Skip to main content

AL-ASHR (AYAT 1-3)


·         Surah al-ashr terdiri dari 3 ayat. Al-Ashr berarti “Massa/waktu” yang diambil dari kata “al-ashr” dari ayat pertamanya.
·         Surah al-ashr termasuk bagian dari surah makkiyah. Yaitu surah yang turun sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Yastrib (Madinah).
·         Turun sebagai surah ke-13 dari segi urutan turunnya. Ia turun sesudah surah Alam Nasyrah & sebelum surah surah Al-Adiyat.
·         Tema utamanya adalah tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebab jika tidak, maka kerugian dan kecelakaan yang menanti mereka.
·         Diriwayatkan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah SAW tidak berpisah kecuali setiap mereka membacakan surah al-‘ashr kepada temannya (H.R Ath-Thabarani melalui Ubaidillah Ibnu Hushain)

AYAT 1
·         ALLAH memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya ia diisi.
·         Kata “al-‘ashr” berasal dari “’ashoro” yang artinya “menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar (layaknya memeras)”
·         Waktu ‘ashar (tatkala perjalanan matahari telah melampaui pertengahan dan telah menuju terbenamnya), penamaan ini agaknya disebabkan karena ketika itu manusia sejak pagi telah memeras tenaganya dan diharapkan telah mendapat hasil dari usaha-usahanya.
·         Para ulama sepakat mengartikan “al-ashr” dengan waktu. Hanya saja mereka berbeda-beda pendapat tentang  waktu yang dimaksud. Pendapat-pendapat mereka adalah sebagai berikut :
1.       Waktu/masa di mana langkah dan gerak tertampung di dalamnya.
2.       Waktu di mana sholat ashar dilaksanakan
3.       Waktu/ masa kehadiran nabi Muhammad SAW dalam pentas kehidupan ini.
·         Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif, maka ia akan berlalu begitu saja. Ali R.A berkata : “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok. Tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok”.

AYAT 2
·         Kata “al-insaan” yang berarti “manusia” terambil dari kata yang dapat berarti “gerak atau dinamisme, lupa, merasa bahagia (senang)”. Ketiga arti ini menggambarkan sebagian dari sifat serta ciri khas manusia.
·         “Khusri” mempunyai banyak arti, antara lain “rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan” dan sebagainya yang kesemuanya mengarah kepada makna-makna yang negatif, atau tidak disenangi oleh siapa pun.

AYAT 3
·         Pengecualian bagi mereka yang rugi adalah mereka yang melakukan 4 kegiatan pokok. Yaitu :
1.       Orang-orang yang beriman
2.       Beramal sholeh
3.       Saling berwasiat tentang kebenaran
4.       Dan saling berwasiat tentang kesabaran
·         Iman adalah pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Intinya dapat disimpulkan dalam rukun iman yang enam.
·         “’Amilu” berarti “amal/pekerjaan”, menggambarkan penggunan daya manusia, daya pikir, fisik, qalbu, dan daya hidup yang dilakukan dengan sabar oleh jin dan manusia.
·         Amal shaleh adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan. Ia adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, al-qur’an atau sunnah Nabi Muhammad SAW.
·         Tawaashaw” berasal dari kata “Washa – washiyatan” yang berarti menyuruh secara baik. Berwasiat berarti tampil kepada orang lain dengan kata-kata yang halus agar yang bersangkutan bersedia melakukan sesuatu pekerjaan yang diharapkan dari padanya secara berkesinambungan.
·         “Al-Haq” berarti sesuatu yang mantap, tidak berubah.
·         Berwasiat menyangkut yang haq (kebenaran) mengandung makna bahwa seseorang berkewajiban untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain serta mengajarkannya kepada orang lain.
·         Sabar berarti menahan kehendak nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.
·         Kedua wasiat di atas mengandung makna bahwa kita dituntut di samping mengembangkan kebenaran dalam diri masing-masing, kita juga dituntut mengembangkannya pada diri orang lain. Manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial.


Medan, 7 januari 2012
writen by : bang sur

Referensi : Tafsir Al-mishbah (M. Quraish Shihab)
Shihab, M. Quraish. 2006. Tafsir Al-Mishbah. Pesan, kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar