PERSIAPAN


                BacaNulis.Com - Hidup itu punya banyak dimensi. Dimensi-dimensi itu kemudian membentuk pribadi manusia untuk berbuat. Jika tidak berbuat, yang terjadi adalah manusia akan tersingkir dari panggung sandiwara dunia. Misalnya, jika kita ingin hidup maka seyogyanya kita harus makan untuk menguatkan raga. Agar kita dapat makan, maka kita harus punya faktor ekonomi yang menunjangnya. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi itu lah kita diwajibkan bekerja. Jika tidak, yang terjadi adalah kita tidak punya faktor ekonomi, selanjutnya tidak makan dan terakhir tidak hidup. 

                Hal pertama yang harus dimiliki untuk memulai berbuat adalah punya persiapan. Persiapan sangat dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan. Tanpa persiapan, suatu keinginan pun sangat beriko besar menjadi antiklimaks. Tanpa persiapan, roda kehidupan akan beriko berjalan lambat padahal dunia memaksa untuk berputar cepat, kita pun akan berulang kali ketinggalan. Tanpa persiapan, rencana awal pun menjadi buyar, tidak tentu lagi harus melakukan apa, padahal target sudah ditentukan. Maka, persiapan adalah hal penting. Persiapan adalah awal, dan rencana merupakan bentuk pengejawantahannya. 

                Hal yang selalu terjadi pada kehidupan manusia, sering tidak maksimal dalam berbuat sesuatu. Masuk kantor misalnya, jika dari rumah tidak memiliki persiapan semisal bangun terlambat, peralatan tidak dipersiapkan yang terjadi adalah keterlambatan atau ketidakmaksimalan kerja. Begitu pula kuliah atau sekolah, jika dari rumah tidak memiliki persiapan apa-apa semisal belum tau materi apa yang akan dibahas di bangku sekolah, akibatnya pelajar akan kesulitan menerima pelajaran. Akan berbeda jika pada malam harinya sudah mempersiapkan diri untuk membaca materi esok pagi, keesokan harinya pun hanya tinggal bertanya yang belum tau dan memahami yang sudah dibaca saja. Belum lagi jika akan berangkat kerja dengan menggunakan jasa angkutan kereta api, telat sedikit saja tanpa persiapan maka lagi-lagi kita gagal menjalani kehidupan.

                Begitu pentingnya persiapan. Kita hidup juga harus punya banyak persiapan menyambut hari pembalasan. Sebelum hari itu tiba, maka kita harus mempersiapkan diri menghadapi hari yang pasti kedatangan. Sebelum dihisab, manusia harus membekali dirinya dengan ketaqwaan, ibadah, juga amal-amal yang menghantarkan kita sukses menempuh impian untuk bahagia di taman surga. 

Jika tidak mempunyai persiapan, walhasil impian itu pun hanya imajinasi belaka. Hidup ini punya rambu-rambu, punya ganjaran dan aturan. Maka persiapkan diri untuk memperoleh ganjaran yang diinginkan, mengikuti rambu-rambu yang sudah digariskan dan tidak melanggar aturan larangan. Jika tidak disiapkan, maka impian awal memperoleh kebaikan pun akan berakhir sia-sia.  Harapan ingin mendapatkan ridho Allah, namun masih sibuk dengan mengejar dunia, lalai sholat, lupa zakat, enggan puasa, sombong pun menjadi mahkota, apa lagi uang sudah memperbudaknya, belum lagi sikap yang jarang diukir menjadi pribadi yang baik, maka ridho Allah itu pun tak didapatkan berbuah. 

Manusia harus menyadari bahwa kehidupan ini berlanjut pada pembalasan. Maka persiapkanlah diri untuk mendapatkan pembalasan yang baik. Rajin sholat, gemar berinfak, berkepribadian yang baik menunjukkan kita sudah mempersiapkan diri untuk menggapai ridho Ilahi. Lain halnya jika sholat pun tidak, enggan berpuasa, prilaku pun tak baik, mengindikasikan kita tidak punya persiapan untuk menggapai ridho Allah. Saat kita sadar bahwa hari esok adalah pembalasannya, maka penyesalan lah yang membayangi. Manusia akan terkejut bahwa kalam Ilahi akan benar-benar terjadi. Dan terakhir manusia itu akan menjadi orang yang merugi

Begitulah yang diceritakan Allah dalam surah al-zalzalah. Tentang ekspresi yang akan dialami oleh manusia melihat bumi berguncang, gunung meletus, laut menghancurkan daratan tanda kiamat sudah terjadi hari ini. Dan ketika manusia sadar hari itu datang maka keheranan dan terkejutlah mereka menyaksikan kebenaran datangnya kiamat, apalagi jika memang mereka tidak punua bekal persiapan menghadapinya.

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Dan manusia bertanya “apa yang terjadi pada bumi?”. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian itu padanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka balasan semua perbuatannya. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebert zarah, niscaya dia akan menlihat balasannya.” (QS : al-zalzalah 1-8)

                Kiamat pasti terjadi. Hal ini diyakini oleh setiap muslim yang beriman. Jika manusia tidak memiliki persiapan untuk bekal di akhirat maka mereka akan merasa heran dan terkejut luar biasa dengan berkata “apa yang terjadi pada bumi?”. Mereka baru menyadari bahwa kiamat sudah datang, tanda episode akhirat akan segera tayang. 

                Hari itu merupakan tanda dimulainya pembalasan. Manusia yang menyaksikan langsung dengan kasat mata kejadian kiamat, maupun manusia-manusia terdahulu yang baru akan dibangkitkan, akan segera mendapat pembalasan atas apa yang mereka perbuat selama hidupnya. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebert zarah, niscaya dia akan menlihat balasannya.”
 
                Sekali lagi, persiapan haruslah dilakukan oleh siapa saja dan dalam situasi apa saja. Sebelum mengakhiri kehidupan ini, siapkanlah diri untuk menghadapi kehidupan setelah mati dengan berbuat yang terbaik dan ikhtiar yang maksimal. Bukan hanya tentang kehidupan dan kematian, dalam menjalani roda kehidupan, aktivitas, rutinitas sehari-hari juga harus punya persiapan. Bagaimana mempersiapkan desa agar tidak banjir, belajar yang gigih untuk memperoleh hasil maupun menyiapkan diri menghadapi episode yang pasti akan dilalui.

                Membuat persiapan memang tidak gambang. Bisa saja hari ini sudah siap namun tidak demikian dengan esok hari. Untuk mengantisipasi hal demikian, kita perlu pembiasaan. Kemenangan adalah tujuan, ikhtiar adalah upaya, persiapan adalah bekal dan pembiasaan adalah pengokohnya. Mari biasakan siap dan melakukan persiapan melakukan apa saja. Jika tidak, bersiaplah menjadi orang-orang yang tersingkir, yang terbuang, yang merugi. 

Medan, 13 september 2011
Bangsur

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel