PERIODE MADINAH part 1 (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)

PERIODE MADINAH part 1 (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)

PERIODE MADINAH part 1 (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)



PERMULAAN HIJRAH

Setelah peristiwa baiat Aqabah, islam telah memiliki sinyal dan keluarga tersendiri di luar Mekkah. Mereka adalah beberapa orang muslim Yastrib (dari suku Aus dan Khazraj) yang pernah berjanji setia kepada Nabi. 

Dilatar-belakangi oleh semakin gencarnya penyiksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy di Mekkah, maka kaum muslimin pun melakukan hijrah ke Yastrib menemui saudaranya di sana. Peristiwa hijrah ini merupakan babak baru dalam perluasan dakwah islam yang terpola cukup efektif. Dimana, ketika Quraisy menyiksa dan membuat kaum Muslimin harus menyelamatkan diri dan aqidahnya, justru kaum Anshar dapat menerima mereka dengan senang hati. Maka, peristiwa hijrah ini sangat layak jika dijadikan sebagai moment awal perubahan ke arah perluasan dan penyebaran kebenaran ke seluruh permukaan bumi. Peristiwa hijrah ini juga lah yang menjadikan muharram sebagai bulan awal dari penanggalan tahun hijrah serta menjadikannya sebagai tahun pertama hijriah. 


HIJRAH NABI

Nabi tidak berangkat hijrah bersama umat islam lainnya yang telah berangkat terlebih dahulu. Nabi masih tetap tinggal di Mekkah beberapa saat hingga turun perintah Allah untuk hijrah. Sebelum keberangkatan Nabi ini, beberapa pemuka Quraisy berkumpul pada pertemuan anggota parlemen Mekkah di Darun Nadwa. Keputusan akhir dari perkumpulan itu memandatkan kepada beberapa orang tertentu untuk membunuh Nabi dengan segera.Setelah pertemuan itu, Jibril mengabarkan kepada Nabi bahwa Allah telah mengizinkannya untuk hijrah. 

Nabi hijrah bersama Abu Bakar. Dalam perjalanannya, Nabi bersama Abu Bakar meninggalkan rumah pada malam 27 shafar tahun ke-14 kenabian.  Mereka berjalan pada malam hari. Mereka tau persis bahwa perjalannya akan diikuti oleh kaum Quraisy. Hingga akhirnya mereka harus bersembunyi di dalam gua. Peristiwa ini masyhur di dalam sejarah islam. 

Setelah 3 hari kaum Quraisy Mekkah tidak membuahkan hasil dalam pencariannya, di mana ketika itu Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gua, maka Nabi dan Abu Bakar pun melanjutkan perjalanan ke Madinah. Hingga sampai di Madinah, rombongan Nabi disambut dengan gemah takbir.


KEHIDUPAN MADINAH

Masyarakat Madinah pada saat itu terbagi atas 3 kelompok besar. Yaitu umat muslim sendiri, orang-orang musyrik (termasuk tokoh-tokoh munafikin) dan orang-orang Yahudi. Kelompok-kelompok inilah yang dihadapi Nabi. Di mana keadaan satu kelompok sangat berbeda jauh dengan kelompok yang lainnya. 

Umat islam terdiri dari kaum Muhajirin (Mekkah) dan Anshar serta beberapa kabilah lainnya. Kaum Anshar ini pun terdiri dari suku Aus dan Khazraj yang pada awalnya saling memiliki dendam masa lalu antara satu dengan yang lainnya. Kaum musyrikin terdiri dari mereka yang ragu untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka namun juga tidak berani untuk menyerang umat muslim. Diantara mereka juga terselubung kaum munafikin. Diantara tokohnya adalah Abdullah bin Ubay. Pada awalnya, setelah perang Bu’ats sebenarnya suku Aus dan Khazraj telah sepakat untuk mengangkat Abdullah bin Ubay sebagai raja mereka. Kondisi inilah yang menjadi awal kebencian Abdullah bin Ubay kepada Nabi yang dianggap telah menggagalkan pengangkatan itu. Akhirnya jadilah ia sebagai tokoh munafikin, yang tidak seutuhnya memeluk islam tapi juga tidak berani menyerang Nabi dengan terang-terangan.


MEMBANGUN MASYARAKAT BARU

Ketika awal kedatangan Nabi di Madinah, Nabi pun mulai membangun masyarakatnya. Diantara, Nabi membangun masjid Nabawi. Selain itu, Nabi juga mempersaudarakan antara orang muslim Muhajirin dengan Muslim Anshar agar tercipta budaya saling tolong-menolong, saling memberi dan sebagainya. Hikmahnya adalah agar fanatisme yang diwarisi tradisi jahiliyah menjadi lenyap dan hanya islamlah yang mereka belah.Nabi juga mengikat kaum muslim dengan janji persatuan serta menanamkan nilai-nilai dalam masyarakat.

Setelah mengeratkan persaudaraan sesama umat islam, Nabi juga membuat beberapa kesepakatan dengan tetangga-tetangga lainnya. Diantaranya seperti perjanjian damai dengan Yahudi. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk wanti-wanti jikalau ada beberapa masalah yang tersangkut di kemudian hari, sekaligus sebagai bentuk untuk membuat kondisi masyarakat terasa nyaman dan tentram. Dengan berbagai macam kebijakan yang dipelopori oleh Nabi ini, maka secara tidak langsung Madinah merupakan sebuah negara yang makmur dengan ibu kota Madinah, serta Rasulullah adalah presidennya.


IZIN PERANG

Segala kemungkinan telah diantisipasi agar tercipta kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai. Namun, gangguan di sana-sini selalu saja menghantui kehidupan umat islam di Madinah. Diantaranya gangguan Quraisy dan persekongkolannya dengan Abdullah bin Ubay, teror dari orang-orang Quraisy kepada orang-orang Muslim di Madinah melalui surat dan lain-lain.

Dalam keadaan serba mencekam, seperti ancaman yang datang dari pihak Quraisy yang tak pernah jera dan terus menerus walaupun sudah hijrah ke Madinah, maka Allah menurunkan sebuah wahyu yang mengizinkan orang-orang muslim untuk berperang melalui surah Al-Hajj ayat 39. 

Izin perang ini pun hanya bertujuan untuk menghilangkan kebatilan dan menegakkan ajaran agama Allah. Seperti yang diterangkan dalam surah Al-Hajj ayat 41. Dalam sejarahnya, Nabi hanya akan menggaungkan perang jika dalam keadaan tertentu. Seperti, diganggu oleh golongan lain, ada upaya jahat dari kaum lain, membelah diri terhadap umat muslim yang diserang, penolakan ajakan islam sekaligus pernyataan perang dari kaum lain, maupun pengkhianatan terhadap perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Selain itu, Nabi juga mengajarkan batasan-batasan dalam peperangan.

Selama periode Madinah, umat islam selalu dihadapkan dengan banyak peperangan. Sisi positif dengan adanya peperangan ini adalah untuk meneguhkan pendirian terhadap islam, penyebaran pengaruh kekuasaan islam, juga pemusnahan kebatilan di muka bumi. Melalui beberapa peperangan inilah islam memberikan pengaruh yang luas bahwa kebatilan akan segera musnah dan yang haq akan berdiri kokoh.

Beberapa perang dialami oleh umat muslim. Beberapa kali kalah dan tidak sedikit selalu mengalami kemenangan yang pada akhirnya akan menumbuhkan kejayaan. Berikut beberapa perang besar semasa hidup Rasulullah SAW :


ü  Perang Badar
Izin perang telah diturunkan. Sementara gangguan Quraisy tidak ada habisnya, baik setelah mereka hijrah maupun sebelum hijrah. Jika diingat, bahwa kaum Quraisy telah menorehkan permusuhannya sendiri dengan umat Muslim ketika di Mekkah dengan prilaku yang keji. Akibat perlakuan yang tidak manusiawi terhadap pengikut Muhammad itulah kemudian umat muslim hijrah ke Madinah untuk mencari perlindungan setelah diusir dari kampung halamannya sendiri. 

Suatu hari ketika kafilah dagang Quraisy pulang dari Syam, hal ini merupakan kesempatan emas untuk membuktikan kekuatan umat islam. Peristiwa ini merupakan latar belakang terjadinya perang Badar. 

Pada peperangan Badar ini, umat islam hanya berjumlah 313 pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Sementara dari pasukan Mekkah berjumlah 3 kali lebih banyak dari jumlah umat islam. 

Pada saat perang badar, bendera berwarna putih dipegang oleh Mush’ab bin Umair Al-Qursyi Al-Abdari. Sementara umat islam dibagi atas 2 batalyon, batalyon dari kalangan Muhajirin yang benderanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Batalyon Anshar benderanya dipegang oleh Sa’ad bin Mu’adz. Komandan sayap kanan diserahkan kepada Sa’ad bin Mu’adz dan sayap kiri diserahkan kepada Al-Miqdad bin Amr dan pertahanan garis belakang diserahkan kepada Qais bin Sha’sha’ah. Sementara Rasulullah menjadi komando tertinggi.

Peperangan ini terjadi di sekitar sumur badar, sehingga lazim disebut perang badar. Pada peperangan ini, para malaikat juga ikut andil untuk memenangkan laga. Dalam perang ini, Rasulullah sempat berdo’a, “Jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi ya Allah. Kecuali memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini”. Pada akhirnya, umat muslim memperoleh kemenangan yang gemilang.


ü  Perang Uhud
Perang Uhud merupakan bentuk dari balas dendam kaum Quraisy Mekkah terhadap kekalahan yang membebani mereka saat perang Badar. Pada peperangan ini, komando tertinggi pasukan Quraisy Mekkah dipercayakan kepada Abu Sufyan bin Harb. 

Sedangkan pasukan muslimin sudah mendengar kabar tentang rencana pembalasan Quraisy Mekkah. Maka, Rasul pun membagi pasukan menjadi 3 kelompok, kelompok Muhajirin bendera perangnya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Abdary, kelompok Aus yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair serta kelompok Khazraj benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh. Pada perang kali ini, pasukan muslim berjumlah seribu prajurit. 

Setelah ada insiden pemunduran diri pengikut Abdullah bin Ubay (kelompok munafikin), pasukan muslim berkurang menjadi 700 prajurit. Peperangan ini terjadi di sekitar gunung uhud, sehingga lazim disebut perang uhud. 

Pada peperangan ini, Rasulullah menunjuk satu datasemen yang terdiri dari para pemanah ulung yang dikomandoi Abdullah bin Jubair. Rasulullah memerintahkan agar mereka menempati posisi di atas bukit. Rasul sempat memberikan komando kepada kelompok pemanah dengan mengatakan, “Lindungilah kami dengan anak panah, agar lawan tidak menyerang kami dari arah belakang. Dan tetaplah kalian di tempat, meski kami mendapat kemenangan ataupun dalam keadaan terdesak, agar kami tidak diserang dari arahmu”.

Perintah Rasul pun dikuatkan lagi dengan mengatakan, “Lindungilah punggung kami, jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami tengah mengumpulkan harta rampasan, maka kalian tak usah turun dan tak perlu ikut bergabung dengan kami”.

Pada pertengahan peperangan, pasukan muslim sempat memperoleh kemanangan. Namun, pasukan pemanah pada saat itu, melakukan kesalahan yang fatal. Pada saat para pasukan sedang mengumpulkan harta rampasan, para pemanah turun, padahal sebelumnya Rasul telah melarangnya. 

Kejadian ini membuat kondisi berbalik arah 180 derajat. Pasukan Quraisy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan memutar haluan pasukan hingga tiba di belakang arah. Sisa pasukan pemanah yang berada di belakang, tentu tidak mampu menghadapi pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk islam). Hingga pasukan Quraisy yang awalnya hampir kalah, bisa melihat babak baru dalam pertempuran. Hingga akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Dan pasukan muslim harus menelan kekalahan akibat kesenangan duniawi semata.

ü  Perang Ahzab (perang Khandak)
Perang Ahzab merupakan perang gabungan antara Yahudi (yang diusir dari Madinah akibat adanya upaya untuk menyerang umat islam Madinah) dengan Quraisy Mekkah melawan pasukan Rasulullah. Pada peperangan ini pasukan musuh berjumlah mencapai sepuluh ribu pasukan. 

Tak ayal, apa yang akan terjadi dengan umat islam untuk melawan pasukan musuh dengan jumlah melebihi jumlah penduduk Madinah mulai dari anak-anak, wanita sampai orang tua. Namun, untuk mengatasi ancaman itu, telah disepakati usulan cerdas dari sahabat bernama Salman Al-Farisy. Pada saat itu, Salman Al-Farisy mengemukakan pendapat, “Wahai Rasulullah, dulu jika kami orang-orang Persia dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami”. Atas usulan itu pun Nabi dan para sahabat lainnya bekerja membangun parit. Waktu itu, tidak biasa dikenal di kalangan bangsa Arab tentang strategi perang dengan membangun parit.

Langkah membangun parit ini pun sangat efektif. Sebab, dengan dibangunnya parit maka pasukan musuh tidak dapat menyerang pertahanan umat islam Madinah. Tidak ada adu senjata dan fisik dalam peperangan ini. Namun, ini merupakan perang urat saraf sekaligus tipu daya untuk saling mengungguli. Perang ini sama-sama mendebarkan pada satiap pasukan.

Allah pun telah mengutus angin tiufan yang memporak-porandakan kemah pasukan musuh yang tidak dapat melakukan perlawanan apa-apa akibat adanya parit. Allah juga menanamkan rasa takut kepada mereka. Akhir dari peperangan ini, ditutup dengan putus asanya pasukan musuh dan kembali ke Mekkah.

Masih banyak peperangan selama periode Madinah ini. Bisa dikatakan, selama periode Madinah selalu ada perang yang berkecamuk. Namun, tiga perang di atas merupakan peperangan besar dalam sejarah periode Madinah pada episode pertama ini. Dampak dari peperangan ini adalah semakin kuatnya pamor umat islam serta semakin mampu melemahkan kekufuran dan kebodohan di muka bumi. 


PERJANJIAN HUDAIBIYAH 

Setelah 6 tahun terakhir (pasca hijrah ke Madinah), orang-orang islam dihalangi untuk melakukan haji di Masjidil Haram, Nabi mengumumkan kehendaknya untuk melakukan ibadah umrah. Segala persiapan telah dikemas dengan matang. Pada kesempatan ini, rombongan umat islam yang berjumlah 400 orang hanya berniat untuk umrah dan tidak akan melakukan perang dengan Quraisy Mekkah. 

Berita tentang kepergian umat islam ke Masjidil Haram diketahui oleh Quraisy Mekkah. Mereka berniat menghalang-halangi orang muslim memasuki Masjidil Haram. Dalam kesempatan itu, diutus beberapa utusan Quraisy untuk menyampaikan beberapa berita. Diantaranya agar umat muslim mengurungkan niatnya pergi ke masjidil haram untuk menghindari peperangan yang sudah dipersiapkan oleh Quraisy Mekkah. Namun, rombongan Nabi tetap melanjutkan perjalanan ke Mekkah dan mengatakan bahwa niatan rombongan Nabi bukan untuk berperang.

Utusan itu pun kembali. Namun, Quraisy Mekkah tetap tidak puas dengan kabar ini. Dan mengirimkan utusan yang lainnya lagi. Setelah beberapa utusan dikirim dan memperoleh jawaban Nabi seperti semula, Quraisy Mekkah pun terpecah kepada 2 bagian. Yaitu, bagian pemuda Quraisy yang bersemangat untuk berperang dan generasi tua yang lebih memilih untuk mengambil jalan damai dan gencatan senjata. Akhirnya disepakati jalan tengah untuk menyusup ke barisan umat islam. Namun, usaha ini dapat digagalkan, dan pasukan musuh bisa ditangkap. Seperti niatan awal yang hanya ingin berdamai, Nabi pun memaafkan pasukan penyusup itu.

Setelah itu, Nabi pun bermaksud menjelaskan tujuan utama dari perjalanan rombongan Madinah kali ini dengan mengutus Utsman bin Affan. Setelah menyampaikan penjelasan, Ustman dihalang-halangi kembali ke rombongan Nabi. Sampai-sampai tersebar isu terbunuhnya Ustman oleh Quraisy Mekkah. Hingga Nabi pun membaiat para sahabat untuk tidak melarikan diri.

Waktu orang Quraisy dalam keadaan kritis, muncul Suhail bin Amr sebagai utusan Quraisy. Kedatangannya untuk memenuhi perundingan damai (sebab, Quraisy Mekkah juga was-was jikalau terjadi perang dan hasilnya di luar prediksi. Apalagi masih membekas trauma perang Badar). Suhail dan Nabi memperbincangkan mengenai perjanjian yang harus dicapai. Perjanjian inilah yang terkenal dengan istilah perjanjian Hudaibiyah. Sebab perjanjian ini dibuat di Hudaibiyah.

Diantara isi perjanjian Hudaibiyah itu adalah :
a.    Nabi diminta kembali ke Madinah pada tahun ini, dan boleh memasuki Mekkah dengan orang-orang islam lainya pada tahun berikutnya.
b.    Gencatan senjata antara orang muslim dan Quraisy berlangsung selama 10 tahun.
c.    Siapa pun yang bergabung dengan Muhammad dan perjanjiannya dipersilahkan. Begitu juga sebaliknya.
d.    Siapa pun yang melarikan diri dari pihak Quraisy tanpa izin dari walinya dan mendatangi Muhammad maka dia harus dikembalikan kepada Quraisy. Namun, siapapun yang melarikan diri dari Muhammad dan bergabung dengan Quraisy maka dia tidak dikembalikan. 

Hikmah perjanjian ini adalah bahwa Quraisy telah mengakui keberadaan umat islam. Perjanjian Hudaibiyah ini juga merupakan bentuk bahwa Quraisy tidak sanggup untuk menghadapi umat muslim. Pada akhirnya memberikan keuntungan bagi umat muslim. 

Artikel sebelumnya, periode Mekkah. Artikel selanjutnya, Periode Madina part 2.



Medan, 16 januari 2012
Bangsur_5:07
Buka Komentar