PERIODE MEKKAH (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)

PERIODE MEKKAH (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)


MARHALA PERTAMA

DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI

          Setelah turunnya surah yang memerintahkan untuk berdakwah, Rasul pun melancarkan dakwahnya. Mula-mula Rasulullah berdakwah dengan sembunyi-sembunyi kepada kerabat dekat, anggota keluarga, sahabat karib dan orang-orang yang menghendaki kebaikan. Lewat dakwah itu, kemudian muncul tokoh-tokoh awal yang memeluk islam, yang lebih dikenal dengan istilah As-Sabiqunal Awwalun.

Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan selama tiga tahun. Dengan cara ini, dakwah islam sudah mulai menyebar di kalangan orang-orang Quraisy. Awalnya orang Quraisy tidak ambil pusing dengan kegiatan Rasul ini. Namun lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir, hingga mereka menaruh perhatian terhadap dakwah Rasul ini.

Dakwah terus disampaikan hingga turun wahyu yang meminta Nabi menyampaikan dakwah secara terang-tarangan kepada seluruh kaumnya, untuk menjelaskan kebatilan, dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.

         
MARHALA KEDUA

DAKWAH TERANG-TERANGAN

          Dakwah diperluas gaungnya. Rasulullah pun mulai berdakwah di kalangan kerabat-kerabat dekat. Misalnya ketika Rasul mengundang Bani Hasyim untuk mendeklarasikan kenabian dan menyeruh mereka. Dan terjadi pro-kontra terhadap tindakan Nabi ini. Selain itu, Rasul juga pernah berdakwah di atas bukit Shafa. Tidak sedikit kaum Quraisy yang justru mungkir dari ajakan suci Nabi ini. Diantara mereka yang mungkir adalah paman Beliau sendiri, Abu Lahab.

          Dakwah secara terang-terangan ini diawali dengan turunnya surah Asy-Syu’ara ayat :214 dan Al-Hijr:94. Pada masa ini, banyak cobaan yang dialami Nabi begitu pun pengikutnya akibat ulah kaum Quraisy. Sebab, kaum Quraisy merasa harga dirinya diinjak-injak dengan seruan bahwa kedudukan berhala yang mereka sembah sama sekali tidak memiliki nilai. Kaum Quraisy melakukan beragam cara untuk mencegah dakwah Nabi. Diantaranya melalui ejekan, penghinaan, mengolok-olok dan menertawakan Nabi. Juga menjelek-jelekkan ajaran Nabi, membangkitkan keragu-raguan dan menyamakan ayat qur’an dengan dongengan orang terdahulu.

          Perjuangan dakwah Nabi pun harus dibayar dengan beragam penyiksaan. Diantaranya Nabi pernah dilempar batu, diganggu ketika berada di rumah, dilempari kotoran, hingga dilumuri isi perut unta di saat Nabi sedang sholat. Nabi pun pernah mendapat rencana pembunuhan. Tidak hanya Beliau, pengikut-pengikut Beliau pun mendapat banyak tekanan dan penyiksaan.

          Langkah yang diambil Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai tekanan adalah melarang orang-orang muslim menampakkan ke-islamannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sekali pun begitu, orang-orang muslim tetap mengadakan pertemuan meski secara sembunyi-sembunyi untuk belajar islam. Dan tempat tinggal Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumy yang berada di atas bukit shafa dan terpencil dari pengintaian mata-mata Quraisy, menjadi markas dakwah dan tempat pertemuan orang-orang muslim.

          Pada masa ini pula, untuk mengatasi berbagai tekanan Nabi memerintahkan pengikutnya untuk hijrah ke Habasyah. Namun, pada periode ini pula, tepatnya tahun ke-6 nubuwah, umat islam memiliki benteng yang kuat dengan islamnya tokoh-tokoh yang disegani seperti Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) yang bergelar singa Allah serta Umar bin Khattab setelah 3 hari keislaman Hamzah.

          Berkaitan dengan tekanan Quraisy, Nabi Muhammad beserta Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib pernah menerima pemboikotan melalui sebuah perjanjian yang dibuat kaum Quraisy waktu itu. Isi perjanjian itu tentang larangan menikah, berjual beli, berteman, berkumpul, memasuki rumah, berbicara dengan mereka, hingga Bani Hasyim suka rela menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.  Kondisi pemboikotan ini berlangsung selama 3 tahun. Hingga papan perjanjian tersebut dirusak.

          Yang menjadi kesedihan di masa ini adalah wafatnya Abu Thalib, paman Nabi yang selalu melindunginya dari segala ancaman kaum Quraisy kala itu. Tidak sampai di situ, istri Nabi, Siti Khadijah pun meninggal dunia setelah 3 bulan kepergian Abu Thalib. Kejadian ini menorehkan duka lara di hati Nabi, hingga tahun ini disebut sebagai Ammul Huzni (tahun duka cita). Yang tidak lama dari peristiwa ini kemudian terjadi peristiwa isra’ dan mi’raj.


MARHALA KETIGA

DAKWAH ISLAM DI LUAR MEKKAH

          Ketika berdakwah di tengah kaum Quraisy selalu mendapat tekanan, apalagi semenjak kematian Abu Thalib, Nabi pun berdakwah di luar Mekkah. Diantaranya ke Thaif, dakwah ke berbagai kabilah dan individu. Selain aksi Nabi ini, ada pula beberapa orang di luar Mekkah yang datang sendiri untuk mengetahui dakwahan Nabi. Diantaranya : Suwaid bin Shamit, Iyas bin Mu’adz, Abu Dzar Al-Ghifari dari Yastrib. Mereka inilah tokoh yang menjadi cikal-bakal pelopor gerakan islam di Madinah. 

          Selain itu, ada pula beberapa pemuda lainnya yang datang dari Yastrib untuk menemui Nabi. Mereka pun menerima dakwahan Nabi. Pemuda ini berjumlah enam orang. Awalnya, mereka sudah mendengar kedatangan Nabi dari orang-orang Yastrib sebelumnya. Dari kedatangan 6 pemuda inilah yang kemudian hari mencetuskan baiat Aqabah.

          Setelah beberapa waktu setelah kedatangan 6 pemuda Yastrib, pada waktu musim haji, 12 orang dari Yatsrib datang kembali ke Mekkah. 5 orang diantaranya adalah diantara 6 pemuda yang datang terdahulu. Mereka bertemu Nabi di Aqabah, Mina, lalu mengucapkan baiat, seperti bulir-bulir baiat saat penaklukan Mekkah. Baiat inilah yang dikenal dengan baiat Aqabah pertama. Selanjutnya mereka yang telah dibaiat menjadi duta islam di Yastrib, yang suatu hari menjadi cikal-bakal kaum anshar di Madinah.

          Pada musim haji tahun ke-13 nubuwah, ada 70 lebih orang muslim dari penduduk Yastrib datang ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Setelah mereka sepakat bertemu dengan Rasulullah mereka pun mengikat janji setia. Pertemuan itu berlangsung di bukit Aqabah pada pertengahan hari tasyriq. Mereka mengadakan pertemuan di malam yang gelap supaya tidak ada yang mengetahuinya. Setelah itu mereka melaksanakan baiat dengan butir-butir perjanjian, diantaranya agar taat ketika bersemangat atau malas, menafkahkan harta ketika lapang atau sulit, amar ma’ruf nahi munkar, tegar membela Allah, serta menolong Nabi jika datang pada mereka. Perjanjian ini dikenal dengan baiat Aqabah yang kedua. 

          Baiat Aqabah ini memiliki sisi penting dalam perjuangan islam. Penduduk yang dibaiat inilah yang kemudian hari menerima kaum muhajirin di Madinah. Dan menjadi awal peristiwa hijrah Nabi bersama kaum Muhajirin ke Madinah.

          Artikel sebelumnya, awal kenabian. Artikel selanjutnya, tahapan pertama periode Madinah.


Medan, 16 januari 2012
Bangsur_5:07
Buka Komentar