Skip to main content

TANGGAPAN TERHADAP PESAN “TENTANG HATI”


                Suatu hari, saya teringat sebuah catatan di dalam buku harian. Catatan itu berasal dari masa kira-kira 5 tahun yang lalu ketika saya masih nyantri di salah satu Pondok Pesantren di Kisaran-Asahan. Catatan itu berisi tentang apa yang dikatakan oleh seorang Ustadz saat memberi pelajaran akhlak. Kalau tidak salah Ia juga mengambil referensi dari kitab Ta’limul Muta’alim sebagai sumber pembelajarannya, kitab wajib kami untuk belajar akhlak. 

                Catatan di buku harian saya itu berbunyi (dengan redaksi yang disingkat) “Ciri orang yang mati hatinya adalah : tidak sedih jika meninggalkan kebaikan. Tidak sedih jika berbuat maksiat. Dan jika dinasehati tidak peduli”, begitu kira-kira. 

Karena tertarik untuk menyampaikan pesan itu, saya pun mengirimnya lewat SMS. Dan sudah menjadi kebiasaan kami memberikan pesan-pesan kebaikan secara lisan atau hanya sekedar lewat SMS saja. Di samping sebagai media ingat-mengingatkan, juga sebagai media dakwah yang efektif, cepat dan langsung. Pada saat itu saya pun berfikir bahwa pesan tentang hati itu harus segera disampaikan mengingat banyaknya masyarakat yang mengingkari hati nurani. Maka jadilah ia sebagai materi pesan yang sesuai dengan kebutuhan dan sasaran yang strategis, minimal kepada teman saya.

Setelah beberapa orang saya kirimi dengan pesan itu via SMS, kelang beberapa menit saja ada beberapa orang yang berkomentar terhadap pesan itu. Hal ini menandakan bahwa pesan tersebut mengena dan tepat sasaran, fikir saya. Berbeda jika tidak berbalas, ada kemungkinan si penerima pesan acuh-tak acuh atau mungkin sudah membenarkan pesan itu.

Beragam nada orang yang membalas pesan itu. Diantaranya ada yang membalas dengan kalimat harapan “semoga kita tidak termasuk orang yang disebutkan itu”. Ada juga yang bertanya, “inspirasi dari mana SMS ente tadi?”. Juga tak kalah menarik dengan balasan SMS lainnya yang bertanya pula, “itu hadist atau sekedar kata-kata mutiara saja?”.

Terhadap komentar yang ketiga inilah saya akan berikan tanggapan. Ia adalah orang yang pertama kali membalas pesan saya dengan nada yang agak antagonis. Dan ia pula yang menjadi orang pertama yang menginspirasi saya untuk menuliskan tulisan ini, hingga menjadi moment kreativitas dan pembiasaan menulis. Sukron saudara. Ini bukanlah media untuk menghakimi, melainkan moment untuk saling berbagi. Bagaimana pun antumlah yang menjadi penyebab tulisan ini tergoreskan. Dan membuka cakrawala berfikir saya dan memaksa untuk menyampaikannya. Bukan memaksa, maaf. Hanya berbagi. 

Terhadap balasan sms “itu hadist atau sekedar kata-kata mutiara?”. Selanjutnya saya membalas, “itu ada di kitab ta’limul muta’alim”. Sebab, saya pun tidak tau pasti apakah itu hadits atau bukan. Saya hanya ingat bahwa pesan tentang hati itu saya dapatkan saat belajar di Pondokan, dari seorang Ustadz yang mungkin juga menyadur dari kitab ta’limul muta’alim itu. Itupun mungkin. Sebab keabsahan apakah kata-kata itu bersumber dari kitab ta’limul muta’alim pun masih saya ragukan. Saya sendiri belum membaca kitab itu sampai habis. Namun, dalam buku catatan lama saya tertuliskan bahwa pesan itu bersumber dari kitab tersebut dan pada saat itu pula tertuliskan nama seorang Ustadz yang menyampaikannya. Itu saja yang pasti. 

Satu lagi. Saya ragu jika pesan tentang hati itu adalah hadist. Yang bisa saya pastikan, pesan itu adalah kata-kata ulama, walaupun saya juga tidak tau siapa nama ulama itu. Kemungkin besar ulama terdahulu. Dan saya baru tau lewat info teman saya beberapa waktu setelah saya bertanya bahwa ternyata pesan 3 ciri orang yang mati hatinya adalah merupakan atsar sahabat (perkataan sahabat). Maka saya pun bisa menjawab pertanyaan teman saya, “apakah ini hadits atau sekedar kata-kata mutiara?”. “Ini atsar teman, kata-kata sahabat”. Itu saja. Walaupun tidak sempat saya balas pertanyaannya dengan jawaban yang demikian lewat sms.

Setelah saya balas pertanyaan pertamanya dengan kalimat yang singkat juga tidak memuaskan bahwa “itu ada di kitab ta’limul muta’alim”, ia pun membalas lagi dengan kalimat yang saya lupa, tapi kira-kira  begini, “Jika itu hadits, Biar bisa dijadikan referensi. Tapi kalau tidak, tidak bisa dijadikan referensi walaupun berasal dari kitab itu”. Saya tidak membalas SMS itu, disebabkan minim ilmu dan masih ragu bagaimana menjawabnya agar tidak salah penyampaian. Walaupun sebelumnya saya telah diberi tau oleh teman yang lain bahwa “itu atsar sahabat”, tetap saya tidak membalas. Mungkin tulisan inilah yang bisa menggantikannya. 

Membaca balasan terakhir ini, sontak saya berfikir berputar-putar. Mengapa ia berasumsi begitu? Apa sebabnya? Bukankah jika berkaitan dengan hukum, maka sumbernya harus jelas dari Qur’an dan Sunnah, tapi ini bukan berkaitan dengan hukum? Lalu kalau pun pesan tentang hati itu bukanlah hadist Nabi, lantas tidak bisa kah ia menjadi kata-kata hikmah? Yang menjadi pertimbangan bagi kita untuk memetik hikmah? Yang saya tau, bahwa ulama terdahulu cukup jeli memikirkan referensi wahyu dan Sunnah dengan meneliti prilaku, fenomena dan pengalaman akan kehidupan hingga menjadi kesimpulan dan ilmu hikmah buat kita.

Membaca balasan terakhir ini, sontak saya berfikir berputar-putar. Mengapa ia berasumsi begitu? Apa sebabnya? Bukankah jika berkaitan dengan hukum, maka sumbernya harus jelas dari Qur’an dan Sunnah, tapi ini bukan berkaitan dengan hukum? Lalu kalau pun pesan tentang hati itu bukanlah hadist Nabi, lantas tidak bisa kah ia menjadi kata-kata hikmah? Yang menjadi pertimbangan bagi kita untuk memetik hikmah? Yang saya tau, bahwa ulama terdahulu cukup jeli memikirkan referensi wahyu dan Sunnah dengan meneliti prilaku, fenomena dan pengalaman akan kehidupan hingga menjadi kesimpulan dan ilmu hikmah buat kita.

Mungkin teman saya sedikit tersinggung, maafkan saya jika tidak. Sebab, ia pun pernah berkata “agak sedikit nyenggol kata-kata itu”. Saya berfikir dalam hati, syukurlah. Ternyata pesan itu tepat sasaran. Dan beruntunglah teman saya, sebab ia masih memiliki kepekaan hati untuk mengomentarinya walau sedikit tersinggung. Jika tidak, bukan sekedar mati hatinya, namun sudah berubah menjadi putus asa seperti Iblis laknatullah. Naudzubillah. 

Saya teringat permainan anak-anak terdahulu untuk menentukan siapa yang buang angin. Biasanya ada yang menuduh orang lain, tapi nyatanya ia sendiri. Ada pula yang diam, untuk berada di posisi aman hingga tidak disalahkan. Ada pula yang marah, atau tersinggung jika ia dituduh buang angin dengan ekspresi yang berlebihan. Apalagi jika benar-benar secara haqqul yakin terbukti bahwa ia benar-benar telah buang angin, ia pun sontak marah besar. Si tertudu pun mencoba membela diri bahwa ia tidak buang angin, sekuat tenaga ia berargumen, sesekali menggunakan otot untuk pertahanan. Sudah jelas-jelas ia yang buang angin, masih tetap saja membela diri. Andaikan pun tidak, ia pasti berekspresi wajar, dan berdiri kokoh sebagai orang yang tidak bersalah. Kesimpulannya adalah jika seseorang benar-benar terlibat kesalahan namun ia membela diri, maka benarlah ia yang bersalah itu. Hal ini lumrah, sebab secara naluri, manusia adalah makhluk yang sangat sulit disalahkan. Tindakan terbaik ialah harusnya menyadari kesalahan, meminta maaf, lalu berbenah, tidak mau mengulangi kesalahan. Biar bagaimana pun, yang baik-baiklah yang ke surga. Nah, saya mengasumsikan teman saya berada pada posisi ciri yang terakhir ini. Itu pun mungkin. Maaf jika salah. Setidaknya, kita bisa berlaku bijaksana, benar ataupun salah. 

Mengapa demikian? Bagaimana tidak? SMS terakhirnya mengindikasikan pembelaan seolah-olah mengatakan itu tidak benar serta tidak dapat dijadikan referensi. Saya coba menelusuri yang ada di pikirannya. Mungkin ia tersinggung. Tapi kondisi itu baik, lebih baik lagi jika ia bisa menjadikan ini sebagai ikhtibar, bukan memvonis bahwa segala referensi harus berasal dari hadits. Tidak demikian jika berkaitan dengan agama apalagi tentang hukum, maka referensi yang diambil harus mutlak dari Qur’an dan Sunnah. Ini hanya kata-kata hikmah. Lagi pula, jika pun salah memangnya kenapa? Dan kalau pun salah apa pembenarannya? Adakah yang bertentangan dengan atsar itu? Terutama dengan wahyu atau sunnah Nabi?

Tapi biar bagaimana pun saya yakin bahwa atsar sahabat itu pasti berasal dari buah pikiran berlarut-larut yang juga pastinya terinspirasi dari sumber wahyu juga hadist Nabi. Mengapa tidak? Mari kita analisis satu persatu atsar sahabat itu. Ciri orang yang mati hatinya adalah :

1.      Tidak sedih jika meninggalkan kebaikan
Dalam al-qur’an dikatakan “sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki nikmat yang mulia” (Al-anfal 2-4).

Keterkaitan iman dan hati sesungguhnya sangat saling mempengaruhi. Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa iman itu tumbuh dengan dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan dijawantahkan oleh raga lewat amalnya. Dalam ayat di atas juga demikian ciri orang yang beriman yaitu apabila disebut nama Allah akan gemetarlah hatinya. Sebab, hati itu sudah membenarkan kemahabesaran Allah, maka seseorang pun akan takut jika membayangkan harus berhadapan dengan Allah. Sehingga ia pun akan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Lalu, apa kaitannya antara hati dengan meninggalkan kebaikkan? Bagaimana mungkin dengan tidak bersedih jika meninggalkan kebaikan, maka hal itu merupakan ciri-ciri hati yang mati? 

Seorang yang meyakini Keesaan Allah SWT, pada dasarnya tertanam keimanan di dalam hatinya. Sekali lagi, keimanan itu berasal dari hati dan dapat terlihat dari amal kebajikan yang dilakukan makhluknya. Dalam beberapa sumber hadist juga dikatakan bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman”, sebab seseorang yang melakukan kebersihan hakikatnya benar-benar telah menjalankan perintah Allah dengan kebaikan. Yang berarti hati masih terkoneksi dengan keimanan. Lalu keimanan menggerakkan raga untuk menjaga kebersihan. Nah, pertanyaannya bagaimana dengan keimaman seorang yang tidak suka dengan kebersihan? Membiarkan begitu saja sampah yang berserakan? Maka, keimanan serta hati yang menjadi sumber keimanan itu pun sangat diragukan keberadaannya sehingga sulit berkompromi dengan raga untuk menjaga kebersihan. 

Kebajikan yang ditegakkan oleh seseorang adalah buah dari keimanan, yang bersumber dari hati. Jika kebajikan itu dilakukan maka respon hati pun masih mengindikasikan berfungsi. Namun jika tidak, bukankah itu pertanda hati yang mati? Lantas kalau tidak bersedih meninggalkan kebajikan, bukankah ini keadaan yang kronis bahwa hati telah akut untuk merespon rasa di dalamnya. Bayangkan, jika ada orang tua yang terjatuh dari kereta dan mengalami luka yang parah namun tidak tergerak hati ini untuk menolongnya. Pertanyaan, “bagaimana hati meresponnya?”. Tidak ada respon? Alamat hati itu pun sudah mati. Juga termasuk, orang yang meninggalkan sholat, tidak bayar zakat sementara ia begitu mampu, juga orang yang meninggalkan amanah padahal masyarakat membutuhkannya, dan tidak pernah terfikir dalam hatinya untuk tergerak melakukan perubahan, apakah itu berarti hatinya masih hidup? Naudzubillah.

Dalam hadits Nabi mengatakan “Sesungguhnya Allah telah menetapkan sejumlah kewajiban, maka janganlah meremehkannya…..(H.R Darukuthni)”, jika diremehkan saja tidak boleh, bagaimana jika meninggalkan? Keremehan terhadap kewajiban (dimana kewajiban itu sesungguhnya adalah kebaikan buat manusia) menunjukkan kelemahan iman, dan kelemahan iman merupakan bentuk dari kerusakan hati. lantas, bukankah tidak kronis, jika toh tidak bersedih? Muda-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang tidak bersedih jika meninggalkan kebaikan. Dan perlu diketahui bahwa kesedihan itu adalah wujud dari penyesalan. Dan jalan keluar dari penyesalan adalah tidak mengulangi kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah meninggalkan kebaikan.

2.      Tidak sedih jika berbuat maksiat
Dalam haditsnya Rasulullah SAW mengatakan “barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya, bila ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (H.R Muslim).

Ada yang menarik dari hadits ini. Dan setiap kita bisa mengukur keimanan dan respon hati terhadap setiap tindakan terhadap kemungkaran (dimana yang termasuk kemungkaran adalah maksiat). Dalam sumber wahyu, Allah memerintahkan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Perintah itu sejalan dengan hadits di atas yang lebih menitik beratkan di sisi nahi munkar.

Derajat tertinggi keimanan seseorang (dari hadits ini) serta respon hati yang paling baik ialah ketika seseorang mencegah kemunkaran dengan tangannya (dengan kekuasaannya). Seorang pemimpin desa di suatu daerah yang mencegah kemaksiatan di lingkungannya dengan segala daya upaya dan kekuasaannya merupakan ciri pemimpin yang memiliki iman yang kuat sekali serta respon hati yang hidup.

Begitu pula dengan orang yang hanya mampu melarang dengan lisannya. Ini juga menunjukkan kekuatan iman dan respon hati yang masih baik meski tidak setinggi yang melarang dengan kekuasaan. Seorang tetangga yang menasehati tetangga di sampingnya agar jangan membiarkan anaknya main judi adalah bentuk pembenaran terhadap keimanan serta respon hati yang masih peduli.
Yang terakhir, wujud dari lemahnya iman. Namun harus dimengerti, pilihan yang terakhir, meskipun menunjukkan kelemahan iman, namun respon hati masih menyala dan hidup untuk menentang kemungkaran, untuk melawan kemaksiatan. Yaitu membenci  kemungkaran dengan hatinya.

Pertanyaan yang mungkin bisa dijawab sendiri adalah : bagaimana jika melihat kemungkaran namun hati biasa saja? Bagaimana jika menyaksikan kemaksiatan di depan mata, namun hati tidak tergerak untuk membencinya? Mala merasa asik dengan melihat kemaksiatan meski pun tidak melakukannya? Bagaimana respon hati? masih kah hati itu hidup? Hati seperti itu kah yang mampu hidup? Hati seperti itu kah yang masih dibela bahwa ia belum mati? Belum mati bagaimana? Sudah jelas di depan mata ada kemaksiatan, lantas hati tak tergerak untuk menolehkannya.

Belum lagi jika ditanya tentang keimanan. Sedangkan membenci dengan hati saja, menunjukkan serendah-rendahnya iman, kalau tidak benci bagaimana? Serendah apa lagi keimanan itu? Naudzubillah.

Jika yang sedari tadi masih sebatas tidak melakukan (hanya membiarkan kemaksiatan meski pun tidak melakukannya), bagaimana jika kita tidak bersedih jika berbuat maksiat? Bagaimana derajat iman? Serta bagaimana respon hati? kita bisa menjawabnya sendiri.

Rasulullah pernah berkata ketika didatangi oleh sahabat “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” sahabat berkata “ya, benar”. Nabi menjawab, “tanyakanlah pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tentram, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meski telah berulang kali manusia memberi fatwa kepadamu”.

Jika respon hati terhadap dosa adalah menimbulkan keraguan serta rasa gundah, maka bagaimana dengan orang yang tak merasakan itu? Bagaimana kualitas respon hatinya? Masih kah hatinya hidup?

3.      Dan jika dinasehati tidak peduli
“Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling nasehat-menasehati untuk kebenaran, dan nasehat-menasehati untuk kesabaran. (Al-Ashr : 2-3)”

Jika dikaitkan dengan hadits-hadits yang dituliskan di atas, sangat relefan bahwa seorang dengan hati yang masih baik sesungguhnya menghendaki kebaikan dan membenci kemaksiatan. Maka usaha yang dilakukan pun adalah dengan saling nasehat-menasehati. Seorang yang memberi nasehat adalah orang yang menghendaki kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal inilah yang disebut dakwah billisan. Sementara seorang yang dinasehati adalah orang yang terbuka untuk introspeksi diri serta menumbuhkan respon hati yang masih baik.

Lalu, terhadap orang yang acuh-tak acuh jika dinasehati, kita juga bisa pastikan bahwa hatinya telah mati. Sebab, ia tidak lagi menghendaki kebaikan dan tidak lagi menghiraukan pencegahan. Nasehat yang baik pun, harusnya mampu merubah diri sendiri serta orang lain untuk melakukan kebaikan. Bukan mala menimbulkan  keengganan dan kebencian untuk melakukannya. Tapi tetap saja seorang yang tak peduli dengan nasehat dengan gaya yang bijaksana sekali pun, adalah orang yang ditutup hatinya, seorang yang telah mati hatinya.

Dari beberapa analisis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sekali pun pesan hati itu hanyalah atsar sahabat, tapi bukan berarti terucap sembarangan. Atsar itu ada benarnya, dan dapat kita jadikan referensi. Atau minimal perbandingan, pertimbangan serta pelajaran hikmah yang saya yakin pun berasal dari pemikiran yang tajam dari seorang ulama terdahulu (sahabat terdahulu) dengan meneliti fenomena, pengalaman, maupun kejadian nyata di sekitarnya. Jika segala sesuatu hanya harus berasal dari hadits yang shohi atau wahyu yang jelas, maka untuk apa kita belajar ilmu? Kalaulah memang harus seperti itu, untuk apa kita percaya ungkapan “mensano in koporisano”, “menabung pangkal kaya”, “rajin pangkal pandai”. Atau teori-teori keilmuan, pencatatan transaksi harus mengikuti pola debet-kredit, padahal hadits tentang perekonomian pun tidak ada yang mengatakan itu? Lagi pula atsar sahabat itu tidak berkaitan tentang hukum. Hanya stetment yang sesungguhnya bisa memotivasi kita untuk berbenah diri. Yang saya juga yakin, berasal dari buah pikiran terhadap fenomena setelah membaca berulang-ulang sumber wahyu dan Sunnah.

Bersyukurlah jika hati ini masih terusik dengan pesan hati itu. Sebab jika tidak, saya tidak bisa berkata-kata lagi, bagaimana kualitas respon hatinya.

Mengapa pesan hati itu begitu penting? Apa efeknya jika hati memang benar-benar sakit kemudian mati? Apa peduli kita? Maka kesempatan ini, saya tuliskan bahwa Rasulullah SAW dalam hadistnya juga pernah bersabda “…..ketahuilah, bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rudak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (qolb) (H.R Bukhori dan Muslim)”.

Begitu pentingnya hati. ia bisa menjadi barometer baik-buruknya tingkah laku manusia. Dan beruntunglah jika manusia itu masih memiliki respon hati yang baik. Ia akan segera menggerakkan diri untuk berbuat kebaikan, segera mencegah diri dari kemaksiatan serta mau menerima nasehat kebaikan. Jika sebaliknya, bahkan tidak bersedih meninggalkan kebaikan, tidak sedih melakukan kemaksiatan, dan juga tidak peduli dengan nasehat, alamat hati sudah tidak mempunyai respon dan harus terkubur sebagai hati yang mati.

Allah berfirman “dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu. Dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta (Al-Baqarah : 10)”. Jika dalam hati sudah ada sedikit saja penyakit, maka berpotensi ditambah oleh Allah penyakit itu. Jika sudah dalam keadaan akut, pelaku pun diseret ke azab yang pedih. Berdusta hanya satu dari beberapa penyakit hati, itu saja pun sudah mendapat azab. Konon meninggalkan kebaikan, melakukan kemaksiatan atau acuh-tak acuh terhadap nasehat. Naudzubillah.

Muda-mudahan tulisan ini berguna. Silakan ambil filosofi lebah. Memakan yang baik dan membuang yang baik. Ambillah apa-apa saja dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan Wahyu dan Sunnah. Dan sampaikan kebaikan itu dengan cara yang baik pula. Jazakallah. waAllahu a’lamu bisshoap.


Medan, 15 nopember 2011
By : bangsur
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar