Skip to main content

Periode Madina part 2 (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)


Perjanjian Hudaibiyah merupakan babak baru bagi sejarah perkembangan islam. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, maka satu kekuatan musuh islam sudah dapat dikendalikan. Perjanjian ini merupakan bentuk perdamaian dan gencatan senjata sekaligus awal dari tumbangnya peranan kaum paganis di Jazirah Arab.

Beberapa peperangan juga memberikan kontribusi bahwa posisi umat islam semakin punya tempat untuk mendakwahkan islam secara bebas. Sebab, pada awalnya perang yang dihadapi umat islam bukanlah bentuk dari kanibalisme manusia, atau untuk merampas harta benda musuh, membunuhnya atau memaksa mereka memeluk agama islam, tetapi peperangan itu dimaksudkan untuk menciptakan kebebasan yang sempurna bagi umat manusia dalam persoalan agama dan aqidah. Hal ini diisyaratkan dalam surah Al-Kahfi ayat 29.

Dengan situasi yang cukup kondusif paska perjanjian Hudaibiyah, Nabi pun memanfaatkan kondisi ini untuk mendakwahkan islam di kalangan raja-raja yang berkuasa pasa saat itu.

SURAT-MENYURAT ANTARA NABI DAN PARA RAJA

Proses dakwah yang dilakukan Nabi dengan para raja yang berkuasa adalah melalui surat-menyurat. Surat itu, berisi ajakan untuk memeluk islam. Diantara mereka yang menerima surat Nabi ada yang tunduk untuk memeluk islam, ada yang menyatakan sikap tidak memeluk islam namun tunduk di bawah bendera islam, juga tidak sedikit yang justru mengabaikan surat Nabi bahkan menentangnya hingga pecah beberapa peperangan.

Berikut beberapa raja yang dikirimi surat oleh Nabi :

a. Surat kepada Najasyi, raja Habasyah


Raja Habasyah merupakan raja yang dikenal keadilannya. Dia tidak menghendaki rakyat yang dipimpinnya tertindas. Di dalam kekuasaannya, Najasyi adalah raja orang-orang Nasrani. Umat islam pada awal periode Mekkah juga pernah hijrah ke Habasyah untuk mencari perlindungan di daerah kekuasaan raja yang adil ini. Saat periode Madina, Rasul pun menyurati Najasi, raja Habasyah untuk mendakwahkan islam kepadanya. Dan misi Rasul pun berhasil dengan pernyataan Najasyi untuk memasrahkan diri kepada Allah (masuk islam).

Isi surat itu, kira-kira berbunyi seperti ini : “Dari Muhammad Sang Nabi, kepada Najasyi, Al-Ashham pemimpin Habasyah. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tiada illah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang tidak mempunyai rekan pendamping dan anak, dan Muhammad merupakan hamba dan rasulNya. Aku menyeru pada Tuan dalam seruan islam, bahwa aku adalah rasulNya. Masa masuklah islam niscaya Tuan akan selamat” kemudian Nabi juga menuliskan surah Ali Imran ayat 64, sembari menutup suratnya dengan himbauan, “dan jikalau Tuan menolak, maka Tuan akan menanggung dosa orang-orang Nasrani dari kaum Tuan”.

b. Surat kepada Muqauqis, raja Mesir

Nabi juga mengirim surat kepada Juraij bin Mata yang bergelar raja Muqauqis, raja Mesir dan Iskandaria yang beragama Masehi saat itu. Surat itu dikirimkan melalui seorang utusan bernama Hathib bin Abu Baltha’ah. Redaksi surat Nabi ini, hampir sama dengan surat yang dikirim kepada raja Najasyih. Namun, raja Mesir ini hanya membalas surat Nabi disertakan memberi hadiah dua gadis yang mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat Qibthi dan beberapa kain. Serta menghadiahkan pula seekor baghal sebagai tunggangan. Balasan surat raja Mesir ini ditulis sedemikian rupa tanpa ada pernyataan apakah ia bersedia memeluk islam atau tidak.

Dua gadis yang dihadiahkan kepada Nabi adalah Mariyah dan Sirin. Mariyah inilah yang kemudian diperistri oleh Nabi dan melahirkan anak bernama Ibrahim. Sedangkan Sirin diberikan kepada Hasan bin Tsabit Al-Anshary.

c. Surat kepada raja Persia

Raja Persia bernama Kisra. Ia adalah raja orang-orang Majusi. Nabi mengirim surah kepadanya dengan seruan islam. Namun ketika Kisra telah membacanya, ia pun merobek-robek surat itu. Kemudian dengan congkak berkata, “Seorang budak yang hina dina dari rakyatku pernah menulis namanya sebelum aku berkuasa”. Setelah mendengar apa yang dikatakan Kisra, Nabi bersabda, “Allah akan mencabik-cabik kerajaannya”. Dan Kisra benar-benar mengalami seperti apa yang dikatakan Nabi. Waktu itu terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap Kisra yang justru berasal dari lingkup keluarganya sendiri. Kisra akhirnya mati ditangan anaknya sendiri yang merebut kekuasaannya.

d. Surat kepada Heraklius, raja Romawi

Kepada Heraklius, raja Romawi, Nabi mengutus Dihyah bin Khalifah Al-Kalby. Nabi memerintahkan agar surat disampaikan kepada pimpinan Basrah terlebih dahulu, agar pimpinan Basrah itu menyampaikannya kepada raja Romawi.

Setelah surat itu sampai kepada Heraklius, diriwayatkan bahwa terjadi pertemuan antara Heraklius dengan rombongan Abu Sufyan yang ketika itu berada di Baitul Maqdis. Mereka berdialog, bertanya-jawab tentang pribadi Nabi serta ajarannya. Diujung pertemuan, Heraklius mengatakan, “Jauh sebelumnya aku sudah menduga akan hadir orang yang seperti itu, dan aku tak menduga kalau dia berasal dari kalangan kalian. Andaikan aku bebas bertemu dengan dia, maka aku memilih bertemu langsung dengannya. Andaikan aku berada dihadapannya, maka akan aku basuh kedua telapak kakinya”.

e. Surat kepada Al-Mundzir bin Sawa

Rasul juga mengirim surat kepada Al-Mundzir bin Sawa, pemimpin Bahrain yang berisi seruan agar dia masuk islam. Setelah Al-Mundzir bin Sawa membaca surat Nabi, ia pun membalasnya dengan mengatakan bahwa, “Diantara rakyat Bahrain ada yang menyukai islam dan kagum. Kemudian mereka memeluknya. Namun ada juga yang tidak menyukainya. Sedangkan di negeriku ada orang-orang Majusi dan Yahudi. Maka tulislah lagi surat kepadaku yang bisa menjelaskan urusan Tuan”.

Maka dari itu, Nabi pun menulis surat kembali dengan himbauan agar membiarkan orang muslim. Dan siapa yang ingin melindungi orang Majusi atau orang Yahudi, maka dia harus membayar Jizyah.

f. Surat kepada Haudzah bin Ali al-Hanafi

Haudzah bin Ali Al-Hanafy adalah seorang pemimpin Yamamah. Setelah ia membaca surat dari Nabi, ia pun membalas suratnya dengan mengatakan, “Sungguh bagus dan baik apa yang telah Tuan serukan, sementara itu orang-orang Arab banyak yang takut terhadap kekuasaanku. Jika Tuan mau memberikan sebagian urusannya kepadaku, tentu aku setuju mengikuti Tuan”.
Balasan ini, bersifat politis duniawiyah. Sehingga Rasul pun mengatakan, “Jika dia meminta sepetak tanah kepadaku, maka aku tak kan memberikannya. Cukup, cukup apa yang dimilikinya saat ini”.
Sementara itu, Nabi juga menyeru pemimpin Damascus Al-Harits bin Abu Syamr Al-Ghassany dengan seruan yang sama terhadap raja-raja sebelumnya. Namun, pemimpin Damascus ini tidak mau memeluk islam.
g. Surat untuk Raja Oman

Kepada raja Oman, Rasul mengirim surat kepada Jaifar dan saudaranya Abdu bin Al-Julunda. Sempat terjadi beberapa percakapan yang menyita waktu beberapa hari antara utusan Nabi dengan raja Oman. Namun akhirnya, kedua bersaudara itu memenuhi seruan Nabi untuk masuk islam dan beriman kepada Nabi SAW.

PERANG KHAIBAR

Khaibar merupakan markas utama konspirasi dan pengkhianatan, pangkalan militer, dan sumber pemicu peperangan dan permusuhan. Khaibar adalah daerah penduduk Yahudi yang menjadi lawan umat muslim. Oleh karenanya, sudah saatnya Khaibar menjadi sasaran serangan orang Muslim. Di samping, penduduknya telah menghimpun pasukan untuk menyerang pasukan muslim, mereka juga menjalin hubungan dengan Bani Quraizha untuk melanggar perjanjian damai dan berkhianat. Selain itu juga menjalin hubungan dengan orang-orang munafik. Penyebab ini, menjadi faktor pecahnya perang Khaibar.

Khaibar memeliki beberapa benteng. Namun, semua benteng bisa dikuasai dan kemenangan berada di pihak pasukan muslim. Jumlah orang muslim yang mati syahid dalam peperangan Khaibar sebanyak 16 orang. Setelah penaklukan Khaibar ini, terjadi beberapa perang kecil dan tidak jarang pasukan muslim memperolah kemenangan, yang terkadang tanpa perlawanan.

FATHUL MEKKAH

Mekkah adalah daerah di mana rumah Allah, Masjidil Haram berada. Sehingga, sangatlah wajar jika suatu hari umat islam sangat mendambakan mampu merebut kembali sumber peradaban islam itu, setelah sekian tahun umat islam diusir dari tempat tinggalnya. Allah pun kemudian mempunyai kehendak tersendiri untuk merekayasa agar Masjidil Haram bisa dikuasai kembali oleh umat islam.

Fathul Mekkah merupakan skenario Allah agar kesucian tempat ibadah umat islam itu bisa dimiliki kembali oleh umat islam. Ibnu Qayyim mengatakan, “ Fathul Mekkah merupakan penaklukan yang direkayasa Tuhan untuk memuliakan agama, Rasul dan pasukan muslim. Dengan penaklukan ini pula Allah ingin menyelamatkan rumahNYA, yang diyakini sebagai petunjuk bagi semesta alam. Allah menyelamatkannya dari tangan-tangan kotor orang musyrik. Fathul Mekkah merupakan kabar gembira yang datang dari langit, yang membuat semua manusia berbondong-bondong memeluk agama islam. Dan pada akhirnya, bumi menjadi bercahaya karenanya, penuh kebahagiaan”.

Pada perjanjian Hudaibiyah, salah satu butirnya mengatakan bahwasannya barang siapa yang mengikuti Muhammad dan isi perjanjiannya maka ia diperbolehkan, demikian sebaliknya barang siapa yang mau bergabung dengan pihak Quraisy dan isi perjanjiannya, maka dia juga diperbolehkan. Kabilah yang masuk ke dalam salah satu dari dua golongan tersebut dianggap telah menjadi bagiannya juga. Oleh karenannya siapa yang menyerang kabilah yang bergabung dianggap penyerangan terhadap pihak sekutunya pula.

Namun, di sisi Bani Bakr (sekutu Quraisy) kesempatan ini digunakan untuk balas dendam terhadap Khuza’ah (sekutu umat islam). Naufal bin Muawiyah Ad-Daily dari Bani Bakr melakukan penyerangan terhadap Khaza’ah yang ketika itu sedang di Al-Watir, salah satu tempat mata air yang mereka miliki. Sehingga menimbulkan korban. Pada penyerangan ini, Quraisy memiliki andil sebagai pemberi bantuan senjata, juga ikut bergabung dalam upaya pembunuhan mendadak dari Bani Bakr terhadap Khuza’ah. Hingga berita ini didengar oleh Nabi.

Peristiwa ini merupakan pelanggaran luar biasa yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap perjanjian yang selama ini dihormati. Atas kekhilafan ini, Abu Sufyan dikirim ke Madinah untuk memperbaharui perjanjian, namun Nabi tidak menanggapinya. Sehingga Abu Sufyan pun pulang dengan tangan hampa. Yang berarti, kecelakaan maha dahsyat akan diterima oleh kaum Quraisy Mekkah.

Rasulullah memerintahkan supaya orang-orang muslim Madinah mempersiapkan diri untuk menyerang Quraisy Mekkah. Nabi menghendaki agar rencana ini dirahasiakan.

Ketika melihat pasukan umat islam yang hendak menyerang Quraisy Mekkah, Abu Sufyan pun terkagum. Terjadi percakapan antara Al-Abbas dan Abu Sufyan ketika keduanya berpapasan. Al-Abbas yang juga paman Nabi ini menyarankan kepada Abu Sufyan, yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Nabi agar bersaksi di hadapan Nabi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Abu Sufyan pun menyatakan diri memeluk islam menjelang peperangan besar ini.

Jumlah pasukan Nabi begitu banyaknya. Orang-orang Quraisy pun mulai gentar mendengar kedatangan pasukan Nabi. Saat itu, orang-orang Quraisy terpecah. Ada yang memilih mencari perlindungan di rumah Abu Sufyan yang sebelumnya telah dijamin keamanannya oleh Nabi. Ada pula yang memilih untuk menyerang Nabi.

Nabi dan pasukannya melanjutkan perjalanannya ke Mekkah hingga sampai di Dzi Thuwa. Di tempat ini Nabi membagi pasukan. Kahlid bin Al-Walid ditempatkan di sayap kanan bersama Bani Aslam, Sulaim, Ghifar, Muzainah, dan Juhainah serta beberapa kabilah Arab lainnya. Nabi meminta pasukan Khalid memasuki Mekkah dari dataran rendah Mekkah. Nabi bersabda, “Jika ada orang kafir menghalangi kalian maka perangilah, dan tunggu kedatanganku di Shafa”.

Terhadap pasukan Az-Zubair, Nabi menempatkannya di posisi kiri dan meminta mereka memasuki Mekkah dari dataran tinggi. Zubair membawa bendera Nabi dan menancapkannya di Al-Huzun dan tidak boleh meninggalkan tempat itu hingga Nabi datang. Sedangkan Abu Ubaidah diperintahkan untuk memasuki Mekkah dari arah muka bersama Rasulullah.

Setiap pasukan melaksanakan tugas masing-masing dan berhasil. Sementara Rasul melanjutkan perjalanan memasuki Mekkah bersama pasukan muslim. Nabi memasuki Masjidil Haram, mencium Hajar Aswad, berkeliling Ka’bah. Saat Nabi membaca surah Al-Isra’ ayat 81 dan saba’ ayat 49 berhala-berhala pun roboh.

Nabi melakukan Thawaf. Kemudian memanggil Utsman bin Thalhah dan memintanya mengambil kunci Ka’bah. Setelah itu Nabi memerintahkan agar semua gambar yang ada di dalam Ka’bah dihancurkan.

Rentetan peristiwa pun terjadi. Pendosa-pendosa besar dihukum. Beberapa pendosa dihukum mati. Seperti Abdul Uzza, Abdullah bin Abu Sarh, Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Harist bin Nufail dan masih banyak lagi.

Pada hari kedua di Mekkah, Nabi menghadap kepada semua orang dan menyampaikan pidato yang berisi tentang pernyataan kesucian Masjidil Haram, larangan membunuh di dalamnya dan larangan menebang pohon. Nabi pun pernah menuliskan isi pidatonya itu.

Peristiwa penyerangan umat islam ke Mekkah memberikan dampak yang baik. Banyak penduduk Quraisy yang membuka mata untuk melihat kebenaran. Mereka yang mulai mendekatkan diri dengan islam, diambil sumpahnya oleh Nabi.

Nabi tinggal di Mekkah selama sebelas hari dan menorehkan tinta emas kejayaan islam waktu itu. Peristiwa inilah yang mashur disebut sebagai fathul Mekkah. Fathul Mekkah (Penaklukan Mekkah) merupakan prestasi besar yang paling bersejarah yang telah berhasil diraih oleh orang-orang muslim kala itu. Fathul Mekkah mampu merubah total Jazirah Arab dengan menumbangkan kepercayaan paganisme.

MARHALA KE-4

PERANG HUNAIN


Fathul Mekkah terasa seperti tamparan buat bangsa Arab. Ada beberapa kabilah lagi yang belum tunduk kepada umat islam dan masih mempunyai nyali dan kuat. Kabilah ini dipelopori oleh suku Hawaiz dan Tsaqif serta beberapa suku yang bergabung. Mereka beranggapan masih layak dihormati dan tidak sudi tunduk kepada islam setelah penaklukan Mekkah. Mereka pun berhimpun dan mengambil suara bulat untuk memerangi orang muslim.

Rasulullah dan pasukan islam yang saat itu sedang berada dalam perjalanan pulang ke Madinah, mendapat serangan secara tiba-tiba. Tepatnya pada malam Rabu tanggal 10 syawal, pasukan islam tiba di Hunain dan mendapat serangan secara frontal dari pasukan lawan yang dipimpin oleh Malik bin Auf. Pasukan Nabi sempat mendapatkan kekalahan, namun di akhir pertempuran kemenangan tetap berada di pihak umat islam.

Pada pertempuran itu, umat islam sempat merasa sombong. Melihat jumlahnya yang banyak, ada yang berkata, “Kali ini kita tidak mungkin dikalahkan”. Namun, justru kesombongan ini nyaris membuat pasukan muslim kalah. Pelajaran berharga, bahwa apabila ada kesombongan dan kecintaan duniawi, maka pasukan sehebat umat muslim ini pun akan segera terkalahkan layaknya pada perang Uhud dan perang Hunain.

PERANG TABUK

Setelah fathul Mekkah, kekuatan umat islam mampu merambah hampir semua Jazirah Arab. Musuh-musuh bebuyutan umat islam yang menyerang dari dalam pun sudah mampu dilumpuhkan. Namun, masih ada kekuatan eksternal yang menghantui umat islam. Kekuasaan Romawi waktu itu merupakan kekuasaan yang maha besar yang bisa saja menghabisi gerak langkah dakwah islamiyah dari luar.

Perang tabuk merupakan perang antara umat islam dengan kekuatan Romawi. Awal permusuhan terjadi ketika utusan Nabi, Al-Harits bin Umair yang diperintahkan membawa surat untuk pemimpin Bashrah dibunuh oleh Surahbil bin Amr Al-Ghassany. Setelah mengetahui berita itu, Nabi mengutus pasukan Zaid bin Haritsah, yang kemudian bentrok dengan pasukan Romawi di daerah Mu’tah pada peperangan Mu’tah. Walaupun pasukan Romawi tidak berhasil membawa kemenangan, namun masih menyisahkan dendam di sisi pemimpin Romawi.

Berita rencana penyerangan Romawi pun cukup menggemparkan Madinah. Sebab, bisa dikatakan bahwa kekuatan Romawi bukanlah kekuatan yang bisa diremehkan. Bahkan rencana penyerangan itu pun sangat membuat umat islam kalut dan merasakan ketakutan yang luar biasa.

Atas beberapa pertimbangan, maka mau tidak mau Nabi memutuskan untuk berperang. Nabi pun mengumumkan perang kepada beberapa kabilah dan meminta mereka untuk mau bergabung menyambut perang. Sesuatu yang jarang sekali dilakukan Nabi. Namun, karena pasukan yang akan dihadapi begitu besar, sehingga cara ini pun ditempuh juga.

Setelah pengumuman perang oleh Nabi, umat islam pun bersiap-siap menyambut peperangan. Tepat pada hari kamis pasukan muslim bergerak ke arah utara menuju Tabuk. Sesampainya di Tabuk, Nabi mencoba membakar semangat pasukan dan menyampaikan pidato. Nabi menganjurkan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, memberi peringatan dan ancaman, menyampaikan berita gembira juga ancaman yang mengerikan.

Sementara itu, pasukan Romawi yang mendengar bahwa Nabi sedang menghimpun kekuatan besar, merasa ketakutan. Dengan ketakutan yang luar biasa itu, maka Yuhannah bin Ru’bah, menghadap Nabi untuk menawarkan perjanjian damai. Mereka sanggup menyerahkan jizyah kepada pasukan muslim. Begitu pula apa yang dilakukan oleh Jarba’ dan Adruj. Akhirnya, dengan perjanjian itu, wilayah kekuasaan islam semakin luas.

Efek keberhasilan umat islam dalam perang Tabuk memberikan pamor kekuatan umat islam di Jazirah Arab. Diyakini ketika itu tidak ada kekuatan yang mampu bertahan kecuali kekuatan islam. Bekas-bekas permusuhan yang ada dalam hati orang-orang munafik dan orang jahiliyah pun terhapus sedikit demi sedikit.

MANUSIA BERBONDONG-BONDONG MASUK ISLAM

Fathul Mekkah merupakan peperangan final dalam menghapus paganisme secara total. Berhala-berhala dihancurkan dan musuh-musuh ditaklukan. Perlahan juga terbuka mata hati terhadap kebenaran. Sehingga bangsa Arab pun berbondong-bondong masuk islam.

Setelah penaklukan Mekkah selesai, setiap kaum langsung menyatakan islam. Realitas ini dipertegas dengan kemenangan umat islam atas perang Tabuk. Sehingga pasukan islam yang awalnya hanya berjumlah sepuluh ribu orang pada saat fathul Mekkah, kini bertambah menjadi tiga puluh ribu orang setelah perang tabuk. Padahal rentang waktu tidak sampai satu tahun. Semakin hari semakin bertambah manusia memeluk islam. Hingga pada saat haji wada’, hamparan lautan manusia bergerak di sekeliling Rasulullah seraya mengumandangkan talbiyah, takbir, tasbih dan tahmid. Suara mereka berkumandang memenuhi angkasa dan membahana ke segala penjuru dunia.

Artikel sebelumnya, periode Madinah part 1.


Medan, 16 januari 2012
Bangsur_5:07
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar