Skip to main content

Sabar dan syukur sebagai pemuas hidup


Sebuah teori ekonomi yang membahas tentang permasalahan ekonomi dari dulu hingga sekarang mengatakan bahwa “kebutuhan manusia tidak ada batasannya sementara sumber daya yang disediakan alam sangat terbatas”. Dengan bahasan ini, para pakar ekonomi menyimpulkan bahwa kebutuhan manusia tidak pernah ada habisnya sementara sumber daya yang tersedia amatlah sangat terbatas jumlahnya. Benarkah? Bisa benar, bisa tidak. Benar jika manusia mengikuti hawa nafsu dan salah jika manusia mengikuti fitrah penciptaannya.

Hingga hari ini masalah dasar ekonomi itu, masih diiyakan oleh hampir semua ahli ekonomi, lebih-lebih oleh masyarakat yang bersifat tidak pernah puas. Meskipun ada beberapa pakar ekonomi lain yang justru berpandangan terbalik dengan teori di atas, sayangnya disiplin ilmu ekonomi lebih menitik-beratkan bahasannya pada teori di atas. Sedikit sekali ilmuan ekonomi yang mampu menyangkal, (tidak mungkin disangkal), atau paling tidak mengimbanginya dengan teori yang mengatakan bahwa manusia juga punya naluri untuk tidak rakus, namun puas pada titik tertentu.


Kebutuhan manusia yang tidak ada batasannya itu melahirkan pengertian bahwa tingkat kepuasan manusia juga tidak berbatas. Kondisi ini memperkeruh kehidupan konsumsi manusia. Di mana saat menghabiskan nilai guna suatu barang, maka ia akan mencari barang yang lain lagi. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa para pemangku kepentingan ekonomi memanfaatkan naluri konsumtif itu untuk meraih keuntungan. Kondisi ini pula yang memaksa pembenaran logika bahwa tidak dipungkiri manusia adalah makhluk yang rakus. Rakus!

Wajar saja jika kebanyakan manusia tetap mengiyakan teori itu. Sebab memang secara naluri manusia punya kecenderungan untuk terus mengkonsumsi. Meski pada beberapa waktu, manusia dituntut untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna, namun di waktu yang lain kecenderungan manusia akan mengkonsumsi makanan melebihi dari 4 sehat 5 sempurna itu hanya untuk memuaskan nafsu makannya, hingga nantinya akan beresiko pada kesehatan. Kondisi ini sama halnya dengan keadaan di mana kita sedang berada di sebuah pertengahan jalan yang menanjak. Meski pun tujuan hidup ada di atas puncak jalan, namun kecenderungan untuk turun, merosot ke bawah seolah menjadi hal yang tanpa disadari menjadi sebuah pembenaran logika. Begitu pula dengan nafsu konsumtif tersebut, meski tujuan hidup manusia bergaya hidup sehat, namun naluri memuaskan nafsu menjadi alasan tersendiri untuk melanggar tujuan itu. 

Jika mengikuti naluri nafsu, manusia tidak akan puas dengan hanya mengkonsumsi satu komoditas alat pemuas kebutuhan saja. Dengan nafsunya itu, manusia akan mencari yang lebih meskipun sesungguhnya jasmaninya sudah tercukupi, hanya nafsunya yang belum terpenuhi. Tapi, jika dipikir-pikir secara gamblang bisa saja pendapat itu disangkal. Bukankah manusia juga akan kenyang jika sudah mengkonsumsi makanan pada batasan tertentu? Bukankah dia sudah puas?

Entah lah. Tapi nasehat bijak mengatakan bahwa jika manusia punya rezeki yang berlebih, maka ia akan mencarinya lagi. Hal ini diiyakan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa “jika manusia diberi satu gunung emas, maka ia akan meminta satu lagi”. Celaka lah kita, ternyata manusia memang rakus.
di kebun teh Babutong Siantar. Dari kanan ke kiri : Fahri, bang Sur, Reva, Boem

Dengan kerakusan itu, kita lantas sulit untuk puas. Yang sudah punya sepeda angin, ingin punya sepeda motor. Yang sudah punya sepeda motor ingin mobil. Yang sudah punya mobil, ingin  punya mobil lebih banyak lagi. Padahal, bisa jadi kebutuhan untuk memiliki mobil sudah berada pada taraf poya-poya dan tidak memiliki kemanfaatan yang mendesak. Mungkin juga, andaikan seorang manusia sudah punya Pulau Sumatera ia akan berambisi menguasai Pulau Jawa. Sungguh rakus. Tidak pernah puas. Dan sampai kapan pun tidak akan pernah puas.

Hanya ada beberapa sikap dan sifat yang mampu menjawab kerakusan itu. Sekaligus mampu mematahkan teori yang mengatakan bahwa kepuasan manusia tidak ada batasnya. Sifat dan sikap itu adalah sabar dan sukur.

Memang, secara logika (mungkin labih tepat, secara kecenderungan nafsu) manusia tidak akan puas dengan pemenuhan kebutuhannya walau hingga menguasai dunia. Namun, dengan sabar dan sukur keduanya mampu membuat manusia puas dengan sendirinya. Tidak kekurangan meski pun miskin. Dan tidak sayang untuk membagikan harta waktu sudah kaya. Lagi pula, jika manusia mau saja mengikuti fitrahnya tanpa harus tergesa-gesa mengabulkan nafsunya, maka kehidupan ini akan baik-baik saja. Malahan akan tetap selamat sebagimana mestinya. Sama halnya dengan mengkonsumsi makanan, jika masyarakat hanya mencukupi kebutuhan seperlunya saja semisal makan tiga kali sehari dengan makanan yang bergizi 4 sehat 5 sempurna, sudahlah cukup bagi kesehatannya. Mala justru jika mengikuti kemauan nafsu untuk mengkonsumsi melebihi yang semestinya dengan asupan gizi yang bisa saja masih diragukan manfaatnya, hanya akan membuat fisiknya tidak sehat. Begitulah seharusnya, manusia hidup harus mengikuti arus fitrahnya. Bukan mengikuti nafsunya. Namun sekali lagi mengekang nafsu bukanlah hal mudah. Di sini lah manusia membutuhkan kesabaran dan rasa syukur.

Dengan sifat sabar, manusia akan dituntun ke jalan menahan kehendak nafsu. Manusia tidak akan was-was dengan harta yang hanya seberapa. Ia tak berkecil hati jika kebutuhannya tak terlengkapi. Baginya, semua kekayaan ini adalah milik Allah. Dialah yang berhak memiliki kekayaan alam ini. Bahkan Dialah yang berhak atas dirinya. Dengan sifat sabar, manusia akan tetap berjalan menanjak menuju tujuan hidup yang sesungguhnya. Meski berat, meski susah, mesti banyak digoda oleh naluri nafsu.

Demikian pula dengan sifat syukur, manusia sudah akan puas dengan apa saja yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia sudah puas dengan sendirinya. Tanpa banyak tuntutan, tanpa banyak keluhan, juga tanpa mempercayai teori bahwa kepuasan tidak ada batasnya. Dengan sifat syukur itu, ia akan termotivasi untuk terus beramal. Baginya, apa yang dimilikinya hari ini merupakan kekayaan Allah yang dititipkan kepadanya. Selanjutnya ia pun akan berbagi dengan sesama semampunya. 

Dan hari ini, jika kehidupan masyarakat sudah berada dalam tarap yang akut dalam menyikapi kehidupan, tampaknya layak untuk mempertimbangkan dua sifat ini. Sabar dan syukur akan menjadi solusi yang tepat bagi kecukupan kebutuhan. Dengan sabar dan syukur, masyarakat tidak akan terlalu menuntut lebih, tidak akan mengeluh, juga akan senantiasa sudah merasa puas dengan segala yang diberikan Allah Azza Wajalla. 

Dengan sabar dan syukur, insyaAllah akan terjalin hubungan kemasyarakatan yang baik. Kelompok submarjinal (orang miskin) tidak akan banyak mengeluh dan tetap berusaha menghidupi kehidupannya dengan terus bekerja keras. Tak lupa berdoa, tak lupa berikhtiar, juga tak lupa untuk sabar dan syukur. Dan bagi golongan supermarjinal (kelompok menengah ke atas) dengan sifat sabar dan syukur itu, mereka tidak akan tergesah-gesah membelanjakan kekayaannya hanya untuk poya-poya. Namun bersabar dengan mengekang nafsu yang sempat mendorongnya harus memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya belumlah mendesak untuk dipenuhi. Dan dengan sifat syukur, si kaya pun tidak akan lupa dengan saudaranya yang memerlukan uluran tangan dan kelebihan harta agar diberikan pula untuk mereka yang memerlukannya.

Berikut ini disalinkan firman Allah tentang sabar dan syukur, semoga kita mendengarkan dan meresponnya dalam keimanan dan aktualisasi amal, sebagai bentuk kepatuhan kepada Tuhan semesta alam. Bahwa Allah berfirman, “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpah musibah mereka mengucapkan ‘Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un’, mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah : 155-157). Lagi, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmatku” (QS. Al-Baqarah : 152).

Dengan kedua sikap dan sifat ini, maka jalan satu-satunya agar kepuasan hidup mampu terpenuhi meski pun sumber daya amat sangat terbatas bisa terjawab. Bahwa kehidupan ini sudah lah cukup memuaskan jika manusia sabar dengan nafsunya dan bersyukur dengan kekuatannya. Dan itulah keberkahan dan rahmatNya yang diberikan kepada mereka.

            Dengan membiasakan diri untuk bersabar dan bersyukur, maka manusia akan berpikir ulang bahwa ia akan cukup dengan apa yang telah dimilikinya. Dan juga akan mengambil ibrah bahwa ternyata alam raya ini luas sekali dengan segala perlengkapan yang telah diciptakan Allah untuk manusia. Secara tidak langsung, permasalahan ekonomi di mana “kebutuhan manusia tidak ada batasannya sementara sumber daya yang disediakan alam sangat terbatas”, akan berganti menjadi “kebutuhan manusia bisa dipuaskan dengan sabar dan syukur, sedangkan sumber daya yang disediakan alam sangat luas sekali”. Semoga ada yang mampu membuat metode-metode ilmiah dengan hukum yang demikian, hingga pernyataan itu mampu dipertimbangkan sebagai sebuah teori ilmiah. Juga semoga kehidupan ini sudahlah cukup terpuaskan dengan mengamalkan sifat sabar dan syukur. Ayo!


Medan, 29 April 2012
Bang sur_5:07
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar