Skip to main content

Kebersihan adalah manifestasi dari iman


                Dalam hadistnya, Nabi pernah ditanyai oleh Jibril perihal islam, iman dan ihsan. Dengan redaksi yang diringkas, matannya bermakna sebagai berikut, “……kemudian Jibril bertanya lagi, ‘beritahukan kepadaku tentang iman!’. Nabi menjawab, ‘iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir dan beriman kepada taqdir Allah yang baik dan yang buruk’. Jibril berkata, ‘Engkau benar’……” (H.R Muslim). 

Dalam haditsnya yang lain, Nabi berkata, “….kesucian (kebersihan) adalah sebagian dari iman, Alhamdulillah memberatkan timbangan, subhanallah walhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi, sholat adalah nur, shadaqah adalah burhan, sabar adalah pelita, Al-qur’an adalah hujjah…..” (H.R Muslim).

Ada sebuah kebingungan yang sempat bersarang dalam benak hati yang membuat logika bertanya-tanya dalam waktu yang berlarut-larut tentang hadist kedua yang tertulis di atas. Bagaimana korelasi antara iman dengan kebersihan? Bagaimana  mungkin hanya dengan sekedar menjaga kebersihan mampu menambah keimanan di dalam hati? atau secara praksis misalnya, bagaimana mungkin dengan hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya, atau sekedar menyapu halaman mampu membuat keimanan kita meningkat? Bagaimana korelasinya? Kebersihan dengan keimanan?

                Akan berbeda jika kita bandingkan dengan korelasi antara berpikir tentang ciptaan Allah dengan keimanan. Seperti apa yang dikatakan dalam sebuah hadist Nabi, “Pikirkanlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan memikirkan Zat-Nya”. Dengan memikirkan atau merenungkan ciptaan Allah, maka setiap saat akan semakin bertambahlah keimanan dan semakin tertanam kokohlah dalam hati ini. Misalnya, suatu waktu kita merenungkan bagaimana Dzat Yang Maha Agung itu bisa menurunkan hujan? Hujan yang turun itu pun lantas memberikan berkah bagi seluruh alam di bumi ini, menumbuhkan pohon dari padanya, memberikan sumber air kepada makhluknya, dan memberi kehidupan lewat rahmatNya. Berpikir tentang kuasa Tuhan itu akan membuat kita mula-mula takjub dengan gejala dan fenomena alam itu, selanjutnya kita akan lebih takjub dan meyakini, bahwa ada Dzat yang bertindak dalam mengatur gejala dan fenomena alam tersebut. Dia adalah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Pada gilirannya, akan membuat manusia beriman. Begitulah korelasi antara berpikir tentang ciptaan Allah dengan keimanan. Semakin kita memikirkan ciptaan Allah, maka semakin tumbuh mekar keimanan dalam hati kita.

                Begitu pula dengan hubungan antara membaca Qur’an dan keimanan. Keduanya masih mempunyai korelasi yang positif (searah). Dengan memperhatikan dan merenungkan kata demi kata dari pesan yang ada pada tiap ayat suci Al-qur’an, batin setiap manusia pun akan senantiasa terpupuk dengan keimanan, dimana semakin hari akan semakin tumbuh merekah menjadi keimanan yang semakin matang. Sebab, dengan membaca dan merenugkan isi al-qur’an, akan didapati kebenaran-kebanaran petunjukNya serta pencerahan yang optimal dibandingkan jika tidak membaca Al-qur’an. Banyak sekali rahasia Ilahi yang membuat kita tak lagi terbebani hidup jika sudah membaca dan merenungkan pesan-pesan Al-qur’an. Pada akhirnya semakin tumbuhlah keimanan dari dalam. Dari hal ini bisa diketahui bahwa masih ada hubungan yang positif antara membaca Qur’an dengan keimanan. Semakin banyak membaca dan merenungkan kata demi kata dari ayat suci Al-qur’an, maka akan semakin menumbuhkan keimanan yang matang pada tiap diri manusia (kecuali orang yang menutup hati dan berpaling dari Al-qur’an). Seperti yang di pesankan dalam Al-qur’an sendiri, “sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal”. (Al-Anfal : 2)

                Atau seperti hadits yang pertama di awal tulisan ini, keimanan adalah engkau beriman kepada hari kiamat. Jika dianalogikakan, bahwa kehidupan ini punya permulaan dan pasti akan ada akhirnya. Apa lagi dengan melihat gejala alam sekitar bahwa makin hari makin terlihat bagaimana bumi ini semakin menunjukkan rasa tidak bersahabat. Hingga jika kondisi sudah sangat akut, maka kiamatlah dunia. Dengan mempercayai bahwa pasti akan tiba hari kiamat, maka akan semakin memupuk keimanan di dalam hati. Dan itu berarti bahwa percaya akan adanya hari kiamat mempunyai korelasi yang positif dengan keimanan.

                Namun, bagaimana dengan kebersihan? Adakah korelasi antara kebersihan dengan keimanan? Selaku masyarakat awam yang selalu dijejali dengan anjuran-anjuran agar menjaga kebersihan, bahwa kebersihan adalah sebagian dari keimanan, namun pernahkah terpikir bagaimana sebenarnya hubungan maupun koneksi sehingga disimpulkan bahwa dengan menjaga kebersihan maka akan terpancar keimanan dari dalam diri manusia? Secara nyeleneh, kita bisa bertanya bagaimana mungkin dengan hanya menjaga kebersihan akan semakin menambah kematangan iman dalam diri manusia? Bagaimana mungkin, dengan hanya menyapu halaman, atau membuang sampah, akan menumbuhkan keimanan dalam diri manusia? Bagaimana korelasinya? Jika dibandingkan dengan korelasi antara memikirkan kuasa Allah dengan keimanan dan korelasi antara merenungkan isi Al-qur’an dengan keimanan, seolah tidak akan ditemukan korelasi antara kebersihan dengan keimanan. Jika pun ada, bagaimana koneksi dan hubungannya?

                Sebagian pendapat mengatakan bahwa hadist yang mengatakan bahwa kebersihan sebagian dari iman berpredikat dhoif. Hadist yang disinyalir dhoif itu, adalah hadist dengan redaksi yang sudah masyur ditelinga umat islam, “An-Nazhofatu minal iman”. Namun tidaklah demikian jika kita merujuk pada hadist dengan redaksi, “…. At-Thuhuru syathrul iman…..” dengan makna yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih luas “Kesucian (kebersihan) adalah sebagian dari iman” (seperti redaksi hadist yang termaktub di awal tulisan ini). Sebab, hadist dengan redaksi kedua ini diriwayatkan oleh Muslim dan termaktub dalam kitab hadist Arba’in Nawawi. Maka, tidaklah bisa disalahkan bahwa ada hadist yang mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman dengan redaksi yang berbeda, namun mempunyai makna yang lebih kuat dengan redaksi “ath-thahuru”.

                Dalam beberapa sumber agama, kita masyur mengetahui bahwa keimanan itu diyakini dalam hati, diucapkan oleh lidah dan dilakukan oleh raga. Jika kita merujuk pada pernyataan ini, maka kedudukan kebersihan adalah merupakan realisasi iman yang dijawantahkan oleh raga. Atau secara umum bisa dikatakan bahwa kebersihan merupakan manivestasi dari keimanan.

Kebersihan adalah pengejawantahan dari iman. Kesadaran terhadap pentingnya kebersihan adalah upaya meyakini bahwa wahyu-wahyu atau perintah untuk menjaga kebersihan sesungguhnya datang dari Dzat yang indah dan mencintai keindahan yang merupakan bentuk dari Ar-Rahman dan Ar-Rahimnya Allah SWT, Dzat yang menghendaki kebaikan bagi hambaNya (dalam hal ini kebersihan). Proses penyadaran itu, merupakan manivestasi dari keimanan yang sudah terbentuk. Dan pada gilirannya setiap insan akan merealisasikan keimanan itu dalam bentuk menjaga kebersihan. 

Sama halnya seperti sholat, berinfaq maupun berjihat. Semua perintah agama tersebut merupakan manivestasi dari keimanan itu sendiri. Dan usaha melaksanakannya merupakan pengejawantahan dari keimanan. Sebab, sebuah keimanan mempunyai konsekuensi terhadap pembuktian. Kita bisa melihat seorang yang memiliki keimanan, akan senantiasa berusaha mendirikan sholat, berinfaq, berjuang di jalan Allah dan lain sebagainya. Seorang yang memiliki keimanan adalah mereka yang meyakini dalam hatinya, terucap kebaikan dari mulutnya dan terjaga amal secara praktiknya. 

Seorang yang memiliki keimanan adalah mereka yang meyakini dalam hatinya, terucap kebaikan dari mulutnya dan terjaga amal secara praktiknya. Begitu pulalah dengan kebersihan. Seorang yang menjaga kebersihan merupa-kan orang yang tau dan meyakini dalam hati bahwa menjaga kebersi-han adalah anjuran dari Allah dan RasulNya. Selanjutnya, keimanan berpesan agar perintah itu didak-wahkan kepada orang di sekitarnya melalui lisannya untuk sama-sama menjaga kebersihan dan mereali-sasikannya melalui gerak raganya.  

Dari hadits tentang kebersihan ini, diperoleh pesan bahwa seorang yang telah benar-benar beriman, akan membuktikan kebenaran imannya itu lewat apa yang telah atau akan dilakukannya. Dan menjaga kebersihan, merupakan salah satu pembuktian kematangan iman yang dimiliki seseorang itu. Siapa yang menjaga kebersihan artinya ia telah memancarkan keimanan dari dalam hatinya. Sebab kebersihan itulah wujud nyata dari keimanannya.  

Begitu pula yang dipesankan dalam surat Al-anfal ayat 3-4 (lanjutan dari ayat dua sebelumnya) “….. Yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat, dan menginfaqkan sebagian dari rezaki yang kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman……”. Jika diperhatikan, sholat, infaq dan lain sebagainya bukanlah kategori iman seperti yang dikatakan oleh Rasul saat ditanya oleh Jibril. Namun begitu, sama halnya dengan kebersihan, sholat, berinfaq dan lain sebagainya merupakan manivestasi dari iman itu sendiri. 

Maka penting bagi setiap pribadi umat muslim, mengetahui dan melaksanakan, bahwa keimanan itu harus dibalut dalam tiga hal, yaitu diyakini dengan hati, diucapkan dengan lidah dan dijawantahkan oleh raga. Dalam artian, seseorang yang telah menyatakan beriman, harus pula mendakwahkan keimanan itu lewat lisannya dan merealisasikannya dengan raga

Maka tidak lah cukup bagi setiap orang hanya mengetahui sekedar kata-kata manis, “kebersi-han adalah sebagian dari iman”, tapi wujud nyata dari keimanan itu sendiri adalah mulailah menjaga kebersihan. Hari ini juga. Sekarang! WaAllahu a’alam. Jazakumullah 



Medan, 12 maret 2012
Bang sur_5:07
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar