Skip to main content

Api dibalik puisi


                 Puisi api nurani aku tulis pertama kali ketika sedang mengikuti kegiatan di Sibolangit. Waktu itu, aku bersama beberapa teman mahasiswa berangkat dari Medan. Hajatan awal kami hanya sekedar mengawasi jalannya kegiatan di sana. Dan di sanalah puisi ini tertuliskan.

Ide kreatif puisi ini tertuliskan, yaitu saat kita sedang asik bercerita sambil menikmati api unggun kecil di depan posisi duduk kami. Asik-asik bercerita, saat api sudah mengecil, ada seorang teman yang mengambil sebatang bara dari api unggun untuk menghidupkan rokoknya. Saat itu, aku terpikir, jikalau satu persatu kayu bakar diambil dari rangkaian api unggun, maka lama-kelamaan, api pun akan mati. Nah, saat itulah aku nyeletuk berkata kepada temen itu, “jangan pisahkan api dari api, atau baranya akan mati”. Akhirnya, tak disangka, “wah, keren nih kata-katanya”, dalam hatiku. Selanjutnya, aku pun memisahkan diri dari kawan-kawan, mengambil waktu sejenak untuk menuliskan puisinya. Dan jadi lah satu bara puisi berjudul “API NURANI”. Keren.

                Puisi api nurani ini sebenarnya berpesan agar sebagai manusia, kita jangan sampai memisahkan hati nurani dari raga dan kehidupannya. Satu permisalan, manusia pada dasarnya selalu ingin damai, sebab damai adalah fitrahnya manusia, maka jangan jauhkan perdamaian dari kehidupan manusia. Dan perdamaian sesungguhnya adalah bisikan nurani, maka dengarkan bisikan itu dan jangan pernah abaikan bisikan itu. Begitu pula, manusia pada dasarnya selalu ingin berkata yang baik-baik, maka jangan bohongi hati nurani untuk berkata jujur dan apa adanya. Manusia juga, sesungguhnya amat membutuhkan Tuhan, maka jangan ingkari hati untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Lewat puisi ini, aku berpesan kepada siapa pun agar mereka menjaga hati nurani serta mendengarkannya. Jika nurani sudah dilupakan bahkan ditinggalkan, maka perlahan eksistensi manusia pun akan berakhir berangsur-angsur. Layaknya api yang mati jika dipisahkan dari kumpulannya. Atau air yang kering, jika dipisahkan dari alirnya. Atau seperti cahaya yang tak akan pernah dikenal oleh siapa pun jika ia dipisahkan dari ruangan. Selayak hilangnya eksistensi manusia, jika ia memisahkan jiwa dari raganya. Sebab, nurani merupakan elemen penting dari jiwa dan raga manusia. Jika nurani sudah dipisahkan dari raga manusia dan kehidupannya, maka tidak heran jika kita menemukan banyak manusia yang menjadi pecundang. Semuanya rakus, brutal, dan bengis. Semoga tidak kita semua.

Sekali lagi, jangan abaikan bisikan nurani. Dan jaga lah ia agar selalu menyuarakan petunjuk Ilahi. Hemmmm.  
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar