Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEA GAMES DAN “LAWAN BERSAMA” INDONESIA


                IN…DO..NE…SIA….! Begitu teriak para suporter Indonesia saat melihat secara langsung pertandingan pada event Sea Games ke-XXVI cabang bulutangkis ganda putri di Istora Senayan Jakarta minggu 13 nopember 2011 lalu. Pertandingan Indonesia pasangan Nadya Melati – Vita Marissa melawan pasangan Malaysia Vivian Hoo – Woon Khen Wei berlangsung meria. Pasangan Indonesia mendapatkan semangat serta dukungan penuh rakyat Indonesia. Walaupun akhirnya Indonesia harus mengakui kemenangan Malaysia, namun kemenangan itu tak mampu mengalahkan semangat serta persatuan rakyat Indonesia di mana seluruhnya berteriak IN…DO…NE….SIA….! IN…DO…NE…SIA….! Apalagi kekalahan Nadya Melati – Vita Marissa, mampu dibayar dengan kemenangan pasangan ganda putri Indonesia, Maheswari Nitya Krisinda-Agustine Anneke Feinya, dan memastikan tiket Indonesia ke final setelah menumbangkan pasangan Malaysia, Ng Poua Leng Marylen-Lim Yin Loo dengan skor 9-21, 16-21 pada laga Semifinal beregu cabang olahraga bulutangkis di Istora Senayan, Minggu (13/11/2011). Maka  kembali teriakan IN…DO…NE….SIA….! IN…DO…NE…SIA….! Menggelegar menyambutnya. Luar biasa.
                Sea games sesungguhnya punya banyak fungsi untuk menyatukan semangat kebangsaan. Sea Games benar-benar menghipnotis setiap rakyat untuk mendukung merah-putih agar menjadi juara umum kembali, melanjutkan tradisi juara. Seluruhnya kompak menyerukan IN..DO…NE…SIA…! Hebat.
                Sea Games ke-XXVI ini memberikan kehormatan bagi rakyat Indonesia terutama negeri Sriwijaya, Sumatera Selatan. Sebuah hal yang membanggakan, bahwa masyarakat Sumatera Selatan bisa menjadi tuan rumah pada ajang regional olah raga tertinggi sekawasan Asia Tenggara. Maka sekali lagi gaung suara rakyat membumbung tinggi di cakrawala langit untuk menyuarakan IN…DO…NE…SIA….! Mantab.
                Ada banyak manfaat dari Sea Games maupun beberapa pertandingan olah raga di tinggat-tinggat ivent tertentu. Diantaranya :
1.       Memperkuat jiwa kebangsaan
Lewat beberapa pertandingan apakah saat piala AFF, Sea Games, maupun Word Cup 2012, sesungguhnya memberikan efek kekuatan terhadap jiwa kebangsaan rakyat Indonesia yang sama-sama mendukung tim merah-putih pada saat laga di lapangan di cabang olah raga mana pun. Pada saat itu, setiap rakyat mereriakkan yel-yel “IN..DO..NE…SIA…!”. Jiwa kebangsaan secara tidak langsung mereka kembali di hati rakyatnya bahwa Indonesia adalah negeriku.
Pada saat itu, merah-putih berkibar di langit-langit laga, ikut memberi semangat bagi anak-anak bangsa yang membelanya dalam pertandingan. Kibaran merah-putih itu adalah wujud dari berkibarnya jiwa kebangsaan di setiap dada anak bangsa.

2.       Memperkuat jiwa persatuan
Pada beberapa ivent olah raga, setiap rakyat Indonesia, tanpa memandang ia berada di mana, etnis apa, suku apa, dan agama apa, serentak mengumandangkan semangat dan dukungan buat negerinya. Tidak dipungkiri bahwa Presiden, bersama seluruh rakyatnya mengharapkan kemenangan bagi bangsanya. Hal ini menandakan bahwa jiwa persatuan terpupuk kembali di hati setiap anak negeri, tanpa terkecuali.

3.       Menekankan semangat kejuaraan
Kemenangan adalah suatu yang diharapkan oleh siapa saja dalam dunia olah raga, juga oleh bangsa Indonesia. Dengan kemenangan itu, maka setiap rakyat Indonesia akan merasa bangga dengan negerinya. Segala usaha akan dilakukan agar menjadi pemenangan, menjadi juara laga. Maka, mental juara haruslah selalu dipupuk. Dan kejuaraan haruslah menjadi tujuan bersama dari seluruh element bangsa.

Jika dipikir-pikir, apa sebenarnya yang membuat seluruh rakyat Indonesia bersuara sama? Bersemangat sama? Mendukung atlet yang sama? Yang pada saat itu juga, setiap elemen bangsa terpupuk jiwa kebangsaan, persatuan serta semangat kejuaraannya secara serentak sama. Jawabnya adalah karena adanya lawan (musuh) yang sama pula.
Dengan adanya lawan yang sama itulah selanjutnya kita memiliki semangat yang sama untuk bertanding baik sebagai atlet atau hanya sekedar penontonnya berhadapan dengan lawan yang sama. Dari semangat yang sama selanjutnya terbina persatuan. Dari persatuan akhirnya terpikir bahwa kita adalah bangsa yang sama walau berbeda-beda. Setelah itu, secara bersama pula kita mengharapkan bahwa kitalah yang menjadi sang juara, tidak ada yang mengharapkan kekalahan. Itulah penyebab mengapa kita punya semangat yang sama yaitu dikarenakan kita punya musuh (lawan) bersama.
Semua serentak membela dan bersuara sama “IN…DO…NE…SIA…”. Yang tua, muda, anak kecil, orang miskin, kaya, President, rakyat bersorak sama “IN…DO…NE…SIA…”. Tidak ada yang beda.
Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah rakyat ini masih berjiwa Indonesia jika melihat kenyataan kehidupan setiap harinya? Masihkan ada semangat yang sama bahwa kita semua merupakan elemen yang penting dari negeri ini? Masihkah kita bangga meneriakkan “IN…DO…NE…SIA…” dalam kehidupan sehari-hari? Masihkah nelayan, petani, Gubernur, President tetap bergandengan tangan untuk membangun kejuaraan kehidupan berbangsa dan bernegara? Masihkan seluruh rakyat ini bersatu dalam bingkai “IN…DO..NE..SIA…”? Masihkah ada jiwa kebangsaan pada setiap rakyat jika masih ada ketegangan sosial, kesenjangan ekonomi, keterpurukan moral, pengkhianatan pemimpin? Jika kita cermati bukan tidak banyak yang mencaci Indonesia, dan cacian itupun ironisnya keluar dari lisan anak bangsanya sendiri.
Penyebabnya bisa saja kekecewaan terhadap tujuan yang tidak searah. Bagaimana mungkin setiap rakyat bisa bersatu jika nelayan pencari ikan tak mampu melaut, sedangkan pemimpin bangsa asik memperkaya diri tanpa memikirkan bagaimana nasib nelayan, padahal pun ikan yang mereka makan adalah jerih payah si nelayan. Bagaimana mungkin seluruh rakyat bersatu jika tambang emas milik kekayaan daerahnya dirampas oleh orang asing melalui campur tangan pemimpinnya sementara pemilik aslinya masih hidup primitif dan tanpa pendidikan?
Semua berjalan kacau dan tidak selaras. Yang terjadi adalah, perbedaan nasib, permusuhan sengit, wacana pembubaran kebangsaan dan pada titik kronis enggan mengakui ke-Indonesia-annya, apalagi harus berteriak “IN…DO…NE…SIA…”.
Begitulah jika setiap elemen bangsa tidak memiliki tujuan kejuaraan yang sama. Begitulah jika kita tidak menyadari bahwa kekayaan negeri ini adalah kekayaan bersama. Amanah yang diemban adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Dan persatuan yang digalang adalah demi negeri yang sama.
Perdamaian, persatuan serta kecintaan terhadap bangsa yang sama akan tercipta jika setiap kita memiliki cita-cita bersama, bekerja sama, dan nasib yang relatif sama. Tidak bertentangan apalagi ada kesenjangan. Yang kaya tidak terlalu kaya dan yang miskin tidak terlalu miskin. Yang kaya dermawan dan yang miskin penyabar.
Persamaan cita-cita dapat dilakukan dengan tidak memikirkan diri sendiri. Semua harus dilakukan secara selaras, sejalan, dan sejajar. Maka untuk mengarah ke arah itu sesungguhnya kita harus menyadari bahwa ada musuh bersama. Musuh bersama itu sekaligus menjadi fokus sebagai lawan bersama. Dan pemberantasan terhadap musuh bersama itu pun menjadi cita-cita bersama. Adanya musuh bersama itu hendaknya mampu menyatukan kita untuk sama-sama melawannya. Bukan bertindak sendiri-sendiri apalagi memikirkan diri sendiri.
Cukup banyak yang menjadi musuh bersama itu. Kebodohan, kemiskinan, kemelaratan, kerusuhan adalah contoh-contoh dari musuh bersama itu. Kita akan kembali berteriak IN..DO..NE…SIA… jika dari elemen yang paling atas hingga yang paling bawah sama-sama menyerang musuh bersama itu. Setiap masyarakat tidak akan disibukkan dengan melawan pimpinannya, dan pimpinannya tidak akan digunjing oleh rakyatnya jika seluruhnya terfokus untuk memberantas musuh bersama.
Setiap kita tidak ada yang mau menjadi melarat. Rakyat berusaha keras untuk memperbaiki nasib hidupnya dengan cara yang halal. Dan pemimpin yang diamanahkan oleh rakyat itu harusnya juga sama-sama memecahkan masalah itu. Ini merupakan ikhtiar untuk berbuat secara sejajar, selaras dan sejalan. Jika dilakukan bersama maka setiap kita punya fokus yang sama. Yang berarti punya musuh yang sama. Dan akhirnya kita masih mau bergandengan tangan antara pemimpin bangsa dan rakyatnya. Setiap kita masih mau bersatu dan jiwa kebangsaan pun masih tertanam kuat di hati setiap kita.
Namun jika tidak, harapan untuk persatuan, kebangsaan apa lagi tujuan kejuaraan hanya menjadi wacana di atas kertas.
Semoga cita-cita kebangsaan dirasakan oleh setiap insannya. Dan lewat Sea Games ke-XXVI ini mampu menyadarkan kita bahwa kita mesti menjaga persatuan demi keinginan menjadi sang juara. Dan pada akirnya semakin terpupuk jiwa kebangsaan. IN…DO…NE…SIA…   BI…SA….!




Medan, 13 nopember 2011
Bangsur