GAGASAN dan KONSEPSI POLITIK FARABI

GAGASAN dan KONSEPSI POLITIK FARABI


Al-Farabi yang bernama asli Abu Nashar bin Mohammad bin Mohammad bin Tarkhan bin Unzalagh lahir di kota kecil Wasij, wilayah Farabi, termasuk wilayah Turkustan, pada tahun 257 H atau 870 M. Farabi termasuk tidak dekat dengan penguasa Abbasyiah pada waktu itu. Yang memberikan keuntungan “kebebasan” dalam berpikir tanpa harus menyesuaikan dengan pola politik yang ada, namun juga memiliki kekurangan, sebab ia tidak memiliki peluang untuk belajar dari pengalaman untuk menguji kebenaran teorinya. Sebab ia tidak terlibat langsung dalam perpolitikan penguasa Abbasyiah.
Ia hidup pada masa Khalifah Abbasyiah dipimpin oleh Mu’tamid. Pada saat itu situasi politik diguncang oleh berbagai gejolak, pertentangan dan pemberontakan. Ia pun terpanggil untuk menemukan pola kehidupan bernegara dan bentuk pemerintahan yang ideal. Bukunya yang berkaitan dengan teori politik yang sangat penting adalah Ara Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah (pandangan-pandangan pera penghuni negara yang utama) dan Al-Siyasah Al-Madaniyah (politik kenegaraan).
Sebagaimana Plato, Aristoteles dan Ibnu Abi Rabi’, Farabi berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama pihak lain. Selain itu, menurutnya tujuan bermasyarkat juga untuk menghasilkan kelengkapan hidup yang memberikan kebahagiaan, dan spiritual di dunia dan akhirat. Pendapat ini, tentunya dipengaruhi oleh keyakinan agamannya sebagai seorang muslim.
Menurut Farabi, manusia tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Hal itu dapat disebabkan oleh faktor iklim dan lingkungan tempat mereka tinggal. Oleh karenanya, tidak seperti Plato, ia melepaskan harapan untuk mewujudkan persamaan, kesatuan, dan keseragaman di antara umat manusia.
Menurut Farabi, masyarakat negara kota merupakan kesatuan politik yang terbaik. Farabi menyebut masyarakat negara kota sebagai masyarakat sempurna kecil, disamping ada masyarakat sempurna besar (perserikatan bangsa-bangsa), dan masyarakat sempurna sedang (negara nasional).
Farabi membagi macam-macam negara kota itu ke dalam beberapa macam, diantaranya : negara yang utama. Kebalikan dari negara yang utama adalah negara yang bodoh, negara yang rusak, negara yang sesat, negara yang merosot serta “rumput-rumput jahat”. Bagi Farabi, negara yang utama itu seperti sebuah organ tubuh manusia yang bekerja sama secara terus-menerus sesuai dengan tugasnya masing-masing. Setiap organ itu memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda di mana terdapat satu organ yang sangat penting, yaitu jantung.
Menurut Farabi, jantung merupakan pusat dari pemerintahan. Di mana ia akan dibantu oleh organ-organ lain. Organ-organ lain itu memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan jantung dan bekerja sesuai dengan kodrat masing-masing untuk membantu jantung, dan bertindak sebagai pendukung jantung. Organ-organ ini bersama jantung menduduki peringkat pertama berdasarkan tingkat kepentingannya. Selain itu, terdapat sekelompok organ lain lagi yang bekerja membantu dan melayani organ-organ pendukung jantung, dan organ ini berada pada tingkat kedua. Selanjutnya terdapat kelompok organ lain lagi yang membantu organ kedua tadi. Demikian seterusnya hingga ada organ yang hanya melayani tanpa dilayani.
Maka demikian pula dalam sebuah negara. Setiap warga negara tidak memiliki bakat yang sama. Diantara mereka ada yang memiliki bakat kepala atau yang mendekati kepala yang mampu melaksanakan tugas-tugas yang mendukung kebijaksanaan kepala. Mereka inilah bersama-sama dengan kepala yang termasuk tingkat pertama. Di bawahnya ada sekelompok warga yang membantu warga-warga tingkat pertama tadi, dan mereka ini adalah warga peringkat ke dua. Selanjutnya ada pula di bawah tingkat ke dua, kelompok lain lagi yang bertugas membantu kelas yang di atasnya. Begitu seterusnya hingga ada warga-warga yang tugasnya hanya melayani  sementara mereka sendiri tidak dilayani.
Konsep negara yang utama menurut Farabi tersebut hampir sama dengan teori Plato yang membagi warga menjadi 3 kelas atau peringkat. Yaitu : peringkat pertama adalah pemimpin negara yang mempunyai otoritas dan kewenangan memerintah dan mengelola negara. Peringkat kedua adalah angkatan bersenjata yang bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan negara. Peringkat ketiga dan terendah terdiri dari para pandai besi, padagang dan petani, singkatnya rakyat jelata.
Menurut Farabi, yang dapat menjadi kepala negara utama hanyalah anggota masyarakat atau manusia yang paling sempurna. Seorang pemimpin itu haruslah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana yang memiliki dua belas kualitas luhur yang telah ada pada pemimpin itu atau perlu ditumbuhkan melalui pengajaran yang terarah, pendidikan serta latihan yang menyeluruh. Maka, pembinaan dan pembentukan pribadi calon pemimpin melalui pengajaran, pendidikan, pengamatan dan pengawasan sangat diperlukan.
Adapun keduabelas kualitas luhur itu adalah :
1.    Lengkap anggota badannya
2.    Baik daya pemahamannya
3.    Tinggi intelektualitasnya
4.    Pandai mengemukakan pendapat dan mudah dimengerti uraiannya
5.    Pencinta pendidikan dan gemar mengajar
6.    Tidak rakus dalam hal makanan, minuman dan wanita
7.    Pecinta kejujuran dan pembenci kebohongan
8.    Berjiwa besar dan berbudi luhur
9.    Tidak memandang penting kekayaan dan kesenangan duniawi
10.    Pecinta keadilan dan pembenci kezhaliman
11.    Tanggap dan tidak sukar diajak menegakkan keadilan dan hendaknya sulit untuk melakukan atau menyetujui tindakan keji dan kotor
12.    Serta kuat pendirian terhadap hal-hal yang harus dikerjakan, berani, tinggi antusiasme, tidak penakut dan tidak berjiwa lemah.
Demikian beberapa konsepsi singkat tentang gagasan politik Farabi. Baca juga gagasan-gagasan atau konsepsi politik tokoh-tokoh berikut :
1.      Abnu Abi Rabi’
2.      Mawardi
3.      Ghazali
4.      Ibnu Taimiyah
5.      Ibnu Khaldun

Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.



Medan, 6 september 2013 
Suramah
Buka Komentar