SURAH YANG MEMBUAT UMAR MASUK ISLAM

SURAH YANG MEMBUAT UMAR MASUK ISLAM


                Sama halnya dengan Hamzah, keislaman Umar juga merupakan cahaya terang bagi dakwah islam waktu itu. Umar dikenal bersosok temperamental dan tidak segan membunuh siapa saja yang tidak disenanginya. Keislaman Umar juga terdorong setelah membaca al-qur’an disamping pertolongan Allah, dimana sebelumnya Nabi telah mendo’akan agar islam dikokohkan dengan salah satu dari Umar bin Al-Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam.

                Suatu malam Umar keluar rumah hingga tiba di Baitul Haram. Ia melihat Nabi mendirikan shalat. Saat itu Nabi membaca surah Al-Haaqqah. Umar menyimak bacaan dan merasa takjub terhadap susunan bahasanya. Dalam hati dia berkata, “Demi Allah, tentu ini adalah ucapan seorang penyair seperti yang biasa diucapkan orang-orang Quraisy”.

                Kemudian Nabi membaca ayat, “Sesungguhnya itu benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia, dan itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. (Al-Haaqqah : 40-41).

                Dalam hati Umar berkata, “Kalau begitu ucapan tukang tenung”.

Nabi membaca, “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam”.

Bacaan itu diteruskan oleh Nabi hingga akhir surah. Mulai saat itulah nuansa keislaman mulai menyusup dalam hatinya. 

Suatu hari Umar keluar rumah sambil menghunus pedangnya. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang lelaki dari Bani Zuhra. Ia bertanya, “Hendak ke mana engkau Umar?”
“Aku akan menghabisi Muhammad”, jawabnya.
“Wahai Umar, bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk”.

Umar terburu-buru pergi ke rumah adik perempuan dan iparnya. Saat itu ada pula Khabbab bin Art yang sedang memegang lembaran surah Thaahaa. Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik iparnya. Umar masuk rumah dan bertanya, “Apakah suara yang kudengar dari kelian tadi?”
“Hanya sekedar obrolan di antara kami”, jawab keduanya. Khabbab sudah bersembunyi sebelumnya.
“Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama”, kata Umar.
“Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”, kata adik iparnya.

Seketika Umar menginjak adik iparnya dengan keras. Fatimah (adik Umar) mendekat untuk mengangkat suaminya. Namun Umar memukul Fatimah hingga berdarah.

“Wahai Umar, jika memang agama kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”, kata adiknya.

Umar mulai putus asa. Dan hendak membaca apa yang tadi dibaca oleh mereka. Setelah terlebih dahulu mandi, Umar membaca isi surah Thaahaa. Hingga pada ayat ke-14, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Illah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu”.

“Alangkah indah dan mulianya kalam ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad saat ini berada”. Tak lama kemudian Umar menghadap kepada Nabi dan menyatakan keislamannya. Umat islam pada saat itu bersorak-sorai mengagungkan asma Allah dengan menggemakan takbir. Seorang yang disegani kini sudah memeluk islam. Dan mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan terhadap orang muslim dengan islamnya Umar Al-Faruq.

Sekali lagi, Allah memberi petunjuk bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Dan petunjuk Allah adalah Al-Qur’an. Ia adalah kalam Allah berisi petunjuk. Maka beruntunglah bagi siapa yang mau membaca dan merespon isi kandungannya. 

(Al-Mubarakfury, Syaikh Syafiyurrahman. 1993. Sirah Muhammad. Sejak Sebelum Lahir Hingga Detik Terakhir Kehidupan Sang Nabi Saw. Jakarta : Abdika Press. Hlm : 160-162.
Buka Komentar