Skip to main content

INILAH TUDUHAN KEPADA NABI MUHAMMAD


Rasulullah SAW adalah seorang yang berpribadi luhur. Perkataannya selalu santun. Setiap masyarakat baik yang membenarkannya maupun yang memusuhinya sekali pun mengakui akan keagungan akhlaknya. Setiap orang menaruh rasa percaya kepada Muhammad hingga Ia pun dijuluki “Al-Amin” (yang dapat dipercaya). Sifat Nabi yang seperti ini terang saja mampu memberi daya tarik tersendiri kepada orang lain yang mendengarkannya untuk diajak memenuhi seruan islam. Apalagi ayat-ayat Allah yang disampaikannya mempunyai gaya bahasa yang tinggi yang tidak bisa tertandingi dengan sastra bangsa Arab sekali pun. Juga mengajak kepada kebenaran.
 
Pada saat itu, di tahun ke-4 kenabian turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Perintah itu dimandatkan melalui turunnya wahyu Allah, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat”. (Asy-syu’ara: 214). Perintah itu dikuatkan kembali dengan turunnya sebuah ayat “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Al-Hijr :94). Dengan turunnya perintah itu, Nabi pun melancarkan dakwahnya secara terang-terangan.

Pada waktu semakin dekatnya kedatangan musim haji, orang-orang Quraisy menyadari bahwa berbagai utusan dari seluruh Jazirah Arab akan berdatangan. Oleh sebab itu, mereka ingin mengeluarkan pernyataan resmi  yang akan disampaikan kepada bangsa Arab tentang status Muhammad, agar dakwah Nabi tidak berpengaruh pada pendatang yang hendak beribadah haji.

Atas dasar itu, Quraisy pun berkumpul di tempat Al-Walid bin Al-Mughirah, memperbincangkan hal ini. Al-Walid berkata, “ambil saja kesimpulan tentang masalah ini, dan jangan sampai kalian berbeda pendapat, sehingga sebagian diantara kalian mendustakan sebagian yang lain, sebagian menyanggah sebagian yang lain”.
“Pendapatmu sendiri bagaimana?” tanya mereka.
“Sampaikan dulu pendapat kalian, biar aku mendengarnya” kata Al-Walid.
“Kita katakan saja bahwa Dia seorang dukun”.
“Tidak demi Allah. Dia bukanlah seorang dukun”, jawab Al-Walid. “Kalau kita pernah melihat para dukun. Dia sama sekali tidak menggumamkan sajak dan mantra seperti dukun”.
“Kita katakan saja, dia orang sinting”, kata mereka.
“Dia bukan orang sinting”, kata Al-Walid. “Kita sudah melihat orang-orang yang sinting dan mengetahuinya. Dia tidak menangis tersedu-sedu, tidak bertindak sekenanya dan tidak berbisik-bisik layaknya orang sinting”.
“Kita katakan saja, dia adalah seorang penyair”, kata mereka.
“Dia bukan seorang penyair”, kata Al-Walid. “Kita mengetahui seluruh bentuk syair, yang rajaaz, hajaz, qaridh, maqbudh, maupun mabsuth. Apa yang disampaikannya itu bukan termasuk syair”.
“Kita katakan saja, dia seorang penyihir”, kata mereka.
“Dia bukan seorang penyihir”, kata Al-Walid. “Kita sudah melihat para sihir dan mengetahui sihir mereka. Dia tidak berkomat-kamit dan tidak membuat buhul dari tali layaknya penyihir”.
“Kalau begitu apa yang harus mereka katakan?, mereka bertanya.
“Demi Allah, perkataannya benar-benar manis, pangkalnya benar-benar cerdik dan cabangnya benar-benar matang. Tidaklah kalian mengatakan sedikit saja dari perkataan itu kecuali dia mengetahui bahwa itu bukanlah hal yang batil. Namun sebutan yang paling pas untuk dia, hendaklah kalian mengatakannya sebagai penyihir. Dia datang membawa kata-kata yang menyerupai penyihir, yang bisa memisahkan anak dari bapaknya, seseorang dari saudaranya, suami dari istrinya, saudara dari kerabat dekatnya, sehingga mereka terpecah belah karenanya”, kata Al-Walid.

Begitulah diskusi kaum Quraisy pada waktu itu. Perkataan-perkataan dakwah Rasul yang merupakan kebenaran dituduh sebagai bagian dari kata-kata yang menyerupai sihir. Sehingga Rasul pun dituduh sebagai penyihir yang bisa memisahkan anak dari bapaknya, seseorang dari saudaranya, suami dari istrinya dan lain sebagainya melalui perkataan manis Rasul itu. 

Tentang apa yang dilakukan Al-Walid, Allah telah menurunkan 14 ayat dalam surah Al-Mudatsir, dari ayat 11-26, salah satunya disebutkan tentang bagaimana ia memerangi pikirannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudia ia memikirkan, setelah itu dia bermasam muka dan mengerut, kemudian ia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu), ini tidak lain hanya perkataan manusia” (Al-Mudatsir :18-25).

Semua yang hadir dalam pertemuan itu menyepakati ide itu, maka mereka memutuskan untuk melaksanakannya. Dari itu, mereka duduk di pinggir-pinggir jalan yang dilewati orang-orang tatkala mereka datang ke kota Mekkah, sehingga tak seorang pun yang lewat kecuali mendapat peringatan tentang Muhammad dan mereka juga menyebutkan ciri-cirinya. Orang pertama yang melakukan perbuatan tersebut adalah Abu Lahab. 

(Al-Mubarakfury, Syaikh Syafiyurrahman. 1993. Sirah Muhammad. Jakarta : Abdika Press. Hlm : 131-132)
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar