Skip to main content

JANGAN MENYERAH!


Medan, 13 maret 2012
Kepada, kader-kader pejuang
“JANGAN MENYERAH”
Suratku untukmu


                Bismillahirrohmanirrohim
                Assalamu alaikum WR. WB

                Dear kader

                Bagaimana keadaan hari ini? Muda-mudahan setiap hari semakin sehat! Semakin semangat! Semakin rajin! Dan semakin pintar! Juga tak lupa selalu berpikir optimis untuk tidak menyerah. Namun maaf sebelumnya, sebab suratku tidak kunjung berlanjut. Maklum, aku punya banyak aktivitas. Terkadang lesu untuk menulis. Apa lagi, sudah terlalu banyak orang yang berteriak agar aku segera tamat kuliah. “Cepat selesaikan skripsimu!” Hehehe. Tapi yakinlah, sehebat apa pun para sarjana itu, aku hanya akan puas ketika aku benar-benar telah menjadi penulis. Sehingga menulis adalah aktivitas yang harus tetap dilanjutkan. Menulis itu menyenangkan dan mencerahkan. Dan bila mana pun aku sudah rindu menulis, aku pasti menulis. Sebab, menulis adalah sesuatu yang imajitaif namun mampu menjawab segala kegelisahan walau tulisan itu cuma dibaca sendiri. Menulis adalah dunia kebebasan, dunia ekspresi. Menulis adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa harus sarjana terlebih dahulu.

                Ya sudahlah. Aku pun tidak ingin tamat lama-lama. Baik, kita mulai saja. Melalui suratku kali ini, aku punya dua wasiat, juga dua tips. Kedua-duanya aku tuliskan buat siapa saja yang hampir putus asa atau sudah kronis putus asanya. Semoga berguna.

                Kader. Dalam menapaki kehidupan maupun perjuangan ini, siapa pun tau bahwa terkadang harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang mengekspresikannya dengan bermacam-macam sikap. Ada yang biasa saja, ada yang tetap optimis, namun yang paling sering adalah putus asa. Sudahlah, jangan cerita masalah. Antum juga sudah tau itu.

                Putus asa adalah hal yang lumrah, manusiawi. Sebab, Tuhan pun katakan bahwa manusia itu lemah. Wujud dari kelemahan itu pun diekspresikan dengan keputus-asaan. Terkadang, kita sudah berusaha maksimal, namun diremehkan dan dicaci. Sudah bersusah payah, namun tak berhasil. Sudah selalu diingatkan namun tak dapat respon yang baik dari orang di sekitar. Juga sudah berusaha maksimal, namun tak dihargai. Yah, macamlah. 

                Kondisi seperti itu, membuat kita terkadang harus lesuh, lunglai, menyerah, tak mau mencoba lagi, bahkan berbalik arah meninggalkan perjuangan. Dalam keadaan yang akut, bahkan ada yang sampai meninggalkan kehidupan. Bahaya nggak tuh? Lebih bahayanya lagi, pada kehidupan selanjutnya pun tak ada jaminan mendapat kebahagiaan, mala mungkin keburukan. 

                Yang pastinya, keputus-asaan hanya akan membawa kita ke dalam ruang hampa, tanpa siapa, tanpa saudara, tanpa semangat. Putus asa mampu membuat urat di dahi kita pun mengerut, hingga tak sedikit orang yang berwajah tua, padahal usianya relatif muda. Ada pula orang yang tidak mampu lagi tersenyum. Sebabnya, yah itu tadi, karena putus asa. Terlalu lama putus asa juga tidak baik. Manusia memang lemah, namun Allah telah menganugerahi sesuatu yang membuat manusia mampu bangkit dari keputus-asaan. 

                Lalu memangnya kenapa kalau sudah putus asa? Apa yang bisa kubuat? Hmmmm. Pertanyaan seperti ini pun sebenarnya keluar dan terekspresikan dari wujud keputus-asaan itu. Hahahaha. Nah, inilah wasiatku untuk orang yang hampir putus asa, atau sudah dalam keadaan putus asa yang akut :

1. Jangan menyerah

Beberapa hari yang lalu aku sudah kirimkan sms lewat seluler antum. Dan akan kutuliskan kembali dalam suratku yang ini. Aku ingin katakan kembali, jangan menyerah!
Kader. Antum mungkin juga sudah tau, bagaimana seorang Iblis bisa tersesat dan terlaknat, bahkan hingga akhir nanti. Dan tempatnya pun di neraka. Yah, antum sudah tau. Ia putus asa. Ia putus asa dari rahmat Allah dan tidak mau bersujud memberi hormat kepada Adam. Dan kesombongan lah yang melatar-belakanginya. 

Dengan kesombongan itu, ia ingin lebih dihormati dari pada Adam. “Aku lebih mulia dari pada Adam. Aku tercipta dari api, sementara ia tercipta dari tanah”, begitu kira-kira. Lantas ia pun menjadi makhluk yang terlaknat selama-lamanya akibat kesombongannya itu. Padahal, jika diingat Iblis termasuk hamba Allah yang sebelumnya sangat gemar beribadah. 

Dengan laknat itu, kemudian Allah pun mengeluarkan Iblis dari surga dan menjanjikan neraka di akhir nanti. Aku sempat terpikir, (juga mungkin antum) kalau lah Iblis sudah tau ia bakalan di neraka sementara ia masih hidup hingga hari ini, bukankah lebih baik dia bertobat saja? Memohon ampun kepada Ilahi kemudian mau bersujud kembali memberi hormat kepada Adam. Bukankah InsyaAllah ia akan menjadi orang-orang yang beruntung dan diampuni Allah? Nabi Adam saja bisa diampuni Allah setelah bertobat bertahun-tahun. Tapi, itupun logika saya, bukan mendahului wahyu. Yang menarik adalah, belum pernah ada dalil atau informasi yang mengatakan bahwa Iblis sudah bertobat. Hahahaha. Lama-kelamaan mala ngelantur.

Tapi serius, nyatanya Iblis memang juga tidak bertobat sampai hari ini. Ia mala menjanjikan akan menyesatkan manusia hingga akhir waktu nanti. Apa yang bisa diambil hikmahnya? Di sinilah wujud dari keputus-asaan Iblis. Ia bahkan tetap tidak mau bertaubat. Dan antum tau, Iblis itu sendiri artinya adalah putus asa. Kata iblis menurut berbagai ahli bahasa berasal dari ablasa artinya putus asa. Dinamai iblis karena dia putus asa dari rahmat atau kasih sayang Allah SWT (Sayid Sabiq, 1989. hal 219).  Putus asa dari rahmat Allah. Putus asa karena kesombongannya. Hingga akhirnya menjadi makhluk yang terlaknat selama-lamanya.

Maka, kepada kader-kader IMM, jangan ikuti langkah Iblis. Jangan putus asa! Caranya bagaimana? Jangan menyerah! Teruslah berjuang. Teruslah berkarya. Jangan harapkan pujian manusia, jangan hiraukan caci maki manusia. Wajar saja kalau mereka mencaci maki. Toh, begitu juga kan yang dialami para nabi? Apa pun yang kita alami, selagi baik ia akan berbuah kebaikan pula. “dan barang siapa yang beramal kebaikan seberat biji dzarrah pun, maka ia akan melihat balasannya” (Al-Zalzalah : 7). Jangan menyerah. Semakin menyerah, maka semakin dekatlah kita kepada keputus-asaan. Dan itu berarti semakin jauhlah kita dari rahmat Tuhan. Sekali lagi, jangan menyerah. Kalau pun banyak rintangan, itu hal yang biasa.

Bayangkan, jikalau awalnya kita sudah mantap untuk memperingati saudaranya untuk tidak berbuat jahat, harus rajin ibadah. Kemudian karena peringatannya selalu tidak dihiraukan ia pun putus asa dan meninggalkan saudaranya dalam keadaan tetap jahat. Ia pun asyik untuk beribadah sendiri. Masuk surga sendiri. Nabi Adam saja tidak betah sendirian di surga. Bukan kah ibadanya tidak memberi manfaat kepada saudaranya itu? Bukankah itu sama seperti Iblis, gemar ibadah, namun karena putus asa, ibadahnya itu pun tak mampu memberi manfaat untuk menyelamatkannya. waAllahu A’lam. Maka, tetaplah semangat! Jangan menyerah! Jangan putus asa!

                Oh ya, mungkin ini perlu aku sampaikan. Dahulu sewaktu aku masih remaja, masih di bangku sekolah, aku selalu mengibaratkan sebuah masalah atau tantangan kehidupan sama seperti berada dalam sebuah ring tinju. Di dalam ring itu ada lawan. Kita tidak bisa keluar dari ring itu. Dan lebih gawatnya lawan kita itu tetap saja akan menghajar kita. Maka, tidak ada pilihan. Selaku aktor yang ada di dalam ring itu, mau tidak mau kita harus menghajar lawan. Sebab kalau tidak, kitalah yang dihajarnya. Dan menyerah di tengah ring yang genting sama saja menunggu mati. Kalau kita melawan ada dua kemungkinan. Pertama mungkin menang, yang kedua kalah dengan terhormat. Namun jika kita diam atau menyerah kepastiannya cuma satu, kita akan mati.

                Aku mengibaratkan, lawan itu adalah masalah atau tantangan kehidupan. Ringnya adalah kehidupan dunia. Kita tidak bisa lari dari ring. Kita juga tidak bisa diam dan menyerah. Satu-satunya jalan adalah menghadapi lawan, menghadapi masalah. Jangan menyerah. Jika pun telah terjatuh, bangkit lagi! Lawan lagi! Jangan menyerah! Apa lagi sampai putus asa!


2.     Tetaplah bersabar (dengan cara ikhlas)

Kader. Keputus-asaan terkadang, mau tidak mau sulit untuk dihindarkan. Aku juga mengerti itu. Namun, wasiatku “tetaplah bersabar!”. Bagaimana caranya? Ikhlaskanlah niat! Tujukan niat ini hanya untuk mencari ridho Ilahi. Berusahalah untuk memanajemen ikhlas. Ikhlas itu artinya tidak bercampur (murni). Buah dari keikhlasan adalah sabar, sukur, tawadhu’, wara’, juhud, dan lain sebagainya. Kalaulah hari ini nyatanya kita belum mampu untuk bersabar, bersyukur dan lain sebagainya, maka koreksi ulanglah bagaimana kualitas ikhlas dari dalam diri kita. Mengenai keikhlasan ini, aku punya buku yang berjudul “mengarungi samudera ikhlas”. Belum habis aku baca, tapi efeknya luar biasa. Hanya beberapa halaman saja, buku itu sudah memberikan sugesti betapa keikhlasan begitu berpengaruh pada semangat kita berjuang. Dengan keikhlasan, kita tidak akan meminta dihargai. Dengan keikhlasan, kita tidak mudah tersinggung jika tidak dihormati. Lebih lanjut lagi, kita tidak putus asa berdakwah dan mengingatkan meski tidak direspon dengan baik. Sebab, sebuah keikhlasan adalah jiwa yang mengantarkan kita kepada tujuan hanya kepada Allah. Maka wajarlah jika Nabi mengatakan, “Barang siapa telah mengikhlaskan seluruh perbuatannya kepada Allah selama 40 hari, maka akan tampaklah mata air hikmah mengalir dari hatinya ke lidahnya”.

Keikhlasan adalah sumber dari ekspresi yang mengalirkan akhlak yang baik nantinya. Dengan ikhlas, kita bisa tau bagaimana ekspresi bicaranya. Orang yang ikhlas, akan tetap berbicara yang santun meski ajakannya ditolak. Orang yang ikhlas tidak akan beranjak dari perjuangan meski pun tidak dihargai. Sebab, motivasinya hanya satu, mengharap ridho Allah. Jika hari ini kita sudah menyerah dari perjuangan, maka perbaikilah kembali menejemen ikhlas dari dalam hati ini. 40 hari dalam hadist tersebut hanyalah bilangan yang menguji kita. Dan menunjukkan betapa menejemen ikhlas terkadang memang sulit digalakkan. Namun, dengan riyadho (latihan) insyaAllah nantinya akan menjadi kebiasaan.

Ada beberapa hal yang menjadi peluang mengapa kita bisa putus asa. Diantaranya, mungkin kita terlalu berharap sempurna. Dengan tuntutan itu, misalnya kita berharap setiap orang bisa puasa sunnah senin-kamis, dan dikampanyekan setiap saat lantas tidak berhasil, maka dengan tuntutan yang terlalu berharap sempurna itu kita pun putus asa. Astaga. 

Dalam beberapa pengajian duhulu, ada hal yang disampaikan oleh Ustadz Burhanuddin Sgn, bahwa berdakwah itu nggak mesti harus ada targetan. Sebab, jika ada targetan dan kita tidak sanggup menjalankannya, yang terjadi adalah putus asa. Targetan yang dimaksud di sini adalah targetan yang terlalu ingin sempurna dicapai. Lagi pula, Tuhan juga tidak menuntut banyak. Tuhan juga tau kemampuan kita. Maka amat bijaklah beberapa kata yang mengatakan bahwa, “jangan pernah menjadi sempurna! Namun, lakukan sajalah dengan sempurna atau yang mendekati sempurna”, orientasinya bukan hasil, tapi usaha. Aku juga ingin katakan dan mungkin antum selalu mendengar ocehanku ini bahwa, “Kita tidak diharuskan menjadi sempurna. Namun berikhtiar untuk menjadi sempurna adalah kewajiban”. Jika pun tak sempurna juga dalam berikhtiar, di situlah letak kesempurnaan itu. Antum mungkin juga ingat, bahwa Allah tak akan mencoba umatnya melebihi yang ia mampu. 

 “Kita tidak diperintahkan menjadi sempurna. Tapi, berikhtiar untuk melakukan yang sempurna adalah kewajiban”. Jangan berharap dihargai, jangan mundur kalau dicaci. Tetap semangat. Tuhan pun tak memerintahkan yang berat-berat. Misalnya, dalam dunia dakwah.  Kita tak diminta untuk menjamin keimanan seseorang. Kita hanya diperintahkan untuk mendakwahkan seseorang agar beriman. Soal hasil, itu urusan dia dan Tuhan. Ingat, kita hanya disuruh menyampaikan. Kita hanya diperintahkan beramar ma’ruf nahi munkar. Soal hasil, serahkan saja pada Tuhan. Kita tidak bisa memaksakan. Bukankah Tuhan pun berfirman “sesungguhnya sama saja engkau beri peringatan atau tidak mereka tidak akan beriman”, namun ayat itu bukan berarti mengajak kita absen dari memberi peringatan. Yang perlu digarisbawahi adalah jangan berharap hasil, tapi lakukan sajalah ikhtiar untuk mencapai hasil. Jangan putus asa. Jangan menyerah.

Ah. Sudahlah! Bersabar saja dalam berjuang dan berkehidupan. Sekali lagi jangan putus asa! Tau kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan? Itu juga karena ia putus asa. Ia putus asa dengan umatnya yang durhaka kepadanya juga kepada Tuhannya. Lantas Allah berencana memberi adzab kepada kaumnya. Sayangnya, Nabi Yunus sudah pergi duluan padahal Allah belum memerintahkannya. Kepergiannya adalah wujud dari keputus-asaan melihat kedurhakaan kaumnya. Wal hasil, ia pun ditelan ikan di tengah lautan.

Berjuang memang akan membuat kita lelah. Tuhan pun tau kita lelah. Tapi taukah kita, Tuhan hanya akan memberi ridhonya ketika kita benar-benar lelah (meninggal dunia atau saat sudah berkumpul di akhirat kelak). Aku pernah menuliskan puisi (kalaupun itu dikatakan puisi), dan aku lampirkan kembali di suratku kali ini. Dalam puisi itu aku berpesan bahwa tidak ada yang lebih kita harapkan dari usaha ini kecuali ridho Ilahi. Dan ridho itu baru akan kita dapatkan ketika kita sudah ikhlas berbuat, di mana perbuatan itu merupakan hasil karya yang baik (amal yang baik) yang menyebabkan kita lelah setiap saat. Baca surah al-bayyinah! Puisi itu juga terinspirasi dari ayat-ayat itu. Aku tulis puisi itu di hari-hari yang sangat melelahkan setelah seharian berjuang. Melelahkan sekali. Dalam imajinasiku hari itu, tidak ada yang lebih aku harapkan dari perjuangan ini selain Tuhan memberikan ridhoNya kepada kita, sehingga lelah itu pun terlepas. Dan Ia baru akan memberi ridhoNya ketika kita benar-benar telah lelah. Lelah jasad dan jiwa. 

                Begitulah wasiatku untukmu. Namun, tak dipungkiri kadang putus asa tetap saja menghampiri. Baiklah, aku punya tips bagaimana agar kita tak berpaling untuk putus asa, tak lekas menyerah saat berhadapan dengan perjuangan. Dua tips juga:


1.     Permainkan saja dunia ini

Kader. Ingat nggak, Allah pernah berfirman dalam ayatnya, “tidaklah kehidupan dunia ini, kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”. Menarik sekali. Kenyataan ini menegaskan kepada kita bahwa dunia ini permainan, kawan. Lalu, mengapa kita harus terlalu mengerutkan dahi memikirkan kesempurnaan? Saya yakin, setiap kita suka bermain. Karena kita suka bermain itulah, hari-hari tidak kosong dan selalu terisi dengan sesuatu yang kita senangi. Lantas buat apa putus asa? 

Permainkan saja dunia ini. Terkadang aku heran, mengapa kebanyakan dari kader kita kok seakan harus mengerutkan dahi, memikirkan dengan seriusnya hingga berakhir pada kebosanan dan bermuara pada keputus-asaan dan berlabu pada kesudahan perjuangan di dermaga putus asa. Padahal, menurut hemat saya, berjuang pun permainan. Kita harus merasa senang dengan permainan perjuangan itu. Jangan terlalu memaksakan pikiran. Mainkan saja dunia ini. Tapi ingat, dalam bermain ikutilah aturan main sesuai dengan yang sudah digariskan. Dan dalam bermain, berusahalah bermain sebaik mungkin hingga kita pun menjadi pemenang dalam permainan itu. Jika gagal, mainkan lagi. Jangan putus asa. 

Sama dengan berjuang. Kalau gagal, ya sudah, mainkan lagi. Anggap saja seperti permainan. Bagaimana agar tercipta permainan yang menyenangkan? antumlah pemainnya. Dalam bermain, sempatkanlah untuk bertukar permainan agar tidak bosan dengan satu permainan saja. Seni misalnya, terkadang saking penatnya menghapal rumus-rumus kimia, atau lelah membuat laporan keuangan perusahaan, sekali-kali kita butuh bermain dengan seni. Silakan dicoba!

Untuk lebih jelasnya, telah kurangkumkan dalam satu tulisanku mengenai permainan dengan judul, “akan tetap bermain” silahkan dibaca. Dalam tulisan itu aku mengatakan bahwa semua fase usia manusia adalah merupakan masa-masa bermain. Sejak kecil, remaja, dewasa, berkeluarga, hingga tua bahkan mendekati ajal sekali pun, kita akan terus bermain dengan permainan-permainan yang beragam. 


2.       Mari bersenda gurau         

Tentang senda gurau. Aku ingin katakan kepada semua kader, tertawalah dalam permainan perjuangan. Ini pun aku katakan bukan tanpa dasar. Sudah aku tuliskan dalilnya di atas, bahwa kehidupan hanyalah senda gurau belaka. Maka tertawalah dengan senda gurau. Terkadang, dengan tertawa kita mampu menjawab semua pertanyaan yang tak terdefinisikan. Aku pun menuliskan buat semua orang, “ketika aku tidak bisa lagi menangis, maka aku akan tertawa”. Tuliskanku yang ini menarik untuk antum ketahui, bahwa hidup adalah ekspresi dari menangis dan tertawa. Pilih yang mana? 

Akhirnya, aku ingin mengulangi apa yang pernah aku pesankan secara singkat lewat sms. “Iblis tersesat karena putus asa. Maka janganlah putus asa! Sekiranya usaha pun sudah, tapi tak sesuai dengan cita, bersabarlah dan jangan menyerah! Tuhan pun tau bagaimana letihnya kita. Jika pun hampir putus asa, maka permainkan saja dunia. Sebab, jangan ingkari wahyu Ilahi, “dunia adalah senda gurau dan permainan belaka”. Karena itu, mari bersenda gurau dan bermain. Tapi ingat, dalam bermain, ikutilah aturan main dan jadilah pemenang dalam permainan itu! Dan soal senda gurau, kadang-kadang kita harus tertawa, sebab dengan tertawa mampu menjawab pertanyaan yang tak terdefinisikan! Ingat, ketika aku tak mampu lagi menangis. Maka aku akan tertawa!”

Semoga berguna. Semoga terinspirasi. Semoga tak lagi putus asa! Ayo, kita permainkan saja dunia ini. Dan mari bersenda gurau. Hehehe…

Sampai nanti, di suratku yang akan datang. Aku hanya berusaha kreatif dalam mengejawantahkan firman tuhan, bahwa “semua manusia adalah merugi. Kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Serta nasehat-menasehati dalam kebaikan dan nasehat-menasehati dalam kesabaran”. Sesuai dengan suratku yang pertama “tawashshow”, aku akan berusaha senantiasa mengirimkan surat. Buatmu, para kader pejuang! Semangat! Semangat! Semangat! Ayolah…..! ayo…..! ayo…..! 507x!

Semoga berkah rahmat Ilahi melimpahi perjuangan kita.
Billahi fii sabilil haq. Fastabiqul khaoirat.
Assalamu alaikum WR WB



Medan, 13 maret 2012
From me





Suramah
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar