AL-BAQOROH (AYAT 1-5)


·         Surah al-baqoroh turuh setelah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Oleh sebab itu surah ini digolongkan sebagai surah madaniyah. Surah ini mempunyai 286 ayat
·         Dinamakan surah al-baqoroh (sapi betina) karena tema pokoknya adalah inti ayat-ayat yang menguraikan kisah al-baqarah (sapi). Yakni cerita antara Bani Israil di zaman Nabi Musa dengan seekor sapi.
·         Uraian surah ini berkisar pada penjelasan dan pembuktian tentang betapa haq dan benarnya kitab suci dan betapa wajar petunjuk-petunjukNya diikuti dan diindahkan.
·         Dinamai pula “as-sinaam” (puncak). Juga “az-zahraa’” (terang-benderang).

AYAT 1
·         Mayoritas Ulama abat 1-3 H, mengatakan tentang makna ayat ini bahwa hanya Allah yang mengetahui
·         Selain itu, ada pula yang mengatakan :
1.       Ayat itu merupakan nama surah
2.       Merupakan cara Allah untuk menarik perhatian pendengar tentang apa yang akan dikemukakan pada ayat-ayat berikutnya
3.       Sebagai tantangan kepada yang meragukan al-qur’an
4.       Rasyad Khalifah : “isyarat tentang huruf-huruf yang terbanyak dalam surah-surahnya, Kecuali “Yaasiin”. Pada surah “yaasiin” justru kebalikannya, yaitu yang paling sedikit. Karena huruf “ya” dalam alfabet Arab berada sesudah “sin”, sehingga hal itu menandakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah yang paling sedikit. Namun, pendapat ini masih kontroversial.
·         Dalam al-qur’an, ayat-ayat yang serupa cirinya dengan ayat ini ada 29 tempat dalam al-qur’an.

AYAT 2
·         “Dzaalika” (itulah),  merupakan isyarat jauh. Pada banyak tempat, kata “al-kitab” selalu diiringi dengan “Dzaalika”, berbeda pada tempat lain jika menunjukkan kepada firman Allah dengan nama Al-qur’an (bukan al-kitab) selalu digunakan isyarat dekat “haadzal qur’an”. Isyarat jauh bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci itu berada dalam kedudukan yang amat tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk, karena bersumber dari Allah yang Maha Tinggih. Sedang penggunaan “haadzaa” menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunanNya pada fitrah manusia.
·         Al-kitab yang dimaksud adalah al-qur’an.
·         Tidak ada keraguan padanya. Di dalamnya ada petunjuk bagi orang yang bertaqwa
·         raiba” berrati “syak” (keraguan) dan sangka buruk
·         Sebagian Ulama memahami “raiba” dengan arti kegelisahan jiwa. Sebab keraguan menimbulkan gelisah.
·         Al-qur’an adalah penampilan dari hidayah Ilahi
·         Bentuk masdar dari kata “hudan” (petunjuk) mengandung makna bahwa petunjukNya telah mencapai kesempurnaan sehingga tidak sekedar berfungsi untuk memberi petunjuk, tetapi ia adalah perwujudan dari petunjuk itu.
·         Taqwa : menghindar
·         Muttaqiin  : “as-shooiruun ilat taqwa, bimtitsaalil awaamiri wajtinaabin nawaahi littiqooihim bidzaalikan naar”
·         3 tingkat taqwa (penghindaran)                :
1.       Menghindari dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah.
2.       Berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi laranganNya
3.       Menghindari dari segala aktivitas yang menjauhi pikiran dari Allah

AYAT 3
·         Ayat 3-5 menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka yang bertaqwa
1.       Percaya kepada yang ghaib
2.       Melaksanakan sholat berkesinambungan dan sempurna
3.       Menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan
4.       Beriman kepada yang diturunkan kepada Muhammad dan yang diturunkan sebelumnya
5.       Meyakini kehidupan akhirat
·         Menafkahkan sebagian dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka”, ayat ini mengisyaratkan bahwa yang bertaqwa hendaknya bekerja dan berkarya sebaik mungkin sehingga memperoleh hasil yang melebihi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjangnya serta dapat membantu orang lain.

AYAT 4
·         Yuuqinuun” (meyakini) adalah pengetahuan yang mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan pengetahuan itu, baik berupa keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan lawan.

AYAT 5
·         Kata “’alaa” (di atas) memberi kesan bahwa orang-orang yang bertaqwa selalu berada dalam posisi yang tinggi berkat konsistensinya menjalankan petunjuk Allah
·         Penegasan “mereka itu berada di atas petunjuk” memberi kesan sifat-sifat terpuji yang mereka sandang adalah berkat anugerah hidayah Allah atas mereka.



Referensi : Tafsir Almishbah (M. Quraish Shihab)
Tafsir Jalalain (Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Muahalli
& Jalalluddin Abdur Rahman As-suyuuti)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel