Skip to main content

SURAH YANG MEMBUAT RAJA NAJASI & USKUP-USKUPNYA MENANGIS

Al-qur’an memang selalu memberikan kesan kepada siapa saja yang membuka hati dan membacanya. Al-qur’an memiliki nilai keistimewaan tersendiri hingga membuat pembacanya terkadang bisa tersenyum, bisa menangis juga bahkan bisa bersujud. Tergantung bagaimana pembacanya mampu menghayati serta merespon pesan-pesan Al-qur’an. Begitu pula yang dialami oleh raja Najasi (raja Habasyah yang pada waktu itu beragama nasrani) beserta uskup-uskupnya. Di negeri raja inilah, umat islam pernah berhijrah. 
 
Pada periode Mekkah, banyak sekali pengikut Muhammad yang disiksa dan mendapat tekanan dari kaum Quraisy Mekkah. Akibat tekanan-tekanan ini, Nabi pun memerintahkan sebagian umat islam untuk hijrah ke Habasyah. Melihat kepergian sebagian umat islam ke Habasyah ini, kaum kafir Quraisy bermaksud untuk menjemput mereka yang sudah hidup damai di wilayah kekuasaan Najasyi dengan mengutus dua orang utusan yang dipercaya.

Pada saat itu, kedua utusan pergi dan menemui para uskup terlebih dahulu sebelum menghadap raja Najasi. Mereka berdua menyampaikan alasan mengapa mereka harus menjemput umat islam dan berharap agar para uskup mau bekerja sama untuk mengembalikan umat islam ke Mekkah. Setelah ada kesepakatan dengan para uskup, kedua utusan ini menghadap Najasyi dengan memberi beberapa hadiah. Mereka menyampaikan maksud kedatangannya, bahwa mereka ingin menjemput beberapa orang Mekkah yang menyusup ke Habasyah. Dengan berbagai alasan mereka mencoba meyakinkan raja Najasi. Diantaranya, mereka mengatakan bahwa umat islam yang hijrah ke Habasyah itu telah memecah agama kaumnya, juga membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Utusan itu juga memperkuat usahanya dengan mengatakan bahwa umat islam itu tidak mau masuk agama raja Najasyih. 

Setelah permohonan itu, Najasyih pun memanggil beberapa orang yang dimaksud utusan dari Quraisy Mekkah itu untuk mencari kebenaran, serta menanyakan bagaimana sesungguhnya agama mereka. Juru bicara umat islam waktu itu adalah Ja’far bin Abu Thalib. Ia menceritakan bagaimana kehidupan mereka pada saat jahiliyah serta perubahan yang baik setelah mereka memeluk islam. 

Dialog pun terjadi antara raja Najasyih dengan umat islam. Pada akhirnya Najasyi memintakan agar utusan umat islam itu membacakan beberapa ajaran agama Muhammad itu. Saat itu, Ja’far membacakan surah Maryam dari “kaf, haa, yaa, ain, shaad…”. Raja Najasyi pun menangis, begitu pula para uskupnya hingga jenggot mereka basah oleh air mata, ketika mendengar apa yang dibacakan Ja’far. 

Isi surah Maryam bercerita tentang beberapa kisah. Diantaranya kisah tentang Zakariyah, Yahya, Ibrahim juga kelahiran Isa AS yang dilahirkan lewat rahim Maryam, seorang wanita yang tidak pernah disentuh lelaki. Surah ini pun menceritakan tentang hari akhir serta beberapa landasan aqidah yang pundamental bahwasannya berhala bukanlah sesuatu yang pantas untuk disembah. Begitu pula bahwa Allah bukanlah Dzat yang memiliki anak. 

Isi kandungan Al-qur’an sesungguhnya memiliki kesan yang cukup mendalam. Di dalamnya terdapat banyak kisah teladan serta petunjuk yang lurus. Maka, membaca al-qur’an adalah sebuah keharusan bagi umat islam. Di samping itu, serasa wajar jika raja Najasyi (yang waktu itu beragama nasrani) menangis, begitu pula uskup-uskupnya, dengan menghayati serta memberi respon terhadap bacaan al-qur’an. Sebab, al-qur’an adalah mu’jizat. Isinya memiliki kekuatan. Bacalah. 

(Al-Mubarakfury, Syaikh Syafiyurrahman. 1993. Sirah Muhammad. Sejak Sebelum Lahir Hingga Detik Terakhir Kehidupan Sang Nabi Saw. Jakarta : Abdika Press. Hlm : 149-151.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar