BERBEDA

BERBEDA


Apa kabar hari ini? Bagaimana dengan latihan kebiasaan seminggu ini? Sudahkan kita istiqomah dengan niat baik dan amal yang baik? Jika belum, teruslah membiasakan diri untuk berniat dan beramal baik. Jika sudah, mantapkan kebiasaan itu dengan istiqomah di jalan Allah SWT. Sebab, dalam hadistnya ketika Rasulullah SAW ditanya “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu ungkapan tentang islam yang tak akan kutanyakan kepada seorang pun selain Engkau! Beliau bersabda “ katakanlah : aku berimanlah kepada Allah, kemudian Istiqomahlah!”
            Sesuatu yang berbeda akan terlihat begitu asing. Keberbedaan itu bisa muncul disebabkan beberapa kemungkinan. Diantaranya disebabkan oleh minimnya pendukung dari suatu yang berbeda itu. Walhasil minoritas yang dianggap berbeda itu pun selalu dicemooh sebagai orang yang asing bahkan mungkin disalahkan.
            Begitu juga lah yang terjadi terhadap kebenaran.  jika pendukung kebenaran hanya mempunyai komunitas yang minim, maka bersiaplah diklaim masyarakat menjadi orang yang berbedah. Lebih tepatnya aneh. Kita bisa lihat, jika kita menjadi musyafir dan memasuki suatu perkampungan kemudian berniat ingin sholat ashar di salah satu mesjid di kampung itu, di mana jama’ahnya kebetulan tidak biasa mendirikan ashar berjamaah, kontras, maka kita akan dilihat aneh. Kerumunan anak kecil pun mengintip dari balik jendela mesjid dan memperhatikan seseorang yang sholat, seolah mengatakan “orang gila dari mana sore-sore sholat di masjid?”.
            Begitulah. Mayoritas yang melihat sesuatu yang jarang dilakukan serta hanya didirikan oleh sedikit pendukung, apalagi ditambah dengan pengetahuan yang minim akan membawa empunya ke jurang kebodohan. Dan menyeretnya menjadi insan yang mengasingkan kebenaran dan menganggapnya berbeda. Dan bagi pengamal kebenaran yang minoritas, teguhkanlah hati untuk menjadi orang yang berbeda. Asing. Aneh.
Diantaranya lagi, pengasingan atau pembedaan terjadi karena kita tak biasa dengan kebenaran. Yang kita biasakan justru sesuatu yang tak bersumber, atau bersumber  tapi palsu dan keruh. Ironisnya, Kadang-kadang masyarakat justru membela kebiasaan dan mengesampingkan kebenaran. Karena sudah menjadi kebiasaan, maka lambat laun pun kita menetapkan bahwa kebiasaan menjadi hukum ketiga setelah al-qur’an dan sunnah. Jika kebiasaan itu bersumber dari al-qur’an dan sunnah, atau kebiasaan umum yang tak bertentangan dengan keduanya, maka tak mengapa. Tapi berbahaya jika tidak. Gawat jika ternyata kebiasaan itu adalah kebiasaan yang memalingkan amanah Al-qur’an dan sunnah .
            Pada awal perjuangan menyiarkan kebenaran Islam, Rasul pun kerab dianggap sebagai oknum yang berbeda. Lebih tepatnya dianggap gila. Sebab, ajaran yang disiarkan Nabi seolah merupakan ajaran baru, di mana masyarakat Quraisy pada saat itu justru lebih nyaman dan biasa memuja latta dan uzzah yang tak bisa apa-apa. Sebabnya sederhana sekali, masyarakat Quraisy ternyata membiasakan kemungkaran, akibatnya Rasul yang berusaha menyelamatkan kaumnya dengan ajaran Tauhid yang sesungguhnya sama dengan ajaran Nabi-Nabi sebelumnya dianggap sangat berbeda.
            Nah, bagaimana mengembalikan kebenaran agar ia tak diasingkan atau tak dianggap berbeda dari kebiasaan pembodohan? Untuk memulihkan suatu kebenaran agar ia tak dianggap asing dan berbeda, kita harus menyikapi kebenaran tersebut dengan aksi pembiasaan. Jika setiap orang sudah terbiasa melakukan kebenaran, maka yang diasingkan olehnya adalah kemungkaran. Namun sebaliknya jika setiap orang justru membiasakan kemungkaran, maka yakinlah kebenaran pun akan diasingkan. Dianggap beda. Haihata.
            "Sesungguhnya Dien ini bermula dalam keadaan asing, dan ia akan kembali tampak asing seperti saat awal mulanya. Maka Thuba itu untuk orang-orang asing". (HR. Muslim dalam Shahihnya). Thuba dalam hadits di atas pengertiannya adalah Jannah atau pohon di dalam Jannah.


Medan, 6 oktober 2011 
Suramah (bangsur)
Buka Komentar