogyanya kita mampu mengisinya dengan maniak-maniak yang sejalan dengan semangat taqwa. Dimana semuanya didasari dengan niatan Lillahi ta’alah. Semoga menginspirasi.

Medan, 4  agustus 2011
(4 ramadhan 1431 H)
BANGSUR
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar