Sebelum Kelahiran Muhammad (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)

Sebelum Kelahiran Muhammad (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)

Sebelum Kelahiran Muhammad (Sebuah ringkasan sejarah Muhammad)


GAMBARAN UMUM, KONDISI GEOGRAFIS DAN SOSIOLOGIS PENDUDUK ARAB

Rasulullah adalah seorang Nabi yang lahir dari keturunan bangsa Arab. Bangsa-bangsa Arab terdahulu yang terkenal seperti kaum Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Amlaq dan lain sebagainya. Ada pula orang-orang Arab yang berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan (dikenal dengan sebutan bangsa Arab Qahthaniyah). Serta ada pula golongan Arab Musta’ribah, yaitu orang-orang Arab yang berasal dari keturunan Ismail (yang dikenal dengan sebutan kalangan Arab Adnaniyah). Dan Rasulullah SAW merupakan generasi penerus bangsa Arab dari keturunan Ismail ini.

Menurut kamus, kata “Arab” berarti padang pasir atau tanah gundul yang tidak ada tanaman. Penggunaan istilah ini tak jauh beda dengan sebutan-sebutan lain yang biasa dinisbatkan kepada suatu kelompok atau masyarakat tertentu sesuai situasi dan kondisi daerah yang dijadikan tempat tinggal.

Jazirah Arab memiliki letak geografis yang unik. Jazirah Arab dikelilingi gurun dan padang pasir pada setiap penjurunya. Kondisi semacam ini membuat jazirah Arab terlihat bagaikan sebuah benteng pertahanan yang kokoh yang seakan-akan tidak memperkenankan bangsa asing menjajahnya. Sejak dahulu kala penduduk Jazirah Arab hidup merdeka dan bebas dalam segala tindak tanduknya.

Sebagaimana beberapa masyarakat pada umumnya di kala itu, bangsa Arab juga mempunyai beberapa suku, kabilah dan golongan-golongan. Golongan-golongan ini biasanya mempunyai keterikatan simbiosis mutualisme kepada sesama golongannya. Sehingga terkadang muncul sifat-sifat fanatisme, rasisme secara berlebihan. Hampir sama dengan struktur sosial kehidupan bangsa Yahudi pada masa itu, begitu pun sikap buruk yang ditimbulkannya.


SITUASI POLITIK

Kehidupan bangsa Arab, meskipun dikelilingi gurun dan padang pasir, sehingga mampu hidup tanpa dijajah oleh bangsa lain, namun realita pada saat itu adalah bahwa ada 2 kekuatan besar yang hidup berdampingan dengan bangsa Arab. Kedua kekuatan politik ini bisa saja menghantui kehidupan bangsa Arab yang berada di tengah-tengahnya. Kedua kekuatan politik ini tidaklah menjalin hubungan yang harmonis. Satu kekuatan dicap sebagai saingan oleh kekuatan lainnya. Kondisi ini mampu membuat perubahan menjadi tidak stabil bagi situasi sosial masyarakat Arab. Kedua kekuatan itu adalah kerajaan Romawi dan Persia.

Selain itu, kondisi sosial bangsa Arab dipisahkan oleh adanya tuan dan budak, serta pemimpin dan rakyat. Kondisi internal Bangsa Arab juga tidak pernah rukun. Permusuhan antar kabilah, perselisihan rasial dan agama, terus berkecamuk.

Secara umum, bangsa Arab tidak memiliki raja. Namun memiliki pemimpin yang dipatuhi pada tiap kabilahnya. Kalangan bangsa Arab tidak memiliki kekuasaan secara duniawi maupun pemerintahan. Mereka hanya memiliki wewenang untuk memanggul kepemimpinan agama. Kekuasaan mereka di tanah suci dianggap kekuasaan untuk mengurus para peziarah Ka’bah, dan pelaksana hukum syari’at Ibrahim AS. Kekuasaan tersebut juga memiliki batas masa jabatan dan bentuk pemerintahan yang serupa dengan sistem parlemen modern.


KEAGAMAAN 

menyembah berhala patung lembu
Bangsa Arab awalnya mengikuti dakwah Ismail AS untuk menyembah Allah SWT dan mengesakannya. Sampai kemudian muncul Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah. Ia dikenal suka berbuat baik, respek pada urusan umat dan agama. Amr bin Luhay pernah mengadakan perjalanan ke Syam. Ia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap itu adalah prilaku yang benar. Sebab, baginya Syam adalah tempat para Rasul dan tempat diturunkannya Kitab Allah. Ia pun pulang dengan membawa Hubal (sebuah berhala) dan meletakkannya di Ka’bah, serta mengajak penduduk Mekkah untuk menyembah berhala. Sementara orang Hijaz mengikuti Mekkah yang dipercaya sebagai penjaga kemurnian Ka’bah dan tanah suci. Pada gilirannya kemusyrikan semakin merebak di mana-mana.

Bangsa Arab memiliki ragam tradisi dan ritual keagamaan yang pada awalnya diciptakan oleh Amr bin Luhay sendiri. Diantaranya :
1.    Mengelilingi berhala, berkomat-kamit di hadapannya untuk meminta tolong
2.    Menunaikan haji dan tawaf di sekeliling berhala, merunduk, dan sujud di hadapannya.
3.    Mendekatkan diri dengan menyajikan beragam kurban, menyembelih hewan piaraan dan kurbah untuk berhala.
4.    Dan lain-lain yang seluruhnya sangat berkaitan erat dengan ritual pemujaan berhala.

Orang Arab juga terbiasa mengundi nasib dengan Azlam (anak panah yang tak berbulu). Mereka juga percaya dengan peramal, orang pintar dan ahli nujum.

Pada masa awal, sebenarnya sudah ada agama lain di Jazirah Arab seperti Yahudi, Majusi, Masehi, Shabiah, yang lebih dulu masuk ke tanah Arab. 

Demikian ragam agama yang ada menjelang kemunculan agama islam. Namun semua agama tersebut telah banyak disusupi penyimpangan dan tambahan hal-hal baru seperti mengagungkan tokoh dalam bentuk patung, menambah-nambahkan perkara agama, merubah kitab suci dan lain sebagainya. Pada ujungnya, mereka menjadi kaum paganis (penyembah berhala) yang sesungguhnya sudah kelewat batas dari ajaran Nabi-nabi terdahulu. 

Namun walaupun kondisi keagamaan orang Arab jahiliah sedemikian kacau, namun masih ada sisa ajaran Nabi Ibrahim yang terselamatkan.  Misalnya mengagungkan Ka’bah, tawaf di sekeliling Ka’bah, haji, umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah, walau pun ada sedikit tambahan-tambahannya.


POTRET MASYARAKAT ARAB JAHILIYAH
Pernikahan zaman jahiliyah memiliki 4 macam, yaitu Pernikahan secara spontan dengan menyerahkan mas kawin, Nikah istibdha’, pernikahan poliandri, dan pernikahan dengan pelacur. Namun setelah Muhammad diutus, semua bentuk pernikahan ini dihapuskan. Selain itu, ada pula pernikahan poligami. 

Potret masyarakat jahiliyah lainnya yaitu adanya perzinahan yang mewarnai seluruh kalangan masyarakat, kecuali sedikit yang tidak mau menerjunkan diri dalam kehinaan. Ada pula masyarakat yang mengubur anak putrinya hidup-hidup. Masyarakat juga hidup berdasarkan fanatisme kabilah maupun fanatisme kesukuan. Sedangkan hubungan beberapa kabilah yang berbeda terputus secara total.

Kebodohan juga mewarnai segala aspek kehidupan. Kurafat tidak bisa dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang, wanita diperjual-belikan, dan kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. 

Kondisi ekonomi juga beragam. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada juga yang bergerak pada sektor pertanian dan peternakan. Sedangkan wanita-wanita Arab hanya cukup menangani pemintalan.

Moralitas bangsa Arab umumnya terdapat banyak hal-hal yang hina, amoral dan beragam masalah yang tidak bisa diterima akal sehat. Tapi meskipun begitu, ada beberapa akhlak-akhlak terpuji yang mereka miliki. Yaitu kedermawanan, memenuhi janji, kemulian dan enggan menerima kehinaan dan kezhaliman, pantang mundur, lemah lembut dan suka menolong orang lain, serta kesederhanaan. 

Artikel selanjutnya di pra kenabian.


Medan, 16 januari 2012
Bangsur_5:07
Buka Komentar