Skip to main content

Kepemimpinan Pasca Khulafa Al-Rasyidin


Wafatnya Ali bin Abi Thalib, menandakan berakhirnya periode kepemimpinannya, sekaligus mengakhiri masa Khulafa Al-Rasyidin yang juga mengakhiri masa pengangkatan kepala negara melalui mekanisme musyawarah. Kedudukan khalifah selanjutnya dipegang oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang didapatkannya tidak dari proses musyawarah, namun lewat ketajaman pedang dan tipu muslihat. Menjelang akhir hayatnya, ia menunjuk Yazid, anaknya, sebagai calon penggantinya nanti. Dari sinilah awal sistem pemerintahan monarki terbentuk, yaitu sistem pengisian jabatan kepala negara yang ditentukan atas dasar keturunan. Dan dari sinilah awal mula dibangun dinasti Umawiyah. Mu’awiyah memerintah dari Syam, Damascus sekarang.
Pendirian sistem monarki oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada dinasti Umawiyah bukan tanpa alasan. Meskipun terkesan mengakhiri tradisi musyawarah, namun alasan berikut cukup memiliki hikmah mengapa Mu’awiyah bin Abu Sufyan mendirikan pemerintahan monarki. Yaitu :
a.    Sistem musyawarah hanya mungkin dilakukan pada saat wilayah negara tidak terlalu luas, seperti Madinah pada tahap awal pertumbuhan negara islam. Sama seperti konsep “negara kota” (city state) sebagaimana pemikiran tentang pemerintahan negara oleh pemikir-pemikir Yunani kuno. Sesuai dengan hal ini, dapatlah dimengerti bagaimana alasan Mu’awiyah menolak kekhalifahan Ali sebagaimana yang tertulis di artikel lainnya.
b.    Wilayah kekuasaan islam sudah sangat luas, sehingga proses musyawarah yang melibatkan  umat islam dan sahabat di banyak daerah akan sangat menyulitkan. Dan kemungkinan terjadinya perpecahan hanya akan menyulut keprihatinan. Dalam pada itu, pemerintahan negara-negara besar yang lainnya seperti Byzantium, Persia, dan Cina, semuanya berbentuk kerajaan (monarki). Maka alternatif yang terbuka bagi umat islam waktu itu adalah sistem monarki.
Masuknya Pengaruh Asing
            Sebelum datangnya islam, daerah Arabiah tidak pernah mengenal kesatuan politik yang lebih besar daripada negara-negara kota. Ciri yang umum pada praktek kenegaraan tersebut adalah kemandirian, semangat persamaan dan tiadanya formalitas.
Praktek kenegaraan pada dinasti Umawiyah maupun Abbasiyah, mengalami kemajuan yang pesat. Sedikit banyak, kemajuan tersebut juga dipegaruhi oleh masuknya budaya asing. Misalnya pada saat Mu’awiyah berkuasa, ia banyak meminjam pola-pola pemerintahan dari Byzantium. Berbagai formalitas, dan peraturan protokoler mulai diberlakukan, seperti adanya jabatan hajib (ajudan), wazir (patih) yang diberikan kepada penasehat dan pembantu utama khalifah, bahkan jabatan wazir  itu pada dinasti Abbasiyah mulai dilembagakan, yang kemungkinan terpengaruh oleh budaya Persia.
Pada masa dinasti Umawiyah, juga dikembangkan lima macam kepaniteraan, yaitu : urusan korespondensi, urusan pajak, urusan angkatan bersenjata, urusan kepolisian dan urusan peradilan. Kepaniteraan tersebut sesungguhnya juga merupakan pengembangan sistem yang telah lebih dahulu dirintis oleh Khulafa Al-Rasyidin. Setiap kepaniteraan tersebut dikepalai oleh seorang panitera.
Selain itu, ketatalaksanaan peradilan makin disempurnakan. Badan peradilan mulai berkembang menjadi lembaga yang mandiri. Pengaruh budaya asing juga mempengaruhi paham kenegaraan. Dinasti Umawiyah, yang lebih dipengaruhi oleh Byzantium menganggap bahwa jabatan khalifah adalah suatu lembaga politik semata, tanpa memiliki otoritas keagamaan sebagai wakil Allah di bumi. Namun dinasti Abbasiyah yang lebih dipengaruhi oleh Persia, tidaklah demikian. Semasa kekuasaan Abbasyiah berkembanglah paham bahwa khalifah memerintah berdasarkan mandat dari Tuhan dan bukan dari rakyat. Oleh karenanya, kekuasaan khalifah adalah muqaddas atau suci dan mutlak.
Berakhirnya masa Khulafa Al-Rasyidin, menandakan munculnya Pemerintahan monarki dalam masa kejayaan islam di masa itu. Baca juga artikel sebelumnya, kepemimpinan pasca Rasulullah SAW. Dan artikel sesudahnya, pemikiran politik islam pada zaman klasik dan pertengahan.


Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.



Medan, 5 september 2013 
Suramah
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar