MENJAGA BUYA HAMKA

Menjaga Buya Hamka
Menjaga karya teladan Asia

Bermodal tongkat tua
Mengitari isi dunia
Menjadi pejuang usia senja

Anak bangsa cerdas bijaksana
Matipun dikenang masa

Sayang, kubur Buya hanya diziarahi
Belum dipagar besi dengan kegigihan nurani manusia kini
Atau menjadi inspirasi pejuang masa yang dinanti

Sayang, tongkat Buya hanya jadi kisah keramat
Jadi pembela dalam cerita Bangsa
Seperti perlawanan serdadu dengan granat
Jadi penyerang dalam cerita perang dunia ke-dua
Bukan jadi teladan pribadi umat
Tak ayal, Cuma jadi cerita di surau-surau terpencil gelap suatu saat

Sayang, penjara Buya hanya jadi simpatisan
Waktu Al-Azhar dikarang
Belum jadi tiruan semangat seperti grilyawan
Walau aral perang di depan menantang

Oh…. Buya perantau dari Danau Maninjau
Bangsamu kini masih parau
Bagai teriris tajamnya pisau

Agaknya, bukan hanya kapal Van Der Wijck yang tenggelam
Optimisme, perjuangan, persaudaraan, pendidikan, rukun berbangsa,
dan semangat berbangsa pun ikut tenggelam
Agaknya, Buya akan menangis
Jika mengetahui bangsanya kini menangis

Aku ingin menjaga Buya
Lewat sungguh-sungguh berjuang, gigih, semangat dan bertekat
Aku ingin menjaga Buya
Lewat cita-cita, ikhtiar, do’a dan kepercayaan kuat

Menjaga Buya Hamka
Menjaga semangat, cita-cita ksatria



Medan, 1 februari 2010
00:11 wib
(suramah)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel